
Arinda meniup-niup pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Asap juga tampak mengepul dari kopi panas, yang baru saja terhidang dimeja. Dian yang sudah tidak tahan ingin bertanya, segera membombardil Arinda dengan rentetan pertanyaan.
"Siapa cowok tadi?" tanya Dian setelah menyesap kopi yang baru saja dia tiup.
"Jadi kemarin itu aku ngalamin kecelakaan. Jambrong hancur. Ya dia itu orang yang udah nabrak aku. Aku sudah buat kesepakatan sama dia, kalau selama Jambrong di bengkel, dia akan bertanggung jawab buat antar jemput aku kerja. Baik banget kan?" Arinda tanpa sadar memuji Dante pria yang baru dia kenal selama dua hari.
"Kamu yakin tuh cowok ndak punya maksud lain?" tanya Mia sembari menggigit tahu isi kedalam mulutnya.
"Maksud lain gimana mbak? mau deketin aku, gitu?" tanya Arinda.
"Ya apa lagi kalau bukan itu. Secara kamu itu cantik, masih muda. Sama sekali ndak kelihatan kalau kamu sudah punya anak dua." Jawab Dian.
"Kejauhan sampeyan mikirnya mbak. Sampeyan lihat sendiri penampilam mas Dante kayak apa. Meski statusku jandapun belum tentu dia mau. Orang ganteng kebangetan kayak gitu kok mau naksir emak-emak anak dua kayak aku. Yo ngimpi itu namanya," ujar Arinda.
"Lagian aku juga sadar diri mbak. Meski rumah tanggaku bermasalah, tapi tetap aja aku sudah punya suami. Aku masih eling mbak," sambung Arinda.
"Tapi kalau selingkuhanmu ganteng kayak gitu sah-sah aja Rin. Aku yo mau kalau ada satu lagi," ujar Mia sembari terkekeh.
"Edan sampeyan mbak. Ndaklah! aku ndak kepikiran sampai kesana." Jawab Arinda.
"Jangan ngajarin yang ndak-ndak. Ntar si Arin khilaf," ucap Dian.
"Khilaf sama cowok tadi, jelas aja kalau aku ndak nolak," ujar Mia terkekeh, sementara Arinda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Tapi terus terang aku agak sedikit aneh sama cowok itu sih," ujar Mia.
"Kenapa?" tanya Arinda.
"Jaman sekarang meski menggunakan hati nurani, tapi ndak segitunya juga rasa tanggung jawabnya. Masak iya dia bersedia antar jemput kamu setiap hari, terus jambrong juga diperbaiki. Berlebihan ndak sih menurut kalian?" tanya Mia.
Arinda terdiam. Dia jadi teringat, saat tadi sore Dante mengatakan ingin mentraktirnya setiap hari. Pria itu bahkan memberitahunya alamat rumah, hingga nomor rumahnya itu.
__ADS_1
"Apa iya ya yang dikatakan mbak Mia? tapi sepertinya ndak ada yang aneh dari mas Dante. Dia juga sopan sama aku," batin Arinda.
"Yang penting kamu tetap waspada. Kalau emang niatnya pengen deketin kamu, sebaiknya kamu cepat terus terang dengan statusmu yang sudah bersuami. Dengan begitu dia bisa jaga jarak sama kamu," ujar Dian.
"Sebenarnya sih ndak ada salahnya dia suka sama kamu. Tapi statusmu yang masih jadi istri orang, cukup jadi dinding pemisah diantara kalian," ucapan Dian yang membuat Arinda jadi tertawa keras.
"Ye...diceramahin malah ketawa dia," ujar Dian.
"Ya habisnya sampeyan mikirnya kejauhan mbak. Dia sopan sekali sama aku, bahkan dia ndak pernah tuh lihatin aku kayak cowok ada rasa suka sama cewek. Ini tuh murni karena dia mau tanggung jawab sama aku." Jawab Arinda setelah tawanya mereda.
"Ya sukur kalau emang begitu. Emang tuh cowok masih single?" tanya Mia.
"Ndak tahu. Ndak pernah nanya soal itu'e. Takut dikira kepo, dan jadi salah paham. Lagian dia juga ndak pernah nanyain statusku, ngapain aku nanya status dia?" Jawab Arinda.
"Sekarang aku lagi mikir bagaimana caranya biar jambrong cepat sembuh, jadi ndak nimbulin fitnah lagi antara aku sama dia," sambung Arinda.
"Kamu jangan tersinggung loh kami ngomongin kamu kayak gitu. Mbak pribadi cuma ndak mau kamu kena sasaran Aditia. Wong lanang kalau sudah tahu diselingkuhi, niat membunuhnya itu lebih besar. Mbak ndak pengen kamu mati konyol," ucap Dian.
"Makasih atas nasehat sampeyan mbak. Tapi untuk sekarang belum ada niat kearah sana. Aku masih pusing mikirin gimana caranya hidup enak, terus anak-anak bisa berpendidikkan tinggi agar ndak dibodohin kayak aku," ujar Arinda.
"Ho'oh. Sampai pegel lambeku minta cerai, tapi ndak pernah dikabulin," timpal Arinda.
"Kalau itu mah dasar kamunya aja yang belum rela. Kalau memang niat minta cerai, meski dia ndak mau tetap aja bisa dikabulin pengadilan. Lah wong dia sudah ndak pernah nafkahi kamu selama bertahun-tahun," ucap Mia.
"Sampeyan kayak ndak tahu saja alasan kita ndak mau cerai mbak," ujar Arinda setelah menyesap kopinya hingga tandas.
Teng
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Arinda, Dian, dan Mia segera beranjak dari tempat duduk mereka untuk kembali bekerja. Mereka seolah tidak diberi kesempatan buat mengeluh tenyang hidup mereka, karena saat ini mereka ditakdirkan untuk menjadi wanita jelmaan pria.
Arinda merenggangkan tubuhnya, saat jam kerjanya telah usai. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dan itu tandanya mereka harus bergegas membersihkan lantai pabrik dari sisa bahan. Dan tepat jam 7 pagi, Arinda, Dian, dan Mia, keluar dari pabrik karena jam kerja mereka benar-benar sudah usai.
__ADS_1
"Dia jemput kamu tepat waktu sekali. Jangan-Jangan dia nunggu kamu disini dari jam 12 malam," ujar Dian setengah berbisik.
"Berpikiran positif saja. Itu artinya dia tipe orang yang bertanggung jawab," ucap Arinda.
"Tapi sumpah ya! ini cowok sempurna banget menurutku. Ngomong-Ngomong dia kerja dimana Rin?" tanya Mia.
"Ndak tahu. Soalnya ndak nanya juga. Lagian ndak penting juga buat aku." Jawab Arinda.
Suara tiga serangkai itu terdiam, saat mereka sudah mendekat kearah Dante.
"Sudah pulang? mau langsung pulang sekarang?" tanya Dante.
"Ya mas. Sudah lapar soalnya, jadi ndak sabar mau makan sarapan buatan ibu." Jawab Arinda sembari terkekeh.
"Ya udah pakai dulu helmnya ya!" tanpa persetujuan dari Arinda, Dante langsung memakaikan helm diatas kepala Arinda, yang membuat mata Dian dan Mia terbelalak.
"Oh...astaga...romantis sekali dia Di," ucap Mia setengah berbisik.
Arinda yang terkejut, jadi tidak enak hati pada kedua sahabatnya. Bahkan wajah wanita itu jadi merona.
"M-Mbak Di, Mbak Mia, aku duluan ya!" ujar Arinda dengan senyuman kaku dibibirnya.
Mia dan Dian hanya mengangguk, untuk menjawab ucapan sahabatnya itu.
"Tuh kan bener. Aku sudah curiga, kalau tuh cowok pasti suka sama Arinda," ujar Dian setelah motor Dante melesak pergi.
"Biar ajalah Di. Terus terang aku malah mendukung kalau Arinda selingkuh ama tuh cowok," ucap Mia.
"Edan kamu! main gila kok didukung. Takutnya Arinda lupa diri, terus lupa sama anak-anaknya. Banyak tuh kejadian, karena saking cinta dengan laki-laki. Malah anak sendiri di telantarkan," ujar Dian.
'"Aku yakin Arinda ndak begitu orangnya. Kita ndak tahu takdir. Siapa tahu tuh cowok bisa membawa Arinda keluar dari masalahnya," ucap Mia.
__ADS_1
"Ya udalah! kita lihat apa yang akan terjadi entar. Sekarang mending kita pulang. Aku sudah gerah pengen mandi," sambung Mia.
Mia dan Dian bergegas pulang. Sementara Arinda tengah kebingungan, karena motor Dante belok kearah rumah sarapan yang paling laris di daerah itu.