SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab 40. Menyembunyikan Kebenaran


__ADS_3

Dian perlahan mendekat kembali kearah Edi, dan memeriksa keadaan suaminya yang ternyata sudah tidak bernafas lagi. Tubuh Dian kembali mundur, saat tahu Edi sudah tiada ditangannya. Tubuh ibu dari dua anak itu mendadak gemetar tak terkendali. Dia butuh teman untuk mengendalikan ketakutannya. Dianpun segera menghubungi Mia dan Arinda.


Flasback Off


"Haduh kepiye iki Di. Jantungku rasane arep copot. Piye Rin?" tanya Mia.


"Aku emoh mlebu penjoro Mi. Piye Mi? hiks ...." Dian kembali terisak.


"Apa anak-anak sampeyan melihat kejadian ini mbak?" tanya Arinda.


"Ndak." Jawab Dian.


"Baguslah kalau ndak lihat, takutnya mereka bisa trauma berat," ujar Arinda.


"Terus ini piye urusane Rin? aku emoh masuk penjoro," tanya Dian.


Arinda tampak mondar mandir, disela kepanikannya ponsel Arinda tiba-tiba berdering.


"Mas Dante," gumam Arinda.


Wajah panik wanita itu mendadak cerah, saat melihat Dante menghubunginya.


"Sayang. Kenapa kamu nelpon malam-malam?" tanya Dante diseberang telpon.


"Mas. Sekarang aku ada di rumah temanku. Sampeyan bisa bantu temanku ndak mas?" tanya Arinda.


"Kamu di rumah temanmu? sejak kapan? emangnya ada apa?" tanya Dante.


"Tadi pas aku nelpon sampeyan itu aku baru mau pergi ke rumah temanku. Aku nekad pergi sendiri karena temanku lagi dapat masalah." Jawab Arinda.


"Masalah apa?" tanya Dante.


Arinda tampak menoleh kearah dian yang sudah terduduk di lantai sembari merangkul kedua lututnya.


"Di-Dia membunuh suaminya mas." Jawab Arinda terbata.


"Ap-Apa? apa yang dia lakukan pada suaminya?" tanya Dante.

__ADS_1


Arinda menceritakan secara singkat akar permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga Dian selama ini. Arinda juga menceritakan kejadian yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu.


"Sayang dengar! kamu jangan coba-coba menyentuh tubuh korban, baik itu tubuhnya atau tali yang digunakan temanmu untuk membunuhnya," ujar Dante.


"Aku ndak pegang sama sekali mas, aku takut. Tapi mbak Dian bagaimana mas?" tanya Arinda.


"Jangan lakukan apapun, jangan sentuh apapun mengerti! aku akan kesana sekarang. Kirim alamat rumah temanmu lewat chat," ujar Dante.


"Iya mas." Jawab Arinda


Arinda bisa bernafas lega, saat mendengar Dante akan membantu dia dan teman-temannya.


"Rin. Apa ini tidak beresiko? apa Dante bisa di percaya?" tanya Mia.


"Aku percaya sama mas Dante. Lagi pula kita ndak punya pilihan lain toh? kita harus menghadirkan pihak lain, agar kita bisa berpikir dengan jernih. Sekarang kita ndak punya solusi toh? tapi siapa tahu pemikiran laki-laki beda sama kita," ujar Arinda.


Mereka saling berpelukan satu sama lain, untuk saling menenang kan perasaan mereka yang tengah ketakutan berada satu kamar dengan mayat.


Setelah menunggu hampir 20 menit, Dante akhirnya tiba dengan motor sportnya. Arinda bergegas membuka pintu dan berhambur kepelukan Dante.


"Mas. Aku takut mas," ucap Arinda sembari menangis.


Arinda menarik tangan Dante, dan mengajaknya masuk kedalam kamar Dian. Dante kemudian mengenakan sarung tangan, dan memeriksa keadaan mayat Edi.


"Apa mbak Dian sudah siap menyerahkan diri ke kantor polisi?" tanya Dante.


"Ndak. Aku ndak mau masuk penjara mas Dante. Kalau aku masuk penjara, bagaimana nasib anak-anakku? kami ndak punya keluarga lain, anakku pasti terlantar mas," ujar Dian dengan lelehan air mata.


"Apa suamimu juga nggak punya keluarga?" tanya Dante.


"Kebetulan dia sudah yatim piyatu mas." Jawab Dian.


"Tapi kami nggak mau terlibat meyembunyikan kebenaran? selain berdosa, ini jelas melanggar hukum," ujar Dante.


"Bicara soal dosa, sampeyan dan kami jelas tahu kita disini ndak ada yang suci mas. Aku mendatangkan teman-temanku cuma minta bantuan buat memikirkan solusi agar aku bisa lepas dari jerat hukum. Aku tahu aku salah, tapi aku melakukannya karena ingin membela diri. Kalau aku ndak membunuhnya, tadi dia yang akan membunuhku. Coba sampeyan lihat lebam-lebam di wajah dan tubuhku. Aku mendapatkan ini hampir setiap hari. Jadi sampeyan ingin aku mati sia-sia tanpa melawan?" tanya Dian.


Dante tampak menghela nafas. Pria itu kemudian melihat kearah langit-langit kamar itu.

__ADS_1


"Karena disini hanya ada jejak jerat tali di lehernya, maka alasan yang tepat buat mbak lepas dari jerat hukum cuma dengan mengatakan kalau mas ini mati gantung diri. Tapi tentu saja itu kalau mbaknya beruntung. Mbak berdo'a saja kejadian ini tidak terendus pihak kepolisian. Mungkin sidik jari mbak di tali bisa dimaklumi, karena mbak istrinya. Tapi tidak dibenarkan kalau alibi mayat yang tergantung mbak turunkan sebelum polisi datang. Jadi sebaiknya lakukan dengan cepat. Minta pengurus jenazah cemat melakukan acara pemakaman."


"Maaf mbak. Aku nggak bisa terlibat jauh dalam hal ini, aku juga tidak akan membiarkan Arinda juga terlibat. Jelas ini sudah melanggar hukum, dengan menyembunyikan kebenaran tentang pembunuhan," sambung Dante.


"Tapi mas...."


"Sayang. Mbak Dian memang temanmu, tapi bukan berarti teman masuk sumur kamu juga ikutan masuk sumur. Kamu cukup memberikan saran, selebihnya jangan melakukan tindakan apapun," potong Dante.


Arinda melihat kearah Dian dengan wajah memelas, begitu juga dengan Mia.


"Ndak apa-apa. Mas Dante benar, aku malah berterima kasih karena sudah memberikan pencerahan. Kalian bisa pulang, ndak perlu datang melayat. Aku akan bicarakan ini dengan pengurus makam yang ada di masjid subuh nanti," ujar Dian.


"Maafin aku ya mbak. Aku ndak bisa membantu sampeyan terlalu jauh. Aku juga punya anak mbak," ucap Arinda sembari memeluk sahabatnya itu.


"Iya Di. Kamu juga tahu kan? aku cuma hidup berdua dengan anakku. Tapi aku do'akan semoga masalahmu cepat selesai Di," ucap Mia.


"Makasih karena sudah bersedia datang kesini. Aku tahu kalian temanku yang paling tulus. Aku juga mau makasih sama sampeyan mas Dante. Sampeyan sudah memberikan pencerahan. Sekarang aku tak urus jenazah suamiku dulu," ucap Dian.


"Aku pulang dulu ya Di. Kasihan Ferdi tak tinggal sendirian di rumah," ujar Mia.


"Ya. Hati-Hati ya Mi," ucap Dian.


"Rin. Aku duluan ya!" ujar Mia.


"Iya mbak. Aku juga mau pulang. Mas Adit ndak tahu kalau aku kesini," ujar Arinda.


"Ya. Makasih ya! nanti tutup aja pintu depan," ujar Dian.


Arinda kemudian memberikan pelukan pada sahabatnya itu. Dan kemudian keluar dari kamar Dian.


"Ayo aku antar pulang sampai ke depan lorong," ujar Dante.


"Tapi mas mbak Dian...."


"Sayang. Aku tidak melarangmu berteman dengan siapapun, meskipun itu seorang ******* sekalipun. Tapi berteman juga harus dengan cara yang sehat. Jangan membantunya kalau itu berurusan dengan hukum. Tidak hanya membahayakan dirinya, tapi kamu juga bisa ikut terseret. Bagaimana kalau itu di tetapkan sebagai pembunuhan berencana? kamu bisa di hukum mati," ujar Dante yang membuat Arinda terdiam.


"Sekarang mending kita pulang, kamu kerja kan besok pagi?" tanya Dante yang kemudian mendapatkan anggukan kepala dari Arinda.

__ADS_1


Arindapun pulang dengan Dante yang mengiringinya dari belakang. Setelah sampai di depan lorong, Arinda dan Dante sempat berciuman mesra, sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2