
Berdiri dengan gaya, Michelle mengalungkan tangannya di lengan Paijo di antara para model dan designer yang sedang menunggu giliran sambil berkacak pinggang penuh gaya.
Keberadaan pria yang terlihat berekspresi kecut bersama top model dan big boss itu membuat mereka-mereka yang mengenal baik perangai Michelle tersenyum geli meski tatapan mereka acap kali tidak beradu dengan sejoli itu.
“Ladies... This is kakang prabu Paijo Kusumonegoro, my future husband. Kalau ada yang suka lebih baik jangan, saingannya aku!” ucapnya lugas namun disajikan dengan manja.
Pria kenes memakai vest pink yang membuntuti Michelle dari lorong club yang remang-remang tercengang.
“Future husband?” Dengan terang-terangan pria kenes itu menatap Paijo dari atas ke bawah, menilai kostum yang melekat di badannya. Hanya vest hitam dengan bahan corduroy dari butik Michelle yang terlihat apik. Lainnya suram, tidak berkelas bahkan batik lengan panjangnya yang di gulung sampai lengan terlihat hanya batik yang di beli di pasar. Dia mengernyit tidak setuju, memberi tatapan sinis tetapi sama seperti Dominic, Paijo justru ngeri berkawan dengan pria setengah wanita itu.
Tangan Paijo terkepal di sisi tubuh, bukan marah pria kenes itu merendahkannya, dia menoleh menatap Michelle yang tersenyum bangga kepadanya.
“Kok mau kamu punya asisten tulang lunak begini.” ucapnya berbisik tetapi bagi yang melihatnya, kemesraan dua kepala yang saling menempel itu membuat kegelian menjalar ke mana-mana.
Michelle balas berbisik. “Gak papa, dia suka laki, bukan perempuan, jadi aku aman, kamu gak cemburu.”
“Tapi aku tidak aman! Matanya itu lho, hih.”
Wajah Paijo yang mendung membuat Michelle mengusir pria kenes menjauh darinya sepanjang tiga meter.
Pria kenes itu menguncupkan bibirnya yang bergincu merah muda cetar membahana seraya menjauh. Dia mengomel dengan bahasa Suraboyonan.
“Oke ladies, pengumuman ini sejatinya tidak penting. Dimana masku?” Michelle mengedarkan pandangannya.
Seorang model yang baru saja menemani Dominic ngobrol menunjuk kamar mandi.
“Kebelet katanya.”
Michelle memutar matanya. Kebiasaan. “Suruh dia ke atas, cari Icel dan Paijo di ruang vip.”
Lawan bicaranya terkekeh geli sambil menatap Paijo yang sepenuhnya pasrah.
“Antik banget lakimu, Sel.” guraunya sembari mengangguk
“Langka cukk... Idamanku ini.” Michelle menyandarkan kepalanya di bahu Paijo seraya mengajaknya melengos pergi, menaiki anak tangga yang seluruh pencahayaan berada di bawah, berwarna merah muda dan ungu.
Paijo menghela napas. Dia semakin susah bernapas karena Michelle rupanya menyerahkan sebagian bobot tubuhnya di sisi tubuhnya yang merangkul pinggangnya.
__ADS_1
“Mbok tidak perlu kayak begini, yang lumrah-lumrah saja to, Sel.” ucapnya dengan muram.
“Aku kangen banget sama kamu, nanti nggak nggak usah tidur ya. Kita ngobrol-ngobrol, nonton film sambil mesra-mesraan di apartemenku. Kamu mau?”
“Mau.” Paijo pasrah, tapi sebelum itu aku bakal minum ctm apa mabuk sekalian.
Michelle keranjingan, rasa senangnya meningkat pesat. Hormon serotonin-nya semakin menjadi-jadi, gula dalam darahnya tak pelak membuat Paijo semakin kelabakan mengurus keceriaannya.
Paijo mengusap wajahnya yang basah karena ciuman Michelle yang berkali-kali
menerpa kulit wajahnya dengan telapak tangan.
“Aku jadi takut sama kamu, Sel. Kamu nggilani.”
Michelle terbahak-bahak, tetapi kemudian dia menjelma menjadi gadis kalem yang malu-malu.
“Mengapa takut padaku?” katanya kalem.
Paijo cukup beruntung, di lantai dua yang tidak di gunakan untuk umum kelakuan mereka tidak di pandang banyak orang. Hanya orang-orang yang menginginkan kelas VIP untuk kenyamanan dan Michelle mengenalnya.
“Tentu...” Michelle tersenyum maklum sembari meraba pipi Paijo. “Gajimu sebulan langsung ludes kita makan di sini. Tapi tenang, ada aku. Gajimu untuk ngasih nafkah aku aja.”
Konsepnya gimana to? Paijo mengernyit, tapi ya sudahlah. Selama yang di hadapinya adalah keturunan Prambudi Dwayne semua yang kenthir dan nggak beres dia anggap sebagai keadaan normal.
Michelle mengajaknya ke ruang VIP yang berada di tengah-tengah bangunan yang mengusung tema kontemporer luar negeri dengan dominasi warna hitam dan merah maron. Warna yang elegan dan menggairahkan.
“Nggak ada ayam penyet di sini.” bisik Michelle dengan nada geli setelah duduk di sofa. “Adanya western food.” imbuhnya dengan nada.
“Yang penting ada nasinya.” ucap Paijo sedih. Tiada nasi perutnya auto tetap kosong melompong.
Michelle memutar matanya dengan jengah. Kendala utama hubungan mereka adalah soal isi piring!
“Sego endog goreng sambel lalapan, mau?”
“Nah... Jangan lupa kamu nikah sama siapa, juragan sawah, tukang nguli, bendahara kelurahan paling medit dan teliti.” sahut Dominic tiba-tiba.
“Lambemu mas, ngiwir.” Michelle menyebutkan pesanan melalui interkom sebelum menyilangkan kakinya.
__ADS_1
“Datang ke club kok pakai batik to mas, memangnya tempat kondangan lho.” cibirnya heran.
“Biar ingat sama jati diri, takutnya Paijo khilaf masuk ke kelab pakai jas kerja terus di dekati cewek-cewek, Sel.”
“Aku lagi, aku terus.” bantah Paijo jengkel, “Kamu sendiri yang bilang, pakai batik Jon, biar ketampanan kita meningkat.”
Dominic menyembunyikannya senyumnya sembari menatap pria kenes yang berdiri tiga meter dari mereka. Wajahnya yang kasian membuatnya iba.
“Duduk sini, jangan mirip orang hilang!”
“Yeyy... Yeyy...” Ia bersorak seperti cheerleader sembari mendekati Dominic. “Jadi kita bisa double date niyy...”
“Najeeees...” Dominic menumpuk semua bantal sofa di dekatnya sebagai pembatas hingga membuat Michelle terbahak.
“Jangan kecil hati ya, Bob. Mereka terlalu perkasa untuk kamu yang lemah lembut seperti anak kucing.” ucap Michelle manja.
“Halah basi.”
Paijo menghindari tatapan Bobby yang menelisiknya lekat-lekat seolah menduga-duga dari mana pria itu berasal.
“Sel... Nggak suka aku di lihat-lihat begitu.” katanya di kuping Michelle.
Mengambil asbak, Michelle melemparnya pada Bobby yang sigap menangkapnya.
“Bobby! Tak pecat lho sampean lihat-lihat bojoku seperti itu!”
“Bojo?”
“Aku udah nikah sama Paijo di Jogja, awas kamu curi-curi pandang!”
“Mother earth!” Bobby geleng-geleng kepala. “Habis kamu, kakang prabu! Perawan tua itu... Nggak tahan, binal.” Bobby mencakar-cakar udara sembari menjulurkan lidahnya seperti ular.
Dominic dan Paijo pura-pura tidak tahu, tetapi senyum mereka sudah membuat Michelle menutup wajahnya saking tidak adanya perangai yang tersimpan.
“Icel mau punya anak!”
...----------------...
__ADS_1