Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Galak


__ADS_3

Berada di Bali dengan segudang layanan plus-plus yang di berikan Marisa tanpa harus sepersen pun mengeluarkan uang, Puspita justru pusing mendapati komandan Wisnu sudah di acc mengikutinya menikmati layanan tersebut tanpa ba-bi-bu.


Berbanding terbalik dengannya, betapa beruntungnya komandan Wisnu saat Paijo menghubunginya. Sigap dia penuh semangat mengepak pakaian yang akan dijadikan sebagai pelengkap acara pdkt. Baik berhasil atau tidak, usaha adalah satu kegiatan yang akan dia terus lakukan seperti saat ini.


Di pinggir pakai Kuta siang hari, membawa buah kelapa muda komandan Wisnu menyerahkan minuman sehat menyegarkan itu ke Puspita yang berbaring, menjemur punggungnya konon biar hangat terus katanya meski tanpa pelukan.


”Kita coba seminggu pdkt di sini, Puspita berkenan tidak?” tanyanya langsung seakan konsep tegas tanpa basa-basi seorang polisi tetap berguna bagi urusan cinta-cintaan pula.


Namun bagi Puspita, sikap tarik ulur dengan lawan bicara tetap bisa di lakukan tanpa tapi.


“Aku ke sini buat cuti komandan, buat rileks. Bukan malah pdkt, ih. Nyebelin, harusnya komandan juga tahu perempuan butuh dimengerti!” Puspita menutup wajahnya dengan topi pantai.


Ditemani semilir angin dan debur ombak, komandan Wisnu menyeruput air kelapanya lalu mengorek daging kelapa mudanya beberapa saat sampai habis.


“Aku hanya memenuhi panggilan untuk mengamankan kondisi Puspita Dewi saat berlibur dan sebagai pria yang memang sedang ingin mendekatimu aku mau saja. Rugi, orang yang menyepelekan kesempatan bagus!”


Puspita mencebikkan bibir. “Pdkt gak modal.” serunya lantang.


Komandan Wisnu menarik kedua sudut bibirnya.


“Modal doa saya! Jangan kira, Pita. Putusnya kamu dengan Paijo itu mungkin ada andil dari doaku!”


“Yakin?” seru Puspita sambil bangkit. Kulitnya tertempel pasir pantai dan ia tidak peduli. Puspita lebih serius menatap komandan Wisnu yang mengangkat kedua tangannya. Menyerah.


”Yakin seribu yakin, bahkan berulang kali dalam sehari.” akunya dengan gamblang. “Sejak kita di Papua dan kamu terlihat sederhana penuh pesona.”


Puspita kontan melayangkannya tinjuan maut ke arah ulu hati komandan Wisnu. Pria itu memekik sakit seraya meringkuk di atas pasir.


“Sakit banget, Pita.”


“Doamu itu juga menyakitiku, komandan! Seperti itu rasanya.” seru Puspita dengan mangkel.


Komandan Wisnu menelentangkan badannya, menerima perpaduan antara matahari pantai Kuta yang terik dan wajah Puspita yang tegas. Dia tersenyum lebar.


“Aku hanya membuka jalan keluar dari permasalahan hatiku. Kalo taunya putusnya hubunganmu sama Paijo begitu, bukan salahku!”


“Ah tetap saja komandan Wisnu juga terlibat!” seru Puspita tidak terima tapi lanjut menyeruput air kelapanya juga.

__ADS_1


Komandan meraih topi pantai Puspita dan memakainya. “Nikung dengan cara sederhana itu, Pita. Tidak membuatmu bimbang apalagi menyakiti Paijo.”


“Aku tetap saja mangkel sama kamu komandan, harusnya Paijo yang jadi penjagaku...” jerit Puspita yang tidak seperti biasanya. Jeritan itu lantang dan apa adanya, bukan jaga image yang sering ia lakukan bersama Paijo.


“Tapi kamu polwan, otomatis sikap menjagamu sudah tertanam bahkan untuk menjaga Paijo tanpa kamu kira. Sedangkan sama aku beda, Pita.” ucapnya sedikit membujuk.


“Bedanya apa?”


“Kita bisa sama-sama jaga dan aku lebih kompeten, kita punya jam kerja yang sama, di satu tempat yang sama, jalinan kita lebih mudah.”


Puspita melipat kedua tangannya depan dada seraya menatap tatapan komandan.


“Jalanin lebih mudah jika bersama orang yang tepat. Komandan tahu, sebetulnya aku cuti tanpa bilang-bilang ke komandan adalah untuk menenangkan diriku dulu sebelum memulai hari baru!”


“Oke...” Wisnu mengangkat kedua tangannya. “Nanti malam aku pulang, cuma hari ini aku tetap mengikutimu ke mana saja!”


Puspita menyambar kain yang dijadikan alas tidurnya di pantai seraya gegas pergi dari hadapan komandan Wisnu. Dia meracau sebal tapi menoleh saat tidak ada kalimat yang terlontar darinya bahkan kejaran.


“Kalau mau ikut ayo... Jangan buat aku tambah susah gara-gara mikir nasibmu di Bali!”


Dalam hati komandan Wisnu menyunggingkan senyum senang. Dia berlari mengejar Puspita seraya merentangkan tangannya kirinya, hendak merangkulnya tapi langsung di tepis begitu saja.


Komandan Wisnu kontan saja menghalangi Puspita berjalan sambil tersenyum iseng.


“Kalau ada belum saatnya berarti akan ada juga sudah saatnya, Pita? Asik... Dapat kode.”


Puspita kontan kesusahan berjalan di atas pasir pantai yang kian lama terasa panas di telapak kakinya saat meninggalkan komandan Wisnu dengan kesal.


“Lawanku bukan lawan sembarangan. Kacau juga keluarga Michelle nyuruh komandan Wisnu menjagaku. Ini pasti akal-akalan Paijo! Kawan juga dia dengan komandan. Dasar mantan kurang peka!”


Komandan Wisnu berkacak pinggang sembari geleng-geleng kepala.


“Ngomel aja terus sampai Jogja. Sampai mulutmu berbusa-busa, Pita. Tapi satu hal yang bisa kamu tahu, aku menyukaimu, entah kamu balas atau tidak, aku tetap menyukaimu.”


“Terima... Terima...” seru Michelle dan Paijo yang diam-diam mengintai mereka penuh drama serupa mata-mata.


Puspita berbalik lalu mengambil batu pantai, ia melayangkan batu itu ke arah Paijo.

__ADS_1


Ciat... Paijo menghindar, batu itu melayang bebas dan mengenai seorang pria tak di kenal.


Di landa ketakutan Puspita mendelikkan mata seraya mendekati komandan Wisnu.


“Siapa di antara kalian yang hendak bertanggung jawab?” seru pria ceking yang keningnya nampak merah.


Paijo dan Michelle bersiul-siul sambil berjalan pergi dari sana dengan tangan yang saling menggenggam. Sementara komandan Wisnu cengar-cengir di depan pria ceking yang melotot kepadanya.


“Ini murni ketidaksengajaan mas. Puspita, minta maaf. Jangan bersembunyi seperti pengecut!”


Puspita menghela napas. Katanya mau jagain, giliran di suruh pasang badan malah.


Puspita mengatupkan kedua tangannya di depan pria ceking yang mengulurkan tangannya.


“Uang saja, maafmu aku terima!”


“Uang, Ndan. Uang.” kata Puspita sambil mengulurkan tangannya ke belakang.


Wisnu yang membawa segepok uang gajinya mengambil pecahan seratus ribu dan menaruhnya di tangan Puspita.


“Ini ya mas, sekali lagi maaf.” kata Puspita santun.


Si pria ceking itu meringis lalu pergi. Sementara komandan Wisnu menghela napas.


“Polisi kok di palak. Apa harus pakai seragam dulu baru di takuti?”


Puspita menundukkan kepala sambil tersenyum kecil. Dia melangkah pergi sambil menganggap seolah kejadian itu tidak terjadi apa-apa. Orang asing akan datang dan pergi itu biasa, tapi tadi... Michelle dan Paijo, mereka ngapain di sini?


“Pasti mereka jadi buntut kurang kerjaan! Yakin aku.”


“Udah... Udah... Mereka cuma mau nonton kita yang lagi usaha.”


“Usaha-usaha. Tapi serius komandan, ntar malam kamu pulang, biar aku bisa berpikir jernih terima kamu tidak!”


“Belum aku tembak lho, wah-wah, Pita ndak sabar ini.” ucap komandan Wisnu seraya berjalan mendahuluinya. “Aku persiapkan dulu ya, jangan kabur kamu.” imbuhnya sembari berjalan mundur seraya berlari entah ke mana dan membeli apa.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2