SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.37. Rindu Setengah Mati


__ADS_3

Tiga hari kemudian....


"Wajahmu itu, mangga muda aja kalah kecutnya Rin," ujar Dian saat melihat Arinda tiga hari ini sangat murung.


"Aku rindu setengah mati sama mas Dante mbak. Kok bisa dia tahan ndak menghubungi aku selama seminggu. Aku baru berapa hari aja, chatku mungkin sudah ada puluhan di ponselnya," ujar Arinda.


"Sebaiknya ini jadikan kesempatan buat kamu untuk mengurangi perasaanmu sama dia. Kamu terlalu main hati sama dia, jadi seperti sukar buat melepaskan dia. Begitulah kalau pacaran terlalu terburu-buru berhubungan badan. Jadi Dante sudah keburu bosan duluan," ujar Dian.


"Kok sampeyan gitu mbak ngomongnya? aku jadi tambah sedih ini. Aku sangat takut kehilangan mas Dante mbak," ujar Arinda.


"Hah. Jadi mesti gimana aku ngomongnya. Aku ngomongnya memang pahit Rin, tapi itu semua demi kebaikanmu," ujar Dian.


Arinda terdiam. Sebenarnya dia juga menyadari, kalau apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar adanya. Tapi Tetap saja Arinda merasa tidak terima, itu karena perasaannya terhadap Dante sudah terlalu dalam.


Dan perasaan dilema yang dirasakan Arinda musnah seketika, disaat hari ke 7 kepergian Dante, pria itu menghubunginya karena ingin bertemu.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Mas,"


Brukkkk


Arinda langsung berhambur kepelukkan Dante, dengan air mata yang sudah merebak. Namun tak ada waktu bagi Dante untuk memperhatikan tangisan kekasihnya itu, karena rindu yang terlalu membuncah didadanya sudah tidak tertahankan.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Dante langsung menggendong Arinda menuju kamarnya. Dan jangan ditanya apa yang terjadi selanjutnya, karena mereka sudah sama-sama menjadikan tubuh mereka sebagai landasan pacu.


"Ahh...sayang. Aku mencintaimu," ucap Dante.


"Ah...mas...." Arinda dan Dante mengerang bersamaan.


Hosh


Hosh


Hosh


"Aku sangat kangen karo sampeyan mas. Kenapa sampeyan benar-benar ndak mau menghubungiku. Aku benar-benar khawatir sampeyan ninggalin aku," ucap Arinda sembari masuk dalam dekapan Dante.


"Jangan berpikir berlebihan. Oh ya, aku ada sesuatu buat kamu," ujar Dante yang kemudian beranjak dari tempat tidur dengan tubuh telanjangnya.

__ADS_1


Pria itu tampak mengambil sesuatu dari saku celananya, yang ternyata sebuah cincin emas putih dan ada inisial namanya dan juga Arinda.


"Apa ini mas?" tanya Arinda yang langsung duduk, sembari menahan selimut di dadanya


"Aku memesan cincin emas putih. Didalamnya ada inisial nama kita." Jawab Dante sembari memasangkannya pada jari Arinda.


"Ah...bagusnya. Makasih ya sayang," ucap Arinda.


Cup


Dante mencium kening Arinda cukup lama.


"Bagaimana keadaan mama mas? apa beliau sudah sehat?" tanya Arinda.


"Ya." Jawab Dante singkat.


"Syukurlah. Jadi sampeyan bisa bekerja dengan tenang. Oh ya aku ndak pernah tahu, sebenarnya sampeyan itu kerja dimana mas?" tanya Arinda.


"Nggak penting kerja dimana, yang penting uangnya halal." Jawab Dante yang seolah berteka-teki.


"Sayang. Mungkin ini pertemuan terakhir kita di rumah ini," sambung Dante.


"Apa maksud sampeyan mas?" tanya Arinda.


"Ada tetangga yang protes, karena aku sering memasukan perempuan dalam rumah tanpa ada ikatan pernikahan. Aku takut saat sudah diperingatkan tapi kita tidak memperdulikannya, maka kita akan di grebek. Tahu sendiri kalau sudah begitu, kita akan Viral dan dipermalukan. Iya kan?" ujar Dante.


Tap


Dante mencekal tangan Arinda yang hendak buru-buru pergi.


"Tidak untuk hari ini sayang. Aku masih sangat merindukanmu," ujar Dante.


"Tapi mas...."


"Kalau untuk hari ini aku bisa mengurusnya," ujar Dante yang kemudian kembali mencumbu Arinda.


Dan untuk selanjutnya mereka kembali mengulangi perbuatan itu hingga berkali-kali.


"Jadi bagaimana caranya kita bertemu mas?" tanya Arinda sembari bermain diatas dada bidang Dante.


"Nanti akan aku atur." Jawab Dante.


"Jadi ini hari terakhir aku bisa main ke rumahmu ya mas?" tanya Arinda.


"Tidak juga. Kecuali kalau kamu mau jadi istriku, tentu saja bisa." Jawab Dante yang membuat Arinda jadi mencubit dada pria itu.

__ADS_1


"Aku ngantuk mas," ucap Arinda.


"Padahal aku mau lagi," ujar Dante terkekeh.


"Mau lagi apanya? apa tenaga sampeyan itu kuda? kita sudah mengulangnya 4 kali'e. Sampai gemetar ini kakiku," ujar Arinda.


"Itu tandanya kekasihmu ini sangatlah perkasa. Kamu juga suka kan?" tanya Dante yang membuat Arinda merona.


"Sudahlah ndak usah ngomong ngawur lagi. Mataku sudah ndak tahan lagi ini," ujar Arinda yang semakin mengeratkan pelukkannya.


Siang itu mereka tidur dengan nyaman sembari berpelukakan, dan pada pukul 4 sore barulah mereka terbangun kembali.


Arinda bergegas menuju kamar mandi karena ingin membersihkan diri. Namun saat sedang menikmati air shower yang sedang menyirami tubuhnya, dua tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Tidak hanya itu, tangan Dante begitu cepat tidak bisa dikendalikan lagi yang membuat Arinda melenguh kembali.


Dante dan Arinda kembali mengulangi sekali lagi perbuatan mereka, sebelum Arinda benar-benar pulang. Dan setelah percintaan itu usai, Arinda bergegas mandi dan berpakaian.


"Ampun tenan aku karo sampeyan mas. Awakku nganti remuk iki," ucap Arinda yang sama sekali tidak Dante mengerti.


"Ngomong apa sih yank? kamu mau lagi?" tanya Dante.


"Lagi apanya? sampeyan mau buat aku jalannya ngangkang?" tanya Arinda yang membuat Dante tertawa keras.


"Aku pulang dulu ya mas. Aku bilangnya shif pagi, jadi ini memang waktunya jam aku pulang," ujar Arinda sembari meraih tas selempangnya.


Cup


"Hati-Hati ya sayang. I love you," ucap Dante setelah mencium bibir Arinda sekilas.


"I love you too mas," ucap Arinda.


Dante memandang punggung Arinda yang semakin lama semakin menjauh, dengan tatapan nanar. Dan sesuai ucapan Dante, disetiap pertemuan selanjutnya Dante memang mengajak Arinda bertemu di hotel remang-remang hanya sekedar melepaskan rindu dan hasrat mereka berdua.


"Kalau tiap minggu kamu bayar hotel cuma buat kita begini, nanti uang gaji kamu bakal habis mas," ujar Arinda sembari memainkan dada Dante.


"Nggak masalah. Ini hanya karena kamu nggak mau jadi istriku, makanya aku harus keluar uang hanya untuk mengajakmu bercinta. Sebenarnya aku merasa bersalah sama kamu, seolah aku sudah menghina martabatmu dengan mengajakmu bercinta di tempat seperti ini," ujar Dante.


"Sudahlah mas. Ndak usah terlalu dipikirkan. Martabatku memang sudah rusak, sejak pertama kali aku menyetujui untuk sampeyan sentuh. Ndak mesti harus karena tempatnya. Tapi aku ndak perduli, aku wes terlanjur cinta karo sampeyan mas," ujar Arinda.


"Anggap saja ini untuk menebus rasa bersalahku karena sudah menjadikan sampeyan pria idaman lain," sambung Arinda.


"Kamu ini. Bagaimana bisa kamu berpikir sepolos itu. Walau bagaimanapun, wanitalah yang dirugikan disini," ujar Dante.


"Aku ndak merasa rugi sama sekali mas. Soalnya...."


"Mas Dante sangat nikmat dan membuatku puas," bisik Arinda dengan suara sensualnya.

__ADS_1


"Dasar nakal," ucap Dante yang kemudian kembali menjadikan Arinda sebagai landasan pacunya.


__ADS_2