
"Istrimu sudah menebus sertifikat rumah itu," ujar Gumai.
"Apa kamu tahu dia dapat uangnya darimana?" tanya Aditia.
"Mana aku tahu. Tapi kenapa kamu bersikap kurang ajar begitu Dit. Kasihan istri dan mertuamu. kapan kamu mau berubah?" tanya Gumai.
"Aku cuma bertanya padamu, jadi tidak usah menceramahiku karena itu sama sekali bukan urusanmu." Jawab Aditia yang kemudian menganhiri panggilan itu.
"Aditia benar- benar sudah tidak waras," gumam Gumai.
"Jadi Arinda sudah menebusnya. Kalau begitu aku bisa langsung pulang ke rumah. Aku nggak mau cerai dari dia. Arinda pohon duitku, aku tidak bisa kehilangan dia," gumam Aditia.
Sementara itu Arinda saat ini tengah bekerja di pabrik, karena dia mendapat shif pagi. Sedangkan Fatimah yang baru saja selesai masak, masuk ke dalam kamar karena ingin menidurkan kedua cucunya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu di luar rumah, membuat Fatimah bangkit dari tempat tidur. Sementara kedua cucunya belum juga tertidur.
Ceklek
Mata Fatimah langsung memerah, saat melihat keberadaan Aditia didepan matanya.
"Mau apa kamu kesini? kamu tidak usah kesini lagi. Dasar penipu! pembohong!" hardik Fatimah.
"Bu. Maafkan Adit sekali ini saja bu. Adit benar-benar khilaf. Adit janji tidak akan mengulanginya lagi dan akan berusaha mencari kerja," ujar Aditia.
"Kamu mau ngomong apa juga aku ndak perduli. Sekarang kamu minggat dari sini!" usir Fatimah.
Fatimah kemudian mengambil pakaian Aditia yang sudah dimasukan Arinda kedalam tas berukuran besar. Namun wanita parubaya itu sangat terkejut, saat melihat Aditia dan seorang temannya sudah masuk ke dalam rumah dan menggendong kedua cucunya.
Rayana dan Radit yang merasa tidak nyaman, tentu saja menangis keras.
"Aditia. Lepaskan Rayana dan Radit. Mau kamu bawa kemana mereka?" tanya Fatimah.
"Kalau Arinda masih bersikeras ingin bercerai, maka anak-anak akan aku bawa," ucap Aditia.
__ADS_1
"Jangan sembrono kamu! siapa yang mau mengurus mereka? kamu selama ini ndak pernah ngurus mereka, apalagi orang tuamu. Lepaskan mereka!" Fatimah berusaha menarik Radit dalam gendongan Aditia, namun pada akhirnya Fatimah di dorong keras oleh menantunya itu.
"Ayo kita pergi," ucap Aditia.
Teman Aditia segera memboncengnya, sementara Rayana berada ditengah, dan Radit berada dalam gendongannya.
"Adit berhenti! jangan bawa mereka!" hardik Fatimah.
Fatimah berusaha mengejar motor yang sudah melaju itu, namun itu tidak sebanding dengan tenaganya. Fatimah akhirnya terjatuh ke tanah sembari meraung.
Karena tidak ingin jadi tontonan orang-orang, Fatimah bergegas kembali ke rumah. Dia segera membuat panggilan untuk Arinda. Namun karena Arinda tengah bekerja, dia sama sekali tidak tahu ponselnya berdering. Fatimah yang putus asa, akhirnya tidak lagi menghunmbungi Arinda, dan sebagai gantinya dia menangis tersedu-sedu.
Waktu menunjukan pukul 12 siang, saat Arinda pergi ke kantin bersama teman-temannya.
"Eh? tumben ibu nelpon aku? terus banyak juga panggilan tidak terjawab dari buk'e. Ada apa ya?" guman Arinda.
"Ada apa?" tanya Mia.
"Ibuku banyak sekali menelponku. Dan ini tumben nelpon aku saat aku sedang bekerja. Kira-Kira ada apa ya?" ujar Arinda.
"Apa ini ada hubungannya dengan perceraianmu? kamu telpon langsung saja!" ujar Dian
"Iya Rin. Daripada kamu penasaran," timpal Mia.
"Arinda," gumam Fatimah.
Dengan gerakan cepat Fatimah menerima panggilan itu.
"Ada apa buk'e menelponku? tadi Arin lagi kerja," ujar Arinda sembari mengunyah makanannya.
"Rin. Hiks ...." Fatimah langsung menangis, yang membuat Arinda melepaskan makanannya.
"Buk. Buk'e kenapa?" tanya Arinda panik.
"Ta-Tadi Aditia kesini, dan membawa Rayana dan Radit pergi dari rumah. Dia bilang kalau kamu masih bersikukuh ingin bercerai, maka anak-anak harus ikut dia." Jawab Fatimah.
"Ap-Apa?" Arinda terlihat lemas dan mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
Air mata Arinda merebak dan membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa Rin?" tanya Mia khawatir.
"Mas Adit benar-benar sudah keterlaluan mbak. Agar tidak aku ceraikan, sekarang dia membawa anak-anakku pergi dari rumah. Terus aku harus bagaimana mbak? hiks..." Arinda terisak.
"Ap-Apa? apa Aditia sudah gila? bagaimana dia bisa mempertaruhkan keselamatan anak-anak, hanya karena tidak ingin kamu ceraikan. Aku jadi sangat mendukung kalau kamu menceraikan lanang ndak waras itu," ucap Mia.
"Kamu datangi saja rumahnya Rin. Kamu ambil lagi anakmu. Aku yakin kamu akan menang saat rebutan di pengadilan nanti," ujar Dian.
"Apa iya mbak aku bisa menang? aku takut mas Adit yang memenangkannya, dan akhirnya anak-anak dibawa sama dia. Aku ndak bisa kehilangan anak-anakku mbak," ujar Arinda.
"Tentu saja yakin menang. Kamu beberkan saja semuanya di pengadilan. Terlebih dia itu seorang pengangguran, jadi otomatis ndak bisa menghidupi anakmu. Pokoknya kamu beberkan saja semua keburukan dia selama ini," ujar Dian.
"Jadi sekarang aku harus bagaimana mba? apa aku pulang sekarang saja?" tanya Arinda.
"Kalau menurutku nanggung. Kamu ke rumahnya pas pulang kerja, dan sekalian pergi sama ibu kamu." Jawab Dian.
"Kok sama ibu?" tanya Arinda.
"Ya iyalah. Kamu mau bawa anakmu bagaimana kalau ndak sama ibu kamu?" Tanya Mia.
"Iya juga. Aduh...aku jadi linglung gara-gara lanang gendeng itu. Kalau bunuh orang ndak masuk penjara, sudah aku gorok lehernya," ucap Arinda.
"Sekarang kamu habiskan makananmu! kamu harus punya banyak tenaga untuk bertengkar dengan dia nanti," ujar Dian.
"Iya mbak." Jawab Arinda.
Arinda kemudian menyantap makanan dengan lahap. Meskipun pikirannya sedang bercabang saat ini, tapi dia tidak ingin Dante terlibat dengan urusan rumah tangganya terlalu jauh.
"Oh ya. Nanti kamu saat sidang jangan sekali-kali menyinggung soal Dante. Kalau itu kamu lakukan, kamu bisa kalah. Pokoknya selama proses perceraian dengan Aditia kamu jangan ketemu dulu dengan Dante. Takutnya Adit melihat, dan bisa menjadikan itu sebagai senjatanya," ujar Mia.
"Makasih mbak. Kalau ndak ada kalian, aku mesti sudah berbuat sembrono. Aku ndak nyangka kalau mas Adit sekejam ini sama aku," ucap Arinda.
"Jelas saja dia ndak mau pisah dari kamu. la wong kamu itu pohon duit bagi dia.Tapi aku benar-benar ndak abis pikir sama dia, kok bisa-bisanya dia niat sekali buat nipu kamu hanya untuk memuaskan nafsu judinya itu," ujar Mia.
"Namanya juga wong gendeng mbak. Mana pikirannya ke masa depan. Pokoknya kalau sampai aku mau diajak damai sama dia, kalian harus siram aku pakai air comberan ya mbak," ujar Arinda.
"Lah kenap Rin?" tanya Mia.
"Takutnya aku sudah di guna-guna sama dia. Kata orang biar ampuh menghilangkan guna-guna, harus di siram air comberan." Jawab Arinda yang membuat kedua temannya terkekeh.
__ADS_1
"Ada-Ada saja kamu Rin," ucap Dian.
Arinda tersenyum kaku dihadapan kedua temannya.