
Tiga hari kemudian....
"Kita jemput ibu kamu ya!" ujar Suryo.
"Iya pak." Jawab Ferdy.
Sudah 3 hari Ferdy pergi menginap di rumah Mia untuk menjaga Ferdy dengan sepenuh hatinya. Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, merekapun tiba di rumah sakit untuk menjemput Mia.
"Ibu," Ferdy langsung memeluk Mia saat melihat ibu yang dia rindukan selama 3 hari.
"Gimana sekolah kamu? makanmu. Hem?" tanya Mia.
"Aku diantar jemput sama bapak. Aku juga diajak makan yang enak-enak." Jawab Ferdy dengan polosnya.
"Bapak?" tanya Mia yang heran, karena Ferdy memanggil Suryo dengan sebutan itu.
"Kata bapak, dia sayang ibu. Nanti kalian akan menikah seperti ayah dan mbak Lastri. Rumah bapak bagus deh bu. Kamarnya dingin ada Acnya," ujar Ferdy dengan polosnya.
Mia melirik kearah Suryo. Wanita itu jadi gugup, karena takut Ferdy menolak kehadiran Suryo.
"A-Apa kamu setuju kalau ibu menikah dengan bapak Suryo?" tanya Mia dengan penuh kehati-hatian.
"Aku suka bapak. Kalau nanti dia menikah sama ibu, bapak bisa antar jemput aku pulang sekolah. Aku juga bisa pamer sama teman-teman, kalau aku juga punya ayah. Iya kan pak?" tanya Ferdy.
"Iya. Kalau kamu mau, kamu sudah bisa panggil bapak dengan sebutan ayah." Jawab Suryo, dengan mata mengarah pada Mia.
"Mau pak. Kapan kalian menikah?" tanya Ferdy.
"Itu tergangung ibu kamu. Kalau ibu kamu sayang sama kamu, dia pasti mau cepat-cepat menikah dengan ayah," ujar Suryo.
"Kapan bu?" tanya Ferdy.
"Eh? se-secepatnya." Jawab Mia.
"Sekarang ayo kita pulang," sambung Mia.
Merekapun pulang ke rumah Mia, setelah sebelumnya pergi ke supermarket terlebih dahulu. Suryo tampak bermain dengan Suryo, sementara Mia tengah sibuk memasak untuk makan malam buat mereka.
Setelah selesai memasak, merekapun makan malam bersama seperti layaknya keluarga.
"Bagaimana menurutmu? apa kita memang harus menunggu sampai satu bulan? Ferdy sudah merestui hubungan kita. Atau kamu masih keberatan dengan masa laluku? tanya Suryo.
"Ndak mas. Bukan itu yang membuatku takut. Aku takut sampeyan cuma mempermainkan aku aja," ujar Mia.
"Nggak akan, percayalah. Tolong beri aku kesempatan. Aku sungguh-sungguh ingin berumah tangga denganmu," ujar Suryo.
Mia tampak terdiam dan berpikir keras. Namun sesaat kemudian, Mia berkomentar.
"Ya sudah kita coba kalau gitu mas. Tapi aku ndak mau kalau kita menikah acaranya sampai meriah. Aku cuma mau ada penghulu dan saksi saja mas," ujar Mia.
"Baiklah. Besok aku urus surat nikah kita," ujar Suryo dengan senyum mengembang di bibirnya.
Mia menoleh kearah Ferdy yang sudah tertidur lelap.
"Ibu akan melakukan apa saja, asal kamu bahagia nak. Kamu menyukai Suryo jadi bapak kamu, maka ibu juga akan mengabulkannya," batin Mia.
"Sudah malam. Aku pulang dulu ya!" ujar Suryo.
"Iya mas. Hati-Hati ya!" ucap Mia.
"Emmm," Suryo mengangguk.
Mia mengantar Suryo hingga depan teras. Lastri dan keluarganya nampak tidak senang, karena Mia terlihat mendapatkan pengganti Ridwan yang jauh lebih baik dari pria itu.
"Kayaknya yang ini lebih kaya. Itu calon suami sampeyan? atau sampeyan jadi istri simpanan dia? hati-hati loh mbak, nanti sampeyan bisa di garuk sama istri sah nya," ujar Lastri.
"Nggak usah kepo dengan urusan orang lain. Urus saja hidupmu sendiri. Yang pasti aku nggak merebut suami orang seperti kamu. Kali ini aku nggak akan membiarkan para pelakor masuk dalam rumah tanggaku. Kalau kamu masih merasa gatal, garuk aja pakai kulit duren," ujar Mia yang kemudian langsung menutup pintu.
"Huh sombong. Nyalahin orang, salahin badan sendiri yang nggak menarik mata suamimu itu," gerutu Lastri.
Sementara itu Mia tampak menghembuskan nafas. Karena dia benar-benar merasa takut kali ini. Ini kali pertama dirinya membuka hati setelah bercerai. Jadi dia sedikit trauma, karena pernikahannya terdahulu sudah gagal.
*****
Keesokan harinya....
__ADS_1
"Kenapa kita menikah setelah aku melahirkan mas?" tanya Arinda.
"Karena kalau menurut aturan agama kita, sebaiknya memang begitu. Sekarang kamu sudah hamil 6 bulan, tinggal 3 bulan lagi kamu akan lahiran." Jawab Dante.
"Tapi aku malu sama tetangga mas," ujar Arinda.
"Bilang saja kalau kita sudah nikah siri." Jawab Dante.
"Ya sudahlah kalau sampeyan maunya begitu," ujar Dante.
"Aku yang pengen ngebet nikah, kok mbak Mia yang malah duluan nikah dari aku," ujar Arinda.
"Loh mbak Mia mau nikah? kapan?" tanya Dante.
"Besok mas. Kita juga di undang. Memang nggak nikah secara meriah sih. Mbak Mia cuma pengen nikah sederhana di masjid aja." Jawab Arinda.
"Ya sudah besok kita pergi kalau begitu," ujar Dante.
Sementara itu di tempat berbeda Mia dan Suryo tengah pergi ketempat WO yang tidak jauh dari rumah Mia. Mereka fitting baju pengantin dan juga pergi ketempat catering. Niat hati cuma ingin ijab qobul, namun Mia jadi ingin memmberitahu warga, kalau Suryo adalah suaminya.
"Habis ini kita makan siang dimana?" tanya Suryo.
"Kita makan bakso yuk mas. Pengen makan yang pedas-pedas." Jawab Mia.
"Boleh. Tahu gitu tadi ngajak Ferdy," ujar Suryo.
"Tadi sudah aku ajak, tapi katanya mau belajar karena sebentar lagi ada ujian," ujar Mia.
"Ya sudah nanti ingetin buat bungkus untuk Ferdy," ujar Suryo.
"Iya mas." Jawab Mia.
"Mas Suryo kelihatannya sangat tulus sama Ferdy dan aku. Sementara bapak kandungnya sama sekali ndak tahu rimbanya. Aku ndak tahu kapan sikap mas Suryo akan berubah, yang pasti aku ingin bahagia dulu sejenak," batin Mia.
Setelah sampai di kedai bakso favorit Mia, merekapun memesan makanan disana. Namun tanpa mereka sadari, sepasang mata sudah memperhatikan mereka, sejak mereka datang.
Dan setelah Mia dan Suryo selesai, tiba-tiba ada seseorang yang mencekal tangannya, saat hendak masuk kedalam mobil.
"Mas Ridwan? lepasin mas!" ucap Mia.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu dekat dengan pria homo ini?" tanya Ridwan yang membuat mata Mia terbelalak.
"Tentu aja ini jadi urusanku juga. Aku masih mencintaimu aku mau kita rujuk. Sekarang aku sudah banyak uang. aku jamin kamu nggak akan kekurangan lagi," ujar Ridwan.
"Selama ini aku ndak pernah mas mempermasalahkan soal uang, meskipun sampeyan yang memerasku. Tapi kebiasaan sampeyan itu yang ndak bisa aku terima," ujar Mia.
"Apa kamu pikir kebiasaan pria ini jauh lebih baik dariku? penyuka sesama jenis sukar sembuh. Kamu mau ditulari penyakit aneh dari dia?" tanya Ridwan.
"Kenapa jadi aku yang dijadikan sasaran? kamu sendiri apa kabar? apa kamu kira aku tidak mengenalmu? anak buah kesayangan mami. Pria populer pemuas tante-tante girang. Kamu dan aku tidak ada bedanya. Tapi sekarang aku tidak lagi begitu. Aku harap jangan ganggu aku dan mia lagi, atau kamu akan menyesal," ujar Suryo.
"Kenapa aku harus mendengarkanmu? aku orang pertama yang ada dalam hidup Mia. Kamu itu cuma orang baru yang tidak tahu apa-apa," tanya Ridwan.
"Orang lama yang tidak pernah membuat Mia bahagia, dan selalu membuat Mia menderita," ujar Ridwan.
"Kamu...."
"Cukup mas! jangan ganggu hidupku lagi. Aku ndak mau ada urusan sama sampeyan lagi mas. Kita sudah ndak punya hubungan apa-apa lagi, jadi biarkan aku bahagia mas," ucap Mia.
Ridwan mendekati Mia perlahan dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Mi. Aku cinta sama kamu, meskipun aku pernah melakan kesalahan besar dimasa lalu," ujar Ridwan.
"Tidak mas. Kesempatan itu sudah puluhan kali aku berikan sama sampeyan, tapi sampeyan ndak menggunakannya dengan baik. Sampeyan bahkan lupa kewajiban sama anak-anak sampeyan sendiri. Ferdy, anak si Lastri, anak si Indah. Sampeyan cuma mikir hidup sampeyan sendiri," ujar Mia.
"Jadi ndak usah bahas masa lalu lagi mas. Aku sudah menguburnya dalam-dalam. Dan tentang mas Suryo, aku sudah tahu masa lalunya dari awal. Dia sudah jujur semuanya, dan aku mau menerima dia apa adanya. Besok kami akan menikah, jadi lupakan aku mas," sambung Mia.
"Nggak Mi. Jangan lakukan itu! aku janji akan menjadi suami yang baik dikemudian hari," ujar Ridwan sembari menggenggam kedua tangan Mia dan dengan air mata meleleh di pipi.
"Maaf mas. Aku ndak bisa," ucap Mia sembari melepaskan tangan Ridwan, dan kemudian masuk kedalam mobil.
Suryo juga ikut masuk kedalam mobil, dan meninggalkan tempat itu. Tidak ada percakapan selama mereka pergi menuju pulang. Dan sesekali Mia juga menyeka air matanya.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Suryo.
"Tidak mas. Aku hanya menyayangkan, karena dia menyesal setelah benar-benar kehilanganku. Andai kata-kata itu dia ucapkan dari dulu, mungkin kami tidak akan pernah yang namanya mengenyam perceraian." Jawab Mia.
__ADS_1
"Aku janji akan membahagiakan kamu Mi. Bagaimanapun caranya, aku akan membuatmu tidak berpikir akan pernah menceraikan aku. Aku memang bukan pria sempurna, tapi aku yakin aku tidak akan menyia-nyiakan kamu dimasa depan," ujar Suryo.
"Memang itu yang aku harapkan dari kamu mas. Aku tidak minta harta dan kemewahan, yang aku butuhkan nafkah sekedarnya dan juga kasih sayang dari kamu," ujar Mia.
"Besok kita akan menikah. Aku harap kamu berhenti dari pekerjaanmu," ujar Suryo.
"Eh? kok gitu mas? kalau aku ndak kerja, aku mau makan apa sama anakku?" tanya Mia.
"Kamu kan sudah jadi istriku. Aku yang akan menghidupimu dengan anak kita." Jawab Suryo.
"Tapi kan lumayan mas buat tambah-tambah dapur," ujar Mia.
"Nggak perlu. Kamu fokus saja mengurusku dan anak kita. Aku yang akan menggajimu, meskipun kamu menganggur di rumah," ujar Suryo.
"Sombong banget sih mas. Aku jadi penasaran gaji sampeyan itu berapa," ujar Mia.
"Kita main kerumahku yuk? besok kita akan menikah, tapi rumah calon suamimu kamu nggak tahu. Lucu jadinya," ujar Suryo.
"Ya sudah sebentar aja tapi. Kasihan Ferdy tinggal sendirian di rumah," ujar Mia.
"Oke." Jawab Suryo.
Mia memutuskan ikut bersama Suryo untuk mendatangi rumah pria itu. Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, merekapun tiba disebuah rumah mewah yang membuat Mia melongo.
"M-Mas. Ini rumah sampeyan?" tanya Mia yang merasa takjub.
"Iya. Ayo turun!" ujar Suryo.
"Mas. Sampeyan yakin mau nikah sama aku?" tanya Mia.
"Loh kenapa?" tanya Suryo.
"Sampeyan itu kaya raya loh mas. Kenapa sampeyan mau nikah sama wanita yang nggak selevel sama sampeyan." Jawab Mia.
"Aku cinta sama kamu Mia. Tidak perduli status dan kedudukan pasangan kita, yang penting aku merasa nyaman sama kamu," ujar Suryo.
"M-Mas cinta sama aku? secepat itu?" tanya Mia.
"Kamu itu sangat mudah dicintai. Baru mengenalmu, tapi aku sudah bisa memahamimu. Meski terdengar tidak masuk akal, tapi aku sungguh-sungguh sudah jatuh cinta sama kamu Mi." Jawaban Suryo mampu membuat wajah Mia bersemu merah.
"Makasih ya mas. Aku jadi merasa tersanjung bisa dicintai orang hebat seperti sampeyan," ucap Mia.
"Nggak Mi. Justru aku sangat berterima kasih sama kamu, karena kamu mau menerima aku apa adanya dengan masa lalu yang sangat kelam," ucap Suryo.
"Ya sudah yuk. Aku mau lihat kamar pengantin kita," ujar Mia sembari mengedipkan mata.
Suryo jadi terkekeh melihat Mia yang menggoda dirinya. Saat masuk ke rumah itu Mia kembali dimanjakan dengan kemewahan isi rumah itu. Para pelayan juga langsung diperkenalkan Suryo pada Mia sebagai nyonya baru di rumah itu.
"Kita ke kamar yuk!" ujar Suryo.
"Emm." Mia mengangguk.
Mia dan Suryo masuk kedalam kamar, untuk melihat suasana kamar pengantin yang akan mereka tiduri besok malam.
****
"SAH"
Air mata Mia mengalir, saat mendengar kata itu menggema di telinganya. Dia tidak menyangka akan diberikan jodoh secepat itu.
"Selamat ya mbak. Aku do'akan moga sampeyan bahagia," ucap Arinda.
"Iyo Mi. Sekarang cuma aku yang jomblo. Kalian juga ndak kerja lagi di pabrik. Aku jadi ndak semangat ini," timpal Dian.
"Ya nggak boleh gitu Di. Aku yakin kamu pasti akan menemukan jodoh yang baik juga nantinya," ujar Mia.
"Amin." Jawab Arinda dan Dian serentak.
"Mi. Itu mas Ridwan kan?" tanya Dian, saat melihat Ridwan berada diambang pintu masjid.
"Biarkan saja. Sekarang aku sudah Sah jadi istri orang, dia ndak akan berani macam-macam," ujar Mia.
Ridwan perlahan mendekat. Pria itu mengulurkan tangan dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat ya Mi. Aku do'akan agar kamu bahagia. Aku titip Ferdy, mungkin setelah ini kita nggak akan pernah ketemu lagi," ucap Ridwan.
__ADS_1
"Makasih mas. Aku do'akan sampeyan dapat jodoh yang baik juga. Jangan ulangi kesalahan yang sudah-sudah mas. Kita sudah tua, jangan lagi neko-neko," ucap Mia.
Ridwan hanya menanggapi ucapan Mia dengan senyuman. Rasa cintanya pada Mia, membuat dia belum rela kehilangan mantan istrinya itu.