
Sejak kejadian Dante menciumnya beberapa waktu yang lalu, suasana meja makan tampak hening. Tak ada percakapan antara mereka berdua. Setelah makan siang selesai, Arinda mencuci piring di washtafel.
Greppp
Dante memeluk dirinya dari arah belakang. Tentu saja Arinda terkejut, dan hampir saja dia memecahkan gelas yang tengah dia cuci.
"M-Mas sampeyan jangan seperti ini," ujar Arinda yang sangat gugup mendapat perlakuan romantis dari Dante.
"Aku benar-benat jatuh cinta sama kamu Rin. Sehari, sejam, semenit, bahkan sedetik nggak melihatmu rasanya aku sangat merindukanmu," ucap Dante dengan tangan melingkar diperut wanita itu.
"M-Mas. Perasaan sampeyan itu salah," ujar Arinda sembari berusaha melepaskan pelukkan Dante.
Namun setelah lepas dan Arinda berbalik badan, pria itu malah meraih pinggangnya, hingga jarak antara Arinda dan Dante semakin menempel.
"Perasaan cinta itu tidak pernah salah. Meskipun aku mencintai istri orang sekalipun. Coba katakan padaku, apa kekuranganku jika dibandingkan suamimu itu? apa aku kurang tampan? apa aku kurang mapan? atau...."
"Atau aku kurang jantan?" bisik Dante yang membuat jantung Arinda semakin berdegup dengan kencang.
"M-Mas. Sampeyan nggak pantas ngomong begitu sama aku," ujar Arinda dengan gugup.
"Katakan dulu apa kurangku?" tanya Dante.
"M-Mas itu lebih tampan dan mapan dari dia, tapi tetap saja dia suamiku mas. Sampeyan itu masih single, masih bisa mendapatkan perawan dan ndak ada dua buntut sepertiku. Sayang ketampanan sampeyan itu dapat janda anak dua sepertiku," ujar Arinda.
"Aku tidak perduli dengan statusmu. Yang aku perdulikan adalah perasaanku. Kenapa kamu tidak mengerti dengan perasaanku Rin?" tanya Dante.
"Aku bukannya ndak mau ngerti mas, tapi aku ini ndak pantas buat kamu. Terlebih aku sudah bersuami. Kamu ya mbok ngerti juga posisiku bagaimana. Kamu stop selalu berusaha menggoyahkan hatiku." Jawab Arinda.
"Tatap mataku! apa sedikitpun kamu nggak punya perasaan sama aku?" tanya Dante.
"Ckk...payah kalau ngomong sama orang yang sudah diliputi sama hawa nafsu. Sampeyan itu ndak benar-benar cinta sama aku mas. Sampeyan itu cuma nafsu. Sejak dulu kalau bergaul dengan istri atau suami orang, nafsu yang lebih di dahulukan. Sing eling kamu mas, sadar kamu! masih banyak gadis diluar sana yang bisa kamu jadikan istri," ujar Arinda yang berusaha meyakinkan Dante.
"Aku cinta sama kamu Rin, bukan nafsu," ucap Dante.
"Bagiku nafsu mas. Sebaiknya sampeyan cepat temui tukang bengkel itu. Minta perbaiki motorku sungguh-sungguh. Sepertinya sampeyan tidak usah nemuin aku lagi, mungkin dengan begitu sampeyan nggak gangguin aku lagi. Mungkin dengan begitu juga sampeyan baru sadar, kalau sampeyan itu sebenarnya bukan cinta sama aku," ujar Arinda yang kemudian melepaskan diri dari kurungan Dante.
"Mau kemana kamu?" tanya Dante saat melihat Arinda meraih tasnya.
"Mau pulang. Aku takut berlama-lama disini sama sampeyan. Aku takut sampeyan macam-macam sama aku." Jawab Arinda.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih Rin? aku itu cinta sama kamu. Aku nggak mungkin nyakitin kamu," ucap Dante.
"Dulu mas Aditia juga ngomongnya gitu sebelum nikah. Janjinya bakal bahagiain aku, melindungi aku, memberikan yang terbaik buat aku. Tapi apa buktinya sekarang? aku cuma jadi mesin pencetak anak saja buat dia," air mata Arinda mulai tumpah ruah.
"Kalian para lelaki selalu begitu. Kalau belum dapat apa yang kalian mau, selalu berkata manis. Tapi setelah dapat dan bosan, kalian selalu menyia-nyiakan kami kaum wanita. Apa kalian tidak berpikir, kalau kami juga berhak bahagia. Hiks,"
Tanpa sadar Arinda meluapkan semua uneg-unegnya yang terasa membebani hatinya selama ini.
"Husssttt...." Dante membawa Arinda dalam pelukkannya.
"Kamu ingin aku menjauhimu kan? kamu ingin aku menghilang dari kehidupanmu kan? aku akan melakukan itu demi kamu. Tapi aku mohon jangan menangis lagi. Terlebih menangisi pria yang sudah menyia-nyiakan hidupmu.
"Aku capek mas. Aku lelah. Hiks,"
"Aku janji besok pagi motormu akan ada di depan rumahmu. Dan setelah itu kamu tidak akan melihatku lagi untuk selamanya," ujar Dante.
Arinda terdiam. Entah kenapa dia jadi gelisah, saat mendengar ucapan Dante.
"Sekarang baru jam 3, Masih ada waktu 2 jam untukmu pulang. Maukah kamu jalan-jalan denganku sebentar, sebelum perpisahan kita?" tanya Dante sembari menatap mata Arinda yang masih basah.
"Semoga dengan tidak bertemu mas Dante lagi, hatiku bisa lurus kembali. Nggak benar kalau aku main hati dengan pria lain sebelum statusku jelas," batin Arinda.
Dante dan Arinda pergi jalan-jalan ketaman. Menghabiskan sisa waktu kebersamaan mereka.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu Arinda. Tapi jika suatu saat kamu tidak bahagia, dan aku masih hidup sendiri. Datanglah padaku, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka," ujar Dante saat pria itu mengantar Arinda pulang tepat di depan jalan setapak.
"Aku juga mendo'akan kamu, agar kamu selalu hidup bahagia mas. Semoga kamu mendapatkan gadis yang benar-benar tulus kamu cintai dan dia juga tulus mencintai kamu," ujar Arinda.
"Aku pulang dulu ya mas!" sambung Arinda yang dijawab anggukkan kepala oleh Dante.
Tanpa mereka tahu, mereka berdua sama-sama meneteskan air mata.
*****
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Arinda yang mendapatkan shif pagi kebingungan, karena dia tidak tahu harus pergi dengan apa. Namun saat ketukkan pintu di depan rumahnya terdengar, Arinda jadi berharap itu adalah Dante yang mengantar motornya.
Ceklek
"Benar ini rumahnya mbak Arinda?" tanya pria yang mengenakan seragam hitam.
"Benar mas. Ada perlu apa ya?" tanya Arinda.
"Saya mau antar motor mbak. Ini dari pak Dante." Jawab pria itu.
"Apa tidak salah? ini memang motor bekas, tapi aku yakin ini bukan motorku. Apa orang ini salah kirim?" batin Arinda.
"Ini ndak salah kirim mas? soalnya ini bukan motor saya'e," tanya Arinda.
"Mas Dante bilang, bengkel motor nggak sanggup memperbaiki motor mbak Arinda. Sudah rusak parah. Jadi dia ganti dengan motor ini,"
"Sudah terima saja. Rejeki jangan di tolak?" Aditia tiba-tiba muncul dari belakang punggung Arinda.
"Makasih mas," ucap Arinda.
"Sama-Sama mbak. Saya permisi dulu mbak,"
"Monggo." Jawab Arinda.
"Aku langsung berangkat kerja dulu mas. Sudah hampir telat," ujar Arinda.
"Bagi duit rokok dong," ujar Aditia yang membuat Arinda lagi-lagi menghela nafas berat.
Arinda membuka tasnya, dan memberikan uang 5000 untuk suaminya itu.
"Tambahin kek. Jangan cuma tahu 5000 doang. Sudah ada motor baru nih. Itung-itung sedekah karena motor baru," ucap Aditia.
Dengan gigi gemeratuk Arinda menambahi uang rokok Aditia sebesar 5000 rupiah.
"Sedekah juga lihat-lihat mas. Kalau tangan kakimu itu cacat, baru pantes nerima sedekah," sindir Arinda sembari menaiki motor barunya.
"Ngasih 10 ribu aja pakai ngomel. Nanti kalau aku jadi anggota DPR, aku kasih kamu 10 juta sebulan," teriak Aditia karena motor Arinda sudah mulai jalan.
"DPR judi SLOT...." Teriak Arinda yang masih bisa di dengar oleh Aditia.
__ADS_1