SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.36. Rindu


__ADS_3

"Sayang. Aku sudah sampai," ujar Dante setelah dirinya tiba di Bandara Internasional Minangkabau.


"Syukurlah mas. Selama disana jangan lupa kasih kabar ya mas!" ujar Arinda.


'Bagaimna caraku memberitahumu? bagaimana kalau saat aku memberitahumu, ternyata ponselmu berada dekat dengan suamimu?" tanya Dante.


"Nggak masalah. Nanti nama sampeyan tak ganti aja dengan nama temanku." Jawab Arinda sembari terkekeh.


"Hah. Lelah jugu kucing-kucingan begini. Aku sangat ingin memilikimu seutuhnya," ujar Dante yang membuat Arinda ampuh terdiam.


"Ya sudah sekarang aku akan pesan taksi dulu. Kamu baik-baik disana ya sayang!" ujar Dante.


"Ya. Mas juga jaga mata dan hatimu disana," ucap Arinda.


Setelah panggilan itu terputus, Arinda bergegas berpakaian dan berangkat bekerja. Saat tiba di tempat parkiran, lagi-lagi Dian dan Mia juga baru tiba di tempat itu.


"Loh mbak. Kenapa lagi dengan muka sampeyan?" tanya Arinda yang tergesa-gesa turun dari motor, karena ingin menghampiri sahabatnya.


Dapat Arinda lihat, kali ini luka lebam di wajah Dian sangatlah parah. Bahkan wanita dengan dua orang anak itu harus memakai bantuan masker, agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Ya Allah...ini parah sekali mbak'e. Sudah sampeyan obati belum?" tanya Arinda.


"Cuma tak kompres pakai air es tok." Jawab Dian.


"Mas Edi lagi?" tanya Arinda.


"Siapa lagi kalau bukan dia." Jawab Dian.


"Sampeyan kalau dipukul ngalah ae toh mbak? lawan ngopo sih mbak?" tanya Arinda.


"Wes tak lawan, makanya mukaku babak belur begini." Jawab Dian.


"Ya kamu mesti ngelawannya pakai tangan kosong toh?" tanya Mia.


"Ho'oh mesti ngono. Coba sekali-kali sampeyan ambil pisau dapur, sampean potong itu tangannya agar ndak bisa main tangan lagi," timpal Dian.


"Ndak tegel juga kalau begitu Rin. Kemarin aku bertengkar karena kesal. Tingkahnya semakin menjadi-jadi," ujar Dian.


"Kalau menurutku cerai aja. Lah wong kamu ndak mau laporin dia dengan kasus KDRT toh? yo kepenak'an bojomu iku. Masak kamu harus masuk rumah sakit dulu, baru sadar kalau bojomu itu ndak layak dipertahankan," ujar Mia.


"Betul itu mbak Di," timpal Arinda.


"Kamu main betul-betul aja. Kamu sendiri sampai selingkuh tapi ndak mau cerai ngopo?" tanya Dian.


"Ya tahu sendiri mas Adit sudah kerja lagi sekarang. Masak iya aku cerai dengan alasan sudah ada pria idaman lain? bisa-bisa hak asuh anak akan jatuh ketangan mas Adit. Iya toh?" ujar Arinda.

__ADS_1


"Sebelum Adit kembali waras kamu juga banyak mikirnya buat cerai," ujar Dian.


"Hah... iya juga sih. Kadang kata cerai lebih mudah di ucapkan daripada dilakukan. Tapi mungkin hanya kata itu yang membuat kita jadi semangat dan punya kekuatan. Ya meskipun hanya dimulut saja," ujar Arinda.


Mia dan Dian saling bertanya lewat alisnya, saat melihat ada sedikit bekas merah di dada Arinda, karena kancing baju Arinda tidak sengaja terbuka.


"Ono apo toh?" tanya Arinda.


"Ganas juga Aditia semalam, sampai dia buat cu*ang di dadamu," sindir Mia.


Deg


Arinda langsung memeriksanya. Karena meski dia sudah menikah selama 3 tahun dengan Aditia, pria itu sama sekali tidak pernah membuatkan tanda itu dibagian tubuh manapun.


"Mati aku mbak. Ini bukan ulah mas Adit, tapi mas Dante tadi pagi," ujar Arinda cemas.


"Apa?" Dian dan Mia kaget bersamaan.


"Jadi seharian ini kamu pura-pura berangkat kerja, tapi ternyata ke rumah Dante?" tanya Mia.


"Y-Ya ndak seharian, cuma sampai jam 1. Mas Dante pulang ke Padang, orang tuanya lagi sakit." Jawab Arinda tersipu.


"Edan tenan awakmu Rin. Sudah ketagihan main sama Dante rupanya. Apa dia lebih memuaskan dari Aditia?" tanya Dian.


"Yo sampeyan jangan nanya soal itu'e. Jelas saja perbedaannya sangat jauh. Dengan mas Dante aku bisa merasakan surga dunia berkali-kali." Jawab Arinda dengan tidak tahu malunya.


"Yo sampeyan benar mbak. Sepertinya aku sudah cinta mati sama dia. Ini baru beberapa jam pisah, aku wes rindu'e. Sekarang kasih tahu aku, bagaimana cara menghilangkan tanda ini. Kalau mas Adit sampai tahu, mesti tamat riwayatku," ujar Arinda.


.


"Kamu samarkan saja dengan kerokan. Atau kamu tutupi dengan krim bedak. Tapi kalau mau aman, sebaiknya jangan berhubungan sama dia sebelum tanda itu hilang," ujar Dian.


"Hah...ada-ada saja," ucap Arinda yang membuat Mia terkekeh.


"Kamu pikir selingkuh itu mudah? ndak capek kamu kucing-kucingan begini terus?" tanya Mia.


"Mau bagaimana lagi mbak, aku wes kadong tresno." Jawab Arindo.


"Yo weslah kita masuk kerja. Ntar tutup lagi absennya," ujar Dian sembari kembali memasang masker di wajahnya.


Dan seperti biasa, mereka kembali bekerja dan istirahat setelah waktunya. Namun saat jam istirahat, ponsel Arinda tiba-tiba berdering.


"Mas Dante?" senyum Arinda mengembang, sementara dua sahabatnya mencebikkan bibirnya.


"Hallo mas. Sampeyan kenapa belum tidur?" tanya Arinda.

__ADS_1


"Rindu." Jawab Dante.


"Mas sampeyan tadi siang nakal'e. Kenapa buat tanda itu di dadaku? aku kan jadi repot mas," ujar Arinda.


"Biar kamu selalu ingat aku. Biar selama aku tinggal kamu nggak berhubungan dengan dia," ujar Dante.


"Ckk...sampeyan licik banget sih mas. Kok bisa aku ndak sadar pas kamu buat itu?" tanya Arinda .


"Itu karena kamu sedang kubuat mabuk melayang, makanya kamu sampai nggak ingat ." Jawab Dante yang membuat Arinda tersipu malu.


"Oh ya. Bagaimana kabar mama sampeyan mas? apa beliau baik-baik saja?" tanya Arinda.


"Ya biasa. Mama memang punya riwayat hipertensi yang sering kambuh akhir-akhir ini. Emmm sayang, mungkin ini hari terakhir ponselku aktif. Aku harus fokus merawat mama. Tapi saat aku pulang nanti, aku akan kembali mengaktifkannya," ujar Dante yang membuat Arinda terdiam.


"Sayang. Kok diam?" tanya Dante.


"Aku takut mas. Aku takut itu hanya alasan sampeyan buat menghindariku. Mas lah yang awalnya memulai semuanya. Kalau mas sampai mengakhirinya dengan tiba-tiba, aku pasti akan patah hati mas. Sampeyan sudah terlanjur masuk kedalam hatiku yang paling dalam," ujar Arinda.


Tes


Tanpa Arinda tahu, Dante meneteskan air matanya.


"Ya sudah kamu istirahatlah," ujar Dante tanpa mengomentari ucapan Arinda yang membuat ibu dari dua anak itu sedikit frustasi.


"Tapi mas...."


Tuttt


Tuttt


Tuttt


Dante mengakhiri panggilan itu secara sepihak, yang membuat Arinda sangat kecewa. Saat Arinda ingin membuat panggilan lagi, nomor Dante tidak bisa lagi dihubungi.


"Ada apa Rin?" tanya Mia saat melihat wajah Arinda yang murung


"Mas Dante bilang bakal ndak mengaktifkan nomor ponselnya seminggu ini." Jawab Arinda


"Kenapa?" tanya Mia.


"Katanya dia mau fokus merawat mamanya yang sedang sakit. Menurut sampeyan aneh ndak sih mbak?" tanya Arinda.


"Aneh juga sih. Meski merawat orang sakit, seharusnya ndak perlu sampai ndak ngaftikan nomor ponsel." Jawab Mia.


"Sejak awal kami sudah bilang sama kamu toh? kalau mau bermain api, jangan terlalu dibawa perasaan. Kamu kan tahu sendiri, dia itu bujangan, ganteng lagi. Pasti dia sama kamu cuma mau menuhin hasratnya aja. Setelah bosan, dia pasti ninggalin kamu. Pria sempurna gitu, mesti kalau nikah maunya yang perawan," ujar Dian.

__ADS_1


Ucapan Dian mampu membuat Arinda berderai air mata. Wanita itu jadi sangat takut kehilangan Dante.


__ADS_2