SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.51. Bantuan Dante


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Dante mengetuk pintu rumah Arinda, yang membuat wanita itu dan Fatimah jadi menoleh kearah pintu. Arinda bergegas membuka pintu sembari menyeka air matanya.


Ceklek


"Mas Dante? hiks...."


Brukkkk


Arinda berhambur dalam pelukan kekasihnya itu. Fatimah memalingkan wajahnya. Tentu saja dia tetap tidak membenarkan perbuatan putrinya itu, meskipun dalam situasi seperti ini.


"Masuklah! apa kalian mau jadi tontonan para tetangga?" ujar Fatimah.


Arinda yang tersadar, kemudian melerai pelukannya. Wanita itu kemudian menarik tangan Dante untuk mengajak pria itu masuk kedalam rumah. Mata Dante bersitatap dengan Fatimah, dan kemudian meraih tangan wanita parubaya itu untuk dia cium punggung tangannya.


"Entah buk'e harus bersikap bagaimana dengan kalian. Buk'e sama sekali tidak membenarkan perbuatan kalian yang sangat dibenci oleh agama kita," ujar Fatimah.


"Aku minta maaf bu. Tapi aku sangat mencintai Arinda. Aku ingin menikahinya, tapi Arinda tidak ingin bercerai dari suaminya," ucap Dante.


"Sekarang aku mau mengajukan gugatan cerai untuk mas Adit. Besok hari senin, aku akan minta izin satu hari untuk mengurus perceraianku di pengadilan," ujar Arinda.


Dante tertegun mendengar pernyataan Arinda


"Kenapa kamu tiba-tiba...."


"Mas Adit sudah keterlaluan mas. Ternyata selama ini dia sudah membohongiku. Dia mengaku bekerja di perusahaan property, dan memberikan aku gaji setiap bulan. Aku bahkan dengan bodohnya memberikan tabungan anakku untuk modalin dia beli motor buat kerja. Tapi apa kenyataannya? dia itu berbohong. Selama ini dia sama sekali ndak kerja."


"Dan yang lebih membuatku sakit hati adalah. Dia menggadaikan rumah ini seharga 40 juta. Dia mencuri sertifikat ini dan menggadaikannya pada Rentenir. Untung selama ini uang gaji yang dia kasih aku selalu menyisihkannya, dan terkumpul 25 juta. Tapi masalahnya sekarang motorku disita oleh rentenir itu. Dia menghargainya hanya 5 juta. Aku ndak tahu harus mencari sisanya kemana mas. Dia cuma ngasih aku waktu satu minggu.Hiks....aku benci mas Adit...hiks...." Arinda terisak.


"Berarti dugaanku waktu itu benar. Saat pulang ke Padang, aku pernah melihatnya berkumpul dipangkalan tukang ojek. Dasar licik! jadi uang gaji yang dia berikan, itu uang menggadaikan rumah. Sedangkan dia dapat motor dari tabungan anak-anak," ujar Dante.


"Jadi bagaimana mas? aku ndak bisa kerja kalau ndak punya motor. Terus rumah ini akan disita, kalau ndak di tebus satu minggu lagi," tanya Arinda dengan air mata meleleh dipipinya.


"Soal motor kamu bisa mengambil motor yang ada pada Adit. Aku bisa saja membelikanmu lagi. Tapi itu artinya Aditia akan menang banyak. Dia harus diberikan pelajaran. Soal sisa 10 juta itu, kamu jangan khawatir. Aku yang akan membayarnya." Jawab Dante.

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Arinda dengan senyum semringah.


"Iya. Kamu jangan nangis lagi ya!" ucap Dante sembari mengusap puncak kepala Arinda.


Grepppp


Arinda kembali memeluk Dante. Fatimah malu sendiri melihat adegan itu.


"Ehemmmm," Deheman Fatimah lagi-lagi membuyarkan pelukan Arinda dan Dante.


"Duh...gusti. Aku ndak bisa membayangkan apa yang dilakukan mereka saat di luar sana. Di depanku saja begini," batin Fatimah.


"Apa kamu sudah minta alamat rentenir itu?" tanya Dante.


"Sudah mas." Jawab Arinda.


"Nanti kirim rekeningmu lewat chat. Biar nanti aku transfer saja uang yang 10 juta itu," ujar Dante.


"Makasih ya mas. Nanti akan aku cicil dari gajiku," ujar Arinda.


"Tidak perlu. Itu aku berikan cuma-cuma," ujar Dante.


Ingin rasanya Arinda kembali memeluk Dante. Tapi dia segan, karena ada Fatimah di dekat mereka.


"Iya mas. Makasih ya mas," ucap Arinda.


Arinda kemudian mengantar Dante hingga kedepan pintu. Fatimah hanya bisa melihat kepergian Dante dari tirai jendela.


"Apa iya lanang seganteng itu cinta mati sama Arinda? terlebih dia seorang bujangan. Apa dis ndak bisa cari gadis perawan?" batin Fatimah.


Senyum terbit dari bibir Arinda saat putri Fatimah itu berbalik badan. Namun senyum itu mendadak lenyap, saat Fatimah menatap kearahnya.


"Bagaimana menurut buk'e mas Dante?" tanya Arinda.


"Apa kamu yakin ndok, orang seganteng itu bisa cinta mati sama kamu?" tanya Fatimah.


"Kok buk'e ngomongnya gitu? apa aku ini ndak layak buat dia?" tanya Arinda.


"Kamu kan tahu sendiri kamu itu sudah punya anak dua, sementara dia masih bujangan. Takutnya dia cuma ingin mempermainkanmu, dan cuma ingin menikmati tubuhmu itu." Jawab Fatimah.

__ADS_1


"Apa buk'e ndak mendengar apa yang dia katakan? dia ingin menikahiku, dia juga memberiku uang 10 juta itu," ujar Arinda.


"Buk'e hanya takut kamu kecewa pada akhirnya. Anggaplah dia memang mencintaimu, lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya? apa menurutmu mereka akan setuju kalau anak bujangnya menikahi janda beranak dua?" tanya Fatimah.


Arinda terdiam. Selama ini dia sama sekali tidak berpikir kearah sana


"Benar juga apa yang dikatakan buk'e. Nanti aku akan membahas masalah ini sama mas Dante," batin Arinda.


"Apapun akhirnya nanti, aku akan tetap memperjuangkan mas Dante buk'e. Tapi sekarang aku mesti datangi rumah mertuaku dulu. Aku mau ngambil motor mas Adit, agar aku besok bisa ngurus perceraianku ke pengadilan," ujar Arinda.


"Ibu akan dukung apapun keputusanmu," ujar Fatimah.


"Ya sudah kalau gitu aku tak siap-siap dulu," ujar Arinda.


Arinda kemudian masuk ke kamarnya dan bergantu pakaian. Setelah itu dia langsung memesan jasa ojek online, untuk mengantarnya ke rumah mertuanya. Hanya butuh waktu 15 menit, Arindapun tiba di kediaman Marini.


Arinda melihat tidak ada tanda-tanda motor Aditia di teras rumah mertuanya. Namun niat Arinda tidak pernah surut untuk mendapatkan haknya.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Marini yang membuka pintu, menatap sinis kearah Arinda. Tidak ada niat Arinda untuk mencium tangan mertuanya itu, karena setiap kali dia ke rumah itu respon ibu mertuanya selalu dingin.


"Mana mas Adit?" tanya Arinda tanpa berbasa-basi.


"Dasar nggak sopan kamu! memang kelihatan sekali kalau bukan orang berpendidikan," hardik Martini yang membuat Arinda menyeringai.


"Suruh saja anak ibu itu keluar! aku tidak berselera meladeni orang berpendidikan berkelahi. Karena mulai hari ini, anak ibu yang sangat berpendidikan itu akan aku lepaskan," uja Arinda.


"Apa maksudmu?" tanya Marini.


"Aku akan menceraikan anak ibu itu. Itu kan yang ibu mau selama ini? dan besok aku akan mengurus semuanya ke pengadilan. Ibu bantu aku buat memuluskan rencana itu." Jawab Arinda.


"Baguslah. Akhirnya kamu tahu diri juga. Punya istri itu nggak cukup kalau modal cantik. Pendidkan harus nomor satu," ujar Marini.

__ADS_1


"Tapi kalau menurutku ndak begitu. Orang berpendidikan juga belum tentu bisa memenuhi kebutuhan istrinya, sekalipun istrinya itu jelek dan ndak butuh modal banyak untuk menghidupinya," ujar Arinda.


Mata Marini terbelalak. Karena selama menikah dengan putranya, Arinda tidak pernah menjawab ucapannya meskipun dia selalu menindasnya.


__ADS_2