SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.14. Siapa Yang Melakukannya


__ADS_3

"Ssstttttt" Arinda merasakan perih dibawah sana, setelah percintaan panas itu usai.


Seharusnya hal seperti itu tidak perlu terjadi, kalau saja dia pasrah dari awal. Tapi karena hati dan tubuhnya benar-benar menolak, Arinda tidak bisa membiarkan hal itu terjadi dengan mudah.


Arinda menoleh kearah Aditia yang tertidur setelah lelah menungganginya. Wanita itu kemudian beranjak dari tempat tidur, untuk membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan itu. Namun sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamar itu, Arinda menatap pipinya yang sedikit memar karena pukulan yang dilayangkan Aditia.


"Sekarang kamu sudah berani nyakitin fisik aku selain menyakiti batin aku mas. Lihat saja! suatu saat nanti aku pasti akan membalas kamu lebih sakit dari ini," batin Arinda.


Ceklek


Arinda keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju kamar mandi belakang. Fatimah berpura-pura tidak melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan putrinya itu. Padahal tentu saja dia mendengar saat Aditia memaksa Arinda melayaninya dengan suara keributan dan suara derit ranjang yang begitu heboh.


"Seharusnya kamu tidak perlu ngelawan, kalau memang niatmu ndak mau pisah dari suamimu. Melayani suami itu memang kewajibanmu. Kalau wajahmu babak belur begini, kamu sendiri yang rugi. Toh ujung-ujungnya dia masih berhasil melampiaskan nafsunya itu," ujar Fatimah sembari menaruh nasi di sebuah piring kosong.


Arinda berhenti mengunyah makanannya, dan melihat kearah Fatimah.


"Buk'e ndak tahu saja betapa aku merasa jijik disentuh oleh suami ndak berguna itu. Sedikitpun ndak ada lagi rasa cinta buat dia. Aku bertahan hanya demi anak-anak. Tapi aku ndak tahu juga sampai kapan prinsipku itu bertahan, kesabaranku itu ada batasnya buk'e," tiap kali membicarakan suaminya, api amarah dalam diri Arinda kembali membara.


"Sing eling kamu ndok! ndak baik bicara begitu. Kalian itu masih berada dalam satu atap, sudah seharusnya saling mengisi dan bicarakan keluhanmu dengan cara yang baik," ujar Fatimah.


"Cara buruk saja ndak mempan buk'e, apalagi cara baik. Manusia jelma'an Fir'aun gitu baiknya dikubur hidup-hidup, atau ditenggelamkan ke dalam sumur," Arinda menyuapkan nasi terakhir kedalam mulutnya dan kemudian mencuci tangannya di air kobokkan.


Setelah selesai makan malam, Arinda memilih membentangkan kasur tipis di ruang tamu. Wanita itu memutuskan tidur dengan kedua anaknya disana.


*****


Pagi-Pagi sekali Arinda membersihkan diri. Untuk menutupi memar dipipinya, Arinda menutupi wajahnya dengan masker.


"Makanya. Nggak usah sok-sok nolak diajak suami enak-enak. Itulah akibatnya, sakit sendiri kan? kamu selalu nguji kesabaranku, tapi untuk hal satu itu aku nggak bisa nahan sabar lama-lama," ujar Aditia yang membuat gigi Arinda bergemeratuk.


Tanpa menggubris ucapan Aditia, Arinda pergi begitu saja sembari membawa kembali jas hujan milik Dante.


"Aditia terkutuk! Aditia brengsek! semoga mati disambar petir," gerutu Arinda sembari melangkah selangkah demi selangkah menuju jalan setapak 200 meter.


Diujung jalan Arinda melihat Dante sudah menunggunya dengan tangan menyilang didadanya. Pria itu tampak mengenakan sweter berwarna hitam.


"Mas sudah datang? sebenarnya jam berapa mas mulai menungguku? hari ini aku merasa sudah sangat pagi perginya, tapi saat sampai disini mas malah datang lebih dulu," tanya Arinda penasaran.


"Aku baru saja datang. Kenapa kamu menggunakan masker? apa kamu sakit?" tanya Dante.


"Eh? kenapa hatiku mendadak senang, saat dia memperhatikanku? kira-kira bagaimana responnya saat tahu wajahku memar-memar? apa dia akan mengelus-elus pipiku seperti difilm-film?" Arinda terkekeh dalam hati saat memikirkan hal konyol dalam otaknya.

__ADS_1


"Hey...kenapa kamu diam? kamu demam. Hem?" Dante hendak memegang kening Arinda, namun wanita itu segera menghindar.


"Ndak sakit mas, aku cuma kena flu. Aku pakai masker karena takut nularin sampeyan." Jawab Arinda.


"Ya sudahlah. Ayo kita berangkat!" ucap Dante.


"Emm." Arinda mengangguk.


Setelah melakukan perjalanan selama hampir 20 menit, merekapun tiba di parkiran pabrik. Namun saat Arinda melepaskan helmnya, tidak sengaja masker yang dia kenakan terlepas.


"Apa ini? siapa yang melakukannya?" tanya Dante meraih wajah Arinda dengan wajah yang tampak panik.


"Ya ampun. Ada apa dengan mas Dante? apa dia beneran suka sama aku? tapi kan dia tahu kalau aku ini punya suami. Aku ndak pernah melihat wajah khawatir sama mas Adit, saat tahu aku kecelakaan. Tapi dia? kelihatan sekali kalau dia cemas saat ini," batin Arinda.


"Eh? emm...a-anu semalam aku jatuh mas." Jawab Arinda berbohong.


"Apa kamu pikir aku ini bocah yang nggak bisa membedakan, mana bekas jatuh mana bekas pukulan? meski kita baru kenal, tapi aku tahu kamu itu nggak pandai berbohong," ujar Dante.


"Sekarang kamu ikut aku," Dante menarik tangan Arinda agar kembali menaiki motornya.


"Tapi kita mau kemana mas? ini sudah mau masuk jam kerjaku. Aku ndak mau terlambat, nanti gajiku di potong," Arinda masih mengkhawatirkan tentang gajinya.


Dan tidak sampai 5 menit, merekapun tiba di rumah Dante. Pria itu tampak sibuk mengeluarkan kotak P3K dan juga es batu dari dalam kulkas dan memasukkannya kedalam sapu tangan miliknya.


"Mas. Ndak usah repot-repot! aku ndak apa-apa, nanti sembuh sendiri," ujar Arinda yang merasa canggung karena Dante duduk terlampau dekat dengannya.


"Diamlah!" Arinda jadi terdiam saat Dante mulai mengompres memar diwajahnya dengan es batu.


"Aduh jantungku. Tolong jangan berdetak keras-keras, nanti mas Dante bisa dengar," batin Arinda.


"Apa ini perbuatan suamimu?" tanya Dante dengan wajah dingin.


"Ya." Arinda terpaksa jujur, karena dia tidak tahu siapa lagi yang akan dia jadikan kambing hitam.


"Banci! apa dia sering melakukan ini padamu?" tanya Dante.


"Ndak. Ini pertama kalinya." Jawab Arinda lirih.


"Kenapa? apa karena kamu pulang terlambat?" tanya Dante.


"Aku ndak harus jawab semua pertanyaan kamu kan mas?" kali ini Dante jadi terdiam.

__ADS_1


"Lain kali kalau dia ngelakuin hal seperti ini lagi, ambil pisau dapur," ujar Dante asal.


"Meski begitu dia tetap bapak dari anakku. Aku masih bisa menahannya," ujar Arinda yang membuat gerakkan tangan Dante terhenti.


"Naif. Kerja dimana suamimu?" tanya Dante.


"Ndak kerja." Jawab Arinda.


"Berapa lama dia menganggur?" tanya Dante.


"Aku ndak mau jawab." Dante menghela nafas.


"Arinda. Perempuan itu memang harus patuh sama suami. Tapi suami seperti apa dulu? buat apa kamu mempertahankan suami yang cuma manfaatin kamu doang," ujar Dante.


"Jadi maksud sampeyan aku lebih baik jadi janda begitu?" tanya Arinda yang kini sudah berani menatap mata Dante.


"Untuk wanita pekerja keras sepertimu, kamu pantas mendapatkan hal yang lebih baik dalam hidup kamu." Jawab Dante.


"Ya terus mas mau anak-anakku ndak mendapat kasih sayang bapaknya? mas mau anakku diejek ndak punya bapak? aku sudah ngerasain ndak punya bapak, dan itu rasanya ndak enak," ucap Arinda.


"Tapi bapaknya nggak harus dia, kalau memang kamu nggak bahagia." Jawab Dante.


"Sok tahu sampeyan mas," ujar Arinda yang kemudian meraih tasnya


Tap


"Maaf," ucap Dante sembari menahan tangan Arinda.


"Kenapa mas seperti ini? aku tuh ndak enak kalau diperhatikan lawan jenis yang bukan suamiku," tanya Arinda.


"Apa aku boleh berkata jujur?" tanya Dante.


"Sebentar! sampeyan demam mas? ini tangan sampeyan panas sekali," Arinda tanpa sadar memeriksa suhu telapak tangan Dante dan kening pria itu.


"Sampeyan beneran sakit ini mas. Duh...ini pasti karena kehujanan kemarin ya mas?" Dante tersenyum mendapat perhatian wanita yang diam-diam menarik perhatiannya itu.


"Arinda. Aku suka kamu,"


Deg


Pernyataan Dante membuat jantung Arinda berdegup dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2