
Putri termenung di gazebo pilihannya untuk week end di rumah besar ini ternyata salah,semua orang sedang ada acara Ziana dan keluarga pergi pertemuan dengan keluarga rekan bisnisnya,Dini pergi ke rumah yang akan di tempatinya,jadilah Ia di temani pelayan pelayan di rumah Ziana.
"Huh,kalo di kosan ada temen mending di sana deh,gabut banget deh ah"keluhnya.
"mbak,punya buah buahan buat di rujak gak?"Tanya Putri.
"Hmm,kayanya buah cuma ada apel sama pir sama pisang gak ada buat rujakan non"Jawab pelayan yang di tanya.
"Beli deh yah"Putri merogoh saku celana.Dia menyodorkan Uang merah selembar.
"Kalo mau rujak mah beli aja yang udah jadi non"Kata pelayan tadi.
"Kurang enak,lagian cuma dikit kalo bikin banyak jadi kalian juga kebagian"kata Putri.
"Ya udah saya pergi dulu ya non"Putri mengangguk.
setelah buah buahan datang mereka pun sibuk yang membuatkan bumbu,juga menyerut buah,karena rencananya akan buat rujak serut.
"Nanas nya di potong kecil aja"kata Putri,Ia bak mandor di proyek yang tinggal perintah.
"pedesnya di pisah kasian kalo ada yang gak suka pedas gak makan."kata Putri lagi.
dua orang pelayan itu mengangguk patuh.
"Lagi ngapain nih sibuk amat"Tiba tiba Arul datang.
"Eh,ini mau buat rujak bang"
"Rujak?masih pagi ini"Arul menujuk jam di tangannya.
"tau makannya siang sekarang buatnya dulu"
"Pindah di dalem yuk gerah."kata Arul.Putri pun mengikuti arul.
"Pada kemana sepi amat?"tanya Arul.
KaGe sama kaZi janjian main sama keluarga Ridwan katanya"jawab Putri.
"Dini?"
"Kak Dini beres beres rumah yang mau di tempati"
"Pindah,emang jadi mau cerai,masak sih masalah gitu aja cerai"kata Arul.
"Masalah selinguhan mah bukan masalah kecil bang,"Putri kesal dengan omongan Arul.
"selingkuh itu bisa seseorang kejam dan juga jahat"Katanya lagi.
Arul jadi tak enak hati ketika sikap putri berubah judes.
__ADS_1
"Ya maksudnya ada cara lain kan ngga harus cerai juga kan apa gak kasian tuh sama kay yg lagi omut imutnya."
"Iya juga sih,tapi kenapa juga kak Evan harus selinguhin ka Dini "ketusnya.
"Namanya juga Cobaan hidup neng"Kata Arul.
"Udaah muka nya jangan bete gitu,ngemall aja yuk pengen beli tas "Ajak Arul.
"Ayok...bentar ngambil tas dulu deh"beberapa menit kemudian Putri sudah siap.Arul dan putri pun keluar setelah pamit ke salah satu pelayan.
Di mall putri menatap toko yang terpangpang Discout 30-50% waw jiwa discountnya meronta ronta tapi nelum masuk Arul sudah menarik tangannya.
"Jangan malu maluin aku,gak pake discounan au sanggup beliin kamu,ayo cari tas dulu!"Akhirnya Putri mengikuti Arul ke tempat Tas bermerek gusi.
melihat bandrol yang tertera Putri bergidikk,sayang banget tas mahal mending isinya uang nya banyak kalau cuma goceng kan yang minder tasnya,hehe..
setelah mencari tas yang Ia mau arul memilihkan tas selempang kecil untuk Putri walau Putri menolak Arul tetap membelikanya walau pun harganya membuat Putri takut membawanya.
Mereka juga masuk ke destro pakaian casual,tiba tiba Arul mengajak Putri membeli hoodie couple,juga memilih sneackers yang sama pilihan model dan warna arul yang menentukan Putri hanya manut aja toh yang bayar Arul Ia hanya memakainya saja.
selesai membayar belanjaannya Putri dan Arul memutuskan makan siang dulu,kebetulan putri pengen kepiting saus padang jadi mereka masuk ke resto sea food yang masih di mall itu.
"Mau belanja lagi atau mau pulang?"Tanya Arul.
"Pulang deh,aku pengen makan rujak"Arul pun mengiyakan.tanpa disadari Arul sedang di perhatikan seorang wanita cantik disebrang mereka.
"Bang,ada Sheeren tuh"Putri menunjuk kearah wanita yang tadi berdiri di sebrang mereka terhalang eskalator.
"Ish,pacarnya kok di gituin"Putri tak enak hati.
"Ayo,katanya pulang"Putri pun mempercepat langkahnya mengejar Arul.
"Aku jadi gak enak lho sama Sheeren,"Kata Putri ketika di dalam mobil.
"kenapa gak enak,biasa aja "kata Arul.
"Aku tuh nggak suka sama cewek yang pengen di perhatikan tapi gak peduli sama aku"kata kata Arul.tadi cukup menjelaskan kalau Arul dan Sheeren sedang bermasalah.
"pasti menurut abang wanita terbaik itu aku yaa bang,secarakan aku nurut,baik hati dan tidak sombong,the best lah"Putri memuji dirinya sendiri dan Arul hanya diam.
"Bang...halo aku ngomong lho ini bukan lagi kumur kumur"kata Putri.
"The best juga percumalah di lamar juga nolak"sarkas Arul.
"Hei,pake diingetin,..."Putri terkekeh.
"O,ya bang sebetulnya mau ada acara apa sih abang pake beli baju couple lan gini?pake sepatu juga samaan"
"Ah, iya hari sabtu depan ada reuni SMA Kita mau kumpul yang dah nikah bawa istri dan anaknya,yang punya pacar bawa pacarnya makannya aku mau ngajak kamu. "
__ADS_1
"Kok aku?"
"nggak usah di jelasinlah ngertikan?"
"Ya udah jadi nanti Putri jadi pacar boongan Abnag gitu"
"Iya"jawab Arul.Putri tak ingin protes karena berdebat dengan arul hanya menguras energi menang mah nggak"
"kemana?"
"Ke kota B tepatnya ke L tempatnya dingin ada air panas juga "
"Tapi nginapnya kamar masing masing kan?"tanya Putri ragu.
"Ya iyalah kecuali kalau kamu mau hayu satu kamar juga"
"Ih,nggaklah" Tolak Putri.Arul hanya tersenyum.
Mereka pun sampai dirumah Ziana,dan masih dalam keadaan pemiliknya belum datang.
Di lain tempat Evan turun dari mobilnya setelah mendengar dari pengasuh anaknya kalau Dini ke rumah yang memang disiapkan mereka untuk mereka huni.
Evan berani untuk menemui Dini.
Ting tong...ting tong..
Tak lama penghuninya membuka kan pintu.
"Din,boleh aku masuk?" ketika mereka berhadap hadapan jantung Mereka sama sama merespon dengan degupan yang sangat kencang.
"Masuklah"
Evan memperhatikan sekelilingnya.
"Sama siapa kesini?"tanya Evan
menghapus geroginya.
"Sendiri,kay dirumah Ayah"Jawab Dini.
" Aku mau tinggal disini"Kata Dini memecah keheningan.
"kayla bisa giliran seminggu sama kamu seminggu sama aku adilkan?"
"Sudah sejauh itu kamu memikirkan perceraian,apa tidak ada lagi cara qgar perkawinan kita terselamatkan?"
"Perkawinan ita hancur saat kamu mulai membohongi aku"kata Dini tegas.Evan diam apa yang dikatakan Dini memang benar dia lah penyebab retak rumah tangganya .
"Maafkanlah Aku,Aku salah tapi aku mohon jangan tinggalan aku" Evan bersimpuh di kaki Dini yang sedang duduk di seberangnya.
__ADS_1
"Bangun jangan begini"Dini merasa tidak nyaman dengan Evan.
"Aku nggak akan bangun kalau kamu nggak maafkan Aku "Evan masih bersimpuh bahkan menjatuhan kepalanya di pangkuan Dini.