SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.69. MP


__ADS_3

"Aku pergi dulu," ujar Ridwan.


"Makan dulu mas!" Mia menawarkan hidangan yang disiapkan oleh catering di sudut rumahnya.


"Tidak usah. Aku langsung pergi saja," ujar Ridwan.


Ridwan menatap Ferdy yang tampak bergelendot manja pada Suryo. Air matanya yang semula tertahan, jadi tumpah ruah seketika.


"Ferdy. Salim sama ayahmu!" ujar Suryo.


"Bukannya sekarang ayahku yang ini?" tanya Ferdy sembari mengayun-ayunkan tangan Suryo.


Suryo berjongkok, mensejajarkan diri dengan Ferdy.


"Sayang. Meski kamu punya ayah baru, tapi ayah Ridwan sampai kapanpun akan tetap jadi ayah kamu. Jadi ayah Ridwan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun, karena dia ayah kandungmu," ujar Suryo.


"Sekarang kamu salim sama dia, peluk dia!" sambung Suryo yang kemudian mendapat anggukan kepala dari Ferdy.


Ferdy perlahan mendekat kearah Ridwan, begitu juga dengan Ridwan. Ferdy kemudian mencium tangan ayahnya, dan kemudian mereka saling berpelukan satu sama lain.


"Hiks...maafkan ayah, maafkan ayah nak," ucap Ridwan.


"Ayah kenapa tidak pulang-pulang. Biasanya ayah ada di rumah mbak Lastri. Ferdy sering bermain sama anak mbak Lastri. Kata mbak Lastri dia juga adik Ferdy," ucap Ferdy.


"Kamu jaga adikmu ya! ayah mau pergi jauh soalnya," ujar Ridwan.


"Ayah mau kemana? apa Ferdy boleh ikut?" tanya Ferdy.


"Tidak boleh. Kamu tinggal dengan ayah Suryo dan ibu saja." Jawab Ferdy sembari mengusap puncak kepala ibunya.


Dari jauh Dian mencebikan bibirnya, sembari menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh pihak catering. Ridwan kemudian menoleh kearah Lastri yang tengah menggendong putrinya, sembari menatap kearahnya.


Ridwan perlahan mendekati Lastri, dan mengusap puncak kepala bocah sembilan belas tahun itu.


"Maafkan mas Lastri. Gara-Gara mas, masa depanmu hancur. Kamu jaga putri kita dengan baik ya! mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, karena aku akan pergi jauh," ujar Ridwan.


"Mas mau kemana mas?" tanya Lastri.


"Buat apa kamu bertanya dengan orang ndak guna ini. Tahunya cuma bercocok tanam, tapi ndak ada tanggung jawabnya. Ayo pulang!" Lastri diseret pulang oleh ibunya.


"Mas," sapa Indah yang perutnya sudah membuncit besar. Bocah berusia 16 tahun itu masih terlihat sangat belia, meskipun dirinya tengah mengandung saat ini.


"Ya Tuhan...setelah kupikir-pikir aku ini memang bajingan. Bagaimana bisa aku menghancurkan masa depan anak-anak yang sangat belia ini, demi hawa nafsuku," batin Ridwan.


Ridwan kemudian mengambil dompetnya, dan membukanya. Pria itu mengeluarkan semua uangnya, dan memberikannya pada Indah.


"Beli makanan dan susu yang enak untuk anak kita. Kamu harus hidup lebih baik setelah melahirkan nanti. Maafkan mas Indah, mas sudah menghancurkan masa depanmu," ucap Ridwan.


Indah menoleh kearah orang tuanya, dan kepalanya langsung tertunduk, setelah mendapat pelototan mata dari ibunya.


"Kenapa kamu ndak nikahin aku aja mas. Aku mau kawin lari sama sampeyan," ujar Indah.


"Jangan. Masa depanmu masih panjang. Aku bukan orang baik, terlebih jangan pernah menikah tanpa restu orang tua. Aku sudah banyak melakukan kesalahan, kedepannya kamu harus baik-baik bergaul. Jangan pernah tergoda bujuk rayu laki-laki lagi," ucap Ridwan.


"Mas," Ridwan tidak menoleh lagi, meskipun Indah sudah berulang kali memanggil namanya sembari menangis.


Ridwan berjalan menyusuri jalan raya tanpa tahu arah. Harapannya yang ingin hidup bersama Mia pupus sudah. Meski Lastri dan Indah masih mudah belia, tapi ternyata cuma Mia yang ada dihatinya. Karena selama ini Mia pula yang sering dibuat susah olehnya. Rasa bersalah dihatinya, membuat Ridwan tidak berdaya saat mengetahui wanita yang akan diperjuangkan sudah dimiliki oleh pria lain.


Ridwan menatap air dam yang sedikit beriak karena jlirannya lumayan deras. Dunia Ridwan sudah terasa jungkir balik saat ini. Perjuangannya menjual diri sudah terasa tidak ada artinya lagi, karena Mia sudah menikah dengan orang lain.


"Nggak ada gunanya aku hidup lagi. Aku benar-benar sudah jadi manusia kotor. Kalau Mia tidak bersamaku, lalu buat apa aku banyak uang? aku tidak mau wanita yang lain, aku cuma mau sama Mia aja," gumam Ridwan dengan genangan air mata.


Saat Ridwan hendak melompat, tangannya dicekal oleh seseorang.


"Kalau mau mati di rel kereta api saja. Kalau melompat ke dam ini, nanti orang akan repot ngambil mayat sampeyan di tanggul," ujar Dian.

__ADS_1


"Lepasin aku! aku nggak mau hidup lagi. Mia sudah pergi ninggalin aku, jangan halangin aku! aku mau mati saja," ujar Ridwan yang sudah di peluk Dian dari belakang, karena tangannya tidak cukup kuat menahan tangan pria itu.


"Siapa yang menghalangi sampeyan mati? aku kan sudah bilang, kalau mau mati jangan disini. Ayo tak antar ke stasiun kereta api. Disana sekali tabrak langsung mati, dan ndak terasa sakitnya. Kalau mati tenggelam masih terasa loh mas," ujar Dian.


"Belum lagi masuk neraka. Dalam kubur sampeyan disiksa habis-habisan, dosa sampeyan sudah numpuk. Masih mending dikasih nyawa, biar sampeyan bisa taubat," Dian mengoceh tak tentu arah.


Perlahan tapi pasti tubuh Ridwan melemah dan jatuh di tepi dam.


"Bunuh diri ndak menyelesaikan masalah mas. Kalau sampeyan melakukan itu, berarti sampeyan cuma ingin lari dari tanggung jawab. Jangan cuma mikirin si Mia, tapi mas itu juga punya tanggung jawab yang lain toh? anaknya si Lastri dan si Indah, juga butuh nafkah dari sampeyan. Kalau sampeyan mau berubah kedepannya, pasti semuanya akan di permudah kedepannya," sambung Dian.


Ridwan menolah kearah Mia, dan menatap wanita itu dalam hari yang beranjak senja.


"Kamu siapa? kok kamu tahu tentang Mia, Lastri dan Indah?" tanya Ridwan.


"Aku teman akrabnya si Mia. Aku juga bekerja satu pabrik sama dia." Jawab Dian.


"Sepertinya Mia sudah banyak cerita sama kamu ya! dia pasti menceritakan betapa bajingannya suaminya dulu," ujar Ridwan tersenyum hambar.


"Yah. Kami berteman bertiga. Nasib kami tidak jauh berbeda, hanya saja kebiasaan buruk suami kami berbeda-beda. Jika sampeyan gila perempuan, maka suamiku gila mabok. Sementara suami temanku yang satunya lagi gila judi,"


"Tapi kehidupan tiap rumah tangga memang tidak ada yang berjalan mulus mas. Seperti Mia yang lebih dulu memutuskan jadi janda, kemudian disusul aku yang membunuh suamiku sendiri. Dan temanku yang lain, memilih berselingkuh dan kemudian bercerai juga. Kalian para lelaki memang tidak menyadari, kalau belum benar-benar kehilangan orang yang sebenarnya sangat berarti buat sampeyan," sambung Dian.


"Kamu membunuh suamimu?" tanya Ridwan terkejut.


"Lebih tepatnya kecelakaan. Hampir tiap hari aku dipukulinya karena kebiasaanya yang suka mabok. Tapi malam itu aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Aku kehilangan kendali, dan membunuhnya dengan tali jemuran." Entah kenapa Dian jadi mau berterus terang pada Ridwan. Mungkin karena dirinya merasa sudah jadi manusia kotor.


"Aku benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan Mia. Meski aku mendapatkan daun muda, tapi aku tidak bahagia. Mungkin itu karena wujud rasa bersalahku sama Mia, yang sudah aku sakiti selama ini," ujar Ridwan.


"Justru itu, kamu masih diberikan Tuhan kesempatan buat taubat mas. Hatimu belum di kunci olehnya. Hatiku sudah melunak. Semua orang punya masa lalu kelam, cuma kamu sendiri yang bisa menghentikan semua itu," ujar Dian.


"Sekarang Mia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Pasangannya juga bukan orang benar sebelumnya. Itu berarti kalau seseorang mau berubah, pasti akan mendapatkan jodoh yang baik juga mas," sambung Dian.


"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Ridwan.


"Eh? u-untuk apa mas?" tanya Dian.


Sejujurnya Dian sangat berat, tapi Dian berpikir paling tidak dia bisa mencegah Ridwan bunuh diri.


*****


Mia saat ini dilanda gugup yang hebat. Setelah acara ijab qobul di rumahnya, Mia langsung di boyong ke rumah mewah Suryo. Dan malam ini adalah malam pertama bagi Mia dan Suryo.


Suryo saat ini tengah berada di kamar mandi. Jujur dia tidak kalah gugup, karena ini pengalaman pertamanya bercinta dengan seorang wanita.


"Apa aku bisa ya? aku sangat gugup," gumam Suryo.


Ceklek


Suryo menekan handle pintu kamar mandi, dan keluar dari sana. Tangan Mia kembali saling bertautan dengan erat. Meski dia bukan seorang gadis lagi, tapi dihadapannya pria yang berbeda.


"Emm...a-apa aku boleh...."


"Boleh mas. Semua yang ada padaku sudah jadi hak mu sekarang. Tapi maaf, tubuhku tidak sempurna seperti gadis perawan," ucap Mia.


"Aku minta maaf juga kalau aku bukan petarung hebat seperti suamimu. Dia sangat terkenal di kafe remang. Semua wanita parubaya sangat puas dengan pelayanannya. Kalau kamu tidak puas bilang ya! aku akan pergi berobat lagi," ujar Suryo.


Pipi Mia jadi merona, saat Suryo membahas perihal hubungan ranjang.


"Pokoknya apapun masalah rumah tangga kita, semuanya harus kita komunikasikan. Jangan ada yang di pendam, dan menyebabkan luka batin. Aku mau kita saling terbuka, sekecil apapun masalahnya," sambung Suryo.


"Iya mas." Jawab Mia.


Suryo perlahan mendekati Mia yang membuat jantung keduanya semakin berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


"Terus terang aku gugup Mi. Ini kali pertama aku begini dengan seorang wanita. Rasanya jantungku mau meledak," ujar Suryo.

__ADS_1


"Aku juga gugup mas. Meski ini bukan pertama kali, tapi rasanya beda sekali," ujar Mia.


Suryo meraih dagu Mia, dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Mia perlahan membalas ciuman itu yang semakin lama semakin menuntut.


Kedua sejoli itu melepas pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dan kembali saling cumbu.


"Astaga. Aku tidak bisa membayangkan benda sebesar ini masuk kedalam anus laki-laki. Apa nggak bisa eek tuh laki? aku akui, ukurannya tidak jauh beda dengan punya mas Ridwan. Barang sebesar ini, apa iya payah diranjang?" batin Mia.


"Kamu kenapa? kamu terpesona dengan ukurannya?" tanya Suryo yang membuat Mia tersipu malu.


"Ukuran tidak penting mas. Yang penting durasi." Jawaban Mia membuat Suryo jadi terdiam.


"Eh? ma-maaf mas, aku nggak bermaksud...."


"Tidak apa-apa. Kita coba ya!" ujar Suryo yang kemudian mendapat anggukan kepala dari Mia.


Mia dan Suryo kembali bercumbu, hingga ketahap yang paling mendebarkan. Suryo memejamkan matanya, saat benda kebanggannya sudah melesak masuk kedalam sana. Suryo tanpa sadar sudah menjadikan Mia landasan pacu lebih dari 20 menit, hingga Mia mendapatkan pelepasannya yang pertama.


Brukkkk


Mia mendorong Suryo, hingga pria itu tertelentang. Mia tanpa malu lagi, naik keatas tubuh pria itu dan kini dirinya yang menjadikan Suryo sebagai landasan pacu. Suara keduanya saling bersahutan merdu, hingga Mia kembali mendapatkan pelepasan keduanya.


"Tidak buruk," bisik Mia saat wanita itu ambruk diatas tubuh pria itu.


Dan untuk selanjutnya Suryo kembali menjadikan Mia sebagai landasan pacu, saat pria itu merubah posisinya menjadi dibelakang istrinya itu. Suara derit ranjang yang heboh, dengan suara yang saling bersahutan, memecah keheningan kamar itu. Dan setelah bercinta hampir 45 menit, merekapun akhirnya sama-sama mendapat pelepasan secara bersamaan.


Hosh


Hosh


Hosh


"Bagaimana mas? nikmat mana dengan lobang pria?" tanya Mia sembari mengedipkan matanya.


"Sama. Tapi tempatnya saja yang beda. Terus kalau punya wanita ada benda mainannya." Jawab Suryo yang membuat Mia jadi terkekeh.


"Emmm...ba-bagaimana menurutmu performaku kalau dibandingkan Ridwan," tanya Suryo.


"Aku puas kok mas. Memang sampeyan ndak bisa berjam-jam kayak mas Ridwan, tapi menurutku itu sudah pas. Ndak perlu yang lama-lama, yang penting sama-sama puas dan tidak menyakiti."Jawab Mia.


"Baguslah. Aku hanya takut, kamu tidak bahagia bersamaku," ujar Suryo.


"Urusan ranjang memang penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mas. Tapi bagiku bukan itu tolak ukur kebahagiaan dalam berumah tangga. Aku ingin kita saling memahami, saling setia da saling percaya satu sama lain," ujar Mia.


"Aku akan berusaha membangun rumah tangga impian kita. Aku hanya punya kamu di dunia ini Mi. Aku ingin hidup bersamamu, hingga maut memisahkan kita," ujar Suryo.


"Amiin. Itu juga yang jadi harapanku mas," ujar Mia.


"Sayang,"


"Hem?"


"Lagi yuk!" ucap Suryo sembari mengedipkan mata.


Mia mengangguk. Malam itu menjadi malam yang penuh ga*rah bagi pasangan Mia dan Suryo. Tidak hanya sekali dua kali, mereka mengulanginya hingga berkali-kali.


Sementara itu di tempat berbeda, Ridwan jadi sulit tidur. Bagaimana tidak? dia jadi memikirkan saat Mia tengah melakukan malam pertama bersama Suryo. Dan itu benar-benar membuatnya tidak rela.


"Ah...bodohnya kamu Ridwan. Dikasih istri yang sempurna, malah tidak pandai bersyukur.


Tring


Tring


Tring

__ADS_1


Ponsel Ridwan kembali berdering kesekian kalinya. Tak perlu Ridwan melihat siapa penelpon itu. Sudah barang tentu itu dari sang mami yang ingin dirinya segera ke kafe, untuk melayani para pelanggannya. Dan Ridwan memutuskan untuk tidak lagi menginjakan kaki ke tempat itu. Dia benar-benar ingin berubah menjadi orang yang lebih baik.


Ridwan sudah memutuskan untuk membuka usaha dengan uang yang dia hasilkan selama ini. Perkataan Dian cukup membuatnya terngiang-ngiang, hingga dirinya menginginkan hidup tenang tanpa dibayang-bayangi ketakutan akan penyakit menular seksual yang kapan saja bisa mengancam.


__ADS_2