SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.25. Sudah Kuduga


__ADS_3

Arinda tersenyum sinis, saat melihat sepasang sendal jepit milik Aditia sudah berada di depan teras rumahnya.


"Sudah kuduga. Siapa orang yang betah memelihara manusia ndak guna seperti dia, meskipun itu keluarganya sendiri," gumam Arinda sembari melangkah masuk kedalam rumahnya.


"Dia pulang toh bu? sudah Arin bilang, manusia magadir itu ndak akan betah lontang lantung di luar sana. Mending disini, makan tidur gratis," ujar Arinda sembari melepas sepatu yang ia kenakan.


"Sudahlah ndak perlu dibesar-besarkan lagi masalah ini. Kalau dia sudah pulang, ya sudah. Jangan dibahas lagi, yang akan menjadi ribut dan menjadi perhatian tetangga lagi," ujar Fatimah.


"Buk'e masak opo? laper tenan aku," tanya Arinda.


"Lihat saja sendiri." Jawab Fatimah sembari melipat semua pakaian yang sudah kering dari jemuran.


"Anak-Anak mana buk'e?" tanya Arinda.


"Tidur." Jawab Fatimah.


Arinda meraih piring dari rak, dan mengisinya dengan nasi putih dari rice cooker. Ibu dari dua anak itu segera menyantap makanan sederhana yang sudah di sediakan oleh ibunya itu dengan lahap.


Aditia tampak keluar dari kamar, dengan tidak mengenakan baju atas. Arinda yang melihat sekilas, kemudian melengos kembali sembari menyendok lauk kedalam piring.


"Jadi begini rasanya tidak mencintai suami dan benci terhadapnya? aku jadi merasakan apa yang mbak Mia rasakan. Atau ini ada hubungannya dengan perasaanku sama mas Dante?" batin Arinda.


Aditia menarik kursi meja makan, dan duduk diseberang Arinda. Arinda sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Aditia, dan terus menyantap makanannya dengan lahap.


"Lihatlah betapa kurang ajarnya dirimu itu. Suami dihadapanmu, tapi sama sekali tidak kamu sapa. Kamu terus saja makan seperti babi kelaparan," ucap Aditia.


Arinda menghentikan gerakkan tangannya dan menatap mata suaminya dengan berani.


"Kalau kamu ada di rumah ini cuma mau ngajak aku ribut, mau menjadikan aku mesin pencetak uang dan mesin pencetak anak, sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Satu malam ndak ada kamu disini, rumah ini terasa di surga," ujar Arinda.


"Apa maksudmu? kenapa kamu selalu ingin mengusirku hanya karena aku pengangguran?" tanya Aditia.


"Ini bukan hanya masalah kamu pengangguran saja. Selain malas, kamu juga ndak tahu diri. Lama-Lama aku ndak tahan lagi sama kamu mas. Lambat laun aku pasti minta cerai sama kamu." Jawab Arinda.


Grepppp

__ADS_1


Aditia mencengkram kedua pipi Arinda dengan satu tangan, hingga membuat makanan Arinda nyaris menyembur keluar.


"Berani kamu ngancem aku lagi? aku habisi kamu! apa kamu pikir enak jadi janda dengan dua anak?" Aditia tambah memperkuat cengkraman di wajah Arinda.


Grauuutttttt


Plakkk


Plakkk


Arinda mencakar tangan Aditia dan sesekali memukul tangan suaminya itu. Aditia merasakan perih di tangannya, hingga spontan melepaskan cengkraman tangannya.


"Berani kamu nyakitin aku lagi, tak pateni sampeyan! apa sampeyan pikir aku ini Arinda gadis ingusan yang dulu? sing manut opo omongan sampeyan? ndak lagi mas. Aku ndak pernah main-main dengan ancamanku mas. Lambat laun aku pasti menggugat cerai sampeyan kalau sampeyan ndak mau berubah," ucap Arinda yang kemudian bangkit dari tempat duduknya tanpa menghabiskan semua makanannya.


Aditia menatap punggung Arinda yang tengah mencuci tangan bekas sisa makanan. Setelah itu Arinda tampak pergi dan kembali ke kamarnya. Fatimah yang berpura-pura tidak melihat pertengkaran itu hanya bisa menghela nafas panjangnya.


Aditia kemudian menyusul Arinda kedalam kamar. Istrinya itu tampak tengah berganti pakaian dan meraih selembar handuk karena ingin membersihkan diri.


Tap


"Aku pengen," bisik Aditia.


"Kamu itu memang tidak pernah bisa berubah mas. Kamu ndak pernah mau menyadari semua kesalahanmu selama ini. Jadi jangan salahkan aku, kalau aku berbuat lebih gila lagi dari kamu," ujar Arinda.


"Apa maksudmu?" tanya Aditia.


"Suatu saat kamu pasti mengerti apa maksud ucapanku." Jawab Arinda sembari melepaskan pelukkan Aditia.


Namun tentu saja usahanya itu sia-sia. Karena Aditia tiba-tiba kembali menggila. Pria itu menjatuhkan Arinda diatas tempat tidur, dan kemudian mengungkungnya. Aditia mencengkram kedua tangan Arinda dan meletakkannya diatas kepala.


"Lepasin aku mas! aku ndak mau kamu sentuh. Ini hampir magrib," ucap Arinda.


"Selalu saja cari alasan," gumam Aditia sembari melepaskan semua pakaiannya, dan melemparkannya kesembarang arah.


Sekuat tenaga Arinda menolak, meskipun baju daster yang dia kenakan sudah di robek paksa oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Mas lepasin mas!" ucap Arinda saat Aditia sudah berhasil melepas kain segitiga miliknya.


Plakkk


Plakkk


Plakkk


Aditia memukul wajah Arinda, Aditia seolah tuli, dan segera memposisikan dirinya diantara kedua kaki Arinda. Wanita itu masih berusaha memukul-mukul dada Aditia, dan berujung dirinya mendapat hujaman kasar tanpa pemanasan yang kembali membuat daerah intinya perih.


"Hiks...aku benci sama kamu Aditia. Aku benci sama kamu! hiks...."


Aditia tidak menggubris ucapan istrinya itu. Mata pria itu terpejam menikmati saat-saat dirinya menghujam Arinda dengan keras dan dalam. Namun tidak sampai 10 menit, pria itu sudah tumbang. Selama 3 tahun menikah, Arinda tidak pernah merasakan yang namanya indah dan nikmat saat berhubungan diatas ranjang bersama Aditia.


Arinda bergegas membanting tubuh Aditia disamping tempat tidur. Wanita itu bergegas beranjak dari ranjang, dan pergi ke kamar mandi dengan beruraian air mata.


Ceklek


Mata Arinda yang basah bersitatap dengan Mata Fatimah. Namun sesaat kemudian Arinda meneruskan niatnya yang ingin pergi ke kamar mandi. Sesampai di dalam sana, Arinda menangis sesegukkan sembari menyiramkan air sebanyak-banyaknya diatas kepalanya.


"Hiks...." tubuh Arinda merosot diblantai kamar mandi. Namun saat kesedihan melanda dirinya, Arinda tiba-tiba teringat dengan sosok Dante yang selalu bersikap lembut dan romantis terhadapnya.


"Mas Dante. Hiks...." hanya dengan menyebut nama pria itu, kesedihan Arinda sedikit berkurang.


Sementara Dante yang sedang makan, tiba-tiba tersedak. Pria itu segera meraih air minum dan meneguknya hingga tandas.


"Kenapa aku tiba-tiba teringat dengan Arinda. Dadaku berdebar-debar," gumam Dante.


Dante bermaksud ingin menghubungi Arinda, namun niat itu dia urungkan karena takut menciptakan masalah untuk belahan jiwanya itu.


"Lalu bagaimana caraku mengetahui keadaannya? aku sangat gelisah. Aku tidak tahu kenapa," gumam Dante.


Dante meraih kunci motornya dan juga mengenakan hoddy warna hitam. Setelah itu pria itu pergi keluar rumah dengan maksud menemui Arinda. Setelah sampai di depan lorong rumah Arinda, Dante kembali berpikir keras. Namun tekadnya sudah bulat, diapun perlahan masuk ke lorong itu, dan jalan itu menemui titik buntu, setelah tepat berada di depan rumah Arinda.


Aditia menatap motor sport warna hitam yang parkir di depan rumahnya. Namun Aditia sama sekali tidak mengenal pengendaranya, karena Dante mengenakan masker, dan menutupi kepalanya dengan hoddy.

__ADS_1


__ADS_2