
Di ruang Operasi mereka berkumpul Bunda,Evan,Dini,dan juga Tante Nuril yang datang paling akhir mereka menunggu persalinan Ziana.Setelah sebelumnya Bunda menandatangi surat persetujuan tindakan dan memilih menyelamatkan Ziana.Itu di lakukan Bunda karena Ia tidak ingin kehilangan putrinya,tapi Ia berharap Anak dan Ibunya selamat.
satu jam telah berlalu ruang Operasi sudah terbuka perawat memanggil keluarga Ziana.
"Maaf keluarga nyonya Ziana bisa satu orang masuk"Pinta sang suster.
"Aku aja ya Bun"Pinta Evan.
"Masuklah"
Evan pun masuk kedalam ruangan itu terdengar bayi menangis kencang.Bayi baru lahir berjenis kelamin laki laki itu berbalut Diaper saja diserahkan pada Evan yang sudah telanjang dada,untuk melakukan Skin to skin kontak,bayi kecil itu seperti mencari sesuatu dengan mulutnya.ada rasa geli takjub dan haru di hati Evan mulut nya seraya memanjatkan shalawat dan berdoa meminta keselamatan pada sang Pencipta.Evan meneteskan air mata manakala menyadari Ayah dan ibu bayi ini sedang tidak baik baik saja.
"Doa kan ayah ibumu ya baby,supaya cepat sembuh mereka"Evan mengusap air matanya."Setelah dua puluh menit mendekap keponakannya.Bayi itu di serahkan kembali pada Suster.untuk dipakaikan pakaiannya.
"Bapak di tunggu diruang dokter"Kata Suster sebelum Evan keluar.
"baik suster "Evan betulkan kemeja yang tadi sempat dibuka.
""Alhamdulillah, bayi laki laki sempurna ganteng cucu Bunda"kata Evan ketika keluar dari ruangan.
"Alhamdulillah,kalau begitu"
"Evan mau ke ruang dokter,Bunda ikut?"Bunda mengangguk merekapun pergi keruang dokter.
"Alhamdulillah, bayinya sehat dan komplit tidak ada cacat sama sekali,nanti bapak bisa mengadzaninya,tapi untuk Ibunya maaf saya sudah bekerja keras,dan Ibunya rupanya harus berjuang melewati masa kritisnya,maaf tapi saya akan berusaha semampu saya"kata Dokter yang bernama Alfa itu.
Bunda sudah tak bisa membendung air matanya menangis sambil memohon agar Ziana di sembuhkan.
"Saya akan berusaha bu,doakan saja"Dokter itu menutup pembicaraanya.
Disinilah Ziana tak jauh berbeda dengan Gerald di tempat yang dimana semua peralatan terpasang.Keluarga yang menunggu hanya terdiam,entah apa yang harus dikatakan semuanya begitu tiba tiba,Ziana yang dan Gerald yang tadi pagi masih sehat sekarang mereka diruang yang sama RUANG ICU.
******
Entah sudah berapa lama Gerald berjalan,Sudah merasa jauh dan lelah,kadang kadang terdengar tawa kadang terdengar tangis tapi tak ada wujud yang menangis ataupun tertawa.
Dari jauh Ia melihat ada tiga orang yang sedang bermain dua lelaki satu anak perempuan.
"Zi..."Teriak Gerald karena Ia merasa yakin anak perempuan yang diapit dua laki laki itu adalah Zi sahabatnya.
"Pulanglah nak!"Dua laki laki itu mengantarkan Zi padanya.Ziana memberontak.
"Nggak mau,nggak mau"tolak Ziana.
"Pulanglah"Dua laki laki itu berbalik.
__ADS_1
"Ayah...Papi..."Gerald memanggil,yang dipanggil malah menjauh tapi sempat lambaikan tangan.
"Ayo kita pulang Zi,kita harus sekolah"Gerald menarik tangan Ziana.Ziana menolak beberapa kali Gerald meraih tangannya dan Ziana melepaskannya.
Sampai akhirnya Gerald mendengar suara bayi menangis,Gerald merasa yang menangis itu adalah adiknya,Ia pun berlari kearah pintu dimana ada suara bayi disana.
"KaGe bangunlah kak,apa kaka ga mau ketemu anak kakak lucu lho dia,callon ganteng kayaknya,KaZi juga butuh kaGe dia juga sakit bangun yah..."Putri mengusap pelan pelan tangan Gerald yang sudah Ia anggap Kakaknya.
"KaGe?!!"Putri kaget dimana tangan Gerald bergerak walau pelan.
Gerakan tangannya makin kuat,Putri memencet bel untuk memanggil perawat.
"Sus,Dia bergerak"Kata Putri senang.
Perawat itu memanggil Dokter Putri diminta keluar untuk memperlancar pemeriksaan.
Putri yang begitu senang mengabari yang lainnya.hingga merekapun datang bergantian.
Gerald membuka matanya melihat ke sekelilingnya.Dilihat tangannya terpasang jarum infus dicabutnya selang itu,kemudian ia duduk bersandar di sofa untuk menghilangkan rasa berat di kepalanya.
"Aku harus pulang ketemu Zi"bisiknya.
setelah di rasa kuat Ia keluar dari kamar perawatan yang baru saja Ia tempati,karena sebelumnya Gerald di rawat di ruang ICU.
Dengan jalan sempoyongan akhirnya Ia sampai di depan pintu lift.
"Aku mau pulang ketemu istriku,Ini Ibu kotakan?"Putri mengangguk.
"Sebentar,aku simpan barang bawaan aku ini,kita sama sama ketemu istri kaZe,kaka kenal aku kan?"Putri ragu apa Gerald mengenalinya atau tidak.
"Tentu saja kamu Putri,yang nyelamatin aku kan"Putri senyum ternyata Gerald masih mengenalinya.
"Kakak duduk dulu,tunggu aku yah."Putri meninggalkn Gerald untuk kekamar inap berniat menyimpan bawaannya agar bisa memapah Gerald.
Tapi Gerald tidak mendengarkan putri Ia bangun dari duduknya dan masuk ke lift menekan tombol paling bawah yaitu basement.Keberuntungan ada di pihaknya.pintu lift mengarah ke tempat parkiran taksi dan begitu keluar sebuah taksi menunggunya.
"Kemana tuan?"Supir taksi bertanya pada Gerald.
"Kejalan Xxxxx"Gerald menyebutkan nama jalan menjuj rumahnya.
Putri yang panik karena tak mendapatkan Gerald di kursi Ia menghubungiseorang penjaga yang di rumah."
"Halo Pak Diman ada pakGerald?"
"Hah kan di rumah sakit non"
__ADS_1
"Tadi kabur dari sini,jaga jaga kalau sampai di rumah tolong antar kembali ke sini bilang istrinya ada di sini."
"Iya non"
putri segera menghubungi Evan yang berjaga di tempat Ziana.
"Ka Evan,KaGe kabur"
"Hah..."Evan kaget karena tadi Ia sedang tidur.
"Iya katanya mau pulang kerumah ketemu KaZi,aku takut dia naik apa kesana"Putri panik.
beberapa menit kemudian telpn dari Diman.
"Halo,non tuan Gerald sudah nyampe di rumah naik taksi"Lapornya.
"Ya sudah antar lagi kemari,Tolong bayar taksinya dulu."
"Siap"
Putri tenang sudah mendapat kabar.Ia pun menelpon Evan dan akan membawa Gerald ke kamar Ziana.
Lima belas menit kemudian Gerald sudah sampai di rumah sakit.
"Kenapa kalian membawa aku ke rumah sakit ini lagi sih."
"Nyonya dirawat di sini juga tuan"Jawab Pak Ali sang supir.
"Oh..."Gerald pun mengerti.
"Kak,ayo kita ke kamar KaZi tapi kaka harus naik kursi roda yah"Bujuk Putri.
Gerald pun pasrah saja.
Sampai di ruangan Ziana,Gerald bertemu bunda dan Evan.
"Syukur kamu sudah sadar"Bunda menepuk bahu Gerald pelan .
"Alhamdulilah Bun,aku mau lihat Zi istriku."
"Kamu sudah ingat Ge?"Bunda kaget.
"Iyalah bun,masak Aku lupa sama Istriku apalagi sekarang aku punya baby kan?"Gerald penuh percaya diri.
Bunda tersenyum merasa bahagia sekarang Gerald sudah mengingat Ziana sebagai Istrinya.
__ADS_1
"Ya sudah tengok dulu istrimu,"
Evan pun mengantar Gerald ke trmpat Ziana,sebelum masuk mereka memakai apd yang sudah di siapkn.