SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.31. Gusar


__ADS_3

"Hemmm...kalau melihat dari raut wajahmu itu, sepertinya kamu mulai gusar ya?" tanya Mia.


"Tapi benar juga yang dibilang Dian Rin. Dante itu pasti nggak bodoh. Semua orang pasti memimpikan berumah tangga, punya anak, dan lain-lain. Mana mau dia jadi pria simpanan seumur hidup. Jadi pilihanmu cuma ada dua, kamu lanjut ama Dante tapi ceraikan Aditia. Atau kamu fokus dengan rumah tanggamu, lalu lupakan Dante," sambung Mia.


"Betul itu Rin. Takutnya kamu lagi yang tersakiti. Disaat kamu sedang sayang-sayangnya, saat kamu sudah memberikan segalanya, tiba-tiba Dante putusin kamu karena kamu nggak kunjung kasih kepastian," ujar Dian.


"Akkhhh...kepalaku jadi mumet mikirin itu mbak," ujar Arinda.


"Resiko bermain api Rin. Tapi saranku kamu jangan terlalu main perasaan sama Dante. Kalau cuma untuk saling muasin hasrat, mungkin bolelah. Takutnya kamu ndak bisa mengendalikan diri, dan saat putus malah jadi tambah stres," ujar Mia.


"Ckk...aku ndak mau putus sama mas Dante mbak. Aku cinta, aku sayang sama dia," ucap Arinda dengan bibir mengerucut.


"Hemm...sepertinya kita telat bilangnya Mi. Teman kita sudah kadong trisno karo selingkuhane," ujar Dian.


"Ya kalau begitu kamu cepat ceraikan Aditia. Kamu ndak mungkin mendapatkan keduanya. Kalau poliandri diperbolehkan, sejak dari dulu aku melakukannya," ujar Mia.


Teng


Suara besi dipukul kembali terdengar. Arinda tampak tidak bersemangat kerja, karena ucapan teman-temannya, membuat Arinda jadi kepikiran.


"Hatiku jadi sakit, saat membayangkan putus dari mas Dante. Bahkan saat meminta cerai dari mas Adit, aku ndak pernah merasa sesakit ini. Ternyata mas Dante benar-benar sudah masuk kedalam hatiku yang paling dalam. Uggghh...aku jadi kangen sama dia," batin Arinda.


Tepat pada pukul 5 sore Arinda baru sampai di rumahnya. Saat baru sampai, Arinda melihat Aditia sudah berpakaian rapi.


"Mau kemana dia? tumben dia rapi bener," batin Arinda.


Arinda melirik amplop coklat yang tergeletak diatas meja. Melihat amplop itu, Aditia bergegas meraihnya dan mendekapnya.


"Pinjam motormu sebentar," ujar Aditia.


"Sampeyan mau kemana mas?" tanya Arinda.


"Mau nitip surat lamaran kerja. Temanku bilang di kantornya ada lowongan, jadi aku mau coba melamar kesana. Kamu do'ain aku ya! moga aja keterima." Jawab Aditia.


Deg


"Apa ini jawaban dari ucapan mbak Mia dan mbak Dian? apa ini suatu pertanda, kalau aku memamg harus mempertahankan rumah tanggaku? mas Adit tiba-tiba mau cari kerja. Tapi...."


Arinda tiba-tiba teringat akan sosok Dante, dan senyuman tulus pria itu.


"Ah...ternyata sama sekali ndak ngaruh. Mungkin rasa kecewaku sama mas Adit selama ini sudah terlalu besar, hingga perasaanku tidak lagi bergetar seperti perasaanku sama mas Dante. Aku harus bagaimana sekarang?" batin Arinda.


"Kok bengong? kamu nggak senang suamimu kerja lagi?" tanya Aditia.


"Senang mas. Semoga keterima ya!" ucap Arinda, sembari menyodorkan kunci motornya.


Cup


Aditia mencium kening Arinda.


"Aku pergi dulu," ujar Aditia.

__ADS_1


"Emmm." Arinda mengangguk.


Aditia pergi dengan mengendarai motor Arinda. Namun tiba-tiba Arinda teringat akan BPKB motornya, dan segera memeriksanya di kamar Fatimah. Arinda bisa bernafas lega, karena ternyata BPKB itu masih aman di tempat persembunyiannya.


"Ndok. Aditia sudah pergi?" tanya Fatimah.


"Iya buk'e. Katanya mau nitip lamaran kerja." Jawab Arinda sembari melepas sepatunya.


"Iya. Do'akan suamimu agar dapat kerja yang bagus. Jadi masalah rumah tangga kalian cepat selesai," ujar Fatimah.


"Iya Buk'e. Arin tak mandi dulu. Gerah," ujar Arinda.


"Ya. Nanti jangan lupa makan, jangan seperti malam kemarin. Pulang kerja ndak makan lagi. Tadi buk'e masak pepes tahu buat kamu," ujar Fatimah.


"Iya buk'e." Jawab Arinda.


Arinda kemudian pergi ke kamar. Namun saat sampai disana, dia jadi teringat sosok Dante dan langsung menghubungi kekasihnya itu.


"Sayang? tumben kamu nelpon aku. Suamimu mana?" tanya Dante.


"Mas Adit lagi pergi. Mau nitip surat lamaran sama temannya." Jawab Arinda yang membuat Dante jadi terdiam.


"Mas. Kok diam? kamu ndak kangen sama aku? padahal aku seharian mikirin sampeyan," tanya Arinda.


"Kangen banget." Jawab Dante.


"Emmm...sayang. Apa kalau suamimu dapat kerja nanti, kamu akan ninggalin aku?" tanya Dante.


"Aku takut kamu langsung lupain aku, saat suamimu sudah punya banyak uang." Jawab Dante.


"Lalu mas sendiri mau jadi lanang simpananku sampai kapan? apa mau seumur hidup?" tanya Arinda.


"Kalau kamu tega, aku bersedia." Jawab Dante.


"Eh?" Arinda terkejut.


"Maafin aku ya mas. Aku belum bisa memberikan kepastian untuk hubungan kita kedepannya. Tapi satu hal yang harus sampeyan tahu, kalau aku sayang dan cinta banget karo sampeyan mas," ucap Arinda.


"Aku tahu. Kamu saat ini sedang dalam kebingungan. Nggak apa, aku akan menunggumu sampai kamu menentukan pilihan," ujar Dante.


"Makasih sudah ngertiin aku mas. I love you," ucap Arinda.


"Love you too." Jawab Dante.


"Ya sudah aku tak mandi dulu ya mas. Sudah hampir magrib," ujar Arinda.


"Ya." Jawab Dante.


Arinda mengakhiri percakapan itu dengan senyum tersungging dibibirnya. Diapun bergegas mandi. Sementara itu di tempat berbeda, Aditia baru saja tiba di rumah Gumai.


"Eh...kamu Dit? ayo masuk!" ujar Gumai.

__ADS_1


Aditia kemudian masuk kedalam rumah Gumai, dan disambut juga oleh istri teman kuliahnya itu.


"Mana surat pernyataan dan sertifikatnya?" tanya Gumai.


Aditia mengeluarkan sertifikat dan juga surat pernyataan dari Fatimah. Gumai memeriksa semuanya dan menyetujui kesepakatan mereka.


"Hitung dulu uangnya!" ujar Gumai sembari menyodorkan amplop coklat berisi uang 30 juta.


Mata Aditia berbinar, saat melihat uang berwarna merah itu. Setelah menghitung uangnya, Aditia disuruh menandatangani surat perjanjian diatas materai.


"Semoga cepat balik uangnya ya Dit," ujar Gumai.


"Amiin." Jawab Aditia.


"Aku langsung pulang ya!" ujar Aditia.


"Ya. Hati-Hati," ucap Gumai.


Disepanjang perjalanan pulang, Aditia tampak berpikir keras. Hingga pria itu jadi menghentikan motornya.


"Aku harus mencari motor bekas pakai, agar aku bisa keluar rumah dengan mudah. Tapi aku harus bohongi Arinda dulu, siapa tahu dapat uang lagi dari dia. Kan lumayan," gumam Aditia sembari terkekeh.


Aditia kemudian bergegas pulang dan menyembunyikan uang dari Gumai di dalam bajunya.


"Gimana mas?" tanya Arinda.


"Kata temanku tunggu aja sehari dua hari ini. Nanti akan di telpon orang kantornya." Jawab Aditia.


"Yang benar mas?" Arinda semringah.


"Ya iya dong, mas iya bohong. Selama ini kamu tu nggak sabar. Aku bukannya nggak mau kerja, tapi aku nggak mau gaji kecil." Jawab Aditia.


"Emang disini berapa gajinya?" tanya Arinda.


"7 juta." Jawab Aditia asal.


"7 juta?" Arinda terkejut, karena itu hampir dua kali lipat dari gajinya di pabrik.


"Senang kan kamu?" tanya Aditia yang membuat kepala Arinda mengangguk.


"Tapi masalahnya kalau diterima kerja, aku pergi pakai apa? tempat kerja aku dan kamu bertolak belakang arahnya," tanya Aditia.


"Jadi mas butuh motor juga?" tanya Arinda.


"Iya. Tapi kita dapat duit darimana buat beli motor bekas?" tanya Aditia.


"Sebenarnya aku ada uang simpanan dikit buat tabungan pendidikkan anak mas. Aku rasa cukup buat beli motor bekas pakai. Tapi kamu harus janji loh mas, pas gajian kamu harus ganti," ujar Arinda.


"Makasih ya sayang. Kamu emang istri pengertian. Aku janji akan menggantinya," ucap Aditia sembari memeluk Arinda.


Tanpa Arinda tahu, lagi-lagi Aditia menyeringai dibalik punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2