
Aditia dengan gesit bergegas memasuki kamar Fatimah, saat wanita parubaya itu sudah pergi membeli sayur. Namun pria itu sangat kesal, karena dia sama sekali tidak menemukan uang itu. Yang dia temukan malah BPKB motor yang Arinda sembunyikan di kamar itu.
"Tidak. Aku tidak bisa menggadaikan motor Arinda demi menutupi hutangku pada Gumai. Aku nggak mau terjebak semakin dalam. Hah...bagaimana ini? akhir bulan pasti Gumai akan datang ke rumah ini untuk menyitanya," gumam Aditia.
Aditia berusaha sekali lagi menemukan keberadaan uang Arinda, tapi tetap saja tidak menemukannya. Dia memutuskan segera keluar dari kamar itu, karena takut Fatimah keburu pulang. Dan benar sesuai instingnya, dari kejauhan Aditia bisa melihat Fatimah sudah berada di halaman rumah menuju pulang.
Aditia bergegas masuk ke dalam kamar, dan berpura-pura tidur.
"Bagaimana ini? aku harus minjam sama siapa, agar bisa menutupi hutangku pada gumai?" batin Aditia.
"Dari semua temanku, cuma Gumai yang paling sukses. Apa aku coba gadaikan SK ibu aja ya?" batin Aditia.
Aditia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan pada orang tuanya.
"Loh. Kamu mau kemana Dit? katanya kamu sakit?" tanya Fatimah yang baru akan mengantar makanan dan obat untuk menantunya itu.
"Mama menyuruhku kesana biar diurusi. Disini buk'e sudah repot ngurus Rayana dan Radit. Aku nggak lama buk, mungkin sore pulangnya. Kan besok harus mulai kerja lagi," ujar Aditia.
"Ya sudah kalau maumu begitu. Hati-Hati saja, jangan ngebut," ujar Fatimah.
"Iya buk. Aku pamit ya!" ucap Aditia.
Adititiapun memasang helm di kepalanya, dan kemudian pergi ke rumah orang tuanya. Sesampai disana, tentu saja dia disambut kurang baik oleh adiknya. Karena selama ini Aditia selalu merepotkan orang tuanya.
"Bu. Aku minta bantuan ibu sekali ini saja," ujar Aditia.
"Ada apa?" tanya Martini.
"Ibu gadaikan SK ibu ya? Adit terlilit hutang bu." Jawab Aditia.
"Terlilit hutang? kok bisa? apa istri kamu gaya hidupnya glamor?" tanya Martini.
"Bukan begitu bu. Tempo hari Adit join bisnis dengan teman, tapi ternyata Adit ditipu dan uangnya di bawa kabur." Jawab Aditia.
__ADS_1
"Apa? jadi berapa kerugian yang kamu derita?" tanya Martini.
"Nggak banyak, cuma 40 juta. Masalahnya uang itu Adit peroleh dengan meminjam uang teman, dengan menggadaikan sertifikat rumah mertuaku."Jawab Aditia.
"Sudah ibu bilang, jangan nikahi wanita pembawa sial itu. Semua kesialan yang terjadi dalam hidupmu, pasti karena wanita sialan itu. Kamu tahu sendiri kan? baru saja kamu menikahi dia, kamu di pecat dari pekerjaan kamu. Dan sekarang malah di tipu sebanyak itu," ujar Martini.
"Iya bu. Aku juga menyesal menikahi dia, tapi mau bagaimana lagi. Sekarang anakku sudah dua. Dia selalu mengancamku, kalau dia akan memisahkan aku dari anak-anakku. Aku nggak mau pisah dari anak-anak," ujar Aditia.
"Jadi tolong bantu Adit ya bu! Adit janji bakal menggantinya. Sekarang Adit sudah jadi driver online, Adit pasti bantu cicilan perbulannya," ujar Aditia.
"Jangan mau bu. Ibu nggak bisa percaya gitu aja sama ucapan kak Adit. Kalau dia waras, kenapa nggak mengandalkan ijazahnya buat cari kerja! sekarang malah jadi driver online. Aku sama sekali nggak percaya dengan ucapan dia," ujar Risa.
"Kamu kenapa sih nggak senang sekali ibu bantu aku? emang kamu mau nanti kalau rumah mertuaku disita, kami sekeluarga tinggal disini? mikir dong," tanya Aditia.
"Seharusnya yang mikir itu kakak, bukan kami. Kakak kan tahu ibu sama ayah cuma mengandalkan gaji pensiun buat menghidupi kami dan juga pendidikanku. Kalau kakak menggadaikan SK ibu, terus pas bayar macet, siapa yang mau bertanggung jawab?" tanya Risa.
"Betul kata Adikmu Dit. Uang pensiun ibu juga nggak seberapa. Lagipula menurut ibu biarkan saja rumah mertuamu disita, itu bisa jadi alasan buat Arinda menceraikanmu dan kamu bisa bebas," ujar Marini.
"Kalau begitu cari solusi untuk hidupmu sendiri. Berhenti nyusahin keluarga dan istrimu terus menerus. Jangan kakak pikir aku nggak tahu kebiasaan lamamu itu," ujar Risa.
"Jadi benar-benar nggak bisa bantu sedikitpun nih bu?" tanya Aditia.
"Ibu malah berharap kamu itu benar-benar bercerai dari dia. Jadi biarkan saja rumah itu disita." Jawab Martini.
Aditia bangkit dari tempat duduknya dan kemudian pergi dari rumah itu.
"Akhh...bagaimana ini. Apa rumah itu benar-benar tidak bisa diselamatkan?" batin Aditia.
Aditia tampak melamun diatas motor, hingga dirinya hampir saja menabrak kendaraan di depannya.
"Kamu kok kayak buru-buru gitu pulangnya?" tanya Mia.
"Iya mbak. Tadi pagi mas Adit ndak kerja, dia sedang sakit di rumahnya," ujar Arinda.
__ADS_1
"Hebat benar kamu Rin. Kamu jadi kayak menjalani poliandri," ujar Dian.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku ndak tahu ini sampai kapan, tapi aku sangat bahagia sekarang," ujar Arinda.
"Emang ibu kamu ndak rewel lagi?" tanya Mia.
"Ya masih suka wanti-wanti agar aku ndak ketemu mas Dante selama aku ndak menggugat cerai mas Adit. Sebenarnya aku merasa bersalah sama ibu, karena aku sering bohong sama beliau." Jawab Arinda.
"Kamu mau buat hidupmu sulit sendiri Rin. Tapi ya sudahlah, itu hidupmu sendiri. Cuma kamu yang bisa tahu. Kapan harus dilanjutkan, dan kapan kamu harus berhenti melakukan hubungan terlarang itu," ujar Dian.
"Aku juga ndak tahu sampai kapan mbak. Yang pasti aku mejalani keduanya dengan serius saat ini. Mungkin lebih tepatnya aku dan mas Dante cuma saling butuh melepaskan hasrat yang ndak pernah selesai dari mas Adit," ujar Arinda yang membuat Mia dan Dian geleng-geleng kepala.
"Ya sudah. Aku duluan ya mbak," ujar Arinda.
"Yo. Hati-Hati," ujar Mia dan Dian nyaris bersamaan.
Arinda memacu kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Wanita dua anak itu ingin segera sampai di rumah, karena ingin cepat mengetahui keadaan suaminya. Namun saat tiba di rumah, dia tidak melihat motor Aditia berada di teras maupun di dalam rumah.
"Mas Adit kemana buk'e?" tanya Arinda saat melihat Aditia tidak berada di kamarnya.
"Dia disuruh ibunya pulang, karena dia ingin mengurusnya." Jawab Fatimah.
"Hah. Mesti ibunya mas Adit ngatain aku ini nanti. Bilang aku ndak becus ngurus suami, dan berbagai macamnya," ujar Arinda.
"Biarkan saja. Yang penting pada kenyataannya kamu sedang bekerja keras untuk keluarga," ujar Fatimah.
"Apa aku telpon mas Adit aja ya buk'e?" tanya Arinda.
"Menurut buk'e sih ndak usah. Takutnya kamu dikira ndak percaya kalau orang tuanya mengurus anaknya." Jawab Fatimah.
"Benar juga kata buk'e. Yo weslah, aku tak mandi dulu," ujar Arinda.
Arinda memutuskan untuk membersihkan diri. Sementara itu di tempat berbeda, Mia yang baru sampai di rumah, melihat pedagang yang biasa jual nasi uduk, tengah menyeret anaknya ke depan rumah si Lastri
__ADS_1