
Ceklek
Ceklek
Dante mengunci pintu rumah Arinda, saat Mia sudah pergi dari rumah itu. Pria itu menyusul Arinda ke kamar, dan melihat kekasihnya itu tengah memasukan beberapa lembar pakaian kedalam sebuah tas.
Ceklek
Ceklek
Dante mengunci kamar itu, dan menyimpan kuncinya di dalam saku celana.
"Kamu mau kemana?" tanya Dante.
"Kemana aja asal ndak lihat wajah penipu, pembohong sepertimu." Jawab Arinda dengan ketus dan tanpa melihat kearah wajah Dante.
"Sayang. Dengarkan dulu penjelasanku," ujar Dante yang kemudian meraih kedua tangan Arinda.
"Lepasin aku mas! ndak perlu sampeyan menjelaskan apa-apa lagi. Bagiku semuanya sudah jelas. Sampeyan sudah berhasil menyakiti aku mas. Tak ucapkan selamat karo sampeyan. Sampeyan ndak salah apa-apa disini, aku yang salah karena mudah di bodohi dan murahan," air mata Arinda sudah merebak membasahi wajahnya.
"Hussstt...sayang...kita bicara baik-baik ya! please jangan nangis. Aku nggak bisa melihatmu menangis," ucap Dante sembari berusaha ingin memeluk Arinda.
"Jagan sentuh aku!" teriak Arinda namun Dante tidak memperdulikan ucapan Arinda. Dia masih berusaha ingin memeluk Arinda.
Plakkkkk
Arinda menampar Dante dengan sangat keras, hingga wajah pria itu tertoleh kesamping. Tangan dan bibir Arinda bergetar, setelah melakukan hal itu. Namun bukannya marah atau menyerah, Dante malah membawa Arinda kedalam pelukannya.
"Lepasin aku mas! lepasin aku! sampeyan jahat sama aku. Hiks...." Arinda terisak dalam pelukan Dante.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
Dante semakin mengeratkan pelukannya, dan tidak ingin melepaskan pelukannya meskipun Arinda memukuli dadanya. Karena lelah, Arinda pasrah sendiri. Setelah tangis Arinda reda, barulah Dante melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kita bicara ya sayang!" ucap Dante, namun Arinda memalingkan wajahnya sembari menyeka sisa air matanya.
Dante menarik tangan Arinda, dan membuatnya duduk di tepi tempat tidur. Sementara Dante memilih berlutut dibawah kaki Arinda sembari menggenggam kedua tangan kekasihnya itu.
"Hari dimana aku pulang ke padang, ternyata aku sudah di tipu kedua orang tuaku. Saat aku tiba disana, ternyata mereka sudah menyiapkan pernikahan untukku. Aku sudah berusaha menolak, dan mengatakan kalau aku sudah punya kekasih. Merekapun menantangku agar membawa kekasihku, dan menikahkan kami. Tapi tentu saja aku tidak bisa membuktikannya, karena kamu belum bercerai dari Aditia. Mereka menganggap aku berbohong, dan mengancam akan mengakhiri hidup mereka kalau sampai aku tidak mau menikahi gadis itu."
"Tentu saja aku sangat dilema saat itu. Melihat tenda, pelaminan sudah terpasang. Melihat orang-orang sudah ramai masak-masak di rumah, tentu akan mempermalukan papa mama kalau sampai pernikahan itu batal. Katakan sayang! bagaimana aku harus bersikap, saat menghadapi situasi seperti itu?" tanya Dante.
"Aku memang bersalah, tapi wanita yang ada di hatiku tetap hanya kamu," sambung Dante.
"Kamu sudah punya istri, tapi kenapa kamu bercinta denganku juga? apa aku ini benar-benar cuma dijadikan pelampiasan hasrat sampeyan saja?" tanya Arinda dengan emosional.
"Selama 6 bulan menikah, aku sama sekali belum menyentuhnya." Jawab Dante.
"Omong kosong. Aku ndak percaya mas. Sampeyan itu nafsunya sangat besar, ndak mungkin lihat perempuan cantik, seksi, dalam satu kamar ndak nafsu. Aku ndak akan percaya sampeyan lagi," ujar Arinda.
"Aku berani bersumpah, demi anakku dalam kandunganmu," ucap Dante yang membuat Arinda terkejut.
"Eh? sam-sampeyan tahu darimana?" tanya Arinda.
"Tidak penting tahu darimana, yang pasti aku sangat bahagia saat tahu kamu mengandung buah cinta kita. Aku sungguh-sungguh tidak pernah menyentuh dia. Bahkan kami berada di kamar yang terpisah."
"Setelah menikah kami sepakat akan mengakhiri pernikahan ini setelah satu tahun, atau sampai kamu bercerai dengan Aditia. Tapi diperjalanan menungggu hal itu, dia ternyata menaruh hati padaku dan berusaha menggodaku. Itulah disetiap ada kesempatan aku ingin mengajakmu bertemu dan bercinta. Aku tidak mau godaannya malah membuatku mengkhianati cinta kita," ujar Dante.
Arinda menatap mata Dante, untuk mencari kejujuran disana. Namun sialnya Arinda tidak menemukan kebohongan sama sekali.
"Lalu sampeyan mau bagaimana mas. Sampeyan menginginkan keduanya toh? aku ndak mau mas. Lebih baik aku mundur saja. Aku akan lepasin sampeyan buat dia," ujar Arinda.
"Bodoh. Jadi kamu mau membuat anak kita lahir tanpa seorang ayah?" tanya Dante.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku minder mas. Aku ini janda, sementara dia gadis ting-ting. Dia belum pernah melahirkan, bodynya pasti kencang dan menggairahkan buat sampeyan." Jawab Arinda dengan wajah tertunduk.
"Aku sudah mentalak dia. Sekarang dia sudah pulang ke Padang." Jawab Dante yang membuat Arinda menatap Dante kembali.
Dante kemudian berdiri, dan duduk di samping Arinda.
"Lagipula siapa bilang kamu sudah tidak kencang lagi? kamu masih sangat menggairahkan dan menggigit," bisik Dante dengan sensual.
"Apaan sih mas," Arinda tersipu.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya sayang. Tanpa sadar aku sudah membuatmu terluka. Tapi aku benar-benar tidak bermaksud mengkhianatimu. Sekarang tugas kita adalah, sama-sama mengurus perceraian kita dan setelah masa iddahmu berakhir, kita akan langsung menikah," ujar Dante.
Grepppp
Arinda berhambur kedalam pelukan Dante.
"Aku mohon jangan kecewakan aku lagi mas. Aku ndak punya siapa-siapa lagi selain sampeyan," ucap Arinda.
"Tidak akan sayang. Ini yang pertama dan terakhir kalinya aku membuatmu menangis," ujar Dante.
"Tapi mas...."
"Ada apa?" tanya Dante.
"Bagaimana dengan orang tua sampeyan?" tanya Arinda.
"Mereka harus mengerti, dan mau tak mau harus menerimamu. Pokoknya nanti kita hadapi sama-sama ya!" ujar Dante.
"Oh ya. Bagaimana keadaan anak kita?" tanya Dante.
"Apa mas sungguh percaya kalau ini anak sampeyan?" tanya Arinda.
"Mbak Mia sudah menjelaskan segalanya. Jadi aku sama sekali tidak meragukannya." Jawab Dante, yang membuat Arinda jadi tersenyum.
"Makasih ya mas karena sampeyan percaya sama aku. Sekarang anak-anak kita berusia 10 minggu. Tadi aku dan mbak Mia sudah USG ke dokter," ujar Arinda.
"Anak-Anak?" tanya Dante.
"Emm. Mereka kembar mas." Jawab Arinda dengan semringah.
"Sungguh?" tanya Dante antusias.
"Ya. Mungkin Tuhan ingin menggantikan anak-anakmu yang sudah tiada mas." Jawab Arinda.
"Yes. Yey...anakku kembar," Dante berteriak gembira.
"Sayang. Apa boleh papa menjenguk kalian?" tanya Dante sembari mengelus perut Arinda, namun matanya mengedip kearah Arinda.
"Ih...mas Dante pinter banget modusnya," ucap Arinda.
__ADS_1
"Modus apa nggak, yang pasti aku mau jenguk anak kita," ujar Dante sembari menanggalkan pakaiannya satu persatu.
Tentu saja Arinda tidak bisa menolak, dan kembali melayani ayah dari calon anak-anaknya itu. Dan lagi-lagi dosa itu kembali terulang untuk yang kesekian kalinya.