
"Sialan. Duit hasil jual diri sudah habis. Judi sialan!" umpat Aditia.
Aditia kemudian merogoh saku jaketnya, dan menemukan kartu nama milik Suryo
Orang yang sudah merenggut keperawanan duburnya.
"Apa aku harus menemui orang ini? atau aku menemui orang yang malam itu?" gumam Aditia.
Setelah berpikit panjang, Aditia memutuskan untuk menemui Suryo sang pengusaha material bangunan puluhan cabang.
"Hallo," sapa Suryo diseberang telpon.
"Ha-Hallo om," sapa Aditia.
"Ini siapa?" tanya Suryo.
"Saya Aditia, orang yang tidur dengan om di kafe remang 3 hari yang lalu.
Suryo tersenyum mendengar pengakuan Aditia.
"Datanglah ke jalan melati no.40 sekarang!" ujar Suryo.
"Ba-Baik Om." Jawab Aditia.
"Sepertinya aku sudah gila," gumam Aditia.
Tapi tekad Aditia sudah bulat. Dia ingin jadi orang kaya secara instan. Karena dia berpikir, kalau banyak uang Arinda pasti mau kembali padanya lagi. Aditia memutuskan ingin menjadi pria simpanan selama beberapa waktu, dan berhenti setelah uangnya sudah banyak.
"Apa aku tidak salah alamat? tapi ini benar jl. Melati no.40. Tapi ini mah bukan rumah, tapi istana. Kalau Suryo kaya, kenapa dia tidak mencari gadis cantik, kenapa harus pria? apa sejak awal dia memang sudah belok?" batin Aditia.
Aditia kemudian menekan bel rumah itu dan di buka oleh seorang pelayan.
"Pak Suryo nya ada?" tanya Aditia.
"Ada mas. Ini mas Adit bukan?" tanya Pelayan.
"Ya." Jawab Aditia.
"Ya tadi sudah di titip pesan sama pak Suryo agar langsung naik ke atas aja," ujar pelayan.
"Sebelah mana kamarnya?" tanya Aditia.
__ADS_1
"Dari tangga atas belok kanan, kamar yang pertama." Jawab Pelayan.
Aditia kemudian pergi ke atas dan menuju kamar Suryo.
Tok
Tok
Tok
Aditia mengetuk pintu kamar itu dan seorang pria yang masih berusia sekitar 40 tahunan membuka pintu kamar itu.
"Sayang. Kamu sudah datang? masuklah!" ujar Suryo.
Ingin rasanya Aditia muntah, saat mendengar ucapan Suryo yang memanggilnya dengan sebutan kata sayang.
Aditia menjatuhkan bokongnya di tepi tempat tidur, dan sedikit merasa gugup.
"Aku tahu kamu masih malu-malu dan ini yang kedua kalinya bukan? biar kamu lebih berani, aku akan memberikan pil gembira untukmu," ujar Suryo.
"Pil gembira? apa itu narkoba? kalau narkoba saya nggak mau om. Saya ini penjudi, bukan gila narkoba," tanya Aditia.
"Daripada aku mengingat dengan jelas kejadiannya nanti, mending aku makan saja obatnya," batin Aditia.
"Apa kamu mau membuat kesepakatan denganku?" tanya Suryo.
"Kesepakatan seperti apa Om?" tanya Aditia.
"Jadilah simpananku selama 6 bulan. Kamu boleh tinggal disini kalau kamu mau," ujar Suryo.
"Kalau aku tinggal disini, lalu bagaimana istri dan anak om?" tanya Aditia.
"Aku masih bujangan. Aku tidak suka wanita. Karena laki-laki jauh lebih menggairahkan." Jawab Suryo sembari menggamit mulut Aditia, dan kemudian memasukan pil gembira kedalam mulut pria itu.
Tidak butuh waktu lama, efek obat itu mulai bekerja. Aditia merasakan tidak nyaman di tubuhnya, terutama merasakan ingin segera menuntaskan hasratnya yang terasa ingin meledak.
Aditia pasrah saja saat Suryo mulai mencumbunya, dan terkadang tanpa sadar diapun membalas cumbuan itu. Karena tidak ingin menyakiti pasangan barunya, Suryo bergegas mengoleskan pelumas untuk mempermudah menuju jalan puncak kenikmatan yang dia inginkan.
"Ah...."
Mata Suryo terpejam, saat miliknya yang gagah sudah terbenam sepenuhnya. Pria itu mulai memompa, mencumbu Aditia dengan begitu lembut awalnya. Namun lama kelamaan, kebutuhan yang semakin mendesak, Suryo mulai menaikan tempo gerakannya dan lambat laun diapun sampai pada puncaknya.
__ADS_1
Namun ternyata kelemahan Aditia dan Suryo memang tidak jauh berbeda. Dengan rentan waktu yang sedikit itu, membuat Aditia yang masih dalam pengaruh obat sama sekali belum terpuaskan. Kali ini dia yang membuat Suryo berada di bawah kungkungannya. Yang membuat Suryo jadi tertawa senang. Dan tidak butuh waktu lama, Aditiapun juga sampai pada puncaknya.
*****
"Itu kan Om Suryo? sama siapa dia? ternyata di sudah punya pasangan baru. Ganteng sih, tapi om Suryo kan langganan kita," ujar salah seorang anak buah Mami, tempat dimana Ridwan bernaung.
"Sudahlah biarkan saja. Ntar kalau sudah bosan juga di lepeh,"
"Tapi Om Suryo pohon duitku. Dia langgananku. Nggak boleh ada yang merebutnya dariku. Aku harus kasih dia pelajaran,"
"Kamu cari pelanggan lain saja,"
"Pelanggan lain nggak seroyal om Suryo. Dia itu pengusaha kaya raya tanpa istri. Aku pasti mau kalau dia menjadikan aku simpanan seumur hisup,"
"Kalau begitu sikat aja kalau sudah ada waktu yang pas,"
"Pasti,"
Sementara itu Aditia kini tengah dimanjakan oleh Suryo di salah satu sudut ruangan. Ridwan yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum, sembari menggelengkan kepalanya.
"Uang memang bisa membuat seseorang gila dan tidak perduli dengan sanksi sosial atau norma lainnya. Sama sepertiku, yang penting nikmat sampai mati," gumam Ridwan.
Ridwan melambaikan tangannya pada salah seorang wanita parubaya yang selalu menjadi langganannya. Tak perlu berbasa basi, Ridwan segera membawa tante itu kebilik asmara yang sering mereka pakai tiap kali bercinta. Dan kemampuan Ridwan tentu tidak perlu di ragukan lagi, dalam rentan waktu 2 jam, dia mampu membuat wanita itu mencapai puncak berkali-kali.
"Kamu memang luar biasa sayang. Tante benar-benar puas dengan pelayanan kamu," ujar Wanita yang berusia sekit 45 tahun itu.
"Tante juga masih nikmat, seperti masih gadis," ujar Ridwan.
"Itu karena tante tidak melahirkan pervaginam. Jadi belum dilalui kepala bayi," ujar wanita itu sembari terkekeh.
"Ah...capek. Tante mau istirahat sebentar. Setelah itu kita tempur lag,"
"Dengan senang hati," ujar Ridwan sembari mencolek dagu wanita itu.
"Aku ambil minum dulu ya tan," ujar Ridwan sembari mengenakan pakaian.
Saat Ridwan keluar, tidak sengaja dia bersitatap dengan Aditia yang baru saja ingin ngamar bersama Suryo. Ridwan hanya melemparkan senyum saat melihat pasangan baru itu. Namun saat dia sudah membelakangi mereka, senyum itu berubah jadi seringai.
"Dia pasti tidak bisa membedakan lagi yang mana dosa, nikmat, atau uang. Karena sekali terjebak, dia akan sulit keluar. Pria yang malang, semalang diriku," batin Ridwan.
Ridwan kemudian pergi ke bar untuk mengambil minuman segar. Dia butuh asupan energi, untuk bertempur dengan para wanita kepian yang biasa dia nikmati 3 wanita dalam semalam. Jangan ditanya seberapa uang yang dia hasilkan. Kini Ridwan sudah berhasil membeli rumah, berharap suatu saat Mia mau diajak rujuk kembali
__ADS_1