SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.61. Tidak Merestui


__ADS_3

"Papa, mama? kalian kenapa datang kesini?" Dante sangat terkejut, saat pulang bekerja mendapati kedua orang tuanya serta Dara sudah berada di rumahnya.


"Mama dengar kamu sudah mentalak Dara hanya demi istri orang lain, apa itu benar?" tanya Fitri.


Dante melirik kearah Dara yang wajahnya sudah tertunduk karena ketakutan.


"Benar." Jawab.


"Apa yang ada dalam pikiranmu itu? kamu mau buat malu keluarga kita dengan menikahi janda beranak dua? apalagi sekarang statusnya masih istri orang. Kamu kenapa sih? diberi gadis, kok malah milih janda?" tanya Damsi.


"Aku nggak cinta sama Dara pa. Aku mencintai Arinda. Sekarang dia dalam proses bercerai, begitu juga denganku. Dia juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu dan anak-anaknya sudah meninggal beberapa hari yang lalu." Jawab Dante.


"Pokoknya kami tidak merestui kalau kamu sama dia. Sekarang juga kamu harus rujuk sama Dara," ucap Damsi.


"Nggak akan pa. Sampai kapanpun aku nggak akan meninggalkan Arinda, dan sampai kapanpun aku nggak akan rujuk sama Dara," ujar Dante.


"Tolong kalian mengerti juga. Sumber kebahagiaanku bukan ada sama Dara. Cinta tidak bisa di paksakan," sambung Dante.


"Kamu pasti sudah di guna-guna sama wanita itu. Sekarang juga kita cari tempat ruqiyah yang bagus buat mengusir guna-guna wanita itu," ujar Fitri.


"Guna-Guna apa sih ma? kenapa kalian tidak terima saja dia jadi calon menantu kalian," ujar Dante.


"Sampai matipun nggak akan kami terima," ujar Fitri.


"Terserah kalian. Pokoknya sampai kapanpun aku nggak akan pernah rujuk sama Dara, titiik," ucap Dante.


Dante pergi masuk kedalam kamar, meskipun Damsi dan Fitri memanggil namanya.


"Ini pasti Arinda yang mempengaruhi Dante ma," ujar Dara.


"Apa kamu tahu dimana tempat dia bekerja?" tanya Fitri.


"Tahu. Uda Dante pernah bilang sama aku soalnya. Tapi aku nggak tahu dia kebagian shif apa." Jawab Dara.


"Emang kerja dimana dia?" tanya Damsi.


"Di pabrik sepatu." Jawab Dara.


"Dante menceraikanmu yang seorang dokter, demi seorang buruh pabrik?" tanya Fitri.


"Ya aku juga nggak tahu kenaps Uda Dante begitu cinta sama dia. Aku sudah pernah bertemu dengan dia, dan menurutku dia orangnya sangat biasa sekali. Harga diriku rasanya terinjak-injak sekali oleh wanita itu." Jawab Dara.


"Besok pagi kita akan datangi pabrik itu. Aku ingin melihat, seperti apa wajah wanita yang sudah merebut hati anakku itu," ujar Fitri.

__ADS_1


"Ya sudah. Sekarang kita beristirahat saja dulu, papa juga merasa sangat capek," ujar Damsi.


"Kalian istirahatlah! aku mau masak dulu buat makan malam kita," ujar Dara.


"Heran. Kenapa Dante tidak bisa mencintai kamu yang sempurna ini. Kamu tenang saja, mama pastikan kamu dan dia akan rujuk kembali," ujar Fitri.


"Makasih ma. Dara juga sangat mencintai Uda. Awalnya memang Dara tidak punya perasaan apapun sama dia, karena kami memang dijodohkan. Tapi setelah tinggal selama 6 bulan sama Uda, perasaan itu langsung muncul dan mendalam. Selama 6 bulan itu aku sudah berusaha agar dia melirik kearahku, tapi ternyata sama sekali tidak bisa membuat dia luluh," ujar Dara dengan memasang wajah sedih.


"Ya sudah jangan di pikirkan lagi. Pokoknya tenang aja, kamu dan dia pasti rujuk," ujar Fitri.


"Makasih ma," ucap Dara.


Fitri dan Damsi pergi beristirahat, sementara Dara sedang memasak di dapur. Dan Dante yang selesai mandi, langsung membuat pangilan untuk Arinda.


"Sayang," sapa Dante diseberang telpon.


"Ada apa mas?" tanya Arinda.


"Apa kamu sudah pulang kerja?" tanya Dante.


"Iya mas. Kenapa?" tanya Arinda.


"Mau cerita. Papa, mama, dan Dara datang kesini." Jawab Dante yang kemudian diam, karena ingin rahu respon dari Arinda.


"Terus?" tanya Arinda.


"Aku tahu mas. Tapi aku lebih tertarik mendengar jawaban kamu. Karena aku tidak perduli apa pendapat orang lain tentang hubungan kita, yang paling penting itu kamu selalu mencintai aku." Jawab Arinda yang membuat Dante mengembangkan senyumnya.


"Mereka memaksaku untuk rujuk sama Dara, tapi aku nggak mau. Dan sekarang aku jadi mengurung diri di kamar," ujar Dante.


"Kenapa mas jadi seperti gadis perawan begitu? kok jadi ngurung diri segala. Nggak sesuai dengan sikap jantanmu saat di ranjang," ledek Arinda.


"Akhirnya kamu akui juga kalau aku ini sangat jantan," ujar Dante sembari terkekeh.


"Tapi mas. Bagaimana kalau orang tuamu mengancam bunuh diri, agar kamu menyetujui kemauan mereka?" tanya Arinda.


"Kalau hal itu mereka jadikan senjata, maka aku juga punya senjata untuk mereka." Jawab Dante.


"Tapi mas. Aku jadi ndak enak sama kamu, sama orang tua kamu. Gara-Gara aku, sampeyan jadi cekcok sama orang tua sampeyan," ujar Arinda.


"Sudah jangan dipikirkan. Ini semua kita lakukan demi anak-anak kita. Jadi kita harus berjuang bersama mendapatkan restu ya!" ujar Dante.


"Iya mas." Jawab Arinda.

__ADS_1


" Ya sudah kamu istirahat ya! sudah hampir magrib ini," ujar Dante.


"Iya mas. I love you," ucap Arinda.


"Love you more," ucap Dante.


Dante dan Arinda mengakhiri percakapan itu secara bersamaan.


*****


Tok


Tok


Tok


"Uda. Ayo kita makan malam sama-sama," Dara mengetuk pintu kamar Dante yang terkunci rapat.


Ceklek


Tanpa banyak bicara Dante langsung keluar kamar, setelah pintu itu terbuka. Pria itu langsung menuju meja makan, dan menikmati makanannya.


"Dante beruntung bisa dapetin kamu nak. Sudah cantik, baik, berpendidikan, pintar masak lagi. Hanya orang yang nggak pandai bersyukur yang menyia-nyiakan kamu," sindir Fitri.


Dante sama sekali tidak menggubris ucapan Fitri. Dia terus menikmati makanannya, tanpa perduli dengan sindiran mamanya itu.


"Makasih ma," ucap Dara dengan tersipu.


"Kamu tenang saja, kamu pasti akan rujuk dengan Uda," ujar Fitri yang mampu membuat Dante menghentikan kunyahannya.


"Kenapa kalian begitu memaksakan diri. Sekarang apa yang akan kalian lakukan, kalau aku tetap bersikukuh menolak rujuk? apa kalian akan mengancam ingin mengakhiri hidup kalian lagi?" tanya Dante.


"Eh?" Fitri dan Damsi terkejut.


"Kalau begitu lakukan saja, aku tidak perduli lagi. Kalau kalian ingin mati cepat, itu adalah pilihan kalian sendiri. Siap-Siap saja masuk neraka," ucap Dante.


Brakkkk


"Kurang ajar!" hardik Damsi sembari menggebrak meja.


"Kalau kalian tetap memaksa, aku bisa saja rujuk sama dia. Tapi setelah rujuk, aku akan langsung mentalak Tiga dia. Jadi sama saja kan? kalian cuma buang-buang waktu kalau mau membujukku rujuk dengan dia," ujar Dante yang kemudian langsung kembali ke kamar setelah minum hingga tandas.


Dara terihat menangis, karena merasa sakit hati oleh sikap Dante.

__ADS_1


"Kamu tidak usah sedih, kalau kamu tidak mendapatkan uda, maka wanita itu juga tidak usah. Jadi biar adil, kita buat perhitungan sama dia besok," ujar Fitri yang membuat tangis Dara mereda.


Dara merasa lega, karena orang tua Dante berada dipihaknya.


__ADS_2