
Dua hari kemudian....
"Ya hallo," Aditia berpura-pura menerima sebuah telpon saat Arinda baru akan berangkat bekerja.
"Iya pak saya Aditia."
"Yang benar pak?"
"Oke saya akan datang menemui pihak HRD."
"Selamat pagi." Aditia berpura-pura menutup telpon dan berjingkrak-jingkrak kesenangan.
"Telpon dari siapa mas?" tanya Arinda.
"HRD perusahan tempat aku melamar tempo hari. Kata mereka hari ini aku di suruh ke kantor untuk membicarakan kontrak. Dengan kata lain aku di terima bekerja disana." Jawab Aditia.
"Yang benar mas?" tanya Arinda semringah.
"Ya. Sekarang aku harus bersiap-siap kesana. Karena jam 11 aku akan tanda tangan kontrak. Tapi masalahnya kita tidak punya motor bukan?" tanya Aditia dengan wajah memelas.
Arinda kemudian mengambil uang simpanannya, dan memberikannya pada Aditia.
"Ini ada uang sekitar 8 juta. Uang pendidikkan anak-anak kita nanti. Sekarang mas Adit bisa antar aku bekerja. Mas bisa pakai motorku pergi ke perusahaan itu. Setelah dari sana, mas bisa cari motor bekas dengan uang ini," ujar Arinda sembari tersenyum.
Greppp
Aditia memeluk Arinda dengan erat.
"Makasih ya sayang atas pengertianmu. Aku mencintaimu," ucap Aditia.
"Ya sudah ayo antar aku bekerja. Sebentar lagi akan mulai masuk," ujar Arinda.
"Baiklah," ucap Aditia sembari meraih jaket yang tersangkut di paku.
Arindapun diantar bekerja oleh Aditia. Tanpa Arinda sadari Dante melihat dirinya, saat berpapasan di jalan. Setelah mengantar Arinda, Aditia benar-benar pergi. Bukan pergi untuk menemui HRD seperti yang dia katakan, tapi dia pergi mencari motor bekas. Dan pada pukul 3 sore barulah dia pulang, dengan diiringi oleh sebuah mobil pick up yang mengantar motornya.
"Loh. Beli motor baru toh?" tanya Fatimah saat Aditia dan pemilik showroom motor bekas, menurunkan motor itu dari mobil pick up.
"Motor bekas pakai buk'e. Besok aku mulai masuk kerja. Jadi butuh kendaraan buat pergi kesana." Jawab Aditia.
"Jadi kamu diterima kerja Le?" tanya Fatimah.
"Iya buk'e. Berkat do'a buk'e, jadi Adit bisa diterima kerja." Jawab Aditia.
"Alhamdulillah ya Allah...buk'e seneng sekali dengernya. Kalau begitu buk'e mau masak yang enak buat makan malam kita nanti," ujar Fatimah sembari pergi menuju dapur.
Dan tepat pada pukul 5 sore, Arinda pulang dari bekerja. Sebuah motor berwana merah, sudah bertengger di teras rumahnya.
"Ini motor barunya mas?" tanya Arinda pada Aditia yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Iya. Bagus kan?" tanya Aditia.
__ADS_1
"Iya. Berapa harganya?" tanya Arinda.
"Tadinya dia minta harga 9 juta. Tapi aku tawar 7 juta nggak mau. Jadi harga pasnya 8 juta." Jawab Aditia.
"Apa uang dariku pas?" tanya Arinda.
"Lebih 100 ribu. Aku pakai buat beli bensin, makan, materai, dan lain-lain." Jawab Aditia yang sebenarnya tengah berdusta itu. Motor itu dia beli dengan harga 6 juta saja.
"Jadi sampeyan benar-benar diterima mas?" tanya Arinda sembari menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi.
"Ya. Tapi ada sedikit kesalahan informasi ternyata." Jawab Aditia.
"Kesalahan apa?" tanya Arinda.
"Ternyata gajinya bukan 7 juta, tapi 5 juta." Jawab Aditia.
"Ya ampun mas, yo ndak apa-apa. 5 juta juga sudah besar mas. Aku seneng deh, mas sudah mulai kerja lagi," ujar Aditia.
"Apa dengan begitu kamu nggak nolak lagi kalau aku minta di layani?" tanya Aditia.
"Eh?" Arinda kebingungan.
"Kenapa? masih nggak mau juga? kalau begitu buat apa aku kerja. Kebutuhan biologis juga penting, agar kerjaku konsen. Jadi buat apa aku punya istri kalau nggak bisa aku pakai? jangan salahkan aku kalau uang gajiku kupakai buat beli lo*te di luar sana," ujar Aditia .
"Sampeyan kalau ngomong jangan ngawur toh mas. Kamu juga selama ini harus sadar kenapa aku bersikap seperti itu. Aku itu capek sendirian. Pagi, siang, malam, ndak ada istirahatnya. Tidur cuma sedanya, dan sampeyan masih buat aku bekerja keras untuk melayani nafsu sampeyan yang ndak terukur itu," ujar Arinda.
"Ya sudah tapi sekarang kan aku sudah kerja. Apa kamu nggak mau kasih service yang bagus buat suamimu?" tanya Aditia.
"Ah...sekalinya kamu mau, tapi malah dapat tamu," gerutu Aditia.
"Ya sudah aku tak mandi dulu. Motornya masukan saja. Takut di gondol maling, bentar lagi magrib," ujar Arinda.
"Ya." Jawab Aditia.
*****
Tiga hari kemudian....
"Aku berangkat kerja dulu buk'e," ujar Arinda
"Loh. Kamu masuk siang lagi toh?" tanya Fatimah.
"Iya buk'e." Jawab Arinda sembari mencium tangan Fatimah.
Arinda lagi-lagi berbohong, karena saat ini dia sedang ingin menemui Dante. Hari ini adalah hari minggu, Dante sedang berada di dapur untuk memasak makan siang.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Ceklek
"Mas," sapa Arinda dengan tersenyum manis. Namun Dante membalasnya dengan wajah datar dan masam.
"Mas kenapa?" tanya Arinda sembari mengekor di belakang Dante setelah menutup pintu.
Dante tidak menjawab pertanyaan Arinda, sebagai gantinya pria itu membolak balik masakan yang tengah berada diatas kompor.
"Mas lagi masak? sepertinya enak," tanya Arinda namun tetap dicueki Dante.
Tap
Arinda mencekal tangan Dante, dan membuat tubuh tegap itu berbalik menghadapnya.
"Mas kenapa? apa mas marah sama aku? atau mas n-ndak kangen sama aku lagi?" tanya Arinda dengan wajah tertunduk.
"Apa Aditia tiap hari mengantarmu bekerja? apa sekarang hubungan kalian sudah membaik?" tanya Dante.
"Mas Adit ndak nganter aku kerja, aku pergi sendiri." Jawab Arinda.
"Tapi tiga hari yang lalu aku melihatmu berboncengan dengannya. Dia pasti ingin mengantarmu bekerja kan?" tanya Dante.
"Oh tiga hari yang lalu mas Adit memang ngantar aku kerja. Itu karena dia mau pinjam motor buat datang ke perusahaan yang menerimanya bekerja sebagai staf disana." Jawab Arinda
"Jadi sekarang dia sudah kerja?" tanya Dante
"Ya. Sudah 3 hari ini." Jawab Arinda.
"Berarti hubunganmu dengannya sudah baik bukan? a-apa kamu sudah tidur dengannya?" tanya Dante dengan wajah murung.
Greppppp
Arinda mengalungkan kedua tangannya di leher Dante.
"Mas Dante cemburu ya?" tanya Arinda sembari menaik turunkan alisnya.
Dante melepaskan tangan Arinda dari lehernya dan kemudian mematikan kompor.
"Ckk...sudah tahu pakai nanya," geruru Dante yang masih bisa di dengar oleh Arinda.
Arinda mengekor dibelakang pria itu, yang hendak pergi ke kamar.
Tap
Arinda kembali mencekal tangan Dande dan kemudian masuk kedalam pelukkan pria itu.
"Aku mohon sampeyan jangan cuekin aku mas. Perasaanku ndak berubah, meski mas Adit sudah bekerja. Aku sudah terlanjur cinta dan sayang karo sampeyan. Perasaanku ndak mungkin berubah secepat itu hanya karena uang," ujar Arinda.
"Maaf Arinda. Mungkin aku kedengarannya seperti ingin memonopolimu. Tapi tidak ada pria yang rela, kalau orang yang dia cintai berbagi ranjang dengan pria lain," ujar Dante.
"Haidku memang sudah selesai kemarin, tapi mas Adit belum menyentuhku," ujar Arinda.
__ADS_1
Senyum Dante mengembang saat mendengar ucapan Arinda. Diapun membalas pelukkan hangat kekasihnya itu.