
"Kamu belum makan siang kan?" tanya Dante.
"Belum." Jawab Arinda sembari melerai pelukkannya.
"Kita makan siang bersama, karena setelah itu kamu harus bekerja keras," ujar Dante.
"Bekerja keras? aku ndak kerja hari ini mas. Aku dapat jatah libur," ucap Arinda polos, yang membuat Dante terkekeh.
"Ya sudah ayo makan," Dante menarik tangan Arinda menuju dapur.
Dante tampak duduk di kursi meja makan, sementara Arinda seperti layaknya seorang istri yang melayani suaminya.
"Makasih ya sayang. Aku bahagia sekali hari ini," ucap Dante.
"Aku juga mas. Ya sudah ayo kita makan," ujar Arinda.
Merekapun makan siang sembari berbincang banyak hal. Setelah makan siang mereka duduk di ruang tamu dan kembali berbincang.
"Kerja dimana suamimu?" tanya Dante sembari membelai rambut Arinda yang tengah berbaring di pangkuannya.
"Aku belum tahu. Yang pasti keahlian mas Adit terpakai di tempat itu." Jawab Arinda.
"Entah mengapa aku merasa kamu akan meninggalkan aku suatu saat nanti. Suamimu sudah bekerja, otomatis kamu akan akur dan tidak pernah bertengkar lagi dengannya pasal uang. Lalu kemudian aku kamu campakan begitu saja," ujar Dante.
"Kok sampeyan mikirnya gitu mas?" tanya Arinda yang tiba-tiba bangun dari pangkuan Dante.
"Terus aku harus mikir bagaimana? tidak mungkin selamanya kita begini terus kan? kamu harus mengorbankan salah satunya, demi mencapai kebahagiaan yang kamu inginkan." Jawab Dante.
Arinda menatap mata Dante dengan lekat.
"Sejak awal sampeyan tahu hubungan kita ndak sehat dan penuh resiko. Hubungan kita sebatas senang-senang dan saling membahagiakan, dan juga mengisi kekosongan hati kita masing-masing. Terus kenapa sekarang aku merasa sampeyan seperti ingin menuntut kepastian mas? jelas bagiku berat memilih salah satunya," ujar Arinda.
"Apa yang membuatmu berat? Aditia? kalau alasannya dia, aku akan mundur sekarang juga," tanya Dante.
"Sampeyan tahu pasti alasane opo kan mas? aku wes ngomong karo sampeyan, kalau perasaanku sama mas Adit sudah ndak ada. Kenapa sampeyan membuatku tertekan?" mata Arinda berkaca-kaca.
"Aku perlu bukti kalau kamu benar-benar hanya mencintaiku," ujar Dante sembari menyeka air mata Arinda.
"Bukti?" tanya Arinda.
Tanpa banyak bicara, Dante mulai melabuhkan ciumannya pada kekasihnya itu. Karena tidak ingin tetangga mendengar kegiatan mereka, Dante kemudian menggendong Arinda dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
Entah sejak kapan mereka tidak mengenakan apapun lagi, namun saat Arinda melihat benda kebanggaan Dante. Mata wanita itu terbelalak lebar.
"Kenapa? apa dia sangat gagah dari punya suamimu?" bisik Dante yang diangguki oleh Arinda.
"Apa dia lebih besar?" yang kembali diangguki oleh Arinda.
"Aku akan membuatmu melayang dan tidak akan pernah menyesal sudah mencintaiku," bisik Dante.
Hap
"Emmmpphh...mas..." Dante kembali membuat Arinda bergelinjang, saat pria itu melahap habis puncak tertinggi gunung abadi miliknya.
Arinda benar-benar lupa diri saat ini, karena Dante benar-benar bisa membuatnya mabuk kepayang.
"Heghh.... Emmpptt"
Arinda merasakan sesak penuh dibawah sana. Sementara mata Dante terpejam, saat miliknya di cengkram kuat dibawah sana.
"Kamu masih begitu sempit baby," bisik Dante sembari mulai menggoyang pinggulnya.
Arinda tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Karena saat ini dia hanya menikmati sensasi nikmat yang Dante berikan adanya. Pria itu sangat pandai dan tahu apa yang Arinda inginkan, hingga dia mendapat pelepasan berkali-kali yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Aditia.
"Oh...baby...." Dante menghujam dalam Arinda, saat pria itu menuju puncak miliknya sendiri.
Dante mencium bibir Arinda sekilas sebelum dirinya mencabut benda gagah miliknya.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Dante.
"Aku juga mencintaimu mas. Mas Dante jangan pernah tinggalin aku ya? aku sudah membuktikan cintaku dengan memberikan segalanya. Aku memang ndak perawan lagi, tapi selama 3 tahun menikah dengan mas Adit. Aku ndak pernah bermain api kecuali karo sampeyan mas," ujar Arinda.
"Aku tidak tahu sampai kapan hubungan kita ini bertahan. Tapi...."
"Kok mas ngomongnya begitu?" Arinda jadi duduk seketika, tanpa menutupi bagian dadanya yang tampak menggoda.
"Dengarkan dulu ucapanku sayang!" ujar Dante.
"Aku ndak mau dengar kalau sampeyan ngomongnya seperti ingin putus karo aku mas. Aku takut sampeyan ninggalin aku, setelah puas menikmatiku. Aku ndak mau sampeyan berpikir aku wanita murahan, meskipun aku memang begitu kenyataannya," ujar Arinda dengan wajah yang sudah mendung.
"Hey... sayangku. Kenapa kamu mikirnya jauh begitu. Aku nggak pernah mau meninggalkanmu. Sekaramg kamu sudah milikku seutuhnya. Kalau kamu ingin aku jadi pria simpananmu seumur hidup, oke aku akan melakukannya demi kamu," ujar Dante sembari meraih kedua sisi wajah kekasihnya.
Greppp
__ADS_1
"Sampeyan janji ndak bakal ninggal aku yo mas? aku trisno, aku sayang karo sampeyan," ucap Arinda.
"Nggeh cah ayu." Jawab Dante yang membuat Arinda jadi terkekeh.
"Sayang,"
"Hem?"
"Dia bangun lagi." Jawab Dante sembari melihat kearah miliknya yang perkasa.
Arinda tersipu malu, terlebih Dante menuntun tangannya untuk memegang benda yang sudah membuat dirinya mengerang nikmat beberapa kali.
Brukkkk
Entah kali ini Arinda mendapat keberanian darimana, karena tiba-tiba saja dia mendorong tubuh Dante dan langsung menaiki tubuh pria itu.
"Nakal! tapi aku suka," ucap Dante sembari mengedipkan matanya.
Arinda perlahan mulai memasukkan benda kebanggaan milik Dante, hingga terbenam sepenuhnya.
"Ah...baby," Dante memejamkan matanya, saat Arinda mulai bergerak naik turun dengan lembut. Pria itu juga tidak ingin menyia-nyiakan kedua aset berharga milik Arinda yang sangat menggoda. Dia me**mat habis, hingga suara Arinda terdengar merdu ditelinganya.
Arinda bergerak makin lama makin cepat. Dante tahu, kekasihnya itu sebentar lagi akan kembali menuju puncak. Dan beberapa detik kemudian, Arinda kembali mengerang dan ambruk diatas tubuhnya itu.
"Kamu luar biasa sayang," bisik Dante.
Dante menyeka keringat di dahi kekasihnya itu, dan kemudian membuatnya berbaring menyamping.
"Emmppptt," Arinda kembali melengguh, saat benda tumpul itu kembali menyeruak dan memenuhi pusat intinya.
Dante kembali mengguncang dan menjadikan Arinda sebagai landasan pacu, hingga dirinya kembali mendapatkan pelepasan. Dan siang itu sudah tidak terhitung, berapa kali Arinda dan Dante mengulangi perbuatan tak terpuji itu. Namun yang pasti, Arinda sama sekali tidak menyesal sudah melakukannya.
"Sudah malam ternyata. Kamu tunggu sebentar ya sayang. Aku mau keluar buat cari makan malam untuk kita," ujar Dante.
"Sekarang jam berapa mas?" tanya Arinda dengan mata terpejam.
"Hampir jam 7." Jawab Dante.
"Apa?" Arinda terkejut dan langsung berlari kearah kamar mandi dengan tubuh telanjangnya.
"Tubuhnya sangat sempurna," gumam Dante.
__ADS_1
"Sial. Melihatnya begitu jadi bangun lagi. Kamu belum kenyang juga Jon? dasar rakus kamu," ucap Dante dengan memukul pelan miliknya yang sudah terlanjur hormat itu.
Dantepun memutuskan menyusul Arinda ke kamar mandi, dan kembali mengulangi perbuatan mereka sekali lagi