
“20 ekor sapi, satu petak sawah. Semoga bapakku tidak semaput maharnya lebih dari setengah miliar.” Paijo menghela napas panjang sembari masuk ke ruang kerja Michelle di butik miliknya.
Dia membawa sepiring rujak buah-buahan yang dia beli dari seberang jalan setelah berpisah dengan keluarga Michelle di warung bubur.
“Sby fashion week masih lama, Cel?” tanya Paijo sembari bergeming di belakang kursi kerja istrinya.
Wanita yang memakai kacamata baca sembari menatap layar komputernya menggeleng.
“Tiga Minggu lagi, Jo. Hari-hari ke depan aku benar-benar sibuk, so sorry to say, aku nggak bisa ke Jogja buat samperin kamu.” kata Michelle setelah memutar kursinya, menghadap Paijo yang mengunyah bengkoang dengan mata yang terpancang ke layar komputer.
Potret cowok-cowok supermodel dengan badan atletis, wajah simetris, tampan dan gagah mengisi sebagian layarnya.
“Lagi cuci mata kamu?” tanya Paijo.
Michelle menoleh sekilas ke belakang seraya mengambil tusuk gigi untuk menusuk potongan nanas di piring. Ia tersenyum sebelum melahap nanas madu itu.
“Lagi pilih-pilih modelnya aku, beberapa udah aku calling. Mereka bakal datang nanti jam makan siang. Kamu siap?”
“Siap untuk apa?” sentak Paijo heran.
“Lihat mereka di sini, gladi resik dan fitting baju. Aku minta kamu sebagai orang awam nilai bajuku dan mereka sesuai pengamatan polos kamu. Mau?”
“Gampang!”
Keduanya terlihat asyik menyantap rujak buah itu sembari saling menatap hingga buah terakhir—buah mangga muda menyita perhatian mereka ke piring.
Keduanya berebut sepotong mangga itu dengan tusukan gigi di piring yang sebentar goyang ke kanan-kiri dan nyaris jatuh sebelum Paijo memenangkan pertandingan itu dengan cara yang curang. Dia membalik badan lalu menusuk buah itu seraya mengulurkannya ke arah bibir Michelle yang menguncupkan bibirnya.
“Buat kamu.”
__ADS_1
Dengan sekali lahap, rujak itu tandas dan Paijo mendapat pelukan terima kasih.
“Tiga Minggu lagi datang, jadi tamu VIP dari brand ku.”
Gemerlap ruang feminim yang di penuhi patung-patung mannequin yang bergeming dengan beragam gaya serta mengenakan busana rancangan sang pemilik rumah designer itu membuat Paijo menghela napas.
“Memangnya kamu siap go publik? Aku belum lepas jabatanku di kelurahan.”
“Pegawai kelurahan nggak buruk-buruk amat, yang penting, Jo. Kamu emangnya bener-bener sanggup memenuhi mahar dari mama? Itu mentung kamu sama bapakmu. Aku nggak enak.”
Paijo mengusap kepala Michelle yang mendongak menatapnya dengan wajah masam seakan-akan memang betul wanita itu tidak menyukai ide orang tuanya.
“Kalau di hitung-hitung memang wajar maharnya sampai setengah miliar. Itu sepadan sama kamu bahkan mungkin kurang.”
“Sepetak sawah udah cukup harusnya asalkan 10mx20m, nggak harus 20 ekor sapi. Mau di taruh di mana?”
“Kandang, ibumu pasti sudah memikirkan rumah untuk maharnya.”
“Terus bapak kalau tidak setuju bagaimana?”
“Ada enam petak sawah di sekitar rumah, aku akan minta sebagian untuk mahar kamu.”
Michelle mengangguk-anggukkan kepalanya seraya kembali mendekap Paijo yang berdiri di depannya.
“Duduk sini, Jo. Pangku aku.”
Kebiasaan. Ujung-ujungnya minta mesra-mesraan setelah di kasih sayang.
Michelle berdiri membiarkan kursinya lengang sebelum menarik tangan Paijo dan mendorongnya dengan lembut ke kursi.
__ADS_1
“Nanti malam kamu udah pulang, aku masih kangen.” akunya sembari duduk ke pangkuan Paijo.
Dengan berat hati dan menanggung beban tubuh istrinya yang hampir sama, Paijo menahan napas dan melingkarkan kedua tangannya ke perutnya.
“Papa bilang apa saja sama kamu di kamar?”
Paijo menempelkan pipinya di tulang belakang Michelle.
“Keluar dari kelurahan atau jadi ahli keuangan di perusahaan Dominic.” ucap Paijo sembari meneguk ludahnya.
Jonny... Jonny... YES papa... Tahan dulu ya...
No papa...
Michelle memudarkan pertautan tangan Paijo dan menggenggam tangan kanannya.
“Masa cuma itu aja, Icel nggak percaya. Papa aja chat aku, double protection if you ready... and i know, maksudnya apa!”
“Apa!” sentak Paijo spontan ketika tangan kirinya Michelle ajak membelai paha alusnya sampai-sampai ke dalam gaun musim panasnya.
“Papa udah kasih kelonggaran, kamu nggak mau menyusup di sini.” Michelle menyusupkan jemari Paijo di karet bikininya.
Paijo mengeratkan genggamannya. “Tahan Jon, tahan...”
Tetapi naluri lelakinya mendadak melanggar perintah keteguhan hatinya. Jemarinya bergerak, membelai bagian terindah Michelle yang tersembunyi sampai wanita itu melebarkan kakinya. Mendamba lebih banyak raga Paijo.
Michelle menelengkan kepala, menatap wajah Paijo yang menunduk di bahunya seakan bersalah telah menodai kesuciannya.
“Yang bergairah dong, Jo. Jangan sedih begitu, aku jadi ikut sedih.”
__ADS_1
“Aku jelas sedih, kamu terlalu berharga untuk mendapatkan ini dariku.”
...***...