
"Mas. Perutku kram, sampeyan terlalu bersemangat mainnya," rengek Arinda.
"Maaf ya sayang. Aku terlalu bahagia saat ini," ujar Dante.
"Terus apa sampeyan mau pulang ke Padang lagi untuk menyelesaikan perceraian sampeyan?" tanya Arinda.
"Aku sudah bilang sama Dara, agar mengirimkan surat itu lewat pos saja. Aku sibuk bekerja, tidak mungkin bolak-balik Jakarta-Padang. Lagipula biar cepat kelar, aku nggak akan pernah mau datang buat mediasi atau sidang apapun itu." Jawab Dante.
"Sebenarnya aku merasa sangat bersalah sama istri sampeyan itu mas. Aku seperti jadi pelakor," ujar Arinda.
"Ini bukan salahmu. Sejak awal akulah yang memulai semuanya. Akulah yang pebinor disini. Lagipula kita harus menyelamatkan status anak-anak kita. Kalau dia masih bisa mendapatkan laki-laki single di luar sana," ujar Dante.
"Pada intinya kita selesaikan dulu perceraian kita, selesaikan masa iddamu, barulah kita menikah," ujar Dante.
"Sayang. Apa sebaiknya kamu berhenti kerja saja? aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu dan anak-anak," tanya Dante.
"Nantilah mas. Pas mau dekat-dekat lahiran saja. Kan lumayan buat tabungan lahiran mas." Jawab Arinda.
"Sayang. Aku masih sanggup menafkahi, meski 10 anak sekalipun. Calon suamimu ini juga punya sedikit usaha sampingan," ujar Dante.
"Usaha opo mas? sampai sekarang sampeyan ndak pernah ngasih tahu aku kerja sampeyan iku opo. Jangan-Jangan sampeyan itu bandit ya?" tanya Arinda.
Griiyyuttt
Dante mencubit bibir Arinda dengan lembut.
"Kalau ngomong suka sembarangan sih yank?" tanya Dante.
"Ya kali aja mas. Tapi aku juga ndak perduli kerjo sampeyan apa mas. Setelah aku pikir-pikir mending sampeyan jadi bandit asal bisa menafkahi. Daripada kamu di rumah, cuma buat loro atiku." Jawab Arinda.
"Ya nggak jadi bandit juga yank. Aku jamin rejeki yang aku hasilkan halal. Nggak mungkin aku ngasih anak istriku dengan uang haram," ujar Aditia.
"Makasih ya mas," ucap Arinda.
"Mulai awal bulan, aku akan transfer nafkah buat kamu dan anak-anak. Kamu simpan dan gunakan untuk kebutuhanmu dan anak-anak, baik untuk sekarang ataupun untuk masa depan," ujar Dante.
"Makasih ya mas," ucap Arinda sembari mengeratkan pelukannya.
"Sama-Sama istriku," ucap Dante.
__ADS_1
Sementara itu di tempat berbeda. Aditia yang iseng melarikan diri dari rumah karena takut bertemu Arinda, mampir ke salah satu kafe remang-remang. Disana dia bertemu dengan mantan suami Mia, meskipun mereka tidak pernah bertemu satu sama lain sebelumnya.
"Suntuk amat mukamu bro," sapa Ridwan sembari menghembuskan asap rokok ke udara.
"Hidupku sudah hancur sekarang. Aku diceraikan istriku karena kebiasaan judiku," ujar Aditia yang sudah setengah mabuk.
Ridwan terkekeh, karena merasa nasib mereka tidak jauh berbeda.
"Sama. Aku juga diceraikan karena kebiasaanku yang suka bermain perempuan. Tapi tidak apa, dia bukan segalanya. Sekarang aku bisa menikmati perempuan manapun. Dapat nikmat, dapat uang juga," ujar Ridwan.
"Pekerjaan apa?" tanya Aditia.
"Jadi gigolo. Aku yakin sekarang kamu pasti tidak punya uang. Jangan bilang juga kamu minum, tapi nggak bisa bayar nantinya." Jawab Ridwan.
"Ya. Yang penting aku mau minum dulu, aku benar-benar frustasi saat ini," ujar Aditia.
"Aku ingin menikmati dulu hidupku yang terlunta-lunta karena kebodohanku ini. Aku sudah melenyapkan mertuamu dan juga anak-anakku karena kebodohanku itu. Aku sangat menyesal karena sudah menyia-nyiakan Arinda. Hiks...." tanpa sadar Aditia menangis.
"Arinda...maafkan aku sayang. Maafkan aku...jangan tinggalkan aku! aku nggak bisa hidup tanpa kamu Arinda," Aditia meraung-raung dan meracau.
"Kerja saja sepertiku, dijamin kamu akan banyak uang," ujar Ridwan.
"Aku nggak mampu," ujar Aditia sembari menegak kembali minumannya.
"Aku tipe yang cepat keluar." Jawab Aditia yang membuat Ridwan tertawa.
"Kalau begitu kamu jadi gigolo untuk kaum gay saja. Banyak om-om yang orientasi seksualnya menyimpang, ataupun yang biseksual," ujar Ridwan.
Aditia tidak menjawab lagi, karena dia sudah terlampau teler saat ini. Tanpa mereka sadari, pembicaraan itu juga di dengar seseorang.
"Apa dia tertidur?" tanya bartender.
"Sepertinya begitu." Jawab Ridwan.
"Lalu siap yang akan membayar minumannya?" tanya Bartender.
Ridwan merogoh saku celana Aditia, dan mendapatkan dompet berwarna hitam.
"Ckk...benar-benar bokek dia," ujar Ridwan yang memperlihatkan dompet kosong pada bartender itu.
__ADS_1
"Jadi ...."
"Biarkan aku yang membayar minumannya," ujar seorang pria parubaya sembari mengedipkan mata kearah Ridwan.
Ridwan yang mengerti membiarkan pria itu membawa Aditia ke salah satu kamar yang sudah pria itu pesan. Dengan kilatan penuh nafsu, pria itu segera melucuti pakaian Aditia, begitu juga dirinya. Dan malam itu tanpa sadar Aditia sudah dinikmati oleh pria parubaya itu sepuasnya.
*****
"Emmm...." Aditia merasakan sakit kepala yang hebat, saat dirinya terbangun.
Tidak hanya sakit dibagian kepalanya, dia juga merasakan sakit dibagian du*urnya. Aditia kemudian terduduk, karena menyadari dirinya tidak mengenakan apapun lagi.
"Astaga. Aku ada dimana? kenapa telanjang begini? apa semalam aku tidur dengan seorang wanita?" gumam Aditia.
Aditia kemudian melirik kearah meja, dan melihat ada segepok uang diatas sana.
"Uang?" mata Aditia berbinar, saat melihat segepok uang berwarna merah.
Pria itu kemudian berdiri, dan menghampiri uang itu. Aditia juga membaca secarik kertas yang ditinggalkan seseorang untuk dirinya.
"Karena kamu masih orisinil, aku hargai dengan segepok uang. Terima kasih sudah memuaskanku. Kalau mau uang, atau mau jadi simpananku, datanglah padaku. Itu ada kartu namaku," Aditia membaca itu dengan mengerutkan dahinya.
Aditia kemudian meraih kartu nama itu, dan matanya melotot saat membaca nama yang tertera adalah nama seorang laki-laki.
"Astaga. Jadi semalam aku di ge*jot laki-laki? pantas saja bokongku terasa sakit," gumam Aditia.
"Tapi...." Aditia tersenyum saat melihat gepokan uang itu.
Ceklek
Aditia spontan menutup ***********, saat ada seseorang tiba-tiba masuk ke kamar itu.
"Tidak usah di tutupi, aku juga tidak suka batangan," ujar Ridwan.
"Semalam aku terpaksa melepasmu untuk Om itu, agar kamu tidak digebuki karena tidak mampu bayar minuman. Lain kali kalau nggak punya duit, jangan datang kemari. Kalau nggak kamu akan di pukuli sampai mati. Bagaimana perasaanmu?" tanya Ridwan sembari menjatuhkan bokongnya pada sebuah kursi.
"Jangan ditanya rasanya. Ini sangat menyakitkan sekali. Meski aku payah saat bercinta dengan seorang wanita, tapi aku nggak pernah berpikir untuk menjual lobang daruratku." Jawab Aditia yang kemudian bergegas mengenakan pakaian.
"Sama aja haramnya. Kamu gila judi kan? duit hasil judi haram, melacur juga haram. Jadi apapun kerjaannya, yang penting adalah uang. Kalau nggak punya ijazah tinggi, jangan harap bisa kerja bagus. Yang punya ijazah tinggi aja, banyak yang pengangguran," ujar Ridwan.
__ADS_1
"Kalau kamu berubah pikiran, temui aku disini. Aku akan mempertemukanmu sama mami. Dia yang akan mencarikan pelanggan untukmu. Aku juga baru menggeluti pekerjaan ini, tapi aku sudah bisa menghasilkan puluhan juta," sambung Ridwan.
Tanpa banyak bicara, Aditia menyambar uangnya, dan pergi dari tempat itu.