
Aditia tampak menggantungkan tas ranselnya disebuah paku yang mulai berkarat. Pria itu kemudian melepaskn kancing kemejanya satu persatu. Tidak berapa lama dia sampai, Arinda juga masuk kamar setelah pulang dari bekerja.
"Mas Adit baru pulang kerja juga?" tanya Arinda.
"Iya." Jawab Aditia yang kemudian meraih tas ranselnya kembali, dan menyodorkan amplop coklat di hadapan Arinda.
"Gaji mas Adit ya?" tanya Arinda dengan senyum semringah.
"Iya. Tapi itu cuma 4,4 juta. 600 nya sudah tak pisah untuk uang bensinku." Jawab Aditia.
"Ndak apa-apa. Makasih ya mas. Kalau begini terus, uang kita bisa terkumpul buat masa depan anak kita," ujar Arinda yang kemudian menyimpan uang pemberian Aditia.
"Tapi kenapa wajah sampeyan kusut sekali mas? padahal baru menerima gaji," tanya Arinda.
"Capek, laper. Kamu tolong buatkan aku mie rebus telor ceplok dong. Aku sangat ingin makan itu," ujar Aditia.
"Iya mas. Aku tak periksa dapur dulu ya. Barangkali ada stok telur, jadi tinggal beli mie aja," ujar Arinda.
"Iya." Jawab Aditia.
Arinda bergegas kedapur untuk memeriksa persediaan telur, namun ternyata sama sekali tidak ada.
"Ray...Rayana," seru Arinda.
Rayana yang mendengar seruan Arinda bergegas berlari kearah ibunya itu.
"Ikut ibu ke warung yuk! ayahmu baru sudah gajian, jadi kamu bisa jajan sepuasnya," ujar Arinda yang disambut antusias oleh Rayana.
Arinda kemudian menggendong Rayana, dan mengajaknya pergi ke warung untuk belanja sembako dan aneka jajanan. Setelah selesai Arindapun pulang ke rumah.
"Buk'e asuh Rayana dulu ya. Aku tak masak mie dulu buat mas Adit," ujar Arinda.
"Loh kok masak mie? buk'e sudah masak. Itu belanjamu banyak sekali," tanya Fatimah.
"Mas Adit baru sudah gajian, jadi dia pengen makan mie sama telur ceplok." Jawab Arinda dengan senyum dibibirnya.
"Buk'e senang, akhirnya kalian bisa akur. Buk'e perhatikan kamu dan Aditia tidak pernah bertengkar lagi sejak dia sudah bekerja," ujar Fatimah.
"Ya kan selama ini memang itu masalahnya buk'e," ujar Arinda yang kemudian pergi ke dapur.
__ADS_1
"Buk'e di dalam plastik atas meja ada roti kacang buat buk'e," teriak Arinda dari arah dapur.
Fatimah membuka plastik yang Arinda maksud, dan mulai menikmati roti kacang belian Arinda bersama Rayana. Setelah memasak mie telur hampir 5 menit, Arinda memanggil Aditia yang ternyata baru selesai mandi.
Setelah selesai berpakaian, Aditia segera menyantap mie instan telur yang Arinda masak untuknya. Sementara Arinda menyantap makanan yang Fatimah masak.
Setelah selesai makan, Arinda bergegas membersihkan diri karena hari sudah hampir malam.
*****
"Lah. Kok memar lagi mbak Di? aku perhatikan akhir-akhir ini sering banget sampeyan di pukuli. Suami sampeyan masih waras ndak?" tanya Arinda.
"Ho'oh Di. Kamu kalau terus-terusan begini bisa mati Di. Kalau aku jadi kamu mendingan cerai Di. Kamu bisa cari duit sendiri gini loh. Lihat aku! meski janda tapi aku bahagia," timpal Mia.
"Aku ndak tahu Mi. Aku bingung. Hiks...." Dian terisak yang kemudian langsung dipeluk oleh kedua sahabatnya.
Ini kali pertama Arinda melihat Dian menangis separah itu. Mungkin beban dihatinya sudah tak tertahankan lagi.
"Ya sudah sebaiknya kita masuk kerja dulu. Nanti jam istirahat kita ngobrol lagi," ujar Arinda.
Arinda, Dian, dan Mia pergi masuk kedalam pabrik. Saat jam istirahat, mereka kembali berbincang di kantin.
"Dia maksa aku buat minta uang. Pengeluaran dia sama pengeluaran hari-hari masih besaran dia Mi. Kalau begini terus, bagaimana nasib anak-anakku? pernikahan 8 tahun ndak ada tabungan sama sekali." Jawab Dian.
"Ndak bagus loh mbak buat mental anak sampeyan kalau lihat sampeyan dipukul terus begitu. Anak-Anak bisa trauma," ujar Arinda.
"Ya mau bagaimana lagi. Kalau aku turuti semua kemauan mas Edi, yo bisa ndak makan anak-anakku," ujar Dian.
"Wes toh Di. Apa yang membuatmu berpikir terlalu lama buat lepas dari suamimu itu. Kamu pikirkan juga mental anak-anakmu bagaimana," ujar Mia.
"Iyo mbak Di. Kali ini aku setuju dengan pendapat mbak Mia. Lebih baik hidup sendiri kalau mas Edi semakin ndak waras begitu. Menurutku kesakitan sampeyan itu wes double. Sudah duit sampeyan dia ambil, sampeyan dipukuli juga. Aku takut nyawa smapeyan sewaktu-waktu melayang," ujar Arinda.
"Jadi menurut kalian aku lebih baik cerai ya?" tanya Dian.
"Ya sangat mbak. Dengan begitu sampeyan bisa hidup bebas, tanpa di ganggu si parasit itu lagi." Jawab Arinda.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan bicarakan soal ini sama dia pas pulang kerja nanti," ujar Dian.
"Awalnya kamu gertak dulu buat cerai. Suruh dia berubah, tapi kalau dia tetap kasar dan semena-mena sama kamu, jangan pikir dua kali lagi buat minta cerai," ujar Mia.
__ADS_1
"Iya." Jawab Dian.
"Kami akan senang kalau sampeyan bisa lepas dari orang seperti itu mbak. Nyawa sampeyan sangat berharga mbak," ujar Arinda.
"Makasih ya. Karena kalian selalu mendukungku," ucap Dian.
"Itulah gunanya teman Di. Harus ada disaat suka dan duka," timpal Dian.
Teng
Suara besi yang di pukul kembali terdengar. Tiga serangkai itu kembali bekerja.
"Uggghh...sepertinya aku mau demam lagi Rin," ujar Dian.
Bisa Arinda lihat, kalau tangan Dian sedikit bergetar.
"Kalau begitu mbak Di pulang saja. Wajah sampeyan juga sangat pucat mbak," ujar Arinda.
"Sudah kepalang tanggung. Kalau mbak pulang, nanti gaji di potong. Eman-Eman buat kebutuhan belanja," ujar Dian.
"Ya ampun mbak. Kalau sampeyan sakit parah, duit yang dikeluarkan jauh lebih besar lagi," ujar Arinda.
"Sudah hampir jam 2 siang, tinggal dua jam lebih lagi kita akan pulang. Mbak pasti bisa menahannya," ujar Dian.
Arinda menghela nafas panjang, saat mendengar ucapan Dian. Dan setelah bekerja hampir 3 jam lagi, jam pulangpun tiba.
"Mau kita antar berobat ke rumah sakit mbak?" tanya Arinda.
"Ndak usah. Nanti tak mampir ke warung aja buat beli obat." Jawab Dian.
"Yo weslah. Sampeyan hati-hati di jalan yo mbak," ucap Arinda.
"Ya. Duluan ya!" ucap Dian.
Arinda dan Mia menatap punggung sahabatnya yang semakin lama semakin menjauh.
"Kasihan sekali mbak Dian," ucap Arinda.
"Ya mau bagaimana lagi, ini sudah takdir hidup kita masing-masing Rin. Diantara kita bertiga, mungkin suamimu yang paling waras. Suamimu juga sudah berubah dan bekerja. Kamu harus pertahankan rumah tanggamu Rin. Jangan sampai kamu menyesal hanya karena tergoda oleh pria idaman lain," ujar Mia.
__ADS_1
Arinda terdiam setelah mendengar ucapan Mia. Namun tentu saja perasaannya terhadap Dante tidak bisa dia padamkan begitu saja. Sejatinya Arinda tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta, namun sekali mencintai seseorang dia akan sukar melepaskannya.