SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.55. Duka Arinda


__ADS_3

"Kita yakin kesana cuma berdua aja?" tanya Fatimah, saat Arinda memboncengnya menggunakan motor menuju rumah Aditia.


"Emangnya siapa yang mau ibu ajak? mas Dante ndak bisa kita libatkan terlalu jauh lagi buk. Kasihan dia, nanti bisa terseret-seret karena masalah rumah tanggaku. Lagipula aku ingin hak asuh anak-anakku. Aku ndak mau kedekatanku sama mas Dante, malah membuatku kehilangan anak-anak." Jawab Arinda.


"Baiklah. Buk'e mengerti maksudmu," ucap Fatimah.


Arinda semakin mempercepat laju kendaraannya, karena dia tidak ingin kemalaman saat membawa anak-anaknya pulang. Dan setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun tiba dikediaman Aditia.


Arinda sangat senang, karena Rayana dan Radit tengah berada diteras rumah mertuanya itu.


"Mau apalagi kamu kesini?" tanya Marini.


"Bukankah ibu orang berpendidikan? harusnya ibu tahu tujuanku kesini untuk mengambil anak-anakku yang diambil paksa oleh mas Adit." Jawab Arinda.


"Tidak bisa! kalau kamu mau anakmu, kamu harus merebutnya secara hukum," ucap Marini.


"Jadi orang itu harus punya malu. Siapa yang menghidupi dan membesarkan anak-anakku selama ini? itu aku, bukan Aditia. Apalagi keluarga ibu ndak pernah bantu apa-apa. Jadi jangan memancing emosiku. Kalau mau anak bayi, ibu bisa bikin sendiri," ujar Arinda yang sama sekali tidak menghiraukan lagi tata kramanya.


"Oh...dasar anak kurang ajar kamu!" hardik Marini yang kemudian ingin menyerang Arinda.


"Oh jadi mau ngajak gelut, ya hayo! siapa takut. Tak patahkan tulang-tulang sampeyan yang sudah sering kena encok itu. Buk'e, cepat ambil anak-anakku!" ujar Arinda.


Fatimah kemudian mengambil Rayana dan Radit, hingga terjadi aksi saling tarik menarik antara Fatimah dan Marini. Arinda yang hilang kesabaran, langsung mendorong keras Marini, hingga wanita tua itu terjatuh kebelakang.


"Arinda. Anak kurang ajar kamu!" hardik Marini.


Arinda tidak memperdulikan teriakan Marini. Ibu dari dua anak itu kemudian menyalakan mesin motor, dan segera menyuruh Fatimah naik keatas motornya. Namun saat berada di tikungan jalan raya, Aditia melihat Arinda membawa anak-anaknya. Pria itu kemudian mengejar Arinda dengan berlari sekencangnya.


Greppp


Bruukkkk


Arinda yang berjalan santai, tiba-tiba motornya terjatuh ke sebelah kanan akibat ada yang menarik Fatimah dari belakang. Arinda sangat histeris, saat melihat jalan raya jadi macet, ketika Fatimah dan kedua anaknya sudah tergolek bersimbah darah.


"Akkhhhh...." Teriak Arinda.

__ADS_1


Arinda masih bisa melihat dengan jelas, saat melihat Aditia yang berlari ketakutan dan meninggalkan dirinya begitu saja yang sedang menangis histeris. Arinda sama sekali tidak merasakan lagi luka lecet dan kakinya yang terkilir akibat tertimpa motor.


Jalanan itu mendadak macet seketika. Arinda menjerit sembari menangis meminta pertolongan, namun tak seorangpun mau menolong karena mereka takut terlibat. Namun Arinda sangat beruntung, ada seorang polisi yang lewat, dan segera menelpon ambulance.


Drap


Drap


Drap


Langkah kaki tergesa-gesa memenuhi koridor rumah sakit. Mia dan Dian datang, setelah Arinda menelpon mereka. Arinda tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Dia butuh teman, dia butuh pelukan.


"Bagaimana keadaan ibu dan anak-anakmu Rin?" tanya Dian.


"Aku ndak tahu mbak. Aku ndak tahu. Hiks....mereka masih ditangani saat ini. Aku takut sekali mbak, aku takut sekali. Hiks..." Arinda terisak dalam pelukan Mia.


"Apa penabraknya sudah ketahuan?" tanya Dian, yang dijawab gelengan kepala oleh Arinda.


"Itu biar jadi urusan polisi. Yang pasti aku akan melaporkan mas Adit," ujar Arinda.


"Dia yang sudah menarik ibu dari belakang. Dan mungkin saat ibu dan anak-anak terjatuh, Ada mobil yang melintas. Rasanya dadaku sesak membayangkan itu mbak. Hiks..." Arinda kembali terisak.


"Aditia memang tidak pantas diampuni. Pokoknya kamu harus laporkan dia dengan tuduhan percobaan pembunuhan Rin," ujar Dian.


"Setuju Rin," ujar Mia.


"Kamu...."


Ceklek


Seorang dokter keluar dengan wajah murung. Pria berseragam putih itu terlihat berat mengabarkan berita buruk itu.


"Maaf bu kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi dengan sangat menyesal, kami harus sampaikan. Pasien sudah meninggal dunia," ujar dokter.


"Si-Siapa yang meninggal dokter? siapa?" tanya Arinda sembari mencengkram kedua lengan dokter.

__ADS_1


"Ibu dan kedua anak anda." Jawaban dokter seperti sambaran petir untuk Arinda.


Tubuh Arinda terhuyung kebelakang, dengan air mata meleleh deras di pipinya.


"Ri-Rin. Hiks...." Dian dan Mia memeluk Arinda secara bersamaan.


Karena tidak kuat mental, Arindapun jatuh pingsan. Dan saat dirinya sadar, Arinda sudah berada di ruangan serba putih.


"Buk'e. Rayana, Radit. Hiks...jangan tinggalin Arin sendirian," Arinda terisak.


"Sabar ya Rin. Sekarang kamu mesti kuat. Kami sudah bicara dengan pihak rumah sakit, agar jenazah langsung dimandikan dan dikafani saja. Biar kamu ndak kesulitan lagi. Sekarang kamu mesti pulang Rin. Kamu harus beritahu tetangga dan pengurus masjid, agar besok ibu dan anak-anakmu bisa dimakamkan," ujar Dian.


"Andai aku tahu akan kehilangan mereka mbak. Aku lebih memilih menjadi istri mas Adit seumur hidup, daripada kehilangan ibu dan anak-anakku. Hiks...."


"Sekarang apa gunanya aku hidup mbak. Lebih baik aku menyusul mereka saja. Hiks ..."


"Jangan bodoh kamu Arinda. Kalau kamu tiada, siapa yang akan memperjuangkan keadilan untuk anak-anakmu dan juga Ibumu. Aditia akan melenggang bebas, dan kamu akan mati sia-sia saja," ujar Mia.


"Aku ndak sangggup kehilangan mereka mbak Aku belum sempat membahagiakan ibu dan anak-anakku. Kenapa nasibku buruk begini. Hiks...." Tubuh Arinda bergetar hebat, karena tangisnya yang kembali pecah ruah.


"Kamu pasti bisa Rin. Kami akan selalu mendukung apapun keputusanmu," ujar Dian.


"Buk'e...jangan tinggalin aku buk'e," ratap Arinda.


Mia dan Dian berusaha menenangkan sahabatnya itu. Setelah Arinda sudah sedikit lebih tenang, merekapun pulang ke rumah Arinda untuk mengurus pemakaman keesokan harinya.


Kabar meninggalnya ibu Arinda dan kedua anaknya cukup menggemparkan Rt dimana Arinda tinggal. Para pelayat satu persatu berdatangan keesokan paginya. Wajah Arinda tampak pucat, karena wanita itu menolak makan dari kemarin malam. Namun satu hal yang Arinda tidak tahu, kalau Aditia saat ini sedang menangis saat keranda jenazah membawa jenazah Fatimah dan kedua anaknya.


"Maafin ayah Rayana, Radit. Maafin ayah. Hiks..." Aditia yang menyelinap dengan masker dan hoddy diantara kerumunan orang-orang, tampak menangis terisak.


Sungguh Aditia tidak pernah membayangkan, dia akan menyakiti Arinda sampai ketahap ini. Mata Aditia tidak pernah lepas menatap wajah istrinya yang masih terlihat sangat pucat. Andaikan dia bernyali besar, ingin sekali dia memeluk kaki Arinda pada saat itu juga untuk meminta ampun pada istrinya itu.


"Kalau dengan bercerai membuatmu bahagia, aku akan melepaskanmu Rin. Maafkan kesalahanku dan kebodohanku selama ini. Selama menikah denganku, hanya luka yang aku berikan padamu. Kamu wanita yang baik, tapi aku yang kurang pandai bersyukur. Maafkan aku Arinda, maafkan aku. Hiks..." Aditia kembali terisak.


Aditia kemudian mengikuti orang-orang yang membawa Jenazah anak-anaknya, hingga ke pemakaman

__ADS_1


__ADS_2