
Marisa membersit hidungnya di baju Prambudi yang nampak lebih bagus untuk di jadikan lap ingusnya.
“Kalian semua edan, edan sekali kalian menutupi pernikahan siri itu di dalam rumah ini. Kalian anggap apa mama ini...”
Marisa mengepalkan tangannya ke atas, dia sebal kepada udara karena tak satu pun dari suaminya, Michelle, Paijo dan Kusumonegoro yang ia tatap.
“Bagaimana bisa ibu kandung yang melahirkan putri secantik itu tidak di anggap.” Kepalaan tangan kanan Marisa ia taruh di dada. Dia mendesah lelah. Tatapannya yang sendu dan jengkel beralih pada Paijo. Lirikan tajamnya bagai belati yang terlepas dari gagangnya.
“Kau... Sudah kau apakan putriku tercinta?” Mata Marisa mendelik, mengekspos sekujur tubuh Paijo dengan teliti. Eksotis, atletis, tukang ngarit, tapi serius.
Marisa nampak bingung harus berkata apa, kendala yang dihadapinya cukup melawan kehormatannya bahkan kehormatan lawan bicaranya.
Paijo menggaruk belakang telinganya sembari menyunggingkan senyum. “Michelle masih perawan, Tante. Saya berani bersumpah.”
“Kau menikahi putriku dan memanggilku Tante? Pahit...”
Marisa mengempaskan tubuhnya di sandaran sofa sambil bersedekap. Dia melirik Prambudi lalu Kusumonegoro.
“Saya kaget sekali, ini berita yang membuat saya setengah gila.” Marisa menjulurkan tangannya, menjangkau bahu Michelle yang masih sesenggukan sampai Prambudi merasa baju yang ia kenakan harus segera di lepas dan di abadikan.
“Mengantar Michelle ke pergola pengantin yang indah adalah impianku, getar-getar dalam dada saya tunggu-tunggu. Ini... kalian tega sekali... nikah siri, di mana? Pakai gaun apa?”
“Mereka menikah dadakan, tidak ada persiapan apa pun kecuali raga yang siap dan batin yang terdesak!” sahut Kusumonegoro.
“Oh my God...” Tangan Marisa mencubit pinggang suaminya. “Apa kau diam saja mas? Tidak menyewa restoran begitu? Pesta kecil-kecilan. Tega sekali kau sama anak sendiri, Mas.” Marisa berdecak-decak.
“Kami pesta kok, Ma.” sahut Michelle sembari mengusap matanya dengan punggung tangan kiri. “Kita pergi ke kelab habis dinikahkan oleh penghulu.”
Ngiwir... Paijo menundukkan kepala sewaktu para orang tua menatapnya penuh selidik.
“Nggak macem-macem kok, Ma, Pak... Kita cuma cari hiburan. Ya kan, Jon?”
“Jan... Jon... Jan... Jon... Sudah bapak bilang, yang sopan.” timpal Kusumonegoro.
“Kalau yang manja boleh, Pak?” sahut Michelle lembut. “Paijo sweetie coco...”
“Halah-halah Gusti, opo meneh kui.”
__ADS_1
Prambudi tersenyum jengah sembari mengusap pipinya.
“Kenapa nggak Paijo cookies sekalian, Cel?” selorohnya hingga membuat Michelle dan Paijo menyahuti dengan seruan.
“Papa jangan gitu, ngawur... Paijo cookies...” Perut Michelle bergetar-getar sebab ia menahan tawanya. “Tapi lucu juga. Paijo cookies.”
“Sudah... Sekarang kita bahas sapinya mau gimana?” pungkas Marisa. “Tapi sebelum itu pokoknya mama mau kalian minta maaf! Mama di bohongi. Tega.”
“Ya elah, Mam. Kita nggak bermaksud membohongi mama kok. Kita cuma merahasiakannya sebentar. Tapi nggak papa lah, mas Paijo ayo minta maaf sama mama.”
Paijo menghela napas, masih teringat dia dengan perintah nganduki pedet dan berakhir dengan memblower sapi cilik itu yang mungkin kini sedang trauma.
Paijo turun dari sofa. Dia mendekat ke arah Marisa dengan merangkak sebelum duduk bersimpuh di depannya. Michelle pun ikut-ikutan.
Marisa mengamati keduanya sampai alisnya menjureng. Sikap dan cara keduanya yang jarang di lihatnya dan cenderung mirip asisten rumah tangganya membuatnya bertanya-tanya.
“What's wrong with you?”
“Itu nampannya mau sungkem, anak kepada orang tua.”
“Seperti lebaran?”
Marisa melambaikan tangannya. “Bangun-bangun, jangan begitu. Mama takut.”
Paijo mengatupkan kedua tangannya, dia tidak peduli Marisa rikuh dan ngeri dengan kelakuannya sebab betul kata Kusumonegoro bahwa ia memang ingin sungkem kepada ibu dari istrinya secara sungguh-sungguh.
“Mau di panggil Paijo sweetie coco, Paijo ndeso atau pun Paijo cookies, saya Paijo Halim Pradana minta maaf atas tindakan yang tidak menyenangkan hati tante Marisa. Saya minta maaf Tante.”
Paijo menjura sampai kepalanya menyentuh punggung kaki Marisa. Tercenganglah ia dan Michelle sambil bertatapan.
“Papa aku harus bagaimana?” bisik Marisa ke Prambudi.
Michelle yang masih terbawa suasana kembali trenyuh. Dia menyentuh punggung Paijo dengan lembut.
“Nggak perlu begitu, mama open minded kok. Nggak marah betulan kita nikah kemarin. Bangun cookies.”
Biar saja, Sel. Biar kamu juga nggak kaget, lebaran di kampungku sama sepuh harus kayak gini!
__ADS_1
Paijo menarik napas sembari menegakkan tubuh. Dia tersenyum saat Marisa meringis dan hal itu mengingatkannya pada kelakuan Michelle kala geli dan bingung.
“Paijo minta maaf ya Tante, mungkin kemarin termasuk lancang karena saya juga membalas ciumannya.”
“Enak?”
“Lumayan.” Paijo tersenyum jengah.
“Kau harus belajar lagi, Icel.”
Secuil tatapan sinisme Michelle layangkan pada Paijo. Belajar ciuman? Wanita itu menghela napas. Ciumannya sudah badas, murni, penasaran dan sungguh-sungguh. Belajar yang bagaimana lagi...
Paijo tersenyum sambil menyentuh punggung bawah Michelle.
“Saya sekaligus ingin meminta restu untuk menikahi Michelle, Tante. Bolehkah?”
Prambudi melihat betapa kacau wajah istrinya saat ini sebab tidak pernah gaya tradisional itu berlaku di keluarga mereka. Dia tersenyum sembari menyentuh bahunya.
“Berikan kelegaan untuk mereka berdua.”
Marisa menarik napas sembari mengulurkan tangannya, menyentuh kepala Paijo. Dia melihat keajaiban pada pria itu, kesederhanaannya akan membuat putrinya lebih bijak dalam menggunakan uang dan tidak lagi di cap sebagai perawan tua.
“Mama restui deh, tapi urusan wedding reception dan akad mama ikut campur. Boleh? Boleh ya, mama juga mau pakai gaun pengantin sekali lagi...” ucapnya dengan setengah manja dan sungkan.
“Maksudmu apa, Ma?” tanya Prambudi.
“Anu, papa... Gaun pengantin jaman sekarang bagus-bagus, mama pingin mengulang masa pernikahan kita dulu dengan gaun yang indah. Boleh ya kita beli buat resepsi nanti.”
Kusumonegoro memutar matanya jengah saat Marisa dengan manja mencium pipi suaminya.
Prambudi meringis sambil mengurut keningnya.
“Nenek moyang dulu mati-matian mengusir penjajah dan sekarang walau sudah merdeka, saya merasa masih di jajah istri sendiri. Tobat, kang.”
Kusumonegoro meresponnya dengan senyum bahagia meski dalam hati ia mencibirnya dan mengolok anaknya sendiri.
“Pribumi harga mati.”
__ADS_1
...----------------...