
Satu minggu kemudian....
"Telah ditemukan mayat seorang pria berusia 29 tahun di parit dekat rumah warga. Mayat ditemukan pertama kali oleh seorang warga yang hendak membuang sampah di dekat parit tersebut. Saat ini tidak ada satupun warga yang berani menyentuh mayat korban, sampai pihak kepolisian datang,"
Seorang reporter yang mendengar berita yang tak jauh dari rumahnya, langsung meliput kejadian itu setelah berko'ordinasi dengan salah satu stasiun tv yang memiliki program berita.
Sementara itu Arinda yang tengah santai, menonton berita itu dengan seksama. Namun saat sebuah kamara menyorot lokasi kejadian, dan sosok mayat yang masih berada di parit dengan posisi terlentang, Arinda langsung menjatuhkan keripik kentang yang dia pegang.
Tubuh Arinda jadi gemetar, dia tahu betul tempat lokasi kejadian dan juga mayat yang tengah terbaring itu.
"M-Mas Adit?" bibir Arinda bergetar.
Arinda secepat kilat mengambil jaket, dan kunci motor. Wanita itu kemudian bergegas ke tempat kejadian. Saat dia tiba disana, sudah banyak orang-orang berkerumun untuk melihat keadaan mayat.
"Tolong minggir! saya mau lihat itu benar. mantan suami saya atau bukan," ujar Arinda sembari menerobos kerumanan masa.
Saat tiba di depan parit, dia benar-benar melihat sosok Aditia yang sudah tergolek lemah dengan kondisi wajah babak belur.
"Ya Tuhan mas. Ini nggak mungkin kamu kan mas? hiks... " Arin terisak.
"Pak tolong angkat mas Adit pak. Dia keluarga saya pak," ucap Arinda sembari menangis.
"Tapi polisi belum datang mbak. Nanti ada kesalahan, kita nggak mau jadi sasaran,"
"Saya yang akan bertanggung jawab semuanya pak," ujar Arinda.
Para warga saling melihat satu sama lain penuh dengan keraguan.
"Minimal kita harus bertindak manusiawi pak. Kasihan mayatnya dibiarkan tetap di parit begini. Minimal kita angkat ke pinggir sini pak," ujar Arinda.
Setelah sepakat, merekapun mengangkat tubuh Aditia yang sudah kaku dan pucat itu. Setelah diangkat, mereka meletakkannya di pinggir jalan.
"Mas. Bangun mas! kenapa bisa jadi begini mas. Hiks...." Arinda mengguncang-guncang tubuh Aditia.
"Dia siapa sampeyan mbak?" tanya salah seorang warga.
"Mantan suami saya pak." Jawab Arinda sembari menyeka air matanya.
Arinda menatap jari-jari Aditia yang sudah sangat pucat dan sedikit mengeriput akibat terendam air. Tidak berapa lama kemudian para polisi datang untuk melihat mayat dari laporan warga.
Drap
Drap
Drap
Langkah kaki beberapa petugas kepolisian dan tim penyidik membelah kerumunan. Arinda yang membelakangi kedatangan polisi, sama sekali tidak menyadari kalau mereka sudah berada dibelakangnya.
"Permisi bu. Biarkan kami melihat keadan jenazah untuk menyelidiki penyebab meninggalnya korban," ujar salah seorang petugas kepolisian.
Deg
"M-Mas Dante," gumam Arinda.
Arinda perlahan berbalik badan untuk melihat siapa yang datang. Mata Arinda dan Dante sama-sama terbelalak, saat melihat satu sama lain. Arinda bisa melihat, kalau Dante sangat tampan dan gagah, dengan seragam Polisi yang dia kenakan.
"M-Mas Dante seorang polisi?" batin Arinda.
Mata Arinda dan Dante saling bersitatap. Arinda bergegas menyeka air matanya, karena dia tidak ingin membuat Dante salah paham.
"Aku ingin melihat, apa dia malu mengakuiku sebagai calon istrinya dihadapan semua orang dan juga teman-temannya?" batin Arinda.
"Sayang. Kenapa kamu ada disini?" tanya Dante sembari menarik kedua bahu Arinda agar berdiri tegak.
Melihat perlakuan Dante padanya di depan semua orang, Arinda bertambah yakin kalau Dante benar-benar mencintainya.
"M-Mas. Mas Adit, dia...." Arinda menoleh kearah Aditia, begitu juga dengan Dante.
"Pulanglah! biarkan pihak polisi yang mengurus semuanya. Apa kamu sudah menghubungi keluarganya? kalau belum, suruh mereka datang ke rumah sakit umum," tanya Dante.
"Belum mas. Baiklah aku akan menghubungi keluarganya," ucaolp Arinda.
"Mas,"
__ADS_1
"Ya?"
"Temukan pelakunya," ujar Arinda.
"Pasti." Jawab Dante.
Arinda perlahan berbalik badan, dan sesekali menoleh kebelakang untuk melihat proses pengambilan jenazah yang akan segera di outopsi ke rumah sakit.
Mayat Aditia dibawa oleh pihak kepolisian dengan bantuan mobil ambulance. Dante menatap Arinda yang masih menatap kepergian jenazah Aditia dari kaca mobil. Setelah mobil itu hilang dari pandangan matanya, Arinda segera menghubungi keluarga Aditia.
"Mau apalagi kamu menghubungi kami? nyesel udah cerai dari Aditia? sekarang Aditia sudah mulai banyak uang, jadi kamu mau rujuk lagi dengan dia kan?" tanya ibu Aditia.
Arinda menarik nafas dalam-dalam, karena dia tidak mau terpancing oleh hinaan ibu Aditia.
"Aku cuma mau mengabari, kalau mas Aditia sudah meninggal bu. Sekarang mayatnya sudah dibawa ke rumah sakit umum. Kalau ibu mau melihat mayatnya, segera datang kesana," ujar Arinda.
"Heh. Arinda! kalau kamu benci sama saya, benci sama Aditia. Nggak perlu kamu sampai sumpahin dia meninggal. Kamu sudah bercerai dengan dia, jadi nggak perlu saling mengganggu kehidupan masing-masing,"
"Kalau ibu nggak percaya ya sudah. Tapi biar nanti aku kirim foto-foto mayat mas Adit yang sudah viral di media sosial," ujar Arinda.
Arinda kemudian mengakhiri panggilan itu dan segera mengirimkan foto-foto Aditia yang begitu cepat viral di media sosial. Melihat foto-foto itu, tentu saja ibu Aditia histeris. Wanita parubaya itu bahkan jatuh pingsan. Namun setelah siuman, ibu Aditia dan keluarga segera melihat mayat Aditia yang dibawa ke rumah sakit umum. Disana ibu aditia kembali histeria.
"Ini pasti ulah wanita itu. Pasti dia yang membunuhnya," celoteh ibu Aditia dengan tangisan.
Deg
Dante sangat khawtair, kalau Arinda terseret-seret dalam kasus ini.
"Siapa yang anda maksud bu? tolong kalau ada keluhan, atau ada orang yang dicurigai, anda segera ke kantor saja! agar mempermudahkan kami dalam melakukan penyelidikan," ujar salah seorang rekan kerja Dante.
"Baik. Nanti setelah pemakaman anak saya, saya akan datang melapor. Saya akan menuntut wanita itu dengan seberat-beratnya," ujar ibu Aditia.
Setelah polisi meminta berbagai keterangan, merekapun kembali untuk mendalami penyelidikan. Sementara jenazah Aditia yang selesai di outopsi, segera dimandikan dan di sholatkan, dan hari itu juga langsung dimakamkan.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Bagaimana mas? apa pelakunya sudah ketemu?" tanya Arinda.
"Belum. Kami masih memperdalam penyelidikan." Jawab Dante.
"Tapi sayang. Kamu harus siap-siap setelah ini," sambung Dante.
"Ada apa mas?" tanya Arinda.
"Sepertinya ibu Aditia ingin memperpanjang kasus ini, dan akan menimpakan kesalahan itu sama kamu." Jawab Dante.
"Ap-Apa! apa dia sudah gila? mana mungkin aku mau bunuh orang," ucap Arinda syok.
"Sayang. Kamu tenang ya! aku percaya kalau kamu tidak akan pernah melakukan hal itu. Aku akan selalu melindungimu. Dan jika memungkinkan, aku akan menyewa pengacara hebat untuk mendampingimu," ujar Dante.
"Hiks...aku takut mas. Bagaimana nasib anakku, kalau aku sampai mendapat tuduhan palsu itu," ujar Arinda.
"Kenapa harus takut? kamu kan nggak merasa melakukannya, jadi kenapa harus setakut ini?" tanya Danye.
"Aku tahu betul seperti apa nekatnya ibu mas Aditia itu mas. Aku cuma takut dia menghalalkan segala macam cara demi mewujudkan semua keinginannya itu," ujar Arinda.
"Dan aku tidak akan membiarkan mereka menyakitmu walau secuilpun," ujar Dante.
"Aku tidak perduli kalau mereka sampai menyakitiku mas. Cuma aku tidak terima kalau anak-anakku yang akan menerima dampak dari pikiran stresku," uhar Arinda.
"Husssttt...kamu tidak usah terlalu banyak pikiran. Kamu harus berpikiran positif, agar anak-anak kita selalu tumbuh sehat," ujar Dante.
"Ngomong-Ngomong kenapa sampeyan ndak bilang, kalau sampeyan itu seorang Polisi. Aku tadi hampir pingsan, saat melihat sampeyan pakai baju seragam begini," tanya Arinda.
"Aku yakin kalau aku terus terang dari awal, kamu malah takut sama aku. Iya kan?" tanya Dante.
'Ho'oh. Kenapa ya mas? perasaan aura prajurit itu beda," ujar Arinda.
__ADS_1
"Hanya perasaanmu saja. Kami juga manusia biasa kok. Nah...karena sekarang kamu sudah tahu, jadi sebagai calon istri seorang prajurit mulai sekarang kamu harus belajar disiplin," ujar Dante.
"Kedengarannya seram sekali. Oh ya mas sudah makan belum? tadi aku masak ikan asin sama santan daun singkong," tanya Arinda.
"Sayang. Makanlah makanan yang bergizi. Kenapa kamu suka sekali makan ikan asin?" tanya Dante.
"Eh...enak tahu mas. Kalau makan ikan asin nafsu makanku besar," ujar Arinda yang kemudian ditarik Dante hidungnya.
"Tadi tidur siang nggak?" tanya Dante.
"Nggak." Jawab Arinda sembari menggelengkan kepalanya.
"Kok nggak? apa kepikiran Aditia? aku cemburu kalau itu benar-benar iya," tanya Dante.
"Maaf ya mas. Mau ndak mau aku memang kepikiran. Soalnya walau bagaimanapun, dia orang yang pernah hidup sama aku selama 3 tahun. Meskipun banyak kenangan buruk sama dia, tapi dia tetap orang yang pernah mengisi hari-hariku." Jawab Arinda.
Dante menghela nafas panjang, dan kemudian menatap wajah calon istrinya itu.
"Kamu mbok ya kalau cemburu lihat-lihat dulu mas. Masak dengan orang yang sudah meninggal masih cemburu juga? kasihan toh sama dia mas," sambung Arinda.
"Iya sayangku. Aku nggak akan cemburu lagi dengan orang yang sudah meninggal," ucaop Dante sembari mencubit kedua pipi Arinda.
Dor
Dor
Dor
"Arinda. Keluar kamu!" teriak ibu Aditia dari luar.
"Bu sudalah bu! malu dilihat orang, belum tentu juga Arinda yang melakukannya," ujar Risa yang berusaha menenangkan ibunya.
Jangan ditanya bagaimana respon para tetangga Arinda. Mereka sudah berkerumun, untuk menonton pertunjukan yang sangat seru mereka tonton.
"M-Mas. Itu ibu mas Adit. Aku takut mas," ucap Arinda.
"Kenapa kamu harus takut? waktu itu kamu bisa jambak rambutnya. Kamu hajar saja dia kalau berani menyakitimu atau menyakiti anak kita," ujar Dante.
Ceklek
Baru saja pintu terbuka, Arinda sudah di dorong dengan sangat keras oleh ibu Aditia. Beruntung ada Dante di belakangnya, hingga tubuh Arinda bisa terselamatkan.
"Oh...bagus kamu ya! baru cerai sama anak saya, kamu disini sudah main kurung-kurungan dengan pria lain. Dasar murahan kamu! "
"Tutup mulut ibu! aku sudah cerai sama mas Adit, jadi ibu nggak ada hak buat komentar dengan urusanku," ujar Arinda.
"Lancang! kamu yang bunuh Aditia kan? kamu sebenarnya selingkuh di belakang Aditia kan? kenapa kamu membunuhnya? kalian sudah bercerai, harusnya tidak perlu sampai membunuhnya,"
"Ibu sudah tahu sendiri jawabannya. Aku sudah bercerai dari mas Adit, jadi untuk apa aku membunuhnya? apa untungnya buat aku bu?" tanya Arinda.
"Tentu saja karena kamu ingin balikan sama Aditia, karena Aditia sekarang sudah banyak uang. Karena dia nggak mau diajak balikan, makannya kamu bunuh dia. Iya kan?"
"Maaf bu. Sudah cukup ibu menuduh saya yang bukan-bukan. Calon suamiku jauh lebih segala-galanya dari mas Adit. Meski bulan terbelah, meski matahari tak lagi bersinar selamanya, aku nggak akan pernah mau balikan sama mas Adit." Jawab Arinda.
"Munafik kamu. Dan kamu! hati-hati kamu. Kalau ada niat menikahinya, sebaiknya kamu pikirkan lagi matang-matang. Wanita ini adalah wanita pembawa sial!"
Tangis Arinda akhirnya pecah juga, yang membuat Dante jadi membawa kekasihnya itu kedalam pelukannya.
"Kalau anda masih berbicara yang tidak-tidak, saya tidak segan-segan menuntut anda dengan pasal pencemaran nama baik," ucap Dante.
"Sekarang lebih baik anda pergi dari sini. Jangan menuduh calon istri saya yang tidak-tidak," sambung Dante.
"Huu...dibilangin kok ngeyel. Nanti kalau sudah kejadian baru nyesal,"
Ibu Aditia dan Risa akhirnya pergi dari rumah Arinda. Dante tidak perduli, meski tetangga Arinda mencemo'oh mereka yang menutup pintu dan masuk kedalam.
"Benar-Benar sudah gila ibu mas Adit. Kenapa anakmya meninggal, jadi menyalahkan aku? kenapa dia sangat membenciku," ujar Arinda sembari terisak.
"Sudahlah tidak usah di dengar. Kamu juga harap maklum, dia baru saja kehilangan anaknya," ujar Dante.
"Tapi dia begitu bukan sekarang aja mas. Dari pertama aku menikah dengan mas Adit, sampai sekarang dia masih saja benci sama aku. Aku nggak tahu dimana letak salahku. Apa hanya karena aku orang miskin, jadi aku tidak berhak bahagia?" ujar Arinda.
"Husstt...percayalah. Setelah badai ini, kamu akan mengecap kebahagiaan yang sesungguhnya," ujar Aditia.
__ADS_1
Arinda semakin mengeratkan pelukannya pada Dante, karena pria itu bisa membuat perasaan jauh lebih tenang.