
Dara mengintpp dari pintu rumah, untuk memastikan Dante sudah pergi bekerja.
"Apa dia sudah yakin pergi?" tanya Fitri.
"Ya Ma." Jawab Dara.
"Kalau begitu cepat pesan taksi onlinenya. Apa papa mau ikut?" tanya Fitri.
"Papa di rumah saja. Kalian saja yang pergi. Nggak mungkinlah papa ikut nyerocos, papa ini kan laki-laki." Jawab Damsi.
"Ya sudah kalau gitu kami pergi dulu ya pa," ujar Fitri.
Damsi mengunci pintu setelah Fitri dan Dara pergi. Sementara itu di tempat berbeda, Arinda sudah ada disetengah perjalanan menuju pabrik tempatnya bekerja. Saat dirinya sampai, Dian dan Mia juga baru sampai di tempat parkir.
"Mbak," seru Arinda dengan senyum semringah.
"Eh Rin. Gimana masalah kamu sama Dante?" tanya Mia.
"Kami memutuskan untuk damai mbak. Mas Dante sudah menjelaskan semuanya. Dia memilihku daripada wanita itu. Aku sangat bahagia sekali." Jawab Arinda.
"Itu karena kamu tidak punya malu, dan murahan," ujar Fitri dari arah belakang Arinda.
Arinda, Mia dan Dian sangat terkejut, saat mendengar ucapan wanita parubaya dan saling berpandangan.
"Dia kan Dara? itu artinya ibu ini adalah mamanya mas Dante," batin Arinda.
Arinda tersenyum menatap kearah ibu Dante.
"Saya Arinda Ma. Mama apa kabar?" tanya Arinda sembari ingin meraih tangan Fitri untuk dia cium.
Plakkk
Fitri dengan keras memukul tangan Arinda yang terulur.
"Apa kamu berhak memanggilku dengan sebutan mama? kamuvsama sekali tidak punya hak. Karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah merestui kamu menikah dengan Dante," ujar Fitri.
"Kenapa? pengen jadi orang kaya dalam semalam ya? jadi manusia itu harus tahu diri. Sudah tahu bekas, punya banyak buntut, malah menghayal dapat bujangan. Kamu nggak punya kaca di rumah? anak saya seganteng itu harus dapat wanita dekil kayak kamu?" hardik Fitri.
__ADS_1
Air mata Arinda sudah meluncur hebat, saat mendengar ucapan Fitri. Selain menangis, dia hanya bisa mengusap lembut bagian perutnya.
"Apa anda sudah puas menghina teman saya? kenapa anda cuma menyalahkan Arinda? seharusnya tanya putra kesayangan anda itu, siapa yang memulai lebih dulu," tanya Mia.
"Tidak perlu ditanya. Sudah tahu jawabannya. Apalagi kalau bukan dia yang menggoda anak saya lebih dulu. Mimpinya terlalu tinggi. Anak saya pria dewasa, hubungan diranjang sudah bukan hal tabu lagi di jaman sekarang. Tapi hal itu terjadi, pasti itu karena wanita murahan ini. Tidak bersyukur sudah punya suami, malah minta dipuaskan oleh pria lain. Murahan kamu!" Fitri mendorong keras Arinda, hingga Arindapun terjatuh.
"Awww...." Arinda yang memang tadi pagi merasa kram diperutnya, merasakan kram kembali dibagian perutnya.
"Rin. Kamu nggak apa-apa?" tanya Dian panik.
"Perutku mbak, sakit sekali. Hiks..." Arinda terisak.
"R-Rin. Darah...." Gumam Mia saat melihat darah di betis Arinda.
"Mbak anakku mbak. Aku nggak mau kehilangan anakku mbak. Hiks...."
Arinda yang merasakan pusing lambat laun tak sadarkan diri. Jangan ditanya bagaimana reaksi Fitri dan Dara, merekapun ikut panik dan ketakutan.
Mia dan Dian bergegas membawa Arinda ke rumah sakit. Setelah Arinda diperiksa dokter, Mia segera mengirim video yang sempat dia abadikan saat Fitri menghina Arinda dan juga mendorong Arinda hingga terjatuh.
Sementara Fitri dan Dara yang ketakutan langsung pulang ke rumah.
Ting
"Siapa yang mengirim video ini?" gumam Dante yang kemudian menekan tombol play di layar ponselnya.
Mata Dante terbelalak, saat melihat apa yang dilakukan ibunya pada Arinda. Pria itu spontan berdiri dari tempat duduknya.
Ting
"Datanglah ke rumah dakit Kasih Bunda, Arinda sedang ditangani dokter karena pendarahan," chat Mia.
Tangan Dante gemetar saat membaca isi chat itu. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung berlari keluar, dan segera pergi ke rumah sakit setelah berganti pakaian biasa terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaan Arinda mbak," tanya Dante dengan nafas terengah-engah.
"Kami belum tahu. Arinda masih di dalam dan ditangani dokter. Arinda maish tidak sadarkan diri." Jawab Mia.
__ADS_1
"Aku titip Arinda dulu mbak. Aku mesti pulang ke rumah dulu," ujar Dante.
"Emm." Mia menganguk.
Mia dan Dian tidak menghalangi kepergian Dante, karena mereka juga ingin keadilan untuk sahabatnya. Dante membawa motor sportnya seperti orang kesurupan. Karena dia sangat ingin cepat sampai di rumah.
"Mama! Dara!" teriak Dante sembari menggedor pintu rumahnya.
"Bagaimana ini ma. Uda pasti marah besar. Bagaimana kalau Arinda keguguran? Dara nggak ikutan kalau Arinda laporin mama ke polisi. Kan mama yang dorong Arinda, bukan aku," ujar Dara.
"Kenapa kamu ngomong begitu? mama begitu karena pengen belain kamu. Kamu bagaimana sih?" tanya Fitri.
"Pokoknya aku nggak ikutan! nggak apa nggak jadi istri Dante, asal aku nggak masuk penjara. Pokonya aku nggak terlibat," ucap Dara yang kemudian masuk kedalam kamar dan membereskan pakaiannya.
Fitri dengan tangan gemetar perlahan membuka pintu. Dia tahu betul bagaimana amarah putranya itu.
Ceklekk
Saat pintu terbuka, Dante melihat wajah ibunya sudah pucat. Sementara Dara sedang menyeret kopernya yang berencana pulang ke Padang.
"Kalau talak tiga masih berlaku setelah talak pertama, maka detik ini juga aku talak kamu dengan talak 3 Dara. Silahkan angkat kaki dari rumah ini, aku nggak mau melihat mukamu lagi," ucap Dante dengan nafas naik turun.
Tanpa banyak bicara Dara langsung menyeret kopernya keluar rumah itu. Dante menatap lekat kearah Fitri, dan bergantian menatap Damsi.
"Kenapa mama seperti ini ma. Asal mama tahu, anak yang di kandung Arinda itu darah daging Dante, darah daging mama juga. Arinda sedang mengandung anak kembar sekarang. Bukankah dari dulu mama menginginkan cucu kembar?" tanya Dante dengan mata berkaca-kaca.
Fitri menutup mulutnya saat mendengar hal itu. Tentu saja dia merasa sangat bersalah.
"Maafkan mama Dante. Mama tidak tahu kalau dia dalam keadaan hamil. Mama juga tidak tahu, kalau dia hamil anak kamu. Sekarang bagaimana keadan Arinda dan anaknya?" tanua Fitri.
"Aku nggak tahu. Saat aku kesini, Arinda masih ditangani dokter." Jawab Dante dengan sedih.
"Aku takut kalau sampai terjadi sesuatu pada calon anakku, Arinda akan gila. Dia baru saja kehilangan kedua anak dan ibunya, dia pasti tidak akan bisa menerima kalau ini sampai terjadi lagi. Dan mama...."
"Mama harus siap-siap masuk penjara, karena sudah membunuh anaknya," sambung Dante yang membuat wajah Fitri pucat pasi.
"Dante. Ayo kita ke rumah sakit sekarang! aku mau melihat keadaan Arinda," ujar Fitri.
__ADS_1
"Mama benar. Meski kita tidak tahu kedepannya bagaimana, tapi kita tetap harus ada niat baik bukan?" ujar Damsi.
Dante menganggukan kepalanya. Merekapun memutuskan pergi dengan menggunakan taksi online.