
"Kamu mbok hubungi keluarga suamimu. Tanyakan, apa Aditia ada disana apa ndak," ujar Fatimah sembari merajang bawang merah yang sudah dia kupas.
"Ndak mau ah buk'e. Males aku dengar suara mertuaku apalagi adik iparku. Dia pasti nanya macem-macem," ujar Arinda.
"Ya bagaimana kalau suamimu ndak ada disana? itu berarti suamimu menghilang. Bagaimana kalau malam itu dia di begal, terus diambil motornya? kalau kamu ndak nanya, nanti kamu tambah disalahkan," ujar Fatimah.
"Kok buk'e jadi nakutin aku? mbok ya jangan mikir yang seram begitu buk'e, aku kan jadi tambah khawatir ini," ujar Arinda.
"Ya makanya kamu singkirkan dulu gengsimu itu. Pastikan dulu suamimu itu ada dimana. Kalau dia memang ada disana atau pergi kerja ya syukur," ujar Fatimah.
Arinda dengan berat hati menghubungi adik iparnya, karena ingin tahu keberadaan suaminya.
"Ada apa?" tanya Risa diseberang telpon.
"Apa mas Adit semalam menginap disana?" tanya Arinda.
"Ya." Jawab Risa singkat yang membuat Arinda bisa bernafas lega.
"Sekarang mas Adit sudah berangkat ke kantor ya dek?" tanya Arinda.
"Kantor mana mbak? kantor ojol?" ejek Risa sembari terkekeh.
"Kok ojol sih Ris? mas Adit kan sekarang kerja di perusahaan property," ujar Arinda.
"Dasar manusia-manusia halu," umpat Risa yang kemudian mengakhiri percakapan itu.
"Ini apa sih maksud si Risa? kok malah main matiin aja telponnya? terus apa maksudnya bilang kami manusia halu? kalau adik kandungku sudah tak bejek-bejek. Ndak sopan!" gerutu Arinda yang masih bisa di dengar Fatimah.
"Sudahlah. Yang penting kamu sudah tahu, kalau suamimu itu baik-baik aja. Kamu masuk malam lagi toh hari ini? sana cuci baju dulu! itu tumpukan pakaian kotor sudah kayak gunung mau meletus," ujar Fatimah.
Arinda menuruti ucapan Fatimah. Beruntung hari ini dia tidak punya janji dengan Dante, jadi dia bisa membantu Fatimah mengurus pekerjaan rumah. Setelah selesai memandikan anaknya, diapun segera beberes rumah dan mencuci pakaian.
Dan hari ini adalah hari kedua Aditia tidak pulang dijam pulang kerjanya. Tapi Arinda tidak terlalu khawatir, karena Aditia berada di rumah orang tuanya. Arindapun memutuskan pergi bekerja dan kembali curhat dengan teman-temannya saat jam istirahat.
"Sudah dua hari mas Adit ndak pulang," ujar Arinda sembari menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Loh kemana dia?" tanya Mia.
"Ke rumah orang tuanya." Jawab Arinda.
__ADS_1
"Kalian bertengkar hebat?" tanya Dian.
"Ndak sama sekali." Jawab Arinda.
"Lah terus kenapa dia pergi ndak pulang-pulang?" tanya Mia.
"Aku juga ndak tahu alasannya apa, tapi hampir sebulan terakhir ini, dia kayak orang banyak pikiran. Dia banyak melamun, terus ndak pernah juga ngajak berhubungan badan. Aku juga sudah tanya apa dia ada masalah di kantor apa ndak, tapi katanya ndak ada." Jawab Arinda.
"Ya ampun Rin. Kamu harus susulin suamimu kalau sampai besok ndak pulang juga. Ini mesti dia punya masalah serius," ujar Mia.
"Sampeyan jangan nakut-nakutin aku'e. Sampeyan persis kayak ibuku. Pikirane horor terus, aku kan jadi takut juga mbak," ujar Arinda.
"Ya makanya cepat bertindak," ujar Dian.
"Tapi menurut sampeyan mas Adit punya masalah apa ya mbak?" tanya Arinda.
"Jangan-Jangan...."
"Jangan-Jangan apa mbak Mi?" tanya Arinda cemas.
"Jangan-Jangan Aditia sudah tahu perselingkuhanmu sama Dante. Makannya dia patah hati dan ndak mau pulang ke rumah.
Deg
"Benar juga Rin. Bagaimana kalau itu benar. Astaga, bagaimana kalau dia berkelahi dengan Dante nanti," ujar Dian.
"Terus aku kudu piye sekarang mbak? aku takut," ujar Arinda.
"Inilah yang kami takutkan selama ini Rin. Kamu ketahuan, dan menyebabkan masalah besar," ujar Dian.
"Kamu harus mengakui perbuatanmu sama Aditia. Besok kamu libur toh? jemput suamimu di rumah mertuamu. Kamu harus bicara baik-baik sama dia," ujar Mia.
"Betul itu Rin. Kami harap Aditia masih mau menerimamu, tapi ya itu kamu harus memutuskan hubunganmu sama Dante," ujar Dian.
Arinda jadi membayangkan perpisahannya dengan Dante. Semua kenangan manis yang dia lalui bersama pria itu, sangat membekas dihatinya dan tidak rela kehilangannya.
"Apa aku mesti putus sama mas Dante? aku sangat cinta sama dia," tanya Arinda dengan wajah murung.
"Lah maksudmu opo Rin? jadi kamu lebih memilih mengorbankan rumah tanggamu, daripda putus dari Dante?" tanya Mia.
__ADS_1
"A-Aku ndak tahu mbak. Rasane kok yo berat tenan." Jawab Arinda yang kemudian melepaskan makanannya.
"Ya sudah kalau kamu memang berat putus dari Dante, kamu juga mesti ngomong sama selingkuhanmu itu kalau kamu berencana mau pisah dari Aditia. Kamu mesti harus memastikan dulu, kalau Dante mau menikahimu setelah kamu bercerai dari Aditia. Takutnya kamu sudah terlanjur cerai, dia malah ndak mau menikah sama kamu," ujar Mia.
Arinda terdiam, karena dia benar-benar dihadapkan dengan dilema yang sangat besar. Dan ketika jam istirahat sudah berakhir, Arinda sama sekali tidak melanjutkan makan, hingga masih menyisakan separuh makanannya. Wanita dua anak itu begitu terbebani dengan masalah yang tengah dia hadapi saat ini.
Waktu menunjukan pukul 8 pagi, saat Arinda sampai di rumahnya. Lagi-Lagi Arinda tidak melihat keberadaan motor Aditia, padahal hari ini adalah hari minggu, yang seharusnya pria itu libur dari tempat kerjanya.
"Mas Adit belum pulang juga buk'e?" tanya Arinda.
"Kamu susul suamimu. Tanya sama dia, ada apa sebenarnya? kalian juga ndak bertengkar toh?" tanya Fatimah.
"Ya sudah aku tak mandi dan sarapan dulu. Ini sudah 3 hari, mesti aku susulin. Aku ingin tahu apa mau dia sebenarnya," ujar Arinda.
"Kalau ketemu nanti, kamu jangan marah-marah! ajak dia ngomong baik-baik. Takutnya dia ada masalah di kantor, dan mesti takut pulang ke rumah karena ndak mau membebani kita," ujar Fatimah.
"Iya buk'e." Jawab Arinda.
"Bagaimana kalau sebenarnya mas Adit ndak pulang memang gara-gara aku ketahuan selingkuh? ini mesti mertuaku bakal mempermalukan aku disana nanti," batin Arinda.
Arinda kemudian membersihkan dirinya, dan setelah itu dia sarapan pagi. Melihat Fatimah yang sibuk, dia membantu memandikan anaknya terlebih dahulu dan kemudian memakaikan baju.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat Fatimah menghentikan pekerjaannya. Arinda juga jadi menoleh kearah pintu dan mengira itu adalah Aditia.
Ceklek
"Mau cari siapa ya?" tanya Fatimah saat melihat tiga orang bertubuh besar, dan berpakaian serba hitam datang mengunjungi rumahnya.
"Siapa bu?" tanya Arinda yan ikut nimbrung.
"Saya Gumai, temannya Aditia bu. Mungkin ibu dan kamu juga tahu maksud kedatanganku kesini." Jawab Gumai.
"Kami ndak tahu'e mas. Emang ada apa mas?" tanya Arinda yang membuat dahi Gumai mengerut.
__ADS_1
"Tentu saja saya datang buat menagih hutang sama Aditia. Hari ini adalah jatuh tempo waktu 6 bulan yang sudah aku berikan sama Aditia. Kalau nggak punya duit, kalian silahkan pergi dari sini! rumah ini kan sudah di jaminkan sama dia." Jawab Gumai.
Arinda sangat syok mendengar ucapan pria itu, begitu juga dengan Fatimah yang tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang