
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, saat Dante tiba di rumah Arinda. Aditia menatap Dante sembari menghembuskan asap rokok ke udara.
"Permisi mas," ucap Dante.
Sreeettt
Arinda sedikit membuka tirai jendela, saat mendengar ada suara di teras rumahnya.
"Siapa itu?" batin Arinda.
"Awas saja kalau itu teman mas Adit yang suka ngajakin mas Adit judi atau melakukan hal yang nggak-nggak. Tak pentungi!" gumam Arinda.
Arinda memutuskan untuk menguping pembicaraan Aditia dan juga pria yang sama sekali tidak dia kenal.
"Ada apa? mau cari siapa?" tanya Aditia dengan gaya sombongnya.
"Saya mau cari rumah Arinda. Apa mas tahu yang mana rumahnya?" tanya Dante.
Deg
Jantung Arinda terasa hendak berhenti berdetak, saat mendengar suara Dante yang sangat dia kenal.
"Ya Tuhan...kenapa mas Dante kesini? mati aku kalau mas Adit cemburu dan ngajak bertengkar lagi," batin Arinda.
"Siapa kamu? ada perlu apa dengan istriku?" tanya Aditia dengan wajah tidak senang.
"Oh...jadi ini bajingan yang sering menyakiti Arinda? terlihat sekali kalau Arinda tidak akan pernah bahagia bersama pria begajulan ini," batin Dante.
"Saya pemilik motor yang menjual motor pada orang yang sudah memberikan ini sama mbak Arinda. Tempo hari BPKB motornya masih di tempat leasing. Sekarang sudah di tebus, jadi saya mau antar." Jawab Dante.
"Oh...mana BPKB nya?" tanya Aditia.
"Bisa saya ketemu langsung sama mbak Arinda?" tanya Dante.
"Gawat kalau BPKB motor itu ada sama mas Adit. lanang nggak waras itu bisa saja nanti menggadaikannya atau menjualnya," batin Arinda.
"Maaf dia...."
Arinda bergegas keluar, karena dia tidak ingin BPKB motor itu diambil oleh Aditia. Namun Arinda lupa, kalau wajahnya saat ini tengah memar.
"Siapa yang datang mas?" tanya Arinda yang keluar tiba-tiba.
Dante dan Aditia menoleh bersamaan. Mata Dante terbelalak, saat melihat memar di wajah kekasihnya itu.
Greppppp
Tangan Dante terkepal erat. Dia tidak bisa terima, karena Arinda diperlakukan dengan kasar oleh Aditia.
__ADS_1
"Dia mau memberikan BPKB motor." Jawab Aditia.
"Oh ya? wah...makasih ya mas," ucap Arinda dengan seutas senyuman.
"Kamu masih saja bisa senyum, padahal wajahmu pasti sedang sakit. Bajingan ini kenapa nggak cepat mati saja," batin Dante dengan mata menyala-nyala.
"Sepertinya mas Dante sedang marah. Tapi marah kenapa?" batin Arinda.
Dante meraih BPKB motor yang sudah lama dia simpan dan kemudian menyodorkannya pada Arinda.
"Aku pulang dulu," ujar Dante yang langung berbalik badan.
"Eh? mas Dante kenapa? suasana hatinya sepertinya sedang tidak baik. Apa dia marah sama aku? tapi pagi tadikan baik-baik saja," batin Arinda.
Kini giliran hati Arinda yang gelisah, karena Dante seperti cuek kepadanya. Setelah Dante pergi, Arinda langsung masuk kedalam rumah dan mengamankan BPKB motor yang dia pegang di kamar Fatimah.
Malam terasa lama bagi Arinda. Entah kenapa kini dia jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Dante. Pagi-Pagi sekali dia bergegas memasak, mencuci, dan juga merapikan rumah. Setelah selesai semua, dia segera memandikan semua anaknya dan memakaikan baju.
"Kamu ndak pergi kerja ndok?" tanya Fatimah.
"Kebagian shif siang buk'e." Jawab Arinda berbohong. Dia sengaja megeraskan suaranya, agar Aditia yang tengah sarapan bisa mendengar suaranya.
"Shif siang? sekarang sudah nambah shif toh?" tanya Fatimah.
"Iya buk'e. Alasannya sih agar buruh tidak terlalu capek." Jawab Arinda.
"Terus mulai jam berapa masuknya?" tanya Fatimah.
"Terus yang shif malam mulainya malam hari?" tanya Fatimah.
"Ndak buk'e. Yang shif sore tetap pergi seperti jam biasanya." Jawab Arinda.
"Lah kok gitu?" tanya Fatimah.
"Ya mungkin mereka ingin menjaga keselamatan buruh pabrik.
"Benar juga, masuk akal itu," ujar Fatimah.
Aditia tampak diam dan terus menikmati makanan lezat yang dimasak oleh istrinya.
"Aku tak pinjam motormu dulu hari ini. Nanti biar aku yang mengantarmu kerja, pas pulang nanti tak jemput lagi," ujar Aditia.
Deg
Jantung Arinda terasa ingin copot, saat mendengar ucapan Aditia.
"Bagaimana ini," batin Arinda.
__ADS_1
"Sampeyan yang mau kemana? biar tak antar," tanya Arinda.
"Ada urusan penting. Biar aku pergi sendiri saja, nanti aku yang antar kamu bekerja." Jawab Aditia.
"Sampeyan bilang saja! biar aku yang ngantar sampeyan ketempat itu," ujar Arinda.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Arinda.
"Ya iyalah ndak percaya. Motor itu satu-satunya harta buat aku cari nafkah mas. Kalau sampai sampeyan hilaf di gadai dan di pakai buat judi, terus aku kerja bagaimana? siapa yang mau menghidupi anak-anak." Jawab Arinda.
"Aku janji nggak akan jual motor itu," ucap Aditia.
"Aku tetap ndak percaya sama sampeyan. Sampeyan mau diantar hayuk, ndak mau juga ndak apa-apa. Kalau sampeyan ndak lupa, sampeyan juga janji begitu pas gadai anting-antingku. Nyatane opo? sampai sekarang ndak ada kabar berita," ujar Arinda.
"Keterlaluan kamu Arinda. Mentang suami nganggur, sekata-kata sama suami. Mau jadi istri durhaka kamu?" tanya Aditia.
Fatimah segera menahan tangan Arinda yang kembali ingin meladeni Aditia bertengkar.
"Tolong ajarin anaknya buk. Jangan sampai aku yang ngajarin sopan santun dengan tanganku," ujar Aditia sembari masuk ke kamarnya.
"Ggrrrrrrrr...."
Nafas Arinda naik turun, hingga kekesalannya itu berbuntut tangisan karena ingin meluapkan semua beban di hatinya.
"Buk'e rasane ndak enak hati kalau melihat kalian bertengkar di depan ibu. Kenapa toh kalian ndak bisa membicarakan semuanya dari hati ke hati," ucap Fatimah.
"Ndak bisa lagi buk'e. Itu ndak akan pernah terjadi kalau dia sama sekali ndak mau berubah. Terlebih sudah ndak ada cinta di hati Arin," ujar Arinda yang membuat Fatimah terdiam.
Arinda memasuki kamarnya dan mendapati Aditia yang tengah bermain ponsel. Arinda bergegas berganti pakaian kerja, karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu Dante. Hanya pria itu yang bisa membuat hatinya tenang dan nyaman.
Tanpa berpamitan dengan Aditia, dia segera pergi dari rumah. Saat dia tiba di rumah Dante, pria itu tampak mondar mandir menunggu kedatangan Arinda.
Greeppp
Dante memeluk Arinda dengan erat. Sementara mata Arinda berpedar, melirik ke kiri dan ke kanan. Dia tidak ingin perlakukan Dante padanya menjadi pusat perhatian para tetangganya. Dante kemudian melepaskan pelukkannya, dan menarik Arinda masuk kedalam rumah.
"Mas ndak pergi kerja?" tanya Arinda.
Dante tidak menggubris ucapan Arinda. Pria itu langsung mengambil es batu dan memasukkannya kedalam handuk kecil.
"A-Aku ndak apa-apa mas," ucap Arinda.
"Sampai berapa lama kamu akan bertahan berumah tangga dengan bajingan itu?" tanya Dante.
"Aku ndak tahu mas." Jawab Arinda
"Apa mau nunggu sampai mati atau masuk rumah sakit dulu, baru kamu akan mengerti. Kalau suamimu itu sama sekali nggak layak buat kamu?" tanya Dante.
__ADS_1
"Mas...." wajah Arinda memelas dengan mata berkaca-kaca.
Dante menghela nafas, dan kemudian membawa kepala Arinda dalam dekapannya. Tangis Arinda kemudian jadi pecah seketika.