SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.70. Cemburu


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Mami?" Ridwan terkejut, saat pagi-pagi sekali mantan bosnya datang mengunjunginya ke kontrakan.


"Apa ini Ridwan? kamu kok tiba-tiba minta cuti, tapi nggak bilang-bilang dulu sama mami. Tiga orang pelanggan kecewa jadinya,"


"Maaf Mi. Aku sudah memutuskan akan keluar dari dunia hitam itu," ujar Ridwan.


"Ya nggak bisa tiba-tiba gitu dong. Kamu harus nunggu sampai penggantinya ketemu dulu, baru bisa berhenti,"


"Tapi kita tidak ada buat perjanjian tertulis atau kontrak dalam bentuk apapun. Jadi tak ada seorangpun bisa memaksa, kalau aku tidak mau melakukannya. Kalau mami memaksaku, aku takut mami menyesal. Soalnya aku sudah positif terkena gonorhea," ujar Ridwan.


"Ap-Apa?"


"Sebaiknya mami juga priksa. Ini memang bukan penyakit yang berat seperti HIV, tapi ini juga penyakit menular. Makanya aku memutuskan berhenti, karena aku sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya," ujar Ridwan.


"Huuu...ya sudah kalau memang mau berhenti. Yang sudah terkena penyakit menjijikan memang harus dibuang,"


Wanita parubaya itu kemudian melenggang pergi, yang membuat Ridwan bisa bernafas lega.


"Berbohong demi kebaikan tidak masalah bukan?" Ridwan terkekeh.


"Sekarang aku harus memikirkan, usaha apa yang akan aku jalani dengan uangku ini. Siapa ya yang bisa aku mintai masukan?" gumam Ridwan.


Saat Ridwan sedang asyik berpikir, tiba-tiba dia teringat akan sosok Dian yang baru dia temui satu kali.


"Apa aku telpon Dian aja ya! tapi kalau dia mikirnya aku modus sama dia gimana?" gumam Ridwan.


"Tapi terserah sih dia mikirnya bagaimana. yang penting, aku menemukan solusi yang tengah aku hadapi sekarang," gerutu Ridwan.


Ridwan kemudian membuat panggilan untuk Dian. Dian yang baru selesai mencuci pakaian, menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal.


"Hallo. Dian ya?" tanya Ridwan.


"Ya. Ini siapa?" tanya Dian.


"Aku Ridwan. Apa aku mengganggumu?" tanya Ridwan.


"Tidak juga. Apa ada yang bisa aku bantu mas." tanya Dian.


"Dian. Apa aku boleh minta pendapatmu? sekarang aku sedang pegang uang buat modal usaha sekitar 100 juta. Tapi aku tidak tahu, usaha apa yang bagus untuk uang segitu. Menurutmu aku buka usaha apa bagusnya?" tanya Ridwan.


"Kenapa tidak buka toko manisan saja mas. Atau buka counter ponsel, pulsa. Kalau sampeyan punya keahlian masak, sampeyan juga bisa buka usaha kuliner." Jawab Dian.


"Tapi kalau menurutmu, kalau kamu punya uang segitu, usaha apa yang ingin kamu buka Di?" tanya Ridwan.


"Toko manisan mas." Jawab Dian.


"Alasannya?" tanya Ridwan.


"Karena orang-orang pasti membutuhkannya tiap hari. Kalau pakaian, belum tentu orang beli seminggu sekali. Itu cuma menurutku aja loh mas," ujar Dian.


"Apa kamu punya kenalan orang-orang yang jualan sembako grosir gitu?" tanya Ridwan.


"Ada. Aku sengaja simpan, karena aku punya cita-cita jualan toko manisa juga. Kalau kamu mau aku kirim nomornya. Tapi sebaiknya temui dia langsung, biar enak pilih barangnya." Jawab Dian.


"Boleh deh. Ntar kirim ya Di! makasih banyak ya," ucap Ridwan.


"Sepertinya niat baik sampeyan di permudah mas. Semangat ya mas! jangan toleh lagi masa lalu, lanjut sana menatap masa depan," ujar Dian.


"Ini semua berkat kamu Di. Kalau saja kemarin kamu tidak menghalangiku, pastilah aku pikiranku nggak akan terbuka seperti sekarang ini. Pokoknya kalau toko manisannya jadi buka, kamu akan aku traktir makan sepuasnya Di," ucap Ridwan.


"Awas aja kalau bohong. Kapan lagi makan gratis, iya kan!" ujar Dian sembari terkekeh.


"Ya sudah aku tutup duku telponnya ya Di. Aku tak tulis dulu apa-apa yang mau dibeli. Kamu jangan lupa kirim nomor orang itu," ujar Ridwan.


"Iya mas." Jawab Dian.


Ridwan kemudian mengakhiri panggilan itu. Dian menghela nafasnya, saat panggilan itu sudah berakhir.


"Ridwan, Ridwan. Coba kamu berubahnya dari dulu. Sekarang Mia sudah jadi milik orang, barulah kamu mau sadar. Tapi nggak apalah, setidaknya dia punya niatan mau berubah. Tidak seperti mas Edi, sampai matipun tetap jadi pemabok," gumam Mia.


*****


Satu bulan kemudian....


Tring


Tring


Tring


"Ya mas?"


"Di. Aku sudah buka warung manisan selama dua minggu ini. Aku juga sudah punya karyawan satu," ujar Ridwan diseberang telpon.


"Alhamdulillah. Selamat ya mas! bagaimana tokonya mas? ramai?" tanya Dian.


"Alhamdulillah Di. Makasih loh berkat sarannya. Emm...apa besok kamu libur kerja?" tanya Ridwan.


"Besok aku libur mas. Ada apa?" tanya Dian.


"Aku mau traktir makan, sesuai janjiku waktu itu Di." Jawab Ridwan.


"Ya udah boleh deh mas," ujar Dian.


"Kamu kirjm alamat rumahmu ya! biar nanti aku jemput," ujar Ridwan.

__ADS_1


"Ya mas." Jawab Dian.


"Ya sudah besok jam 11 aku jemput kamu di rumah ya!" ujar Ridwan.


"Iya mas." Jawab Dian.


Dan sesuai perjanjian mereka, Dian dan Ridwanpun pergi makan berdua disalah satu rumah makan terkenal.


"Kamu boleh makan sepuasnya Di," ucap Ridwan.


"Sepertinya penghasilan tokomu lumayan juga mas," ujar Dian.


"Ya. Aku sangat bersyukur Di," ujar Ridwan.


"Jangan lupa sisihkan untuk di tabung tiap bulan. Meski ndak ada hubungan apapun lagi sama ibunya, tapi anak-anakmu tetap diberi nafkah mas," ujar Dian.


"Aku malu Di," ucap Ridwan.


"Kalau untuk kasih nafkah ndak perlu malu mas, justru kalau sampeyan ndak ingat sama sekali itu akan memalukan mas. Sampeyan bisa ndak diingat sama anak-anak sampeyan dimasa tua nanti," ujar Dian.


"Apa Mia masih kerja di pabrik?" tanya Ridwan.


"Ndak lagi mas. Suaminya melarang dia kerja. Suaminya kan orang sugeh mas. Jadi hidup Mia sekarang sudah makmur, ndak susah lagi." Jawab Dian.


"Yah. Aku tahu Suryo memang kaya raya. Sudah sepantasnya Mia mendapatkan kebahagiaan setelah menderita selama ini," ujar Ridwan.


"Kenapa sampeyan ndak coba rujuk sama Lastri atau nikahi si Indah?" tanya Dian.


"Selain tidak direstui orang tua mereka, aku juga nggak cinta sama mereka." Jawab Ridwan.


"Loh kok bisa sih mas?" tanya Dian.


"Itu karena aku cuma nafsu aja sama mereka. Cintaku tetap untuk Mia. Sekarang aku sudah kehilangan cintaku, tapi bukan berarti aku mau kembali pada Lastri dan Indah. Masa depan mereka masih sangat panjang, mereka masih bisa menemukan kebahagiaan meskipun tidak bersamaku." Jawab Ridwan.


"Hah. Ya sudahlah kalau itu sudah keputusan sampeyan. Mau bagaimana lagi, soal perasaan memang tidak bisa dipaksakan," ujar Dian.


"Kamu sendiri nggak mau nikah lagi?" tanya Ridwan.


"Ndak tahulah mas. Sekarang aku cuma fokus ngurus anakku. Anakku juga sudah punya dua. Kalau punya suami lagi belum tentu suami baruku sayang sama anak-anakku. Tahu sendirilah bapak tiri jaman sekarang. Jadi aku ndak mikir buat nikah lagi, meskipun aku masih menginginkannya." Jawab Dian.


"Bagaimana kalau bapak anak-anakmu itu aku Di?" tanya Ridwan.


Bruaaaaarrrr


Makanan yang berada di dalam mulut Dian menyembur seketika dari mulutnya. Ucapan tak terduga dari Ridwan membuatnya terkejut.


"Ngawur aja kalau ngomong sampeyan itu mas," ucap Dian yang membuat Ridwan terkekeh.


"Segitunya Di kamu nggak mau sama aku.Sampai makanan kamu semburin keluar. Kenapa Di? pasti karena masa laluku sangat menjijikan ya? sepertinya orang sepertiku memang tidak pantas dicintai ya!" ujar Ridwan.


"Eh? bu-bukan gitu mas. Rasanya aneh aja kalau aku punya hubungan dengan mantan suami temanku. Kalau soal masa lalu sampeyan sama aja kayak mas Suryo. Tapi dia bisa berubah. Aku yakin sampeyan juga bisa gitu," ujar Dian.


"Nikah yuk Di?" tanya Ridwan yang membuat mata Dian jadi melotot.


"Loh kenapa Di? kami kan sudah ndak punya hubungan apa-apa lagi. Sebenarnya bukan itu yang kamu takutkan kan? kamu takut aku main perempuan lagi kan?" tanya Ridwan.


"Eh?"


"Kamu jangan khawatir Di. Nanti semua aset penghasilan aku berikan semuanya dan aku balik atas namamu. Kalau aku macam-macam, kamu bisa membuatku kere dalam semalam," ujar Ridwan


"Aduh...maaf ya mas. Tapi kayaknya aku nggak bisa kalau tiba-tiba begini. Rasanya aneh aja. kamu juga ndak punya rasa cinta sama aku toh? aku juga gitu mas. Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu ndak mau nikah tanpa cinta," ujar Dian.


"Tapi kamu beda Di. Aku yakin kalau kita sudah serumah, lambat laun kita bisa saling mencintai," ucapan Ridwan malah ditertawakan oleh Dian, namun itu membuat Ridwan jadi bersedih.


"Eh? emmm...maaf ya mas! aku ndak bermaksud menyinggung sampeyan kok," ucap Dian.


"Ternyata kalau kita punya masa lalu yang buruk, sangat sulit diterima dengan baik ya. Yah....mau bagaimana lagi. Mungkin aku harus lebih berjuang lagi. Tapi Di, apa kamu mau memberiku kesempatan untuk mendekatimu? aku janji akan berubah jadi lebih baik lagi Di," tanya Ridwan.


"Emm...bagaimana ya mas? kalalu aku bilang ndak mau, aku kok kesannya sombong sekali. Tapi kalau aku bilang mau, tapi aku ndak enak sama Mia mas." Jawab Dian.


"Apa kita perlu izin berdua sama Mia?" tanya Ridwan.


"Eh? ndak usah mas. Tolong kasih aku waktu ya mas. Omongan sampeyan terlalu tiba-tiba soalnya," ujat Dian.


"Oke. Ya sudah lanjut lagi makannya. Terus nanti jangan lupa bungkus juga untuk anak-anak," ujar Ridwan.


"Makasih mas," ucap Ridwan.


Setelah makan siang bersama, dan juga membungkus makanan. Dianpun diantar pulang oleh Ridwan . Setelah sampai di rumah, Dian tidak tahan untuk tidak menghubungi Mia. Sementara Mia tengah lemas saat ini, karena dirinya dinyatakan hamil 4 minggu oleh dokter.


"Hallo Di," sapa Mia.


"Kok lemes banget Mi? baru sudah ya?" tanya Dian sembari terkekeh.


"Sudah apaan Di? aku baru habis muntah ini. Soalnya aku lagi hamil." Jawab Mia.


"Busyettt...tokcer juga mas Suryo," ujar Dian terkekeh.


"Kamu ada perlu apa nelpon Di?" tanya Mia.


"Emm...Mi. Sebenarnya satu bulan terakhir ini aku sedang dekat sama mas Ridwan mantan suami kamu. Menurutmu bagaimana Mi? dia ngajakin aku nikah," tanya Dian.


"Waduh...aku ndak bisa komentar apa-apa Di. Soalnya aku ndak tahu apa dia sudah berubah atau belum. Lagian kamu kok bisa dekat sama dia? bukannya aku mau menjelekan mas Ridwan, tapi kamu tahu sendiri masa lalu dia gimana. Kalau soal kata rayuan, gombalan, dia itu jagonya Di. Aku nggak mau kamu nyesel kalau sudah nikah sama Dia. Terlebih kerjaannya sekarang jadi gigolo," ujar Mia.


"Dia ndak gitu lagi Mi. Sekarang dia sudah buka usaha toko manisan. Dia sudah berubah jadi orang yang lebih baik lagi," ujar Dian.


"Sepertinya kamu sekarang juga sudah punya hati sama dia. Pokoknya aku sudah peringatin kamu ya Di. Kamu jangan nyesel loh kalau kamu sakit hati kedepannya nanti. Kamu harus siap mental," ujar Mia.


"Jadi kamu benar ndak apa-apa nih?" tanya Dian.


"Ya ndak apa-apa toh. Aku kan ndak punya hubungan apa-apa juga sama mas Ridwan. Tapi ya itu, kamu kalau ngerasa sudah ada yang ndak beres jangan kasih waktu lama-lama. Sekarang kecap aja kebahagian sebanyak apapun yang kamu dapatkan dari dia diawal-awal ini." Jawab Mia.


"Kamu tenang aja, dia ndak akan berani. Soalnya dia juga sudah tahu soal aku yang sudah membunuh suamiku," ujar Dian.

__ADS_1


"Apa? bagaimana kalau itu dia jadikan senjata buat nyakitin kamu dikemudian hari Di?" tanya Mia.


"Kalau dia pengangguran mungkin aku takut Mi. Tapi sekarang dia sudah punya usaha. Ya sudahlah Mi, aku juga pengen bahagia. Jalani sajalah gimana kedepannya. Aku juga mau pikir-pikir juga," ujar Dian.


"Ya sudah. Aku do'akan kamu terus. Mungkin ini sudah saatnya kita bertiga mengecap kebahagiaan setelah kita bertiga puas menderita. Mungkin sudah saatnya keadilan tegak untuk kita Di," ujar Mia.


"Kamu benar Mi. Ya sudah ya Mi, aku mau merenung dulu," ujar Dian sembari terkekeh.


"Lagak kamu Di. Apa lagi yang mau di renungkan. Sikat ajalah, kalau kamu sudah ndak tahan lagi," ujar Mia sembari terkekeh.


"Cangkemmu Mi. Kalau ngomong suka bener," ucap Dian yang juga ikut terkekeh.


****


Dua minggu kemudian....


"Lagi apa?" tanya Ridwan.


"Baru mau masak mas." Jawab Dian lewat sambungan telpon.


Sejak ungkapan perasaan Ridwan waktu itu, Ridwan dan Mia semakin dekat. Mereka juga jadi sering bertelpon Ria.


"Kamu libur lagi hari ini?" tanya Ridwan.


"Ndak sih. Aku masuk malam. Gimana toko kamu mas? apa makin ramai?" tanya Dian.


"Iya. Aku bersyukur banget buka usaha ini. Kamu kesini dong. Kamu bantuin aku sekali-kali," ujar Ridwan.


"Eh? tapi aku mau masak dulu buat anak-anak mas. Ini hari minggu, anakku yang paling besar bisa jagain adiknya." Jawab Dian.


"Ya sudah masak sana. Habis itu kesini ya!" ujar Ridwan.


"I-Iya." Jawab Dian.


Dian dan Ridwan mengakhiri panggilan itu. Dian bergegas memasak, dan segera menemui Ridwan setelahnya. Benar apa yang dikatakan Ridwan, kalau tokonya sangat ramai pembeli. Toko Ridwan memang lumayan besar, dan harganyapun bisa untuk dijual lagi.


"Ya ampun mas. Ini super rame banget sih," ujar Dian.


"Makanya kamu cepat jadi istriku, agar kamu bisa ngatur keuanganku," ucap Ridwan yang membuat Dian Jadi tersipu.


"Masuk yuk!" ujar Ridwan.


"Kemana mas? emang ini ndak apa tokonya di tinggal?" tanya Dian.


"Ndak apa. Ini karyawanku bisa dipercaya semua. Lagipula disini sudah ada cctvnya." Jawab Ridwan.


Baru saja mereka hendak melangkah masuk, 4 orang tamu datang menghampiri sembari cekcok.


"Lastri, Indah. Kalian kenapa kesini?" tanya Ridwan.


Ridwan menatap kedua orang tua Lastri dan Indah, yang selama ini selalu menentang dirinya untuk menikahi putri-putri mereka.


"Mas. Bulan depan aku lahiran, aku ndak mau lahiran tanpa kamu mas. Kasihan anak kita," ujar Indah sembari memeluk Ridwan.


Ridwan melirik kearah orang-orang yang melihat kearahnya.


"Ya sudah kita masuk semua saja. Malu dilihatin orang," ujar Ridwan.


Merekapun memutuskan masuk kedalam rumah Ridwan, untuk berdiskusi disana.


"Ini sebenarnya ada apa? kenapa kalian tiba-tiba datang?" tanya Ridwan.


"Sekarang kamu kan sudah punya banyak duit. Ibu kasih restu kalau kamu mau menikah sama si Indah," ujar Ibu Indah.


"Tidak bisa gitu dong. Itu resiko Indah yang merebut suamiku waktu itu. Mas Ridwan itu cinta sama aku," ujar Lastri.


"Lastri benar. Ridwan, buk'e minta maaf karena waktu itu sudah memisahkan kamu sama Lastri. Itu karena kamu belum ada penghasilan. Sekarang sudah beda, kamu sudah ada banyak uang. Anak kamu pastk bisa kamu nafkahi,"


"Aku mohon pilih aku aja mas. Kasihan anakku lahir tanpa status. Aku mau kok meski jadi istri keduamu mas," ujar Indah.


Nyuuutttt


Entah kenapa Dian merasakan sakit didadanya. Dian juga merasa tidak senang mendengar ucapan kedua wanita belia itu. Tanpa Dian tahu, Ridwan memperhatikan mimik wajahnya yang mendung, juga tangannya yang saling meremas satu sama lain.


"Terus ini siapa mas? kamu lagi dekat dengan wanita tua ini?" tanya Lastri.


Ucapan Lastri membuat Dian melotot dan tersinggung.


"Jaga mulut kamu bocah gatal!" hardik Dian.


"Opo maksud sampeyan bilang begitu?" tanya Lastri yang tiba-tiba berdiri.


"Kalau bukan gatal, apa namanya? masih kecil sudah pintar menggoda suami orang, sampai hamil lagi. Sama nih, dengan bocah ini. Kalian itu masih ingusan!" ucap Dian.


"Dian mengingatkan aku dengan Mia. Pantas saja mereka berteman akrab, itu karena mereka cocok," batin Ridwan.


"Aku serahkan semua keputusannya sama Dian," ujar Ridwan.


"A-Aku?" tanya Dian.


"Dian adalah calon istriku. Kalau dia ingin mempertahankan aku, maka aku akan menikahi dia. Tapi kalau dia tidak mau menikah denganku karena masa lalu burukku, maka aku akan memilih salah satu dari kalian," ujar Ridwan.


"Duh...bagaimana ini. Kenapa mas Ridwan memberikan pilihan yang sulit buat aku," batin Dian.


"Sudahlah mbak Dian. Sampeyan cari yang lain aja. Ini ada anak yang butuh pengakuan bapaknya," ujar Indah.


"Tapi aku ndak mau. Salahmu sendiri ganjen, jadi terima saja resikonya," ucap Dian yang membuat Ridwan jadi tersenyum.


"Kalian sudah dengar bukan? kalian tidak perlu khawatir, anak-anak tetap aku nafkahi. Aku janji akan memberikan uang bulanan untuk anak-anak. Kalian masih muda, masih bisa cari pria yang lebih kaya. Sekali lagi aku minta maaf, karena sudah mengecewakan kalian," ujar Ridwan.


"Sekarang kalian silahkan pergi! nggak enak kalau jadi pusat perhatian orang," sambung Ridwan.


Indah, Lastri, dan kedia orang tuanya segera pergi dari rumah Ridwan, setekah pria itu memberikan sejumlah uang.

__ADS_1


__ADS_2