
Setelah makan Arinda pergi ke kamar untuk berganti pakaian, dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia pergi membentangkan kasur tipis di ruang tamu, dan mengajak anaknya bermain hingga tertidur.
Karena terlalu lelah dan mengantuk, Arinda sampai tidak sadar saat Aditia menggendongnya ke kamar, dan mulai menyentuh dirinya.
"Emmm...."
Arinda mulai terusik, saat Aditia sudah menyingkap dasternya, hingga terpampanglah kedua aset miliknya. Pria itu dengan asyiknya bermain di puncak dadanya yang menjulang, yang membuat Arinda mau tak mau meloloskan suara merdunya.
"M-Mas...."
Sejujurnya Arinda ingin protes, karena dia benar-benar ngantuk dan lelah. Tapi mengingat Aditia yang sudah bekerja dan menghasilkan uang, Arinda jadi tak sampai hati menolak permintaan suaminya itu.
"Tunggu mas! jangan lupa pakai pengaman," ujar Arinda.
Arinda mendorong dada Aditia. Entah kenapa dia ingin Aditia selalu menggunakan pengaman. Dia takut hamil, namun saat dengan Dante dia malah tidak pernah berpikir kesitu.
"Nggak mau ah. Nggak nikmat pakai itu. Rasanya beda!" tolak Aditia.
"Tapi aku ndak mau hamil lagi mas!" tolak Arinda.
"Aku tidak akan memasukannya," ujar Aditia.
Arinda hanya bisa menghela nafasnya, karena sembari ngomong, Aditia sudah memasukan kejantanannya. Arinda hanya bisa pasrah saat Aditia menjadikan dirinya sebagai landasan pacu.
"Ah...." Sesuai janjinya, Aditia memang tidak memasukan para calon anaknya kedalam rahim Arinda. Pria itu segera tidur membelakangi Arinda, setelah melampiaskan nafsunya.
"Selalu bikin kotor aja. Ndak pernah mikir bagaimana caranya agar bisa sama-sama enak," batin Arinda.
Arinda yang perutnya sudah penuh tumpahan hajat suaminya, segera keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, Arinda kembali tidur untuk melanjutkan mengistirahatkan matanya yang masih lelah.
*****
Dua hari kemudian....
"Sayang. Kamu dimana? aku sudah nunggu di kamar waktu itu," tanya Dante.
"Sebentar lagi aku berangkat. Soalnya aku lagi nyuapin anakku makan dulu." Jawab Arinda.
"Aku tunggu ya sayang," ujar Dante.
"Ya." Jawab Arinda.
Setelah menyuapi anak-anaknya makan, Arinda bergegas pergi menemui pujaan hatinya. Baru saja wanita itu membuka pintu, Dante sudah menariknya kedalam dan mencumbu dirinya.
"Ya ampun mas. Kamu kayak singa kelaparan begini," ledek Arinda sembari terkekeh.
"Memang aku sedang kelaparan." Jawab Dante sembari melucuti semua pakaiannya.
Arinda yang juga sudah terbakar ga*rah, dengan senang hati melayani pujaan hati yang selalu dia rindukan itu. Siang itu mereka mengulangi kegiatan itu hingga tidak terhitung berapa kali jumlahnya. Yang pasti Dante dan Arinda sama-sama sudah terpuaskan.
__ADS_1
Hosh
Hosh
Hosh
"Entah kenapa melakukannya denganmu tidak pernah puas rasanya kalau cuma satu kali," ujar Dante, sembari membawa Arinda kedalam pelukannya.
"Itu karena diantara kita ada syetan mas. Coba seandainya kita menikah nanti. Kamu belum tentu minta setiap hari," ujar Arinda.
"Tidak juga. Kamu tidak tahu kebutuhanku itu sangat besar," ujar Dante yang langsung mendapat cebikan bibir dari Arinda.
"Sudah hampir jam 4. Kamu masuk malam kan? bersih-bersih yuk?" ujar Dante.
"Ayo mas." Jawab Arinda.
Arinda dan Dantepun bersih-bersih bersama sembari sesekali bercumbu mesra. Setelah selesai Arindapun bergegas berpakaian karena dia ingin segera berangkat kerja.
Cup
Arinda mencium Dante sembari mengalungkan kedua tangan di leher pujaan hatinya itu.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang!" ujar Arinda.
"Ah...padahal masih kangen sama kamu," ujar Dante dengan bibir mengerucut.
"Ya sudah hati-hati ya sayang," ucap Dante.
"Iya mas." Jawab Arinda.
Arinda keluar kamar itu lebih dulu. Wanita dua anak itu bergegas pergi menuju pabrik, karena dia juga tidak sabar ingin bertemu dengan kedua sahabatnya.
"Mbak Dian," teriak Arinda, saat melihat Dian dan Mia akan pergi dari tempat parkir.
Arinda bergegas memarkirkan motornya, dan menyusul kedua temannya.
"Mbak Dian sudah masuk kerja lagi?" tanya Arinda sembari menggamit lengan sahabatnya itu.
"Iya. Kalau kelamaan cuti, bisa-bisa habis gaji mbak di potong." Jawab Dian.
"Gimana mbak? aman?" tanya Arinda.
"Untuk sementara aman." Jawab Dian.
"Habis ketemu Dante lagi?" tanya Mia.
"K-Kok mbak bisa tahu?" tanya Arinda.
"Nggak tahu kenapa kalau kamu habis ketemu Dante, auramu itu jadi beda." Jawab Mia.
__ADS_1
"Mbak Mia bisa aja nih ledekin aku. Ntar tak tanya mas Dante, barangkali dia punya teman yang lagi jomblo," ujar Arinda.
"Gimana kalau Dante aja buat aku?" tanya Mia yang langsung dapat pelototan mata dari Arinda.
"Mas Dante itu punya aku. Ndak akan aku biarkan siapapun merebut dia dari aku," ujar Arinda.
"Pretttt...orang lagi kasmaran memang beda. Awas aja ntar kalau mewek gara-gara dia. Aku kata-katain kamu," ucap Mia.
"Ndak akan. Mas Dante itu sayang sama aku," ujar Arinda.
"Maklum aja lagi mabok Mi," ledek Dian.
Arinda terkekeh. Tiga serangkai itu kemudian masuk kedalam pabrik untuk melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Sementara itu di tempat berbeda Aditia tengah kesal. Karena setiap harinya uang hasil menggadaikan rumah semakin menipis karena kalah judi.
"Bagaimana ini? Arinda bisa membunuhku kalau sertifikat itu tidak segera aku tebus," batin Aditia.
"Jalan satu-satunya aku cuma bisa jadi driver online sekarang. Dengan begitu aku bisa nyimpan buat bayar Gumai, terus judi juga bisa lanjut," gumam Aditia.
"Ayo Aditia. Kamu tidak bisa kalah, kamu harus menang. Semangat!" Aditia menyemangati dirinya sendiri sembari terus menatap layar ponselnya. Tangannya begitu lincah, hingga makan malampun dia lewatkan.
*****
Waktu menunjukan pukul 8 pagi, saat Arinda sampai di rumahnya. Fatimah tampak sedang memasak, setelah membeli bahan makanan di tukang sayur.
"Mas Adit sudah berangkat kerja buk'e?" tanya Arinda.
"Ya." Jawab Fatimah.
"Kamu kalau mau sarapan masih ada nasi goreng di atas meja," ujar Fatimah.
"Iya buk'e. Aku mau mandi dulu." Jawab Arinda.
Arinda kemudian pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Arindapun pergi sarapan dan kemudian memandikan kedua anaknya.
Namun karena matanya mengantuk, tanpa sadar Arindapun tertidur.
Tring
Tring
Arinda sama sekali tidak sadar, saat ponselnya berdering. Fatimah yang mendengar ponsel putrinya, berinisiatif untuk mengambil ponsel itu dari kamar Arinda karena takut itu telpon yang sangat penting.
"Dian? oh ini kan nama temannya yang suaminya baru meninggal itu," gumam Fatimah.
Fatimah kemudian menerima panggilan itu dengan senyum terbit dibibirnya.
"Sayang. Kamu hari ini shif malam lagi kan? kita ketemuan lagi di tempat kemarin ya? aku masih kangen sama kamu," ucap Dante.
Senyum Fatimah sirna dari bibir wanita parubaya itu. Wanita yang mempunyai riwayat penyakit diabetes itu mendadak lemas, saat mendengar penuturan pria diseberang telpon.
__ADS_1