SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.43. Gugup


__ADS_3

"Eh? sayang. Kok kamu diam saja?" tanya Dante.


Fatimah langsung mengakhiri panggilan itu dengan lelehan air mata. Mendengar penuturan pria itu, Fatimah jadi sangat kecewa dengan putrinya. Dan saat jam makan siang, Fatimah langsung membahas masalah telpon itu saat Arinda selesai makan siang.


"Buk'e mau bicara sama kamu!" ujar Fatimah.


"Ada apa buk'e? aku masuk siang hari ini, jadi Arin mau pergi sebentar lagi," tanya Arinda.


"Pergi bekerja atau mau janjian dengan pria lain?" tanya Fatimah.


Deg


Jantung Arinda serasa mau runtuh, saat mendengar pertanyaan Fatimah.


"Maksud buk'e apa? Arinda ndak seperti yang buk'e tuduhkan," tanya Arinda.


"Buk'e juga berharap begitu, kalau tidak ibu kasihan sama arwah bapakmu yang disiksa habis-habisan oleh ulah anaknya." Jawab Fatimah dengan mata berkaca-kaca.


"Buk'e...."


"Tidak usah mengelak lagi. Buk'e sudah tahu semuanya. Siapa pria itu? apa saja yang sudah kamu lakukan sama dia? kamu menjual harga dirimu?" tanya Fatimah dengan nafas naik turun.


"Aku mencintainya buk'e." Jawab Arinda dengan kepala tertunduk.


"Jadi semua itu benar? jangan bilang kamu dan dia tidak pernah melakukan apa-apa, saat berada disuatu tempat," tanya Fatimah.


Arinda terdiam. Karena dia tidak bisa mengelak lagi.


"Keterlaluan kamu Arin. Buk'e kecewa sama kamu!" ucap Fatimah.


"Apa maumu sebenarnya? kalau kamu ndak cinta sama Aditia, kenapa kamu ndak mau cerai sama dia? jangan bodoh kamu! sekarang Aditia sudah kerja, ndak ada alasan lagi buat kamu berselingkuh," Fatimah begitu berapi-api.


"Pria itu ndak benar-benar cinta sama kamu, dia mau badan kamu saja," sambung Fatimah.


"Dia cinta sama aku buk'e." Jawab Arinda dengan keras kepalanya.


"Ya kalau cinta kenapa kamu ndak bercerai dengan Aditia? kenapa? kamu mau melihat bapakmu disiksa di dalam kubur, gara-gara perbuatan anaknya?" tanya Fatimah.


"Kok buk'e ngomongnya gitu?" tanya Arinda.

__ADS_1


"Ya buk'e mesti bagaimana buat kamu ngerti, kalau perbuatan kamu itu sangat ndak pantas. Eling kamu ndok! kamu juga punya anak wadon. Bagaimana perasaan kamu saat tahu anakmu di pakai wong lanang, yang cuma manfaatin badannya aja?" ucap Fatimah.


"Arin yakin mas Dante ndak gitu buk. Buk'e tahu sendiri alasanku belum minta cerai sama mas Adit. Sekarang dia memang bekerja, tapi Arin sudah ndak mencintai dia lagi. Perasaan ndak bisa dipaksakan buk'e," ujar Arinda.


"Sekarang buk'e mau tanya sama kamu. Apa dia akan menikahimu kalau kamu sudah bercerai?" tanya Fatimah.


"Mas Dante bilang begitu." Jawab Arinda dengan polosnya.


"Jadi nama pria itu Dante. Dan anakku dengan bodohnya langsung percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Kamu sudah pernah tertipu satu kali, dan sekarang dengan bodohnya percaya begitu saja dengan ucapan dia? apa dia juga pria beristri?" tanya Fatimah.


"Tidak. Dia masih bujangan." Jawab Arinda dengan gugup.


"Kamu percaya begitu saja dengan pria bujangan yang akan menikahi wanita beranak dua? mungkin kalau statusmu sudah janda, itu dibenarkan. Tapi kamu harus sadar, pria baik nggak akan mengganggu istri orang lain," ucap Fatimah.


"Tapi aku percaya sama mas Dante buk. Dia ndak akan mengkhianati aku. Aku juga sudah sering ke rumahnya. Dia memang tinggal sendiri," ujar Arinda.


"Astagfirullah. Jadi kamu sudah lama bermain api dengan pria itu? aduh...gusti...kenapa nasibku begini banget ya. Hiks...."


"Buk...." wajah Arinda memelas.


Fatimah tidak lagi menggubris ucapan Arinda. Wanita parubaya itu langsung masuk ke kamar pribadinya, dengan membawa kedua anak Arinda dan kemudian mengunci pintu.


"Sayang. Kamu sudah di depan ya? buruan masuk!" tanya Dante.


"Maaf mas. Aku ndak jadi menemui sampeyan." Jawab Anisa.


"Loh kenapa? aku sudah terlanjur minum obat kuat ini," tanya Dante.


"Kita ketahuan mas. Apa tadi mas Dante menelponku?" tanya Anisa.


"Iya. Tapi kan kamu angkat." Jawab Dante.


"Bukan yang sebelum ini, tapi sebelumnya lagi," ujar Arinda


"Iya. Aku ada menghubungimu, tapi kamu sama sekali nggak ngomong. Emang siapa yang menerima panggilan telponku?" tanya Dante.


"Ibu mas. Dia marahin aku, dan ndak terima aku berselingkuh. Sekarang ibu masuk kamar, ndak mau ngomong sama aku. Dia bilang aku itu sudah dibodohi. Setelah mas puas menikmati tubuhku, mas pasti ninggalin aku." Jawab Arinda.


"Sekarang aku mesti gimana mas?" tanya Arinda.

__ADS_1


"Apa aku perlu menemui ibu, agar beliau tahu aku serius sama kamu?" tanya Dante.


"Edan sampeyan mas. Sampeyan mau bunuh aku? ibu lagi marah sama aku, sampeyan malah mau nambahin lagi. Iso-Iso digorok leherku sama golok." Jawab Arinda.


"Ya makanya kamu ajuin cerai sama suamimu! ini semua kamu sendiri yang bikin ribet. Kan aku sudah bilang, setelah kamu bercerai kita akan langsung menikah. Aku juga tidak ingin selalu dianggap cowok brengsek yang nggak mau bertanggung jawab, dan cuma mau tubuhmu saja," ujar Dante.


"Eh? ma-maaf ya mas. Aku ndak bermaksud...."


"Kalau kamu tidak bermaksud, seharusnya kamu lepaskan salah satu diantara kami. Kamu pilih aku, atau kamu pilih Aditia. Aku minta maaf sama kamu, karena memang akulah yang memulai semuanya. Tapi aku mencintaimu sungguh-sungguh, bukan seperti yang orang lain pikirkan," ujar Dante.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau kesini. Terpaksa aku main sendiri di kamar mandi. Hah...nasib," sambung Dante.


"Maaf ya mas. Situasinya tidak memungkinkan buat bertemu," ucap Arinda.


"Tidak masalah. Tapi kamu boleh menanyakan pada ibumu, kapan aku bisa bertemu beliau. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku," ujar Dante.


"Ya. Nanti akan aku tanyakan lagi sama ibu," ujar Arinda.


"Ya sudah aku tutup telponnya ya!" ujar Dante.


"Emm."


Panggilan itupun berakhir. Arinda menghela nafasnya, dan mencoba membujuk Fatimah untuk bicara.


Ceklek


"Buk'e...." Arinda memasang wajah memelas.


"Kamu sudah sangat menyakiti hati buk'e," ujar Fatimah dengan wajah mendung.


Wanita parubaya itu berjalan kearah ruang tamu, dan duduk di salah satu kursi plastik.


"Aku sudah bicara sama mas Dante. Dia bilang ingin bertemu sama buk'e," ujar Arinda.


"Buat apa dia menemui buk'e? buk'e malu dengan kelakuan anak buk'e sendiri. Kalau dia menemui buk'e, itu seolah buk'e mendukung perbuatan kalian. Jadi kalau dia ingin bertemu buk'e, kamu harus bercerai dulu dari Aditia," ujar Fatimah.


"Tapi sekarang apa alasanku bercerai sama dia buk'e? mas Adit sudah bekerja. Ndak ada alasan lagi kalau aku minta cerai sama dia. Kalau aku bilang ada pria lain yang mengisi hatiku, maka hak asuh anak mesti jatuh ketangan dia. Aku ndak mau itu terjadi," ujar Arinda.


Fatimah menghela nafas panjang mendengar ucapan putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2