
"Waktu mereka hajatan nanti, mbak Mia kebagian shif apa?" tanya Arinda.
"Libur. Sayangnya hari minggu, jadi aku ndak bisa ngurus perceraian itu lagi." Jawab Mia.
"Maaf yo mbak. Ndak bisa ngancani sampeyan. Hari minggu kalau ndak salah aku kebagian shif pagi. Kalau ndak, pasti ngancani sampeyan di rumah," ucap Arinda.
"Iyo Mi. Aku juga shif pagi. Kamu yang sabar yo Mi. Hari minggu nanti ajak anakmu jalan-jalan saja. Kasihan kalau sampai dia lihat bapaknya kawin lagi," ujar Dian.
"Rencanaku yo ngono. Sudah lama juga aku ndak ngajak anakku jalan-jalan, mungkin ini kesempatannya," timpal Mia.
Teng
Jam istirahat telah berakhir, kini saatnya Arinda dan teman-temannya kembali bekerja. Setelah waktu menunjukkan pukul 4 sore, jam pulangpun sudah tiba. Para buruh bergegas membersihkan area pabrik, agar yang mendapat shif malam merasa nyaman bekerja.
"Aku duluan yo. Aku mau tanyai surat gugatan itu soalnya," ujar Mia.
"Monggo mbak," ucap Arinda.
Mia meluncur pulang lebih dulu, disusul Dian di belakangnya. Arinda memasukkan kunci motor ke lobangnya, namun pikirannya tengah bimbang saat ini.
"Aku ndak tenang memikirkan mas Dante. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia? dia sudah memberi motor sebagus ini, tapi aku sama sekali ndak perduli keadaannya. Atau aku telpon saja ya?" gumam Arinda.
Arinda memutuskan membuat panggilan untuk Dante. Dante yang lupa mengisi daya ponselnya, sama sekali tidak tahu kalau Arinda menghubunginya.
"Kontaknya ndak aktif. Aku jadi tambah ndak tenang kalau seperti ini," gumam Arinda.
Arinda memutuskan untuk menjenguk Dante. Namun sebelum itu dia mampir ke rumah makan, untuk membelikan pria itu sop daging kesukaannya. Langkah kaki Arinda terasa berat, saat akan turun dari motornya.
"Ah...akhirnya aku ada disini lagi. Bukankah ini menjilat ludah sendiri namanya? tapi mau bagaimana lagi? ketimbang aku kepikiran mas Dante terus," batin Arinda.
Tok
Tok
Tok
Arinda mengetuk pintu rumah Dante beberapa kali, namun sama sekali tidak ada jawaban atau pergerakkan seseorang yang ingin membuka pintu.
Ceklek
Arinda dengan iseng menekan handle pintu. Namun ternyata pintu itu sama sekali tidak di kunci.
"M-Mas. Mas Dante ada di dalam?" seru Arinda.
Arinda perlahan masuk lebih dalam, dan akhirnya berada tepat di depan pintu kamar Dante.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"M-Mas. Apa kamu ada di kamar?" tanya Arinda sembari mengetuk pintu.
Lagi-Lagi tak ada jawaban dari Dante. Arinda memberanikan diri menekan handle pintu kamar pria itu. Mata Arinda terbelalak, saat melihat Dante sudah berada di lantai, dengan gelas pecah berserakkan di lantai.
"Mas Dante!" teriak Arinda.
Arinda meletakkan makanan yang dia bawa diatas meja, dan kemudian langsung memangku kepala pria itu. Wanita itu bisa bernafas lega, saat memeriksa nadi dan pernafasan Dante, ternyata pria itu masih hidup. Namun kondisinya tidak terlalu baik, Wajahnya sangat pucat.
"Mas. Bangun mas!" Arinda menepuk-nepuk wajah Dante.
"Ya Tuhan...lengan mas Dante terluka. Ini pasti kena pecahan gelas itu," gumam Arinda.
Dengan sekuat tenaga Arinda berusaha memindahkan Dante ke atas tempat tidur. Wanita itu kemudian bergegas mengambil baskom air, untuk menyeka wajah Dante.
"Mas bangunlah! jangan membuatku takut," tanpa sadar Arinda menangisi pria yang tangannya sudah dia genggam dengan erat.
Arinda tak kehabisan cara, dia meraih minyak kayu putih untuk dia hirupkan di hidung pria itu. Perlahan Dante mengerutkan dahi, dan mulai berangsur sadar.
"Ah...mas sudah sadar?" Arinda menyeka air matanya, dan bergegas meraih gelas air minum.
"Minum dulu mas!" ujar Arinda.
Dante menatap Arinda, yang terasa mimpi berada di depannya.
"Ckk...minumlah dulu. Jangan bersikap kayak kita sedang syuting film," ujar Arinda sembari melepaskan tangan Dante dari wajahnya.
Dante kemudian meminum air yang Arinda sodorkan. Namun matanya senantiasa memandang kearah Arinda.
"Kenapa mas bisa pingsan begini?" tanya Arinda.
"Mungkin karena dari pagi aku belum makan. Aku nggak sangup berdiri, kepalaku sakit sekali." Jawab Dante.
"Apa? jadi sampeyan sampai sekarang belum makan mas?" tanya Arinda cemas.
Dante menggelengkan kepalanya, dengan wajah memelas.
"Tunggu sebentar ya mas. Aku tak siapkan makanan untuk sampeyan dulu. Tadi aku membelikan makanan kesukaan sampeyan," ujar Arinda.
"Emm." Dante mengangguk.
Arinda meraih kantung plastik yang ada diatas meja. Wanita itu kemudian pergi ke dapur, untuk memanaskan sop daging yang tadi dia beli.
"Makanlah selagi panas mas. Biar perut sampeyan enak," ujar Arinda.
__ADS_1
"Suapi. Boleh?" tanya Dante.
Mata Arinda jadi mengerling. Namun dia tetap menuruti permintaan Dante.
"Terima kasih motornya mas. Aku sangat suka," ucap Arinda disela tangannya yang tetap menyuapi Dante.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Semoga bermanfaat ya!" ucap Dante.
"Pasti bermanfaat mas. Sampai matipun aku ndak kepikiran dan ndak berani menghayal buat punya motor sebagus itu," ujar Arinda.
"Lalu kamu sendiri kenapa bisa ada disini? bukankah kamu ingin kemarin adalah pertemuan kita yang terakhir?" tanya Dante
Deg
Pertanyaan Dante terasa tepat mengenai sasaran. Arinda sendiri jadi bingung untuk memberi alasan pada Dante.
"Emm...i-itu karena aku mau ngucapin terima kasih sudah dibelikan motor bagus," ucap Arinda asal.
"Begitu ya? tapi kan bisa lewat telpon?" tanya Dante.
"Lewat telpon bagaimana? tadi aku ngubungin sampeyan, tapi sama sekali ndak atif." Jawab Arinda.
"Oh ya?" Dante meraih ponselnya yang berada di samping tempat tidur.
"Ah...ya. Rupanya habis baterai. Padahal tadinya aku berharap itu karena kamu kangen sama aku, khawatir sama aku. Kalau ada perasaan seperti itu kan tandanya kamu mulai suka sama aku," ujar Dante.
"Eh? apa iya aku suka sama mas Dante? seharian ini aku memang kepikiran dia terus. Aduh...ini ndak boleh dibiarkan," batin Arinda.
"Kamu kenapa diam? apa tebakkanku itu benar? kalau benar aku sangat bahagia Rin," ujar Dante.
Hap
Arinda langsung menyuapkan mulut pria itu dengan suapan besar, agar Dante cepat diam. Arinda bingung harus bereaksi seperti apa pada pria di depannya itu.
"Emm...sudah hampir jam 6 sore. Aku pulang dulu ya mas!" ucap Arinda sembari berdiri dan meraih obat untuk dia berikan pada Dante.
"Tidak bisakah kamu disini sebentar lagi? aku masih kangen," tanya Dante.
"Aih...mas Dante bisa aja membuat jantungku ketar ketir," batin Arinda.
"Sebentar lagi gelap mas. Aku takut kalau pulang malam-malam di tikungan itu. Bagaimana kalau motor baruku kena begal?" tanya Arinda yang malah mengkhawatirkan motornya.
"Kamu lebih mengkhawatirkan motor dari kekasihmu?" tanya Dante.
"Ckk...kekasih apa. Sampeyan jangan ngomong sembarangan lagi. Ini minum obatnya!" ujar Arinda sembari menyodorkan obat ke depan mulut Dante.
Dante segera meminum obat itu. Setelah selesai, Arinda meraih tasnya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya mas!" ucap Arinda.
Sebelum benar-benar mencapai pintu kamar, Dante memeluk Arinda dari belakang. Bisa wanita itu rasakan, suhu tubuh Dante saat ini masih sangat panas. Yang membuat Arinda jadi tidak tega meninggalkan pria itu.