
Mia dan putranya tampak pulang dari jalan-jalan pada pukul 9 malam. Ridwan yang sejak tadi melihat rumah Mia gelap gulita, tampak mengintip dari tirai jendela. Namun saat melihat Mia pulang, Ridwan bergegas keluar.
"Darimana kamu jam segini baru pulang?" tanya Ridwan.
"Bukan urusan kamu. Yang pasti saat masih ada kamu di rumah ini, kita ndak pernah se happy ini." Jawab Mia sembari memutar kunci yang sudah dia masukkan di lubang kunci.
"Tentu saja ini masih jadi urusanku? Ferdy anakku juga, aku nggak mau kamu mengajari hal yang nggak-nggak sama dia," ujar Ridwan.
Mia spontan membalikkan tubuhnya dengan nafas yang naik turun.
"Jangan sok perduli kamu sama anak kamu! siapa disini yang mengajari anak yang nggak-nggak. Aku apa kamu mas? sampeyan jangan mancing keributan disini mas. Berbahagialah sampeyan dengan istri barumu itu," ujar Mia.
Ridwan tiba-tiba terkekeh, saat mendengar ucapan Mia.
"Kenapa? kamu cemburu? aku kan sudah bilang sama kamu dari awal, kalau kamu terima saja Lastri sebagai madumu. Kita bisa tinggal serumah dengan akur," ujar Ridwan.
"Nggak tahu malu kamu mas. Daripada dimadu atau balikkan sama sampeyan, mending aku jadi janda seumur hidup," ujar Mia berdecak kesal.
"Mas," Lastri tampak menghampiri Ridwan dan menggandeng tangan suaminya itu dengan mesra.
"Fer. Ayo masuk nak! kita harus makan makanan enak. Menikmati hidup bebas yang sesungguhnya," ujar Mia sembari menarik tangan putra semata wayangnya untuk masuk kedalam rumah.
Brakkkk
Mia sedikit membanting pintu dan kemudian memutar kunci rumahnya sebanyak dua kali.
"Mas kenapa ada disini?" tanya Lastri yang mulai posesif.
"Tentu saja buat nemuin anakku." Jawab Ferdy.
"Bukan nemuin mbak Mia toh?" tanya Lastri.
"Kenapa aku nemuin dia? sekarang kamu adalah istriku. Ayo kita masuk! malam ini adalah malam pertama kita. Kamu harus melayaniku sepuasnya," ujar Ridwan yang membuat Lastri tersipu.
Perkataan Ridwan membuat Lastri merona. Pasalnya sejak Ridwan tinggal di rumahnya, hampir tiap ada kesempatan mereka selalu berhubungan. Lastri layaknya boneka ranjang bagi Ridwan, yang bisa dia pakai sesuka hatinya. Sementara wanita belia itu sama sekali tidak mengerti, yang dia tahu perlakuan Ridwan padanya adalah bentuk wujud kasih sayang padanya.
"Yah...telan habis sayang," ucap Ridwan, saat Lastri mulai membenamkan benda gagah suaminya kedalam liang basah miliknya.
"Ah...ya...bagus. Mulailah bergoyang sayang, makin lama makin cepat! yah...terus begitu, kamu semakin pintar sayangku," ucap Ridwan saat pria itu menuntun pinggul istrinya agar bergerak lebih cepat.
Suara teriakkan dan lengkingan keduanya begitu jelas terdengar dari luar kamar, hingga mertua Ridwan malu sendiri mendengarnya. Dan suara-suara aneh itu reda setelah hampir 1 jam lamanya.
"Ah...sayang...aku sangat menyukai aksimu," ucap Ridwan disela-sela nafasnya yang memburu.
"Apa aku lebih hebat dari mbak Mia?" tanya Lastri.
"Tentu saja kamu lebih segalanya. Kamu lebih cantik, lebih montok, goyanganmu juga dahsyat. Yang pasti kamu sangat legit." Jawab Ridwan sembari terkekeh, sementara Lastri jadi tersipu.
"Kapan kita mau periksa anak kita mas? aku pengen lihat dia dengan alat USG," tanya Lastri.
"Kalau mau USG, nanti saja pas 7 bulan. Nanti bisa kelihatan jelas jenis kelaminnya. Si Ferdy juga gitu dulu." Jawab Ridwan.
"Oh ya. Apa ibu dan bapakmu sudah membuka amplop? kalau bisa kamu ikut buka juga. Lumayan kalau dikasih buat USG nanti. Atau kita bisa buka usaha," tanya Ridwan.
__ADS_1
"Nanti akan aku tanyakan," ujar Lastri.
"Lagi yuk?" tanya Ridwan.
"Besok lagi mas. Hari ini aku capek banget. Kasihan anak kita." Jawab Lastri.
"Ya sudah kita tidur kalau gitu," ujar Ridwan yang kemudian mendapat anggukkan kepala dari Lastri.
*****
Mia melengos saat melihat Ridwan dan Lastri tampak baru keluar dari depan pintu. Mia bergegas menaiki motornya, karena ingin segera pergi bekerja.
"Sepertinya mbak Mia cemburu," ujar Lastri penuh kemenangan.
"Biarin aja. Salah sendiri bodoh. Apa dia pikir mudah cari suami hebat di ranjang seperti aku? kalau aku sama sekali nggak rugi cerai dari dia. Terlebih aku mendapatkan pengganti yang lebih segalanya dari dia," ujar Ridwan.
"Yuk mas cari sarapan di depan," ujar Lastri sembari menggandeng tangan Ridwan.
"Ayo." Jawab Ridwan.
Saat akan melangkah dari depan rumah Mia, Ferdy anak semata wayang Ridwan baru keluar rumah sembari mengunci pintu rumahnya. Bocah SD itu baru saja akan berangkat sekolah. Mata Ridwan dan Ferdy bersitatap, saat bocah itu akan melangkah pergi.
"Baru mau pergi sekolah?" tanya Ridwan.
"Ya." Jawab Ferdy sembari melirik Lastri yang tengah memeluk lengan Ridwan dengan posesif.
"Sudah sarapan?" tanya Ridwan.
"Nggak mau salim sama Ayah dulu?" tanya Ridwan yang membuat Ferdy menghentikan langkahnya.
Perlahan bocah itu berbalik badan, dan melangkah menuju Ridwan. Ferdy meraih tangan Ridwan dan mencium punggung tangan ayahnya itu. Lastri dengan penuh percaya diri mengulurkan tangannya, agar di cium juga oleh Ferdy. Namun respon yang Ferdy berikan diluar dugaan wanita itu. Ferdy langsung memukul tangan Lastri dan kemudian langsung pergi.
"Mas anak kamu...."
"Sayang. Dia masih anak-anak. Kamu harus ngambil hati dia pelan-pelan. Dulu juga kalian dekat kan? buat dia dekat sama kamu seperti dulu lagi," ujar Ridwan.
Bibir Lastri mengerucut. Ridwan segera mengajak istri kecilnya itu pergi mencari sarapan agar memperbaiki mood wanita itu.
"Duh...pengantin baru," sapa penjual nasi uduk saat Ridwan dan Lastri baru tiba di warung itu.
"Nasi uduknya dua ya bude," ujar Lastri.
Mata Ridwan melirik kearah anak si punya warung dengan tatapan nakal. Gadis belia itu hanya bisa tersenyum tersipu, saat Ridwan dengan kilat bermain mata dengannya.
Sementara itu di tempat berbeda. Arinda baru saja tiba di parkiran hampir bersamaan dengan Dian. Namun hal yang tak terduga lainnya adalah, ternyata Dante tiba-tiba menghampirinya.
"Sayang," sapa Dante.
Deg
Arinda dan Dian kompak menoleh. Arinda merasa sangat malu pada Dian, karena Dante begitu terang-terangan menyukai dirinya. Arinda bergegas menghampiri Dante, dan menyeret tangan pria itu.
"Mas Dante ngapain kesini?" tanya Arinda setengah berbisik.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu." Jawab Dante.
"Mas...tolonglah jangan mempersulitku lagi. Aku malu sama teman-temanku kalau kamu terlalu terang-terangan begini," ujar Arinda.
"Kalau sembunyi-sembunyi boleh? kamu kan sudah janji akan menemuiki seminggu dua kali," ujar Dante.
"Kapan aku janji begitu mas? jangan ngawur sampeyan. Sebaiknya sampeyan pergi kerja sana!" ujar Arinda.
"Berjanjilah dulu kalau kamu akan menemuiku setiap kamu libur," ujar Dante.
"Mas...." wajah Arinda begitu memelas.
"Kalau tidak berjanji, maka aku akan menemuimu setiap hari disini. Bila perlu aku akan datang ke rumahmu," ujar Dante.
"Terus katakan juga kalau kamu mencintaiku," sambung Dante.
"Eh?" Arinda terkejut.
"Sayang. Buat apa kamu membohongi perasaanmu sendiri. Aku tahu kamu juga mencintaiku, aku bisa melihatnya dimatamu," ujar Dante.
"Mas jangan begini. Sebagai wanita bersuami, aku merasa malu," ujar Arinda.
"Kenapa harus malu. Cinta tidak pernah salah. Sekarang cepat katakan! agar aku cepat pergi, dan kamu nggak jadi tontonan teman-teman kamu," ujar Dante.
Arinda melirik ke kiri dan kekanan. Memang segelintir orang tengah memperhatikan dirinya dan Dante. Entah apa yang orang itu perhatikan. Apa karena dia berbincang dengan Dante, atau karena ketampanan Dante itu sendiri.
Arinda terlihat menghela nafas berat. Dia merasa tidak ada gunanya menghindari, atau membohongi perasaannya terus menerus.
"Ya sudah oke. Aku janji sama kamu mas," ucap Arinda.
"Terus?" Dante menaikkan alisnya.
"A-Aku...."
"Aku apa?" tanya Dante.
"Aku mencintaimu mas." Jawab Arinda dengan kepala tertunduk.
"I love you too," ujar Dante dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Arinda bersitatap dengan mata Dante. Wajahnya benar-benar merona saat ini.
"Tidak usah malu. Kalau kamu jujur dengan perasaanmu, itu akan lebih baik dan bisa membuat hatimu lega," ujar Dante.
"Ya sudah aku berangkat kerja dulu ya! kamu juga hati-hati kerjanya. Kalau suatu saat kita menikah, aku tidak akan membiarkanmu bekerja. Aku akan membuatmu menjadi ibu rumah tangga yang hanya fokus mengurusku dan anak-anak. Biar aku yang mencari nafkah," ujar Dante.
"Sungguh janjinya itu sangat manis, meskipun pada kenyataannya itu hanyalah dusta," batin Arinda.
"Hati-Hati mas," ucap Arinda.
"Emm." Dante mengangguk.
Arinda meraih tangan Dante dan mencium punggung tangan pria itu. Hal yang sangat dia rindukan, karena sudah beberapa hari dia tidak melakukan itu. Setelah Dante menjauh, Arinda berbalik badan. Namun dia terkejut, karena Mia dan Dian menatap lekat kearahnya.
__ADS_1