Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Jangan Khawatir.


__ADS_3

Keesokan paginya. Apartemen yang seringkali terasa sepi bagi Michelle kini terasa ramai bukan main. Kamarnya yang menggunakan interior dengan warna dasar emas dan merah maron sesak oleh kaum perempuan dan satu bayi laki-laki yang sedang sibuk mandi bersama ibunya, Rastanty.


Di kamar lain kaum pria yang semalam menonton pertandingan bola Manchester United vs Real Betis masih santai-santai di dekat jendela sambil ngopi.


Hanya pria setengah tulen ‘Bobby’ yang tidur di sofa. Tiada mungkin dia bobok manis bersama kaum perempuan apalagi bersama kaum pria. Sejatinya dia merasa sedih, tapi ya sudah. Tidur di sofa rupanya membuatnya leluasa bergerak dan ngorok. Sekarang pun masih seperti itu sampai Michelle yang sudah cantik paripurna dengan gaun selutut musim panasnya mendengus.


“Jati diri nggak jelas, kemayu kok ngorok.” Berkacak pinggang, tatapan Michelle yang awalnya menelisik wajah Bobby pindah ke kamar tamu.


Paijo menyampirkan handuk di bahu kirinya seraya menutup pintu.


“Cel... Bapak mau bicara sama kamu.” katanya memberitahu.


Michelle menatap sekeliling, di rasa sepi, kakinya berjinjit seraya melangkah dengan cepat menuju Paijo yang sudah memahami aksinya.


“Sweetie coco... Ciuman selamat pagi dong.” bisik Michelle sambil meletakkan telapak tangannya ke dada Paijo.


“Nggak usah cari gara-gara.” ucap Paijo gusar, walau apartemen itu terdengar ramai, di ruang mereka berdiri sekarang hanya ada mereka berempat—Pak Tedy ngopi di pantry, pura-pura tidak tahu.


“Makanya cepat aja biar nggak ketahuan.” desak Michelle sembari memanyunkan bibirnya tanpa gincu. Bibir natural yang ranum itu sudah merah muda dari lahir.


Paijo menangkup rahang Michelle dengan tangan kanan sebelum menundukkan kepala. Sekilas tampak ragu, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Michelle.


Kehangatan yang tercipta dengan perpaduan rasa kopi dari bibir Paijo dan lembutnya belaian lidahnya membuat Michelle mendamba lebih banyak dari yang dia katakan. Michelle mengeratkan pelukannya sampai napas keduanya sesak dengan jantung berdegup kencang.


Michelle merasa sangat bahagia, ada pria yang begitu pandai mengambil hati bapaknya dengan membicarakan dunia sepak bola, jarang-jarang kedua kakaknya bersedia menjadi partner ngobrol tentang persepakbolaan. Dan ia berharap akan ada sebuah malam luar biasa yang akan diisi dengan memanjakan Paijo dengan segala cara yang ada. Misalnya membuatnya orgasmee berkali-kali? Atau sebaliknya?


Pak Tedy menoleh. Pertautan bibir keduanya semakin epik, tiada yang ingin mengalah untuk menyudahi pergumulan bibir mereka yang saling membelit dan menyesap. Dia tersenyum iseng sembari menjatuhkan sendok teh ke lantai.


Paijo dan Michelle tersentak kaget sembari menjauhkan tubuh.


“Maaf, Non. Kesenggol.” aku Pak Tedy sembari membungkuk, meraih sendok teh di lantai dengan wajah cengengesan waktu Michelle mendelik kepadanya.

__ADS_1


“Lagi enak-enaknya, Pak!” Michelle mendesah mangkel. “Buatkan coklat hangat sebagai hukuman.”


Dia meraih tangan Paijo, mengajaknya duduk di ruang tamu di dekat Bobby yang masih terlelap.


“Aku sudah jahit kemeja batik buatmu. Kamu pakai ya. Kita jalan-jalan hari ini.” ucap Michelle setelah duduk.


“Memangnya mau pada ke mana pagi-pagi seperti ini?”


“Cari sarapan sama piknik keluarga. Hari Minggu, sweetie. Family time.”


Untung habis gajian. batin Paijo aman.


Meski demikian muka Paijo yang tidak bersemangat membuat Michelle tersenyum kecil.


“Gak usah khawatir, ada papa si pengertian. Mas Dominic aja kadang minta traktiran bapak. Kita anak bontot nurut aja.”


“Malu aku.” jawab Paijo spontan.


“Sumpah, aku malu jadi pendampingmu Sel.”


“Aku nggak suka kamu ngomong gitu! Udah sana mandi, apa perlu aku mandiin juga biar mirip Budiman?”


“Aku takut ibumu pingsan kalau tahu.” Paijo nyengir.


“Tapi Jon, berhubung ada orang tuaku apa kamu nggak mau mengutarakan niat baikmu ngasih seserahan ke aku.” Michelle menahan pergelangan tangannya.


“Seserahan apa? Kata-kata manis?” Paijo yang gemas mencubit pipinya. “Besok, untuk kedua kalinya atau ke tiga kalinya aku ketemu orang tuamu.”


“Sumpah?” Michelle berdiri, menatap mata Paijo lebih dekat dan lekat. Paijo mengangguk dan itu membuat Michelle langsung mengecup bibirnya sekilas.


“Aku akan tunggu.” Bersorak gembira Michelle meninggalkan Paijo, pindah ke pantry mengambil coklat hangat buatan pak Tedy bersamaan dengan itu, kedua pintu kamar terbuka. Rastanty dan Dominic keluar kamar.

__ADS_1


Dua pasang mata itu langsung tertuju pada Paijo yang mengalungkan handuk di leher sembari memegangi ujungnya.


“Ngopo?” ( Kenapa ) tanyanya ngegas.


“Budiman mirip aku apa Domi, Jo?” tanya Rastanty sembari memamerkan wajah anaknya di depan wajah Paijo. “Lucu to?”


Paijo berdehem. Tahu betul arah pembicaraan wanita yang ia kasihani dulu.


“Kamu sama Icel juga bisa dapat anak lucu begini.”


“Besok kalau sudah waktunya pasti dapat. Aku sabar kok orangnya.” Dengan gembelengan ia melewati pasutri itu dan masuk ke kamar tamu.


Di dalam sana, bahunya merosot sewaktu Prambudi dan Reno menatapnya serius.


“Selagi mama dan nenek belum tahu kalian nikah tahan dulu, Jon. Adikku spek bidadari tapi versi Harley Quinn, bikin adem panas.” ucap Reno. Kakak kedua Michelle.


“Santai aku, mas. Cuma adikmu itu lho, ciuman selamat pagi Jo... Ciuman selamat tidur Jo. Pelukan biar semangat kerja... Terus kalau aku tolak, mencucu, aku nggak menarik buat kamu ya. Aku kurang cantik, iya?” ucap Paijo meniru nada suara Michelle.


Prambudi dan Reno saling bertatapan lalu menghela napas panjang.


“Bapak kasih keringanan buat kamu. Pakai pelindung double proteksi.”


“Michelle punya pak, satu pak di kontrakan.” sahut Paijo yang membuat kedua lawan bicaranya hampir semaput.


“Wes pokoknya begini saja, jangan bikin skandal lagi. Tunggu sampai pernikahan kalian berdua terekspos keluarga besar baru boleh hamil.” pungkas Prambudi, nampaknya ia sudah kasian dengan sejoli itu.


Paijo mengangguk. “Genap tiga kali pertemuan lagi saya akan melamar Michelle, Pak. Pakai seserahan langsung.”


“Kalau begitu kamu pilih, tinggalkan pekerjaanmu di kelurahan atau menjadi ahli keuangan di perusahaan Dominic. Putuskan sebelum tiga kali pertemuan kita berakhir ke lamaran sesungguhnya.”


Paijo mengulurkan tangan, bersalaman dengan Prambudi. Sepakat dengan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2