SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.19. Terakhir


__ADS_3

"Aku masih kangen sama kamu," bisik Dante.


Arinda menelan ludahnya, terpaan nafas hangat Dante membuat bulu romanya berdiri. Wanita itu perlahan melepas tangan Dante dari lingkar pinggangnya, dan kemudian menatap mata pria yang sudah menyatakan perasaannya pada dirinya itu.


"Mas ndak boleh menggoyahkan keyakinanku terus menerus seperti ini. Aku kesini bukan ingin membalas perasaan sampeyan. Aku cuma mau ngucapin terima kasih, karena sudah membelikan aku motor bagus. Aku mohon sampeyan bisa mengerti posisiku sekarang. Aku ini bukan wanita single mas, sudah punya suami sudah punya anak. Aku kasihan sama sampeyan kalau ngejar-ngejar aku yang wanita sisa ini," ujar Arinda.


"Aku nggak perduli, aku terima kamu adanya," ujar Dante.


Arinda meraih wajah Dante, dan mengelus wajah pria yang berjambang rapi itu.


"Sampeyan itu gantengnya pake banget loh mas. Aku sama kamu itu seperti langit dan bumi. Kalau sampeyan merasa kesulitan jodoh, nanti tak carikan gadis ting-ting yang masih perawan, cantik dan bahenol buat sampeyan," ujar Arinda.


Dante meraih kedua tangan Arinda dan mencium kedua telapak tangan Arinda yang terlihat kasar.


"Aku cuma mau kamu. Aku tidak perduli dengan gadis perawan lainnya. Arinda, apa kamu sungguh-sungguh tidak punya perasaan padaku?" tanya Dante.


"Ti-Tidak." Jawab Arinda sembari menghindari kontak matanya dengan Dante.


Dante tersenyum melihat reaksi spontan dari Arinda.


"Aku akan memberikanmu waktu, sampai kamu menyadari perasaanmu itu. Aku akan tahan rinduku sama kamu, sampai kamu sendiri yang menemuiku karena tidak bisa menahan rindumu padaku," ujar Dante.


"Aku sampai malu sendiri mendengar ucapan sampeyan itu mas. Emak-Emak dekil kayak aku opo pantes ngimpi dapat lanang ganteng kayak sampeyan. Maaf yo mas, tapi perasaanku sendiri mengatakan. Kalau sampeyan deketin aku cuma untuk kebutuhan biologis sampeyan aja. Nanti setelah bosan, sampeyan pasti akan buang aku. Iyo toh?" tanya Arinda.


"Kalau aku cuma mau itu dari kamu, kenapa aku harus repot-repot menyatakan perasaanku sama kamu. Kenapa aku tidak perkosa saja kamu? bukan kah selama ini banyak sekali kesempatan?" ujar Dante.


Glekkk


Arinda jadi takut sendiri saat membayangkannya apa yang akan di lakukan Dante padanya.


"Aku pulang dulu ya mas!" Arinda seolah tidak mau mendengar apa yang Dante katakan.


"Kapan kamu mau menemuiku lagi?" tanya Dante.


"Aku ndak bisa janji. Bisa juga tidak akan pernah menemuimu lagi." Jawab Arinda sembari melangkah pergi.


Dante mengekor di belakang Arinda, hingga mencapai depan pintu rumah.


Tap

__ADS_1


Dante mencekal lengan Arinda yang membuat wanita dua anak itu bersandar di pintu. Tanpa banyak basa-basi, Dante kembali mencium Arinda yang membuat wanita itu berontak dan berusaha mendorong dada pria itu.


"Mas. Aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini. Aku merasa berdosa sama suami dan anak-anakku," ucap Arinda lirih. Nafas wanita itu terengah-engah, karena sejujurnya dia juga sangat menikmati dan hampir terbuai karena ciuman itu.


"Berjanjilah kamu akan menemuiku, minimal satu minggu sekali. Aku tipe orang yang tidak bisa menahan rindu. Akan sangat berbahaya, kalau aku sampai mendatangi rumahmu hanya karena ingin melihatmu," ujar Dante.


"Kenapa mas Dante seperti mengancamku?" tanya Arinda.


"Aku tidak mengancam. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Arinda, andai kamu tahu seberapa besar rasa cintaku padamu, kamu pasti tidak akan meragukanku," ujar Dante.


"Ini bukan masalah besar atau kecilnya perasaanmu. Ini kita bicara tentang moral. Aku ndak bisa membalas perasaan sampeyan, karena statusku ndak di benarkan melakukan hal itu," ujar Arinda.


"Kalau begitu bercerailah darinya. Setelah itu menikahlah denganku. Kamu juga tidak bahagia dengannya bukan?" ujar Dante.


"Aku memang tidak bahagia dengannya, tapi aku belum ada kepikiran buat bercerai dengannya," ujar Arinda.


"Aku pergi dulu ya mas. Sudah sore sekali. Takut kemalaman di jalan," sambung Arinda.


Dante hanya bisa menatap wajah Arinda dengan wajah memelas. Wanita itu segera berbalik badan dan menekan handle pintu, tanpa memperdulikan perasaan Dante.


Sementara itu di tempat berbeda. Mia baru saja tiba di rumahnya. Wanita satu anak itu segera mencari kontak Ridwan dan membuat panggilan untuk pria itu.


"Di rumah calon istri mudaku. Kenapa? kamu kangen karo aku?" tanya Ridwan, yang membuat Mia memutar bola mata dengan malas.


"Kangen matamu picek. Aku mau menanyakan surat gugatan kemarin. Sudah kamu tanda tangani belum?" tanya Mia.


"Aku akan kesitu sekarang untuk menyerahkan surat gugatannya." Jawab Ridwan.


Mia segera mengakhiri percakapan itu, dan bergegas meraih handuk dan kemudian masuk kedalam kamar mandi. Sementara anak Mia tampak pergi ke masjid bersama teman-temannya.


Ceklek


Mia yang hanya melilitkan handuk di tubuhnya tampak terkejut, saat melihat kehadiran Ridwan di kamarnya. Jangan ditanya bagaimana binar mata Ridwan, saat melihat istrinya yang motok itu.


Mia bergegas mengambil pakaiannya, karena dia tidak mau menjadi mangsa dari pria hidung belang seperti Ridwan. Namun Tentu saja itu hanya bisa jadi angan-angan Mia. Karena Ridwan sudah memeluknya dari belakang, dan melepaskan lilitan handuknya.


"Jangan edan sampeyan mas. Kita sudah mau bercerai, sampeyan juga sudah mau menikah," Mia berusaha berontak.


Namun tentu saja itu hanya sia-sia. Ridwan dengan gesit membalikkan tubuhnya, dan langsung membenamkan wajahnya dikedua asetnya yang berharga.

__ADS_1


"Menurutlah kalau surat itu mau ku tanda tangani. Anggap saja ini jimak kita yang terakhir," ucap Ridwan disela jari Ridwan yang sudah gencar bermain dibawah sana.


""Aku ndak mau mas. Lepasih aku!" Mia berusaha menolak, namun tetap saja liangnya lebih jujur.


Ridwan segera mendorong Mia keatas tempat tidur, dan dia bergegas menanggalkan semua kain yang ada pada tubuhnya.


"Binatang kamu mas! ini mau magrib. Kamu sudah gila? bagaimana kalau kita jad gancet?" hardik Mia.


Namun nafsu Ridwan membutakan segalanya. Dia sama sekali tidak perduli dengan ucapan Mia. Pria itu langsung memposisikan diri, dan menghujam Mia dengan mantap.


Kriet


Kriet


Kriet


Ridwan menciptakan suara derit ranjang yang berirama. Mia hanya bisa pasrah, meskipun dirinya juga mendapatkan pelepasan yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Nikmat kan? aku sarankan kita tidak usah bercerai. Kalau kita cerai, bagaimana caramu menuntaskan semua hasratmu itu? kamu pasti butuhkan?" tanya Ridwan disela hujamannya.


Mia mennaggapi ucapan Ridwan dengan diam. Yang dia inginkan saat ini hanya Ridwan segera menyelesaikan hajatnya, dan segera menandatangani surat perceraian.


Setelah hampir satu jam membolak balik tubuh Mia, Ridwan akhirnya mendapatkan pelepasannya juga.


"Cepat tanda tangani surat itu mas. Tepati janjimu. Aku tetap ingin bercerai dari sampeyan," ujar Mia.


sreeetttt


Ridwan menaikkan resletingnya dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Ya sudah aku tanda tangani. Tapi kamu jangan nyesal, dan minta balikkan sama aku. Kalau balikkan sama kamu aku ndak akan mau, tapi kalau kamu pengen aku masuki, telpon saja aku," ujar Ridwan sembari mencolek dagu Mia.


Srettt


Srettt


Sretttt


Ridwan menandatangani surat perceraian di hadapan Mia. Yang membuat wanita itu bisa bernafas lega.

__ADS_1


__ADS_2