SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.53. Gugatan Cerai


__ADS_3

"Mas,"


"Hem?"


"Seandainya aku resmi bercerai dengan mas Adit nanti, dan kita berencana menikah. Apa kira-kira orang tuamu setuju punya menantu janda anak dua?" tanya Arinda.


Tangan Dante yang tengah menggosok punggung Arinda dengan sabun mendadak berhenti seketika. Pertanyaan Arinda cukup mengganggu pikirannya, karena dia tahu betul betapa kerasnya watak kedua orang tuanya itu.


"Apapun akan aku lakukan asal selalu bersamamu." Jawab Dante.


"Itu bukan jawaban mas. Aku bertanya, apa orang tuamu akan setuju? terus terang aku sudah trauma dengan pernikahan tanpa restu. Tadi aku bahkan jambak-jambakan dengan mertuaku. Aku nggak mau itu terjadi lagi," ujar Arinda.


"Kamu jambak-jambakan? kenapa begitu?" tanya Dante.


"Itulah dampak kalau sering makan hinaan. Ditambah emosiku sedang meledak-ledak karena ulah anaknya. Dia malah ngomong yang enggak-enggak. Tapi dia duluan yang jambak aku, makanya aku jambak balik." Jawab Arinda.


"Keren ih pacar aku," ujar Dante.


"Tapi pada intinya kita harus bersabar. Kamu masih punya masa iddah. Nanti saat kamu sudah resmi bercerai, aku akan membicarakan semuanya dengan orang tuaku," sambung Dante.


Arinda berbalik badan, dan menatap wajah Dante.


"Aku takut mas. Aku takut dipaksa pisah dari sampeyan. Aku sadar diri, kalau aku ini ndak pantas mendampingi sampeyan yang sempurna," ujar Arinda.


"Hussstt...aku nggak perduli pendapat orang tentang kamu, yang aku perdulikan perasaanmu sendiri," ujar Dante.


"Kalau seandainya orang tuamu tidak merestui kita bagaimana mas?" tanya Arinda.


"Kita akan kawin lari. Kita bisa menikah tanpa restu mereka." Jawab Dante yang membuat Arinda terdiam.


"Kenapa?" tanya Dante.


"Jadi memang sudah nasibku ya! harus menikah tanpa restu," ujar Arinda.


"Belum tentu, kita kan belum mencobanya," ujar Dante.


"Ya sudahlah pikirkan lagi nanti. Sekarang aku harus pulang dulu, ibu pasti khawatir sama aku," ujar Arinda yang kemudian bangkit dari bathup dan membilas tubuhnya dibawah shower.

__ADS_1


Disusul oleh Dante, yang juga ikut mandi dibawah guyuran air shower. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Merekapun pulang bersama. Dante mengantar Arinda tepat di depan lorong.


"Aku pulang dulu ya sayang!" ucap Dante.


"Iya mas. Hati-Hati ya!" ucap Arinda.


Setelah Arinda pergi dan hilang dikegelapan lorong, Dante kemudian juga pulang ke rumahnya dengan perasaan tidak menentu.


"Kenapa baru pulang jam sekarang ndok?" tanya Farimah.


"Habis ketemu dengan mas Dante." Kini Arinda sudah tidak takut lagi untuk mengatakan kebenaran tentang dirinya dan juga Dante.


"Lalu bagaimana urusanmu dengan Aditia?" tanya Fatimah.


"Besok aku izin dari tempat kerja. Aku tetap akan menggugat cerai mas Adit. Sudah terlanjur basah, tadi aku juga sempat jambak-jambakan dengan ibu mertuaku." Jawab Arinda.


"Apa? dimana akalmu itu? kamu melakukan hal ndak sopan begitu, ibu mertuamu nanti tambah benci sama kamu," ujar Fatimah.


"Aku ndak perduli buk'e. Niatku memang ndak mau baik-baik lagi dengan keluarga orang itu. Dia begitu karena selama ini aku diam setiap kali dia menghinaku. Tapi sekarang ndak lagi. Aku ndak akan membiarkan siapapun menghinaku, apalagi menghina keluargaku," ujar Arinda yang membuat Fatimah jadi menghela nafas berat.


"Ya sudah kalau maumu begitu," ujar Fatimah.


Arinda kemudian masuk ke dalam kamar, untuk melanjutkan istirahat.


"Uggghhh...rasanya badanku remuk semua. Mas Dante memang sangat perkasa. Aku merasa kualahan, tiap kali bercinta sama dia," gumam Arinda sembari mengulum senyumnya.


*****


Arinda bergegas menyelesaikan sarapan paginya, karena pagi ini dia berniat akan menggugat cerai Aditia ke pengadilan. Setelah selesai diapun berangkat. Hanya butuh waktu 25 menit baginya untuk sampai ke pengadilan.


Arinda bergegas melakukan registrasi, setelah selesai dia diyakinkan seseorang kalau dirinya benar-benar ingin menggugat cerai suaminya. Karena ingin cepat selesai, Arinda tidak ingin banyak pertimbangan dan menyebabkan proses perceraianya semakin alot. Setelah dia mendapat surat gugatan cerai itu, dia segera pergi menuju bank untuk menarik sejumlah uang. Setelah selesai, dia langsung pergi ke rumah Gumai.


"Terima kasih. Ini sertifikat rumahmu," ujar istri Gumai.


Gumai saat ini memang tidak berada di rumah, karena pria itu sedang bekerja saat ini.


"Sama-Sama mbak. Makasih ya! saya pulang dulu," ucap Arinda.

__ADS_1


Sebenarnya sangat sakit hati Arinda, memberikan uang itu secara cuma-cuma. Karena rasa sakit hati itu pula, Arinda jadi bertambah semangat ingin menceraikan Aditia.


Setelah dari rumah Gumai, Arinda langsung pergi menuju rumah mertuanya karena ingin menyerahkan surat gugatan cerai.


"Mau apa kamu datang kesini lagi?" tanya Marini


"Ibu tenang saja. Aku nggak akan kesini selamanya setelah kami resmi bercerai nanti. Tapi tolong kerjasamanya untuk sementara waktu. Tolong berikan surat gugatan cerai ini pada mas Adit, dan pastikan dia menandatanganinya secepatnya." Jawab Arinda.


Marini menyambar kertas itu dari tangan Arinda.


"Kamu tenang aja. Aku pastikan Aditia akan menandatangani surat cerai ini. Aku juga nggak mau lagi punya menantu sepertimu," ujar Marini.


"Baguslah kalau begitu. Karena aku sudah tidak mau juga punya mertua seperti anda," ujar Arinda yang membuat gigi Marini bergemeratuk.


"Aku pergi dulu. Ingatlah buat mas Adit menandatangani surat itu secepatnya. Kalau sudah di tanda tangani, cepatlah beritahu aku agar cepat ku urus semuanya," sambung Arinda yang kemudian langsung pergi begitu saja.


Dan sesuai dugaan Marini, Aditia tentu saja tidak bisa menerima perceraian itu dengan sangat mudah.


"Apa yang mau kamu harapkan dari dia? sudahlah lepaskan saja dia. Mereka juga tidak punya tempat tinggal lagi. Kamu mau tinggal di kolong jembatan?" tanya Marini.


"Tapi kasihan anak-anakku bu," ucap Aditia.


"Kalau soal anak, kamu bisa mengambilnya kalau kamu mau," ujar Marini.


"Benar juga. Kalau aku mengambil anak-anak, Arinda pasti tidak berkutik dan tidak jadi menceraikan aku," batin Aditia.


"Kamu tidak perlu banyak berpikir. Nanti kamu bisa mencari wanita yang jauh segalanya dari dia. Yang past kamu cari yang berpendidikan dan tidak kurang ajar seperti dia," ujar Arinda.


Aditia sama sekali tidak menanggapi ucapan ibunya, karena dia memiliki rencananya sendiri.


"Jadi cepat tanda tangani surat gugatan ini, setelah itu cepat selesaikan urusanmu dan Arinda," sambung Marini.


"Nanti saja bu. Aku ada urusan dulu diluar sebentar," ujar Adita yang kemudian pergi keluar rumah.


"Mau menceraikan aku? nggak semudah itu. Aku ingin lihat, apa kamu masih bersikukuh menceraikan aku saat anak-anak berada di tanganku," batin Aditia dengan seringai di bibirnya.


Aditia kemudian menemui temannya, yang biasa menagih uang keamanan di pasar. Dia ingin meminta bantuan temannya itu untuk memuluskan semua rencananya. Dan setelah sepakat, Aditia menghubungi Gumai untuk memastikan rumah mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2