SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.57. Apa Rencanamu


__ADS_3

"I-Tu anak siapa?" tanya Mia.


"1000% anak mas Dante. Karena setiap kali berhubungan, aku selalu mengenakan pengaman saat bersama mas Adit." Jawab Arinda.


"Jadi apa rencanamu?" tanya Dian.


"Ya aku harus memberitahu mas Dante, tapi aku harus pergi ke rumah mertuaku dulu untuk mengambil surat gugatan cerai itu. Aku harus bercerai dari mas Adit secepatnya mbak. Agar aku bisa menikah dengan mas Dante." Jawab Arinda.


"Ya sudah urus secepatnya kalau begitu Rin. Makin lama perutmu akan besar. Lagipula kamu bisa menikah setelah masa iddahmu berakhir. Jadi uruslah secepatnya," ujar Mia.


"Iya mbak. Aku juga maunya begitu. Nanti sepulang kerja aku mau langsung pergi ke rumah mertuaku," ujar Arinda.


"Nanti saat disana, kamu harus bisa menahan emosi kamu Rin. Kalau mereka ngajak ribut, kamu diamkan saja. Yang penting tujuan kamu cuma satu, yaitu mau ngambil surat gugatan yang di tanda tangani itu," ujar Dian.


"Iya mbak." Jawab Arinda.


Sesuai rencana Arinda, wanita itu pergi ke rumah mertuanya setelah pulang bekerja. Meski Aditia sudah melakukan kesalahan, tapi tetap saja mertua Arinda tidak menerima dengan baik kehadirannya.


"Ini surat cerai dari Aditia. Dia sudah menandatangani surat cerainya," ujar Marini sembari menyodorkan surat cerai di hadapan Arinda.


Tak ada kata maaf yang terlontar dari mulut Marini, ataupun ucapan kata belasungkawa dari bibir wanita parubaya itu. Arinda yang tidak ingin menanggapi ucapan Marini, dia langsung meraih surat itu dan segera pergi begitu saja.


"Hari ini hari minggu, mas Dante pasti ada di rumah bukan? aku mau kasih kejutan buat dia. Setelah itu besok aku akan ke pengadilan mengurus perceraian. Sudah lama nggak main ke rumahnya, seharusnya tidak masalah bukan aku main kesana?" gumam Arinda.


Arinda bergegas mempercepat laju motornya agar sampai di rumah. Setelah sampai, dia langsung mandi dan tidur sejenak untuk menghilangkan kantuk. Dan setelah puas tidur, Arinda terbangun saat waktu menunjukan pukup 2 siang. Begitu banyak chat yang dia dapat dari Dante, yang ingin mengajaknya bertemu. Arinda bergegas mencuci muka, dan memasak mie instan untuk mengganjal perutnya. Setelah itu barulah dia berganti pakaian dan langsung pergi ke rumah Dante.


"Sepertinya mas Dante lagi masak. Bau masakannya harum sekali," gumam Arinda sembari tersenyum.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Ceklek


Dahi Arinda mengerut, saat melihat seorang wanita cantik dan seksi membukakan pintu.


"Maaf cari siapa?" tanya Dara.


Arinda yang langsung memasang radar waspada, segera pasang kuda-kuda.


"Pak Dantenya ada?" tanya Arinda.


"Dia lagi keluar sebentar, lagi beli obat. Ada perlu apa?" tanya Dara.


"Mau menanyakan berkas. Maaf kalau boleh tahu mbak siapanya pak Dante? soalnya saya baru lihat," tanya Arinda.


"Saya istrinya." Jawaban Dara membuat Arinda seperti tersambar petir. Hampir saja Arinda tidak bisa mengendalikan diri dan menjatuhkan air matanya dihadapan Dara.


"Yah. Kami memang di jodohkan. Kami sudah lumayan lama juga menikahnya. Sudah 6 bulan yang lalu. Ayo masuk dulu! tunggu di dalam saja," ujar Dara.


"Ah...biar menunggu di luar saja. Tapi kalau masih lama, saya pulang ke rumah saja dulu. kebetulan rumah saya ndak jauh dari sini," ujar Arinda.


"Saya pulang dulu ya mbak," sambung Arinda yang kemudin langsung berbalik badan.


"Nah itu uda Dante," ujar Dara.


Air mata Arinda yang terlanjur tumpah saat dia berbalik badan, terpaksa harus di saksikan oleh Dante. Jangan ditanya bagaimana ekspresi Dante saat ini. Wajah pria itu berubah jadi pias seketika, saat melihat Arinda berada di rumahnya.


Tanpa banyak bicara Arinda langsung pergi saja, meskipun Dante berusaha ingin mengejarnya.


"Apa yang kamu katakan padanya?" tanya Dante.

__ADS_1


"Dia tanya aku siapa, ya aku jawab apa adanya saja." Jawab Dara.


"Jadi kamu bilang kalau kamu ini istriku? dia itu Arinda. dia pasti marah besar sama aku," ujar Dante.


"Oh...jadi dia yang namanya Arinda. Ya ampun Uda. Di lihat dari segimanapun, aku tetap lebih baik dari dia. Kenapa uda nggak bisa melihatku sedikit saja? aku sangat mencintai uda," ujar Dara.


"Tidak bisa. Kita sudah sepakat. Pernikahan ini cuma sampai satu tahun. Atau sampai Arinda resmi bercerai dari suaminya. Aku juga tidak membatasi, kalau kamu ingin berhubungan dengan pria lain. Sekarang semuanya sudah jadi begini, jadi sebaiknya kamu pulang saja ke Padang," ujat Dante.


"Urus semua perceraian kita, nanti kirim saja surat cerainya biar bisa kutanda tangani," sambung Dante.


"Uda tolong pikirkan lagi. Mama dan papa pasti tidak akan setuju, kalau kamu sama dia. Pikirkan juga nama baik keluarga, pikirkan juga kesehatan mama. Kenapa uda nggak mau mengerti?" ujar Dara.


"Kamulah yang nggak bisa mengerti, kalau cinta itu tidak dipaksakan. Kalau saja waktu itu semua acar pernikahan tidak di gelar, kalau saja aku nggak mau buat keluargaku malu, aku pasti tidak akan pernah mau kita menikah. Maaf Dara, tapi aku tidak mencintaimu,"


"Aku tidak perduli meski orang lain mau mengatakan apapun juga. Bagiku Arinda tetap segalanya. Kamu cantik, dan masih suci. Kamu pasti bisa mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu," ujar Dante.


"Tega kamu uda. Hiks...." Dara berlari masuk kamar. Dante benar-benar sangat frustasi saat ini.


Dara yang merasa harga dirinya terinjak-ijak, segera mengemasi pakaian dan memutuskan pulang ke Padang.


"Dara. Biar aku perjelas semuanya sebelum kamu memutuskan pulang ke Padang. Dara Pratiwi, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi. Aku talak kamu dengan talak 1," ucap Dante yang membuat air mata Dara semakin deras.


"Maaf Dara. Aku tidak mau menahanmu terlalu lama. Karena selama apapun kamu disisiku, aku tetap tidak bisa mencintaimu. Hatiku sudah diberikan sepenuhnya pada Arinda. Sekarang biarkan aku mengantarmu ke bandara," sambung Dante.


"Tidak perlu. Aku bukan wanita bodoh yang tidak tahu jalan," ujar Dara yang kemudian langsung menyeret kopernya.


Wanita itu segera memesan taksi online, dan kemudian langsung pergi menuju bandara setelah taksi online tiba. Sementara Dante memutuskan langsung pergi ke rumah Arinda. Namun berapa kalipun dia mengetuk pintu rumah kekasihnya itu, Arinda sama sekali tidak membuka pintu. karena sebenarnya Arinda pergi ke rumah Mia.


Dante kemudian menghubungi ponsel Arinda namun berkali-kali di rijek. Dante juga mengirim banyak chat pada Arinda, tapi hanya di read saja.


"Ah...apa dia pergi ke rumah mbak Dian? atau di rumah mbak Mia?" gumam Dante.

__ADS_1


Dante kemudian memutuskan pergi ke rumah Dian. Saat sampai disana dan menjelaskan semuanya, tentu saja Dante langsung kena semrot oleh Dian


__ADS_2