
Keadaan Tommy ternyata tidak baik baik,Dia di larikan ke rumah sakit Internasional karena tak sadarkan diri setelah jatuh dari kamar mandi.
"pi,maafkan aku.."kata ziana lirih.
hanya kata itu yang sering di ucap ziana.
"Zi,sebaiknya kita pulang,sudah malam,papi juga gak bosa di jaga sama banyak orang"
"Aku mau jagain papi,Ge"pintanya.
"Lebih baik kita pulang nanti diusir perawat hanya boleh satu orang sudah ada pak adam yang jaga"
"Besok kita besuk lagi yah,kita pulang kamu istirahat dulu"
ajak gege.
Ziana pun mengikuti ajakan Gerald.
Sudah Satu minggu Tommy di rawat secara intensif di rumah sakit namun belum ada perubahan bahkan cenderung menurun,menurut dokter. Dokter tidak menyarankan pasien berobat ke luar negri karena keaadannya sangat lemah.
banyak saudara dan kerabat yang berdatangan untuk mendoakan kesembuhan untuk Tommy.
Sakit nya Tommy menjadi pukulan buat Ziana,Ia merasakan pernah kehilangan Ayahnya ketika usianya 18 tahun.
"Ya allah sembuhkan Papi,aku tidak sanggup melihatnya begini"Ziana yang berkali kali mengusap air matanya.
"Papi kita akan sembuh kan Ge?"Ziana mencari jawaban.
"Doakn saja yang terbaik,aku juga tidak kuat melihatnya begini"Ada kecemasan di hatinya.
Manusia hanya berusaha tapi Tuhanlah yang menentukan
begitu pula yang terjadi pada Tommy Dia tak terselamatkan walau dokter sudah berusaha sebaik mungkin.
Tak ada yang tidak menangis ketika Dokter mengatakan maaf pasien sudah meninggal.bahkan Nuril tante nya Gerald tak sadarkan diri,Ziana menangis sambil memeluk Evan adiknya,begitupun Gerald sudah tak bisa menahan tangisannya.Semua larut dalam kesedihan masing masing.
"Maaf bisa saya bicara dengan penanggung jawab pasien?" seorang suster mendekati Ziana.
"Iya sus.."
"Saya minta penanggungjawab pasien mengurus administrasi nya dulu sebelum jenazah di bawa"
"Baik Sus"ziana pun mengusap air matanya,dan mendekat kearah Gerald.
"Ge,kamu urus dulu administrasi nya kita harus bawa papi pulang" Ziana menarik tangan Gerald agar Ia bangun dari duduknya.
Ia juga membersikan wajah Gerald dengan tissue walau pun harus jingjit karena Gerald lebih tinggi darinya.
"Ayo kita keruang Administrasi" Ziana menautkan jari tangannya ke jari tangan Gerald,untuk menegaskan bahwa Ia ada untuk menemani Gerald.
Suasana di rumah Gerald sudah ramai gerald masih di ruang kerjanya.
"Ge..."Ziana memanggil.
Gerald mengusap wajahnya.
Ziana membuang nafas panjang,Ia pun mengambil tissue basah di lap nya wajah Gerald dengan pelan pelan.
"Ge,sebentar lagi papi mau di mandikan kamu gak mau ikutan?"tanya Ziana.
"iya aku ikut"jawab gerald.
"ya udah siap siap,nanti kalo udah kamu mandi ganti baju nya pake baju koko,nanti aku siapin "
Ziana pun membuka jas Gerald dan menggulung lengan kemeja geral sampai bawah sikut.
"Selesai..ayo"Ziana menarik tangan Gerald ke ruang utama.
Setelah sholat jenazah dan doa bersama dengan anak anak panti asuhan yang datang khusus untuk mendoakan almarhum karena semasa hidupnya Ia adalah Donatur utama di panti asuhan dan rumah Tafis Qur'an.
"Ge,makan dulu"Ziana menyodorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan lauknya.
Gerald hanya melirik sekilas dan menghiraukan nya.
"Kita makan berdua yah aku juga lapar"Ziana pun menyuapi Setelah masuk satu suap ia pun makan suapan berikutnya.
"Ge,makam papi satu blok dengan makam Ayah aku,jadi nanti kalau aku ziarah ke makam ayah pasti aku juga ziarah ke makam papi kamu setuju kan?"
Gerald mengangguk.
"Makasih ya zi,kamu dah urus semuanya"
"Bukan hanya aku tapi tim kita,lagian Papi tommy papi aku juga kan?"Kata Ziana.
"Iya,kamu memang anak baik"
"ih baru tau ya,Ziana itu anak yang baik" Gerald hanya tersenyum hambar.
"Udah yuk keluar"Ziana mrngajak Gerald keluar dari ruang kerjanya.
"Gerald,sayang"Seorang datang langsung memeluk Gerald tanpa melihat orang orang di sekeliling nya.
Ziana yang tahu siapa yang datang segera menjauh tidak ingin terlibat masalah dengan wanita satu itu.
__ADS_1
"Tante Nuril sudah baikan?mau kemana?"
Ziana melihat Nuril keluar dari Kamarnya.
"Tante mau ngaji,siapa Dia?"Tante nuril menunjuk kearah Merry.
"Pacarnya Gege,Tante"
Nuril mengerutkan dahinya.
"Coba carikan dia baju yang pantas,sekalian kerudung nya "
"baik Tante"Ziana pun masuk mencari baju yang cocok buat Merry.Setelah mendapatkan yang menurutnya cocok Ia pun keluar.Mencari keberadaan dua sejoli itu.
"Rul,kamu liat Gege?"tanya Ziana pada Arul.
"Dia keruangannya kali"jawabnya.q
Ziana mengetuk pintu ruangan itu.
"Maaf,Ge aku di suruh nganterin baju ini dari Tante nuril buat Nona Merry"Ziana menyodorkan kan baju yang Ia pilih.
"apa apaan nih"Merry melempar baju yang Ziana bawa.
"Ka Gerald,ada tamu tuh"Arul datang dan melihat baju yang tergeletak dibawah.
"maaf ka kalau mau ikut ka Gerald ganti bajunya dulu,setidaknya hargai keluarga kami"Kata Arul tegas.Ia pun mengajak Ziana untuk pergi dari ruangan itu.
"Hei,Ziana...!" Ziana menoleh kearah yang memanggil.
"Ada apa?"Tanya ziana sebenarnya Ia ingin cuci muka untuk menghilangkan kantuknya.
Merry tersenyum sinis.
"sebenarnya apa hubungan kamu sama keluarga ini?saudara bukan tapi berkeliaran seolah olah nyonya rumah di rumah ini"
"Apa maksud kamu Mer?"
"Hei,aku tau kamu tadi berada di kamar itu dengan gerald kan mau apa?mau kasih tubuh kamu biar jad ratu di rumah ini,ingat Ziana kamu cuma Asprinya di kantor"
Ingin rasanya Ziana membalas perkataan Meery,tapi Ia lihat keadaannya yang tak mungkin untuk melayaninya.
"Kalau tau diri cukup pergi dari tempat ini kamu kan nggak penting disini!"Kata Merry lagi.
Ziana pun pergi maksudnya untuk ke toilet di batalkan dan Ia pergi mencari Tante Nuril.
"Tante Zia pamit Dulu,nanti kita ketemu di pemakaman"
"Nggak Tante nanti Evan yang jemput"
"Tapi Zia.."
"Udah tante besok kita ketemu ya.."Ziana pun mencium pipi Nuril.
"Ya sudah hati hati ya"
Ziana mengangguk.
Ia pun keluar dari Rumah Gerald.
"Nona Ziana.."seseorang memanggilnya.
"Mister Daniel"Ziana kaget.
"Saya baru sampai di sini saya liat anda keluar saya pun ikut Anda mau pulang?"
"Iya,saya nunggu Adik saya."
"Pulang dengan saya gimana?"
Ziana ragu.
"Ayolah saya antar sampai rumah"Daniel menarik tangan Ziana sampai di mobilnya.
Ziana menghubungi Evan agar jangan jadi menjemputnya.
"Terimakasih Daniel"
"sama sama,Besok kita pergi sama sama kepemakaman?"
"Saya pergi pagi sekali,ada yang harus saya urus"
"ya sudah kita ketemu di sana"
Ziana menggangguk.
Evan menyambutnya di depan "gak nginep sekalian ka?"
"kakak ke pemakaman lebih awal ,disana ramai kakak mau tidur sekarang"
Mereka pun masuk kedalam rumah.
Di pemakaman
__ADS_1
Ziana menyempatkan diri untuk mampir di makam Ayahnya untuk membacakan Doa serta meletakan bunga yang khusus untuk ayahnya.
"Ayah,Papi sebentar lagi datang nanti bisa sama sama yah.."Ziana mengusap air matanya.
"Zia kehilangan kalian ..."Tangisannya sudah tak tertahankan.
"Mbak ziana,Jenazah sudah di gerbang"Seseorang menyapanya.
"oh,iya"Ziana menghapus air matanya dan berdiri mendekati tempat terakhir Tommy.
Selang Sepuluh menit tempat menjadi ramai Ziana tidak mengenali satu persatu saking banyak nya yang mengantar.Setelah di kebumikan mereka pun bubar.
"Zi,kamu pulang sama aku!"Gerald menghampirinya..
"aku harus mengurus beberapa persiapan untuk nanti malam Ge,sesuai permintaan Om satria(suami Nuril)kalau selama tujuh hari di rumah ada pengajian."
"Ya sudah kamu sama siapa?"
"sama tim Ge"
"ya sudah aku tunggu di rumah."
Ziana hanya mengangguk.
Di kantor Ziana memberi arahan dan semua mengerti dengan tugas tugas nya.
"Zi,Aku turut berduka kamu pasti kehilangan sekali"Dini memeluk Ziana.
Ziana pun membalas pelukan Dini Ia pun menangis sejadi jadinya di pelukan Dini.Tangisan Ziana pun mereda bersamaan dengan hilang kesadarannya.Dini yang sigap menahan tubuh Ziana berteriak minta tolong.
"Hai siapa pun tolong Ziana pingsan.."Teriak Dini.
Tak lama beberapa temanya datang dan seseorang membopong dan menidurkannya diatas sofa.
Setelah sadar Dini mengantarkan Ziana pulang, Ia tahu sahabatnya tidak dalam keadaan baik baik saja.
"Din,mungkin malam aku nggak akan ke rumah Gege"
"Kenapa?"
Kemudian Ziana menceritakan yang terjadi di rumah Gerald.
Itu membuat Dini marah.
"Kenapa nggak Kamu lawan si mak.lampir itu"
"keadaan gak mendukung Din,tapi dia jadi ngelunjak kan" Ih aku tuh sebelnya pake banget"
"Ya udah lah,selama ada dia aku nggak,akan ke sana kamu yang gantiin aku "
"iyaaa"
"sekarang kamu pulang nanti kesana sesudah magrib jangan kemalaman "
"Iyaaa,aku pulang sekarang yah"pamitnya.
"Evan tolong anterin Dini sampai rumah ya"
"Enggak usah aku naik ojol aja"tolak Dini.
"nggak,biar adiku yang antar"
"Dini ini evan ,evan ini Dini,tolong antar sampai rumahnya."
"hai"Evan tersenyum dan di balas Dini.
Mereka pun pamit.
Selepas Magrib Ziana mendapat panggilan vidio dari Gerald.
"Zi kamu sehat?"Ziana hanya mengangguk.
"Matanya kompres ya biar gak sembab gitu, "
"Iyaa"
"kamu nggak apa apa kan?"
"nggak cuma pusing aja,kebanyakan nangis"ziana terkekeh.
"kata Dini tadi siang kamu pingsan"
"Cuma kelelahan,Tapi dah baikan kok"
"Syukurlah kalau sudah baikan,maaf aku belum bisa nengok."
"Aku baik baik aja Ge,nggak usah khawatir"Jawab Ziana.
"Aku tutup yah tamu dah datang."
"Iya,titip salam buat Tante Nuril bulang maaf malam ini aku gak datang"
"Iya"panggilan itu Di akhiri setelah itu Ziana pun memejamkan matanya.
__ADS_1