SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.46. Rasain


__ADS_3

"Ridwan. Ridwaaaannnnn. Keluar kamu!" bude Sri penjual nasi uduk berteriak dari luar rumah Lastri.


Sementara itu Ridwan yang tengah tertidur, sama sekali tidak mendengar teriakan itu.


"Mas. Bangun mas! itu bude Sri teriak-teriak manggil kamu mau ngapain?" tanya Lastri sembari menggendong putrinya yang baru lahir 5 hari yang lalu.


"Ridwan. Keluar kamu!" teriak bude Sri yang menjadi pusat perhatian para tetangga.


Sementara Partinem yang baru pulang dari berkebun di belakang rumahnya mendadak melepaskan cangkul yang dia pegang.


"Ono opo toh mbak Sri?" tanya Partinem.


"Mana mantu kurang ajarmu itu? aku mau buat perhitungan sama dia," tanya Sri.


Ridwan yang menggunakan baju kaos dan celana kolor keluar bersama Lastri yang tengah menggendong anaknya.


Ridwan melirik kearah Indah yang terlihat takut-takut dengan kepala tertunduk.


"Hehehe sepertinya ada tontonan seru," gumam Mia.


"Ini dia orangnya. Kurang ajar kamu ya! kenapa kau buntingi si Indah. Dia masih kecil, baru 16 tahun. Bisa-Bisanya kamu merayu dia," ujar Sri yang membuat para tetangga syok saat mendengar ucapan itu.


Tidak hanya para tetangga, bahkan Partinempun juga syok saat mendengar hal itu.


"Apa ini mas? kamu selingkuh dibelakang aku?" tanya Lastri.


Belum sempat Ridwan menjawab, Lastri kemudian menyerahkan putrinya untuk di gendong Partinem.


"Dasar pelakor kamu!" hardik Lastri sembari menjambak rambut Indah.


Merasa kesakitan, Tentu daja Indah melawan. Hingga pertikaian itu sulit dipisahkan.


"Kenapa kamu nyalahin aku. Mas Ridwan sendiri yang bilang, kalau dia ndak cinta sama kamu. Dia cinta sama aku. Dia juga bilang punyamu itu ndak enak, dia lebih suka punyaku," ucap Indah dengan polosnya.


"Oh...dasar gatal kamu ya! ndak kecari timun lain kamu!" Lastri kembali menyerang Indah.

__ADS_1


"Benar apa yang dibilang mbak Sri kalau kamu menghamili anaknya?" tanya Partinem berapi-api.


"Maaf buk aku khilaf. Aku bakal bertanggung jawab, dan menikahi Indah," ujar Ridwan.


"Enak aja sampeyan ngomong mas. Aku ndak mau di madu," ucap Lastri.


"Aku juga ndak sudi dapat mantu penjahat kelamin kayak kamu," hardik Sri.


"Tapi buk'e. Aku suka sama mas Ridwan, bagaimana nasib anakku?" tanya Indah.


"Buk'e bisa mengurusnya. Kalau kamu nikah sama dia, nanti dia selingkuh lagi dengan gadis lain. Dia ini bukan pria benar." Jawab Sri.


"Dan satu lagi. Aku akan laporin kamu ke kantor polisi, karena kamu sudah melakukan pencabulan anak dibawah umur," sambung Sri.


"Pencabulan apa? kami melakukannya suka sama suka. Bahkan aku masih nyimpan chat dia, buat ngajak mantap-mantap. Jadi salahku dimana?" tanya Ridwan.


"Dasar ndak punya malu kamu mas. Kamu anggap aku dan keluargaku apa?" ucap Lastri.


"Sekarang kenapa juga kamu menyalahkan aku? dulu kamu juga gitu. Saat Mia pergi kerja, kamu sendiri yang datang ke rumah, dan masuk ke kamarku saat aku sedang tidur. Kamu datang karena ingin begituan. Jadi salahku dimana ya? aku ini cuma menuhin hasrat mereka yang lagi pengen. Kan sama-sama enak, kenapa jadi aku yang salah?" tanya Ridwan dengan tidak tahu malunya.


"Sekarang terserah kalian. Yang pasti aku nggak salah. Mau laporin juga terserah. Biar nanti sekalian aku beberkan bagaimana caraku menggauli anak kalian. Biar sedunia ini tahu semua," ujar Ridwan.


"Buk'e. Aku mau nikah sama mas Ridwan. Aku ndak mau anakku lahir tanpa ayah," rengek Indah.


"Enak aja. Itu salahmu sendiri! mas Ridwan suamiku, nggak akan aku biarkan kamu merebutnya," ucap Lastri.


"Sudahlah Lastri. Untuk apa kamu mempertahankan lanang ndak tahu diri ini. Kalau kamu masih mau sama dia, kamu dan dia harus keluar dari rumah ini. Aku ndak mau kalian permalukan," ujar Partinem


"Kami mau pindah kemana buk'e? mas Ridwan belum dapat kerja. Nanti kami makan apa?" tanya Lastri.


"Buk'e ndak perduli. Kamu tinggal pilih. Mau hidup melarat sama dia, atau milih ibu," ujar Partinem.


"Iya betul. Aku juga mau kasih ultimatum sama kamu Indah. Kalau kamu masih mau nikah sama Ridwan, maka sana! kalian kawin lari saja. Buk'e ndak mau memelihara benalu di rumah. Kamu pikir menikah itu kerjaannya cuma saling ge*jot aja? anakmu itu mau di kasih makan apa? belum lagi suamimu bertingkah," ujar Sri.


"Cepat putuskan! kamu mau ikut siapa?" tanya Partinem.

__ADS_1


"Kamu juga Indah. Kamu ikut siapa? kalau ikut dia, kamu juga dibawa ke kolong jembatan. Dia rumah aja ndak punya. Dulu sama Mia, hidupnya juga numpang," tanya Sri.


Setelah banyak berpikir, Indah dan Lastri memutuskan ingin tinggal bersama orang tua mereka.


"Rasain kamu mas!" gumam Mia yang kemudian masuk kedalam rumah.


"Sekarang juga kamu pergi dari rumahku!" ucap Partinem.


"Ya sudah kalau itu mau kalian. Apa kalian pikir aku nggak bisa mencari wanita yang lebih dari anak-anak kalian? jangan sombong kalian! suatu saat nanti kalian pasti mencariku," ujar Ridwan.


"Dasar orang gila ndak punya malu. Bisa-Bisanya kamu mau di rayu sama buaya darat begini," Sri dengan gemas mencubit putrinya.


Sri kemudian menyeret tangan Indah untuk pulang, begitu juga dengan Partinem. Wanita parubaya itu langsung melemparkan pakaian Ridwan kehalaman rumah.


"Pergi kamu dari sini. Lanang ndak tahu diuntung!" hardik Partinem.


Karena hari sudah menjelang magrib, semua orang sudah bubar. Ridwan memungut pakaian yang berserakan dihalaman rumah, dan memasukannya kedalam tas.


Sraakkk


Mia menutup tirai rumahnya, saat melihat Ridwan di usir dari rumah mertuanya. Wanita satu anak itu menyeringai puas dengan apa yang sudah menimpa mantan suaminya itu. Namun baru saja dia merasa lega, sebuah ketukan dipintunya terdengar dengan jelas.


Ceklek


Mata Mia terbelalak, saat melihat Ridwan berada di hadapannya.


"Mau apa kamu mas? pergilah dari sini! kamu ndak diterima disini," ucap Mia.


"Mia. Aku akui aku ini seorang penjahat kelamin, tapi hatiku tetap buat kamu," ujar Ridwan yang membuat Mia terkekeh.


"Sudahlah mas. Aku ini bukan si Indah atau Lastri yang bisa kamu perdaya dengan gombalan kamu itu. Diantara kita sudah selesai. Kamu sudah menuai apa yang sudah kamu tabur. Jadi nikmati saja. Selama ini sampeyan selalu membanggakan kejantanan sampeyan yang besar itu. Aku rasa sampeyan laku kalau jadi gigolo. Aku rasa itu profesi yang cocok buat sampeyan. Dapat enak, dan juga dapat duit. Iya Toh?" tanya Mia.


"Nggak mau Mi. Aku cuma mau sama kamu. Aku janji bakal berubah demi kamu," ucap Ridwan.


"Ya bagus kalau sampeyan memang niat mau berubah mas. Tapi maaf sekali loh ya, aku ndak bisa menerima sampeyan lagi. Aku sudah bahagia hidup sendiri. Maaf ya, aku capek aku ngantuk," ujar Mia yang kemudian menutup pintu rumahnya tepat di depan wajah Ridwan.

__ADS_1


Ridwanpun pergi tak tentu arah. Pria itu merenung sembari berjalan kaki, dan langkah kaki itu menuntunnya pada tempat yang mia sarankan.


__ADS_2