SAHABATKU CINTAKU

SAHABATKU CINTAKU
34


__ADS_3

Sekarang Dini dan Putri berada di taksi online yang beberapa menit lalu Putri pesan dan menunggu mereka selama sepuluh menitan


"Yakin mau ke apartemen gak kerumah KaZi?"Tanya Putri.


Dini hanya mengangguk.


"Jangan bilang apa apa sama Kak Zia yah"


"Ok"Jawab Putri pasti.


Mereka pun turun karena sudah sampai,dan membayar tarifnya.


Putri mengantarkan Dini ke apartemennya ini kali kedua Putri berkunjung ketempat ini.


Dini meneguk minumnya sampai habis.


"Kamu mau minum ambillah sendiri"Perintah Dini.


"Aku mau pulang kak takut ka Evan pulang"


"Makasih ya"putri pun keluar dan meninggalkan apartemen.


Dini masuk ke kamar dan mengunci pintunya.perasaannya tak menentu tapi Ia berusaha untuk menahan air mata.


Flash Back On


Setelah Putri memesan taksi online mereka datang ke rumah Rudi.


"Selamat siang apa disini rumah Rudi?" tanya Dini.


"Iya silahkan masuk!"jawab seorang wanita yang membukakqn pintu.


Suasana rumah sepi padahal belum lama mobil evan masuk ke rumah ini.


Seorang pemuda seumuran Evan menghampiri mereka.


"Maaf anda mencari saya?"


"Anda Rudi?"Kata Dini tanpa menerima uluran tangan Rudi.


"Ya benar,anda siapa"


"atas dasar apa anda memanggil Evan kemari"


"Maaf anda siapanya evan,saya hanya menjalankan amanat Adik saya yang ingin bertemu Evan"Jawab nya tegas.


"Apakah adik anda gak punya malu?"Tatapan Dini semakin garang.


"Atas dasar apa anda berkata demikian,ini rumah saya jaga ucapan anda"Sepertinya Rudi terpancing emosi.


Dini hanya tersenyum kecut.


"Yang anda panggil kemari untuk menemui Adik anda itu adalah suami saya"jawab Dini tegas.


Rudi terkejut.


"Istri,Evan?"


"apa Evan belum cerita kalau dia sudah menikah?"


"sebentar Evan ada di dalam biar kita selesaikan "


"Tidak perlu katakan saja Dini kesini,"Dini pun keluar dari rumah itu


"Permisi"pamit Putri mengikuti Dini.Dan mereka pun Pulang dengan taksi yang dipesan sebelumnya.

__ADS_1


Flash back off


"Sialan kamu Evan..."Umpat Dini.


ingin sekali Dini mengancak ngacak kamarnya melempar semua barang yang ada di sana tapi Dini menahanya.Karena selama ini Dini bukan wanita Temprament yang bisa meluapkan amarahnya.


Dia memilih pergi ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya dibawah guyuran shower.


Dini berfikir bagaimana mungkin Evan mengajaknya tunangan sampai mau menikah jika sudah punya Rahma kekasihnya.Merasa bodoh mau dijadikan kekasihnya yang bukan satu satunya.


Di luar kamar Evan mengetuk ngetuk pintu tapi tak ada jawaban.


"Din,buka pintunya..."Evan berusaha sabar walau sebenarnya agak gelisah.


Yang dipanggil tidak memberikan jawaban.(ya iyalah kan lgi di kamar mandi)karenq tak ada respon Evan pun duduk di sofa dan berharap Dini membuka pintu dan mendengarkan penjelasannya.


Dini sama sekali tak mendengar ketukan pintu setelah mandi cukup lama dia pun mengambil mukenanya dan menjalankan ibadah shalat.


"Din,aku mau ngomong buka pintunya"Akhirnya Evan bisa menelpon Dini.


"Aku lagi nggak mau mendengar pembelaan kamu,"jawab Dini tegas kemudian mematikan hp nya dan melepqrkqn keatas kasur.


"Din please.."Evan menghiba tapi sayang sambungan telpon dimatikan Dini.


Evan menghela nafas.sesusah ini bicara dengan Dini padahal ketika pacaran Dini termasuk cewek yang simple,nggak banyak nuntut dan sangat pengertian.


Akhirnya Evan memutuskan tidur dikamar yang lainnya yang di jadikan mushola.


Sebelum tidur Dini sengaja meminum obat agar tidur karena Ia yakin malam ini tidak bisa tidur.


Pagi Dini keluar dari kamar sengaja tak membangunkan Evan,Ia keluar untuk mencari makan karena sejak sore perutnya tidak terisi apapun.


Dini pesan seporsi bubur Ayam untuk makan di tempat.setelah mengisi perutnya.Ia pun mencari penjual nasi uduk karena Evan tidak suka dengan Bubur.


Evan bangun Ia sangat senang pintu kamar sudah terbuka berarti Dia sudah bisa bicara dengan Dini tapi,Ia kaget karena Dini sudah tak ada di kamar hp nya tergeletak di atas kasur.


"Din..."Evan berteriak memanggil Dini.


'Kamu dimana?'tanyanya dalam hati.Hari ini rencananya akan mulai bekerja lagi tapi sepertinya Evan akan minta sehari lagi untuk Izin.


'Jangan jangan Dini pullang ke ruah orang tuanya.'


Ia mengambil kunci mobil dn keluar dari apartemen.


Yang pertama Ia ke rumah kakaknya Ziana karena menurut Rudi Dini datang bersama wanita seumuran Rahma dan Evan memastikan itu adalah Putri.


"Put..."Evan mengetuk kamar Putri setibanya di rumah Ziana.


"Ka Evan,Ada apa?"Dalam mode masih ngantuk Putri membukakan pintu.


"Ada Dini kesini?"Tanya pelan.


"Is,kan aku antar ke apartemen kemarin"Jawabnya.


"Ia tapi tadi pagi dia pergi aku kira kesini"


"Nggak telpon aja"


"Telponnya diatas kasur"


"Lho?"


"ya sudah aku ke rumah ayah dan Ibu saja barangkali Di ada di sana."Kata Evan lesu.


"Sebentar kak"Dini menahannya.

__ADS_1


kemudian mengambil hp dan memanggil Dini.


"Hallo,Put"Dini menjawab panggilan telponnya.


"Kak Dini dimana?"tanya Putri.


"Ya dirumah,masa pagi pagi dah kelayapan"Jawab Dini.


"Ka Evan bilang kakak hilang."merasa tenang karena Putri tahu keberadaan Dini.


"Tadi cari sarapan laper tau"


putri terkekeh kak Dini baik baik sajakan?tanya putri.


"Hemmm"


"Yaa syukur deh"


"Iya udah yak bay"Kata Putri.


"Kak Dini tadi cari sarapan, barusan baru nyampe"Jawaban.


"ya udahau balik lagi jangan bilang bilang KakZia apalagi bunda "Evan mewanti wanti Putri.


Putri hanya senyum.


Di Apartemen Dini tersenyum setelah tau Evan mencarinya.dan tak lama Evan sampai di rumahnya.


"Kamu dari mana?Aku cari kamu"


Kata Evan.


Dini masih dalam mode Silent tidak menjawab pertanyaannya.


"Maaf,jika sikapku menyakiti kamu"Evan menggenggam tangan Dini.


"Hmm"Jawab Dini datar.


"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan,percaya sama Aku"


"Aku harus percaya ketika aku jelas jelas di bohongi gitu?"kata kata Dini begitu menusuk.


"Tapi ...."


"Udah deh van aku nggak mau bahas dulu soal ini,kalau kamu mau ngantor pergilah ini dah siang"


Dini mengusir Evan.Dia sendiri masuk kembali ke kamarnya.


"Mau sampai kapan Din?"Evan sudah tidak sabar.


"sampai aku lupa kamu bohongi aku "jawaban Dini sangat menusuk dihati Evan.


"Aku minta maaf ok"


"Sayangnya aku belum mau maafkan kamu"


"baiklah sepertinya kamu belum bisa diajak bicara semoga hatimu luluh nanti sore"Kata Evan Pasrah.


Ia pun meninggalkan Putri untuk pergi.ke kantor walau mungkin Ia sedikit terlambat.


❣❣❣❣❣❣❣❣❣


Masih Love You sa udug udug dari aku....


Bie uwi

__ADS_1


__ADS_2