
"Jadi kamu serius mau menikah denganku Di?" tanya Ridwan.
Dian terdiam dengan tatapan sedikit kosong.
"Hey. Kok malah melamun sih? ada apa. Hem?" tanya Ridwan.
"Setelah kupikir-pikir aku kok egois banget ya mas? mungkin hubunganmu sama Lastri memang sudah selesai, tapi bagaimana dengan Indah? kan kasihan sama anak yang belum lahir mas. Aku rasa aku sudah salah mengambil keputusan mas. Aku rasa disini orang yang lebih tepat sama kamu, itu si Indah." Jawab Lastri.
"Tidak Di, kamu salah. Indah mau denganku, karena dia masih anak-anak. Belum punya pikiran panjang. Lagipula masalahnya bukan hanya soal cinta, tapi itu karena orang tuanya. Mereka mau menerimaku karena uangku, bukan tulus ingin menerimaku sebagai menantu mereka. Lalu apa jadinya kalau suatu saat aku jatuh miskin? apa mereka masih mau menganggapku sebagai menantunya?"
"Kalau mikir kasihan, jelas aku akan kasihan. Kalau kita memang berjodoh, dan Indah mau menyerahkan anaknya padaku, aku mau mengurusnya, dan memasukan anak itu dalam KK kita. Mungkin dengan begitu masalahnya bisa terpecahkan. Tapi untuk kembali pada Lastri, atau menikahi Indah, aku tidak bisa. Katakanlah aku egois dan kejam, tapi aku benar-benar tidak nyaman kalau menjadikan salah satu dari mereka sebagai istriku. Aku tidak bisa Di, maaf," ujar Ridwan tertunduk sedih.
"Jadi sekarang kamu maunya bagaimana mas? aku cuma nggak mau ada orang yang menganggapku tidak punya hati. Sebagai sesama wanita aku sangat mengerti perasaan Lastri dan Indah. Tapi aku...."
"Apa kamu sudah memiliki perasaan padaku meskipun sedikit?" tanya Ridwan yang dijawab anggukan kepala oleh Dian.
Ridwan bisa melihat, kalau wanita dua anak itu sedang merona saat ini. Pria itu kemudian menggenggam tangan Dian, dan mata mereka saling bertatapan.
"Kenapa kita tidak jadi manusian egois, kalau itu menyangkut kebahagiaan kita sendiri? aku membutuhkan sosok wanita keibuan sepertimu. Masa depan Lastri dan Indah masih sangat panjang. Mereka bisa menemukan laki-laki yang sebaya dengan mereka, dan yang pasti lebih baik dan bertanggung jawab dariku," ujar Ridwan.
"Tapi aku nggak mau bahagia diatas penderitaan wanita lain mas," ucap Dian.
"Baiklah kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu juga harus tahu Di. Meskipun aku tidak menikah denganmu, tapi aku juga tidak akan bersama mereka. Jadi intinya sama saja. bersamamu atau tidak, aku tidak akan memilih mereka," ujar Ridwan.
Dian menghela nafas, dan menatap mata Ridwan.
"Kapan kamu mau menikahiku mas?" tanya Dian tiba-tiba yang membuat Ridwan terkejut.
'"Kamu mau menikah denganku?" tanya Ridwan semringah.
"Emm." Dian mengangguk.
"Kalau begitu bagaimana kalau lusa? besok akan aku siapkan pernikahan sederhana untuk kita," tanya Ridwan.
"Terserah saja mas. Tapi mas, kamu harus berjanji satu hal. Kalau sekali saja kamu ketahuan main perempuan, aku ndak akan seperti Mia mau menungguimu selama bertahun-tahun. Aku akan langsung meminta cerai sama kamu," ujar Dian.
"Aku setuju. Tapi aku juga minta persetujuan sama kamu Di. Kalau seandanya Lastri dan Indah tiba-tiba memberikan anak padaku, kamu mau kan menganggap anak-anakku sebagai anakmu juga?" tanya Ridwan.
"Tentu saja mas. Kita besarkan anak-anak kita bersama. Aku juga sangat berharap kamu sayang sama anak-anakku mas." Jawab Dian.
"Tentu saja Di," ujar Ridwan.
****
Dua hari kemudian....
"Ini bagaimana ceritanya, mas Ridwan bisa nikah sama mantan suami sampeyan mbak Mi?" bisik Arinda.
"Ndak ngerti juga aku Rin. Tapi aku berharap Dian menemukan kebahagiaannya kali ini. Kasihan kalau dia makan hati lagi, kalau sampai mas Ridwan belum berubah juga," ujar Mia.
"Kita do'akan yang terbaik terus untuk mbak Dian," ujar Arinda.
"Kamu sendiri kapan nikahnya? perutmu sudah hampir meletus ini,' tanya Mia.
"Mas Dante inginnya habis aku lahiran. Biar ndak nikah ulang katanya." Mia manggut-manggut, karena dia mengerti arah pembicaraan Arinda.
Arinda dan Mia menikmati hidangan yang sudah di sediakan setelah acara ijab qobul selesai. Setelah menikmati makanan itu, Mia dan Arinda kemudian berpamitan pulang, dan memberikan ucapan selamat pada mempelai.
"Selamat ya mas, Di. Aku do'akan kalian bahagia, langgeng, sampai mau memisahkan. Mas, sekarang kamu sudah menikahi sahabatku. Aku mohon jangan sakiti dia, karena dia orang yang aku sayang. Jangan pernah ulangi kesalahanmu di masa lalu, yang akan membuat kamu menyesal dikemudian hari," ujar Mia.
"Makasih Mi. Aku janji akan membahagiakan Dian. Kamu jaga anak kita ya! kapanpun kamu boleh mengajak Ferdy ke rumahku. Meskipun kita tak bersama lagi, tapi jangan pernah halangi Ferdy buat bertemu aku ya Mi?" ujar Ridwan.
"Iya mas. Sebisa mungkin kita harus menjaga silahturahmi," ujar Mia.
"Di. Selamat ya!" ucap Mia yang kemudian memeluk Dian sembari menangis haru.
"Makasih ya Mi. Do'ain kita terus ya!" ucap Dian.
"Siapkan tenagamu kalau tempur sama dia. Dijamin kamu akan pegal," bisik Mia yang membuat Dian jadi tersipu.
Tak pernah ada dalam bayangan Dian, kalau dirinya akan menikmati kejantanan yang sama dengan sahabatnya. Tapi dia menyadari, kalau rahasia Tuhan memang terkadang penuh misteri.
Setelah para tamu undangan pulang, Dian dan Ridwan mulai berberes rumah. Tukang catering juga sudah berangsur mengambil barang-barang mereka.
"Rumah ini kita sewakan saja, daripada ditinggal dan tidak dihuni. Kalau disewakan, bisa dapat uang untuk tabungan pendidikan anak-anak nanti," ujar Ridwan.
"Iya mas." Jawab Dian.
"Malam ini kita malam pertama di rumah ini dulu, besok baru di rumah yang baru," ujar Ridwan yang membuat Dian tersipu
"Aku manut aja mas," ucap Dian.
Setelah berberes rumah, dan mengepaki barang. Dian dan Ridwan pergi beristirahat di kamar. Tangan keduanya saling bertautan sembari menghilangkan penat diatas tempat tidur.
"Capek? kalau capek kamu tidur saja. Malam pertama bisa kita lalui kapanpun. Toh kita bukan tidak pernah merasakannya," ujar Ridwan.
"Iya. Sejujurnya aku memang sangat capek mas. Terima kasih atas pengertian sampeyan. Aku tak mandi dulu kalau begitu," ujar Dian.
"Kita mandi bersama aja yuk Di?" tanya Ridwan.
"Aduh mas malu. Aku ndak pernah mandi bareng dengan mantan suamiku," ujar Dian.
"Aku juga ndak pernah sama Mia dulu," ujar Ridwan.
Dian dan Ridwan jadi terkekeh dengan kekonyolan mereka. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk mandi bersama.
__ADS_1
Glekkk
Ridwan menelan ludahnya, saat melihat tubuh istrinya yang terlihat sangat seksi itu. Sementara Dian jadi menutup matanya, saat melihat benda kebanggaan Ridwan yang sudah mengacung.
"Mati aku. Benar kata Mia, ternyata ukuran punya mas Ridwan memang bukan main-main. Ini bisa dua kali lipat dari punya mas Edi," batin.
"Sepertinya dia nggak bisa nunggu sampai besok Di. Nafsu dia sama kamu," ujar Ridwan sembari terkekeh.
Ridwan perlahan mendekat kearah Dian, dan menggendong istrinya itu kembali ke kamar.
"Sepertinya mandi harus di tunda dulu. Ini lebih penting," ujar Ridwan sembari membaringkan Dian secara perlahan diatas tempat tidur.
Ridwan mulai mencumbu Dian, hingga dirasa pemanasan yang dia lakukan sudah cukup. Dian hanya bisa menahan nafasnya, saat benda besar dan gagah itu menyeruak kedalam milikmya yang masih terasa sempit bagi Ridwan. Namun untuk selanjutnya Dian sudah bisa menyeimbangi gerakan Ridwan, hingga dia benar-benar menikmati sampai ke titik puncak kenikmatan.
"Tunjukan kemapuanmu sayang," bisik Ridwan.
Dian tersipu malu, namun dia segera beraksi diatas tubuh suaminya itu. Untuk di menit-menit selanjutnya suara merdu dan saling bersahutan kembali memenuhi kamar itu. Malam itu Ridwan benar-benar membuktikan, kalau dirinya benar-benar si gagah yang tak terkalahkan.
"Capek? tapi aku belum selesai Di," tanya Ridwan.
"Kok lama banget sih mas?" tanya Dian.
"Kamu sukanya yang cepat ya?" tanya Ridwan.
"Eh? ya ndak juga mas. Tapi sampeyan sangat kuat." Jawab Ridwan.
"Maklum, sudah sangat terlatih Di," ujar Ridwan sembari terkekeh.
Setelah hampir bergulat selama 1 jam, Ridwan akhirnya mendapatkan pelepasannya. Jangan ditanya bagaimana kondisi Dian saat ini, wanita itu benar-benar dibuat lemas oleh Ridwan.
Ridwan tersenyum, saat melihat Dian tertidur karena kelelahan. Niat hati mau mandi, Dian malah merapelnya keesokan hari.
*****
Dua bulan kemudian....
Oekkk
Oekkk
Oekkk
Bayi kembar Arinda dan Dante lahir sudah. Arinda dan Dante diliputi rasa bahagia saat ini, karena mereka dianugrahi anak laki-laki dan juga perempuan.
Sementara di tempat berbeda, di rumah Ridwan dan Dian terjadi kehebohan, karena Indah dan ibunya tiba-tiba datang dan memberikan anak biologis Ridwan untuk berada dalam pengasuhannya.
"Kamu mau kan Di ngurus anakku?" tanya Ridwan.
"Iya mas. Waktu itu kan kita sudah sepakat. Anakmu juga anakku." Jawab Dian.
"Terima kasih ya sayang. Aku tidak salah memilihmu jadi istriku. Pokoknya kamu diam saja di rumah urus anak-anak. Biar aku yang cari duit," ujar Ridwan.
"Iya mas." Jawab Dian.
"Iya mas." Jawab Dian.
Dian menatap punggung Ridwan yang hendak pergi ke toko dengan senyuman.
"Terima kasih Tuhan. Semoga mas Ridwan tetap menjadi orang baik, agar kami bisa fokus membesarkan anak- anak kami bersama," batin Dian.
Setelah pulang dari toko Ridwan menyerahkan pendapatan toko hari ini pada Dian untuk di hitung dan disimpan. Ridwan tersenyum, saat melihat Dian merawat anak bayinya dengan penuh kasih sayang.
"Semoga Tuhan meridhoi niat taubatku. Semoga rumah tanggaku harmonis selalu," batin Ridwan.
*****
Dua bulan kemudian....
"SAH,"
Air mata Arinda mengalir deras, karena saat ini dia sudah resmi menikah dengan Dante. Rasanya Arinda sangat bahagia, setelah menunggu sekian lama untuk bisa bersatu dengan pujaan hatinya itu. Dan dihari itu juga, Arinda dan putra putrinya di boyong ke rumah Dante.
"Jadi malam ini malam keberapa kita sayang?" tànya Dante sembari menaik turunkan alisnya.
"Alah ndak terhitung mas. Lah wong hamil 9 bulan aja kamu masih minta jatah." Jawab Arinda.
"Kan kata dokternya bagus, biar cepat bukaan," ujar Dante.
"Cepat bukaan juga untuk apa mas? kan aku lahiran secara cesar. Modus aja kamu tuh," ujar Arinda yang membuat Dante terkekeh.
"Sekarang aku sudah nggak tahan lagi sayang. Aku sudah menunggu 40 hari untuk ini," ujar Dante yang mendapat cebikan bibir oleh Arinda.
Tanpa banyak bas basi Dante segera mencunbu istri sah nya itu. Siang itu pergumulan panas kembali terjadi hingga pak Damsi dan bu Fitri malu sendiri saat mendengar suara merdu itu dari luar pintu.
"M-Mas. Apa mama sama papa bisa mendengar suara kita?" tanya Arinda disela-sela hujaman manis Dante.
"Pasti." Jawab Dante dengan mata terpejam, menikmati liang hangat milik istrinya.
Mendengar ucapan Dante, Arinda langsung menutup mulutnya. Dia tidak mau mertuanya mendengar jeritan nikmatnya.
"Jangan ditahan suaramu. Suaramu itulah yang membuatku bersemangat," bisik Dante.
Dante semakin menghujam Arinda dengan keras, agar suara istrinya itu lepas. Dan itu sangat berhasil, karena Arinda kembari menjerit nikmat untuk yang kesekian kalinya.
Hosh
__ADS_1
Hosh
Hosh
"Mas. Rasanya aku ndak sanggup keluar kamar mas. Aku malu sama papa mama," ucap Arinda.
"Kenapa? mereka juga pernah muda sayang," unar Dante.
"Tapi aku rasa mereka tidak segila kita mas," ucap Arinda.
Dante jadi terkekeh mendengar ucapan Arinda.
"Untung si kembar di asuh mereka. Aku tidak bisa membayangkan kalau mereka ada di dalam ini. Mereka pasti akan menangis saat mendengar suara jeritan nikmat kamu," ledek Dante, yang membuat bibir Arinda jadi mengerut.
Tok
Tok
Tok
"Rin. Ini si kembar haus kayaknya," ujar Fitri dari luar pintu.
"I-Iya ma." Jawab Arinda yang bergegas memunguti pakaiannya.
Setelah berpakaian Arindapun membuka pintu, namun tidak berani menatap mata mertuanya itu. Fitri hanya bisa melihat sisa peluh di dahi menantunya itu, dan juga tanda cinta dileher sang menantu dengan gelengan kepala.
"Malu banget aku mas. Mama lihatin aku gitu banget," ujar Arinda.
"Sabar aja. Besok juga mereka pulang ke Padang, jadi kamu bebas berteriak sepuasnya," ujar Dante.
Dante menatap Arinda yang tengah menyusui kedua bayi kembarnya. Pria itu merasa bahagia, meski ada beban besar yang menghimpitnya saat ini.
***
Keesokan harinya....
"Mama sama papa pulang dulu ya! kalian yang akur, yang harmonis," ucap Fitri.
"Iya ma. Mama papa hati-hati dijalan ya! kabari kalau sudah sampai di Padang," ucap Arinda.
"Ya. Jaga cucuku dengan baik ya! nanti kapan-kapan giliran mereka yang mengunjungi kami di Padang," ujar Fitri.
"Ya ma. Do'akan kami disini sehat terus, agar bisa silahturahmi kesana," ujar Arinda.
Arinda dan Dante melambaikan tangan, saat melihat kepergian kedua orang tua mereka.
"Aku juga berangkat tugas ya sayang!" ujar Dante sembari mencium kening Arinda.
"Hati-Hati mas," ucap Arinda sembari mencium tangan suamimya.
Arinda kembali melambaikan tangan, saat melihat kepergian suaminya itu. Melihat si kembar masih tertidur, Arinda berpikir untuk merapikan lemari Dante yang sangat berantakan.
"Ya ampun mas Dante. Sudah berapa tahun lemari ini tidak dirapikan," gumam Arinda.
Arinda kemudian mengeluarkan semua isi lemari, dan berencana ingin merapikannya dari awal. Namun saat dirinya menarik pakaian yang berada dibagian atas, sesuatu terjatuh ke lantai.
Ting
Gruukkkkk
Tuk
tuk
Sebuah cincin emas jatuh ke lantai dan mengginding di dekat kaki Arinda. Arinda kemudian meletakan pakaian itu diatas tempat tidur, dan memungut cincin yang terjatuh itu.
Mata Arinda terbelalak, saat melihat cincin yang sangat dia kenali itu. Itu cincin pernikahannya dengan Aditia, yang terdapat ukiran namanya di bagian dalam cincin itu.
"Ke-Kenapa cincin ini bisa ada di mas Dante? harusnya cincin ini ada di mas Adit. Apa mas Dante menemukannya di rumah? tapi aku sangat yakin cincin ini tidak pernah lepas dari jari mas Adit. Apa mungkin...."
Arinda menutup mulutnya, saat memikirkan kemungkinan yang ada.
"Saat kejadian aku melihat mayat mas Adit, aku ingat betul mas Adit tidak memakai cincin ini. Jadi mustahil mas Dante mendapatkan cincin ini saat rombongan polisi datang. Kecuali dia mengambilnya saat...."
"Nggak. Nggak mungkin mas Dante yang melakukan pembunuhan itu. Meski pelakunya belum ditemukan, tapi bukan berarti mas Dante pelakunya kan? tapi cincin ini? hiks...apa yang harus aku lakukan, kalau pelakunya benar-benar mas Dante? aku harus bagaimana?" Arinda terisak.
Hari itu seharian Arinda jadi murung. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Dante untuk meminta semua penjelasan pada suaminya itu. Arinda tampak melamun di ruang tamu. Dia jadi mengingat keanehan-keanehan pada Dante, yang sama sekali tidak dia temukan pada suaminya itu.
"Kalau pelakunya benar-benar kamu, sungguh kamu itu pembunuh berdarah dingin mas. Kamu sama sekali tidak merasa bersalah atau takut. Bahkan kamu sama sekali tidak memperlihatkan raut wajah panik sama sekali," gumam Arinda.
Arinda kembali ke kamar, saat kedua anaknya kompak menangis. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, yang artinya Dante sebentar lagi pulang.
Tring
Tring
Tring
"Ya mas,"
"Sayang. Aku ada di jalan pulang, kamu mau minta dibawakan makanan apa?" tanya Dante.
"Ndak usah mas. Aku sudah masak soalnya. Sampeyan cepat pulang saja, karena ada masalah penting yang ingin aku bicarakan." Jawab Arinda.
"Ada apa sayang? kedengarannya serius sekali," tanya Dante.
__ADS_1
"Pokoknya sampeyan cepat pulang mas. Tak tunggu sekarang juga!" ucap Arinda yang kemudian langsung mengakhiri percakapan itu.
Mendengar nada suara Arinda yang tidak biasa, Dante jadi mengerutkan dahinya. Namun sesaat kemudian matanya terbelalak, setelah menyadari sesuatu.