SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.9. Introgasi


__ADS_3

Tang ting


Tang ting


Tang ting


Suara sendok dan piring yang beradu memecah keheningan di meja makan. Sudah sekian lama Arinda, Aditia dan Fatimah tidak makan siang bersama. Kini kesempatan itu datang, setelah Aditia keluar dari kamar dan ikut nimbrung di meja makan.


"Berapa duit tukang ojek minta sehari?" tanya Aditia yang sejak tadi menahan diri untuk bertanya.


"200 seminggu." Jawab Arinda asal.


"Mahal banget 200 seminggu. Terus kamu setuju?" tanya Aditia.


"Ya setuju ajalah mas. Dari pada aku jalan kaki. Lagian harga segitu masih wajarlah, dia nggak mungkin mau dibayar cuma bensin doang." Jawab Arinda.


"Ya tetap aja itu mahal. Seratus ribu, baru pantas. Kamu bilang banyak pengeluaran buat si jambrong, seratus ribu lumayan buat isi bensin si jambrong," timpal Aditia.


"Masih rela ngasih duit tukang ojeklah mas, daripada duit rokok sama duit judi kamu," ketus Arinda.


Klontinggg


Aditia membanting sendok diatas meja, hingga Fatimah dan Arinda terjengkit kaget.


"Kamu bisa nggak sih nggak kurang ajar sama suami? emangnya harus ya nyindir-nyindir soal itu saat sedang makan?" nafas Aditia terlihat naik turun.


Brakkkkk


Arinda menggebrak meja dan menatap mata Aditia tanpa rasa takut.


"Kalau kamu nggak mau disindir, kamu tanggung jawab dong jadi suami. Sudah hampir 3 tahun aku menghidupi kamu, kalau nggak kasihan sama anak-anak udah aku cerai kamu mas," ucap Arinda dengan emosi yang sama.


"Wes toh Rin. Ndak baik marah-marah di depan makanan," ujar Fatimah yang mencoba menenangkan Arinda.


"Eh...ibu diam aja deh nggak usah ikut campur urusan rumah tangga aku," hardik Aditia.


"Heh. Fir'aun, jaga mulut kamu sama ibu aku ya? kamu numpang di rumahnya. Tahu diri dikit kamu jadi manusia. Ini jangan-Jangan selama ini kamu sering bentak-bentak ibu aku ya? jangan macam-macam kamu! kalau kesabaranku sudah habis, nyawa kamu bisa melayang ditangan aku mas," Arinda terlihat berapi-api.


"Arin wes toh. Malu di dengar tetangga," Fatimah menarik tangan Arinda agar menjauh dari Aditia.


"Biarin aja buk'e. Sekarang aku mau lihat dia mau berbuat apa. Aku sudah capek dan pengen nuntasin semuanya hari ini. Sekarang aku tanya sama sampeyan ya mas. Mau sampeyan iku apa sebenarnya. Hem?" tanya Arinda sembari menekan tangannya dikedua sisi pinggangnya.


"Ngapain kamu nanya-nanya kayak gitu? mau memperlihatkan kalau suami kamu nggak guna gitu?" tanya Aditia penuh emosi.


"Emang kenyataannya gitu. Kalau kamu berguna, aku ndak akan susah sendirian mas." Jawab Arinda tidak kalah sengit.

__ADS_1


"Memang susah ya kalau punya istri nggak berpendidikkan tinggi. Nggak tahu sopan santun terhadap suami," ucap Aditia.


Arinda paling tidak suka kalau Aditia selalu mempermasalahkan tentang pendidikkannya. Dia akan terbakar emosi hingga meledak-ledak.


"Tapi istri yang pendidikkannya rendah inilah yang menghidupi kamu mas. Sejak awal kamu tahu aku nggak berpendidikkan, tapi kamu yang mau nikahin aku. Sekarang aku sadar kenapa kamu mau nikahin bocah, itu karena kamu menganggap aku bisa dijadikan sapi perah,"


"Sekarang mending kamu pulang aja mas ke rumah orang tua kamu. Sana kumpul dengan keluarga kamu yang berpendidikkan tapi nggak pernah nolong apa-apa saat kita sedang susah," sambung Arinda dan kemudian berlalu dari hadapan Aditia.


Brakkk


Aditia lagi-lagi menggebrak meja karena kesal, dan kemudian pergi ke teras. Sementara Fatimah tampak sedih dan prihatin dengan keadaan rumah tangga putrinya.


Waktu semakin berlalu. Arinda tampak bersiap saat waktu menunjukkan pukul 15.45 sore. Setelah mengikatkan tali sepatunya, wanita itu kemudian berpamitan dengan ibunya.


"Arin berangkat dulu ya Buk'e!" ucap Arinda sembari mencium tangan Fatimah.


"Loh. Ojek kamu sudah jemput toh? tapi kok ndak kelihatan?" tanya Fatimah sembari matanya melihat-lihat kearah luar pintu.


"Dia tak suruh nunggu disimpang gang buk'e." Jawab Arinda.


"Loh. Kenapa ndak langsung jemput disini saja?" tanya Fatimah penasaran.


"Ckk...males aku buk'e. Tahu sendiri mas Adit orangnya kayak apa." Jawab Arinda dengan wajah masam.


Fatimah tidak bertanya lagi. Kalau alasannya tentang menantunya itu, dia pasti mendukung keputusan Arinda.


"Hati-Hati ya!" ujar Fatima yang kemudian dianggukki oleh Arinda.


Arinda melenggang keluar rumah. Setelah berjalan sejauh 200 meter, Arinda bisa melihat sebuah motor sport sudah menunggunya di bawah pohon.


"Mas Dante sudah lama nunggunya?" tanya Arinda.


"Baru kok. Mau berangkat sekarang?" tanya Dante.


"Ya." Jawab Arinda sembari menaiki motor itu setelah Dante naik lebih dulu.


"Oh ya mas. Gimana kabar jambrong? kapan selesainya?" tanya Arinda saat motor Dante mulai melaju.


"Paling lama satu bulan, paling cepat dua minggu." Jawab Dante asal.


"Waduh...lama juga saya merepotkan sampeyan mas," ujar Arinda yang merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah. Itu kan sudah jadi tanggung jawab saya," Dante memacu motornya lebih lambat dari biasanya.


"Kamu sudah makan? atau bawa bekal dari rumah?" tanya Dante.

__ADS_1


"Belum sih. Takut sampeyan lama nunggunya." Jawab Arinda.


"Kamu masuk jam berapa?" tanya Dante.


"Jam 5." Jawab Arinda.


"Mau ngebakso nggak? ntar aku traktir," tanya Dante.


"Wah...lumayan nih. Mumpung gratis kan?" batin Arinda.


"Boleh deh mas. Cari yang deket-deket pabrik aja, biar ndak kejauhan." Jawab Arinda yang membuat Dante tersenyum dibalik helmnya.


"Masnya sering makan disini?" tanya Arinda saat mereka sudah duduk dan memesan menu bakso andalan di kedai itu.


"Ya. Soalnya ini tempat makan yang dekat juga dari rumah saya." Jawab Dante.


"Lah. Rumah mas dekat dari sini? dimananya?" tanya Arinda.


"Tuh. Diperumahan Royal Residence nomor 5." Jawab Dante.


"Wah...itu kan perumahan mewah mas," ujar Arinda yang hanya ditanggapi senyuman oleh pria itu.


"Silahkan dimakan!" Dante mempersilahkan Arinda menyantap bakso yang mereka pesan, setelah menu itu dihidangkan.


Arinda makan dengan lahap, tanpa ada rasa malu sedikitpun. Dante yang mencuri-curi pandang pada Arinda hanya bisa senyum tipis saat melihat Arinda yang polos.


"Ah...kenyang. Makasih ya mas. Mas tahu ndak? kalau bakso ini salah satu makanan favorit aku," ucap Arinda.


"Oh ya? kalau gitu selama aku antar jemput kamu, ntar aku traktir bakso tiap hari. Gimana?" tanya Dante.


"Yang benar mas?" Arinda semringah.


"Mau?" tanya Dante.


"Mau. Mau banget mas." Jawab Arinda dengan senyum yang terbit dari bibirnya.


"Cantiknya," batin Dante.


Arinda dan Dante kemudian bergegas pergi ke pabrik, karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 5 sore. Dan ketika mereka sudah tiba di pabrik, Dian dan Mia menatap Arinda yang baru saja turun dari motor dengan wajah berseri. Dan saat Dante pergi, tangan Arinda sudah di cekal oleh kedua sahabatnya.


"Hai...mbak Dian. Aku kangen sama sampeyan mbak," Arinda memeluk Dian yang membuat ibu dari dua anak itu gagal ingin mengintrogasi sahabat kecilnya itu.


"Kamu masih hutang penjelasan sama kami nanti. Sekarang sudah waktunya kita masuk kerja," ujar Mia.


"Hutang penjelasan apa sih mbak? sampeyan kan tahu ceritanya seperti apa. Tapi ya sudahlah, sekalian nunggu kopi malam nanti aku akan cerita lagi biar mbak Dian tahu," ucap Arinda.

__ADS_1


Ketiga serangkai itu kemudian masuk kedalam pabrik untuk melakukan aktifitas rutin mereka.


__ADS_2