Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Wisnu


__ADS_3

Puspita memonyongkan bibirnya di teras rumah. Berkali-kali ia repot merapikan posisi gaunnya. Gaun bunga-bunga warna pastel selutut dengan lengan panjang yang tampak sopan dikenakannya. Tak seperti biasanya gaun itu menempel di tubuhnya yang proposional dan tegap ala polwan, rupanya pertanyaan bapaknya yang menanyakan kapan Paijo akan menikahinya memancing sedikit sikap feminimnya.


Puspita berkacak pinggang, di lihat-lihat untuk pertama kalinya. Polisi wanita itu memang terlihat lucu dengan warna gaun yang seperti gula-gula. Berbeda sekali dengan penampilannya yang kerap menggunakan celana jins dan blouse simpel saat kencan-kencan sebelumnya dengan Paijo.


“Matahari sudah hilang, mas Paijo juga iya. Dia ini di mana to? Chat nggak di balas, telepon nggak di angkat? Ke sawah apa ya?”


Mendung menggerogoti semangat Puspita,


sudah dua jam semenjak Paijo pulang kantor tidak ada tanda-tanda kehadirannya lewat surel atau wujud nyata. Paijo nampak seperti tertelan bumi padahal baru semalaman dia romantis sekali sebab tak pernah ia mendapat bunga darinya atau dari pacar-pacar sebelumnya. Dari Komandan Wisnu pun dia hanya dapat bunga liar yang di petik asal-asalan saat di Papua.


Puspita berbalik, Bu Bakri yang menontonnya tersenyum kecil sembari melambaikan tangannya.


“Tidak jadi pergi, Nduk?” Bu Bakri memberinya permen kopi.


Puspita membuka bungkusan permen itu lalu melahapnya. Itu permen kesukaannya saat menjalani tugas negara.


“Kayaknya mas Paijo mendadak amnesia, Bu. Lupa dia ada kencan hari ini.” Puspita menggoyangkan gaunnya. “Untung, Bu. Dia nggak lihat aku pakai baju ini. Bisa-bisa dia ketawa terus bilang aku aneh.”


“Halah, perasaanmu aja itu.” Bu Bakri menepis udara. ”Orang pacaran itu butuh perubahan, minimal perubahan penampilan biar meriah dan tidak bosan. Kalo Paijo ketawa sama penampilanmu ini, perlu di pertanyakan itu. Jangan malu.” Bu Bakri tersenyum bangga, putrinya yang galak dan tidak segan-segan membentak orang-orang yang tertangkap basah oleh operasi pekat terlihat cantik, lucu. Bu Bakri menyentuh gaunnya, halus.


“Tapi kenapa mas Paijo nggak datang ya, Bu? Nggak semangat gitu kayak tiga bulan aku pergi sudah banyak yang dia lewati sendiri. Apa mas Paijo hilang rasa sama aku?”

__ADS_1


Puspita duduk dan karena terbiasa menggunakan celana panjang dengan posisi tegap siaga. Bu Bakri sampai harus merapatkan kedua lututnya hingga saling bersentuhan.


”Yang manis dong, Paijo kaget nanti kamu pakai rok tapi duduknya gagah berani.” katanya mengingatkan dengan lembut.


Puspita mengembuskan napas. Waktu pertama kali berkenalan dengan Paijo saat menjaga pagelaran wayang di kelurahan luar biasa ia menemukan sosok pria yang ia idam-idamkan, etos kerja yang semangat saat koordinasi lapangan mengharuskan keduanya saling berkomunikasi dengan HT saling menyemangati lewat kata-kata meski dalam konteks gurauan semata.


Tetapi gurauan itu menyegarkan Puspita yang kerap bersikap serius dan tak terjangkau hingga menjadi lebih luwes. Hanya dengan Paijo, ia memberanikan diri meminta nomor ponselnya.


Paijo jelas menyambutnya dengan gembira. Kapan lagi ada yang minta nomer hpnya. Seumur hidup, sekalipun ia menulis nomer hp di jidatnya, mana ada yang berminat menulis dan menghubunginya. Hanya dua wanita ‘Puspita dan Michelle’ yang cukup gila meminta nomer hpnya.


Perkenalkan berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan yang di rencanakan dengan janji yang di sepakati dengan susah. Jadwal kerja Paijo yang rutin saban pagi sampai sore, dan jadwal Puspita yang tidak fleksibel membuat mereka kesulitan mencari waktu yang tepat untuk bertemu seperti sekarang.


Puspita melipat kedua tangannya seraya menatap lampu kristal di langit-langit rumah.


“Tanyakan sekalian dia mau rembukan keluarga lagi kapan, ibu nggak sabar kamu nikah. Ya, walau pun sebenarnya bapakmu pinginnya kamu dapat komandan seperti bapakmu, tapi karena kamu sudah mabuk Paijo. Gimana lagi.” Bu Bakri mengendikkan bahu meski cengirannya melebar.


“Pokoknya harus segera ya, biar bapak sama ibu mempersiapkan semuanya.”


Puspita mengangguk lemah seraya mengambil ponsel di mejanya yang berdering.


Komandan Wisnu?

__ADS_1


Berdiri, ia pergi ke teras rumah. Dengan semilir udara yang berembus. Puspita bersandar di tiang penyangga kehidupan rumah tangga bapak ibunya, di bawah lampu penerangan taman.


“Siap, Ndan. Bisa Puspita bantu?”


Komandan Wisnu bersembunyi di balik tembok sambil mengintai sekali dua kali sosok tak asing yang di lihatnya semalam bersama cewek pirang.


”Aku di rumah sakit antar ibu kontrol di spesialis penyakit dalam. Ketemu Paijo di sini. Kamu tidak ikut?”


Kuping Puspita mendadak melebar saat komandan Wisnu berkata itu dan ia menggeleng cepat. “Tidak, Ndan.”


Komandan Wisnu mengintip lagi, target yang baru saja masuk mobil merah membuatnya gegas mematikan sambungan telepon dan pergi ke parkiran motor.


“Ada yang tidak beres.”


Menutup wajahnya dengan helm full face, komandan Wisnu membuntuti mobil Michelle secara diam-diam. Meninggalkan Puspita yang di landa heran dan ibunya yang baru antri di tempat pengambilan obat.


Paijo... Paijo...


Komandan Wisnu mulai gelisah di saat-saat mobil itu berkelok memasuki rumah. Jauh dari rumah Puspita dan Paijo. Dia menunggu di bawah pohon cempedak.


Dengan mata elangnya ia memastikan semua kejadian terekam dalam ingatan dan kamera.

__ADS_1


Paijo masuk ke rumah itu, tanpa pernah keluar lagi sampai sejam ia menunggu. Diomeli ibunya namun ia dilanda kelegaan yang tiada habisnya.


...----------------...


__ADS_2