SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.63. Maaf


__ADS_3

Hanya butuh waktu 20 menit bagi taksi, untuk sampai di rumah sakit yang Dante tuju. Setelah turun, merekapun bergegas menuju ruangan Arinda yang ternyata sudah di pindahkan ke ruang perlawatan.


Arinda yang matanya masih terpejam, digenggam erat tangannya oleh Dante. Terlihat sekali saat ini wajahnya sedikit pucat.


"Bagaimana keadaannya Arinda dan anakku mbak?" tanya Dante.


"Arin belum siuman, kata dokter untung Arinda segera di bawa ke rumah sakit. Jadi anak kalian bisa diselamatkan." Jawab Dian.


Dante, Fitri, dan Damsi, menghembuskan nafas lega, saat mendengar jawaban Mia. Dante membelai lembut kepala Arinda, yang membuat Fitri jadi mengehela nafasnya.


"Takdir ini tak bisa di rubah lagi. Kalau memang kebahagiaan Dante adalah Arinda, mau tak mau aku harus menerima. Terlebih dalam perut Arinda ada anaknya Dante," batin Fitri.


Setelah menunggu beberapa saat, Arindapun siuman. Hal pertama yang dia lihat adalah sosok Dante.


"M-Mas. Hiks...." Arinda langsung menangis dan dipeluk oleh Dante.


"A-Anak kita bagaimana mas? anak kita baik-baik saja kan?" tanya Arinda dengan mata yang sudah basah.


"Kamu tenang aja ya sayang. Anak-Anak kita semuanya baik-baik saja." Jawab Dante.


"Mas nggak bohong kan? mas bilang gitu ndak cuma mau nyenengin hati aku aja kan? pokoknya kalau anakku tiada, aku ndak mau hidup lagi mas," tanya Arinda.


"Sungguh. Beruntung ada mbak Mia dan mbak Dian. Jadi perdarahannya bisa ditangani. Tapi kamu harus istirahat total dari sekarang." Jawab Dante.


"Ndak bisa begitu mas. Aku harus kerja, kalau aku ndak kerja dan jadi ibu rumah tangga aja, ntar aku di remehin orang mas," ujar Arinda.


"Siapa yang mau remehin kamu?" tanya Dante.


Arinda terdiam, meskipun dia sangat ingin mengatakan kalau keluarga Dantelah yang akan meremehkannya. Tanpa Arinda tahu, ibu Dante dan ayahnya ada dibelakang pria itu.


Fitri dan Damsi perlahan mendekat, yang membuat Arinda jadi menegang. Tangan Arinda yang masih di genggam erat oleh Dante, membuat pria itu menyadari, kalau Arinda tengah ketakutan saat ini.


"Sayang. Kamu tidak perlu takut, ada aku disini. Aku akan melindungimu dan anak-anak dari bahaya apapun itu," ujar Dante.


Arinda tidak menanggapi ucapan Dante, namun kepalanya tertunduk dengan air mata yang merembes keluar. Fitri perlahan meraih tangan Arinda, dan menggengamnya. Membuat Arinda jadi menatap kearah wanita parubaya itu.


"Maafkan mama Arinda. Sungguh mama tidak tahu kalau kamu sedang hamil anak Dante," ucap Fitri.


"A-Apa jika aku ndak hamil anak mas Dante ibu akan tetap merestui kami?" tanya Arinda dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Mungkin saja tidak. Tapi aku bersyukur, karena kejadian ini. Mama bisa tahu, siapa yang tulus, siapa yang tidak. Meskipun statusmu belum janda sepenuhnya, tapi kamu jauh lebih baik dari Dara Arinda. Mama sungguh-sungguh minta maaf," ucap Fitri dengan meneteskan air mata.


"Maukah mama memelukku?" tanya Arinda dengan mata basah.


"Dengan senang hati." Jawab Fitri.


Arinda dan Fitri kemudian berpelukan. Yang membuat Dante dan yang lainnya jadi terharu.


"Sekarang kamu harus badres total ya? keluar saja dari pekerjaanmu. Cucu-Cucuku harus selamat dan sehat. Dante masih sanggup menafkahimu dan anak-anakmu," ujar Fitri.


"Iya ma." Jawab Arinda.


"Mbak Mia, Mbak Dian. Makasih ya sudah nolongin aku," ucap Arinda.


"Sama-Sama Rin. Itulah gunanya teman. Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu ya Rin. Sudah terlanjur cuti hari ini," ujar Dian.


"Ya mbak. Maaf ya mbak sudah merepotkan kalian," ucap Arinda.


"Ndak apa-apa." Jawab Mia.


"Sayang. Kamu nggak apa kan kalau aku tinggal dulu? sebenarnya aku masih dalam jam kerja. Setidaknya aku akan izin dulu ke kantor buat cuti," ujar Dante.


"Ada mama disini. Mama yang akan menungguimu," ujar Fitri.


"Nggak apa kan?" tanya Dante.


"Jangan lama ya mas!" ucap Arinda.


"Kamu ada pengen makan apa?" tanya Dante.


"Pengen jambu aer mas." Jawab Arinda.


"Jambu aer?" tanya Dante yang dianguki oleh Arinda.


"Pengen anak kita murahan sekali. Yang berkelas kenapa?" ujar Dante.


"Emang makanan apa berkelas?" tanya Arinda.


"Pizza misalnya." Jawab Dante.

__ADS_1


"Oalah mas. Yo ndak cocok sama lidahku. Wong biasa makan ketela pohon, kok malah makan Pizza. Ndak mau ah...takut lidahku keseleo," ujar Arinda yang membuat Fitri, Damsi, dan Dante jadi terkekeh.


Setelah Dante pergi, petugas yang mengantar makan siang dan obatpun datang membagikan makanan.


"Mama suapi ya makannya," ujar Fitri.


"Eh? ndak usah ma. Biar Arin sendiri saja. Mama papa duduk saja disana ya!" ujar Arinda.


"Jangan. Biar mama saja," Fitri meraih ompreng makanan, dan kemudian menyuapi arinda makan dan minum obat setelahnya.


"Mama sangat senang, karena Dante sudah mau punya anak. Meski caranya salah, tapi mama menerimanya dengan senang hati. Nanti biar Dante urus perceraiannya dengan Dara secepatnya, begitu juga dengan kamu. Apa kamu sudah melalui proses sidang?" tanya Fitri.


"Rencananya senin nanti sidang pertama kami, setelah mediasi gagal. Makasih ya ma, sudah kasih Arin kesempatan. Arin janji akan jadi istri yang baik buat mas Dante," ucap Arinda.


"Ya. Memang cuma itu yang mama harapkan. Mama ingin anak-anak mama bahagia," ujar Fitri.


"Apa papa...."


"Papa juga merestui kalian. Pokoknya lahirkan cucu-cucu kami dengan sehat dan selamat," ujar Damsi.


Arinda kembali menangis haru. Dia merasa seperti memiliki orang tua lagi.


"Buk'e. Andai buk'e masih hidup. Buk'e pasti akan melihat kebahagiaan Arin saat ini. Sekarang Arin sudah punya mertua yang baik sama Arin," batin Arinda sembari menyeka air matanya.


"Kenapa kamu menangis lagi? itu nggak baik untuk kesehatan anakmu?" tanya Fitri.


"Aku cuma terharu ma. Aku merasa seperti punya orang tua lagi. Selama 3 tahu menikah dengan suamiku, aku juga tidak direstui sampai saat ini. Itu semua karena aku miskin dan tidak berpendidikan. Tapi sekarang ndak lagi. Aku sudah mendapatkan mertua yang mau menerima aku apa adanya." Jawab Arinda.


"Mama jadi merasa malu sendiri saat mengingat perbuatan mama beberapa waktu yang lalu. Ternyata yang berpendidikan belum tentu baik untuk Dante, contohnya Dara yang memilih kabur karena takut terlibat. Terima kasih nak, kamu sudah banyak mengajarkan pada kami, kalau harta dan pendidikan itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang," ucap Fitri.


"Makasih juga ya ma karena sudah memberikan kami restu," ucap Arinda.


Fitri dan Arinda kembali berpelukan.


"Ya sudah. Sekarang kamu istirahat ya! mama dan papa keluar sebentar buat cari makan siang," ujar Fitri.


"Ya ma." Jawab Arinda.


Arinda menatap punggung Fitri dan Damsi yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu. Arinda bisa bernafas lega, karena semua beban dihatinya terasa terangkat.

__ADS_1


__ADS_2