
Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat Arinda pulang ke rumahnya. Aditia tampak duduk di depan teras sembari bermain ponsel.
"Baru pulang?" tanya Aditia tanpa melihat kearah istrinya itu.
"Iya mas." Jawab Arinda sembari mencium tangan Aditia.
Arinda kemudian masuk kedalam, dan bergegas membersihkan diri. Saat kembali keluar kamar, Arinda melihat Rayana dan Radit tengah bermain di ruang tamu.
"Mainan baru ya?" tanya Arinda, saat melihat putri dan putra kecilnya tengah bermain boneka dan juga mobil-mobilan.
"Beyiin ayah." Jawab Rayana.
"Wah...bagus ya!" ujar Arinda.
"Iya." Jawab Rayana.
"Mas Adit sudah banyak berubah. Dia juga lebih perhatian dengan anak-anak. Haruskah aku masih bermain api di belakangnya? sementara masalah rumah tangga kami selama ini sudah terselesaikan," batin Arinda.
Arinda benar-benar merasakan dilema saat ini. Disisi lain kini dia mulai merasa bersalah pada Aditia, tapi disisi lain dia sudah terlanjur mencintai Dante.
"Masak apa buk'e?" tanya Arinda.
"Lihat saja di atas meja. Yang jelas hari ini agak sedikit istimewa menunya." Jawab Fatimah.
Arinda mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih dari magicom. Setelah itu dia duduk, dan menikmati makanan yang di masak Fatimah dengan lahap.
Setelah makan, Arinda memutuskan untuk beristirahat di kamarnya sembari bermain ponsel. Karena sudah mengantuk, Arinda memutuskan untuk tidur lebih awal. Hingga diapun tidak sadar, kalau Aditia juga sudah tidur disebelahnya.
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel Arinda berdering, saat Arinda sudah dibawah alam sadar dan di iming-imingi mimpi indah. Ibu dari dua anak itu tampak mengerutkan dahinya, karena sejujurnya dia masih sangat mengantuk.
"Mbak Dian? kenapa dia nelpon semalam ini?" gumam Arinda saat melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Hallo mbak? ono apo mbak?" tanya Arinda diseberang telpon.
"R-Rin kamu bisa ke rumahku ndak Rin? mas Edi kayaknya sudah mati Rin." Jawab Dian dengan bibir bergetar.
"Mati piye toh mbak? sing bener sampenyan kalau ngomong?" tanya Arinda yang matanya mendadak segar.
"Aku ndak bisa menjelaskannya sama kamu. Kamu kesini aja Rin. Tolong mbak Rin! hiks...." Dian terisak.
"Yo mbak. Sampeyan jangan panik ya! aku tak langsung kesana," ujar Arinda yang kemudian mengakhiri panggilan itu.
"Mas. Mas Adit, bangun mas!" Arinda menggerak-gerakkan tubuh suaminya.
"Hem? ada apa?" tanya Adit dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Antar aku ke rumah temanku mas. Suaminya meninggal kayaknya." Jawab Arinda.
"Ini masih malam, kalau mau ngelayat besok aja," ujar Aditia.
"Kasihan temanku mas. Dia ketakutan kayaknya," ujar Arinda.
"Temanmu itu pasti punya banyak tetangga. Ngapain ngerepotin kamu? sudahlah! pagi-pagi aku mau berangkat kerja. Aku butuh banyak istirahat. Kalau kamu mau pergi, pergi aja sendiri," ujar Aditia.
Arinda tidak lagi meminta bantuan suaminya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada keadaan Dian.
"Tapi bagaimana? aku takut'e. Ini sudah malam," ujar Arinda.
Arinda mengeluarkan motornya setelah mengenakan jaket.
"Apa aku minta bantuan mas Dante aja ya?" batin Arinda.
Arinda kemudian menghubungi Dante, namun tidak diangkat oleh pria itu. Arinda memutuskan pergi sendiri, meskipun jantungnya terasa hendak runtuh karena ketakutan. Dan setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, Arindapun tiba di kediaman Dian hampir bersamaan dengan Mia.
"Mbak Mi," sapa Arinda.
.
"Rin. Kamu datang juga?" tanya Mia.
"Iya. Sampeyan baru datang, atau sudah sempat masuk? ono opo sebenare mbak?" tanya Arinda.
"Ndak tahu. Dian ngomongnya ndak jelas. Sekarang kita masuk saja." Jawab Mia.
Mia dan Arinda bergegas masuk kedalam rumah Dian yang tampak sepi dan hening.
"Mbak Di. Apa mbak Dian ada di dalam?" Arinda mengetuk pintu kamar Dian.
Ceklek
Dian keluar dalam keadaan kacau. Keringat ibu dua anak itu mengalir di dahinya, dan tubuhnya juga gemetar.
"Mbak sampeyan kenapa mbak?" Arinda mengguncang tubuh Dian.
"Iya Di. Ada apa? mana suamimu?" tanya Mia.
Dian kemudian membuka pintu kamarnya dengan lebar, dan terlihatlah Edi yang sudah tergeletak di lantai dengan seutas tali di nilon disamping kepalanya.
"Mas Edi kenapa mbak? kenapa dia tidur di lantai?" tanya Arinda.
"Iya Di. Apa bojomu pingsan? kenapa ndak kamu bawa ke rumah sakit?" tanya Mia.
Dian kemudian menarik kedua tangan sahabatnya untuk masuk kedalam kamarnya. Dianpun mengunci kamar itu, hingga membuat Arinda dan Mia jadi ikutan panik.
"Sampeyan kenapa sih mbak? jangan membuat aku takut," tanya Arinda.
"Se-Sepertinya aku sudah membunuh mas Edi." Jawab Dian dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Apa?" Arinda dan Mia berteriak bersamaan dengan tangan yang tiba-tiba saling bertautan.
"K-Kenapa sampeyan bisa melakukan itu mbak? sampeyan bisa masuk penjara mbak," tanya Arinda.
"Ndak. Aku ndak mau masuk penjara. Kalau aku masuk penjara, bagaimana dengan nasib anak-anakku?" ucap Dian yang semakin ketakutan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu bisa nekad membunuhnya? lalu dengan cara apa kamu melakukannya?" tanya Mia.
Flashback On
Dor
Dor
Dor
"Di. Bukak pintu Di!" Edi yang dalam kondisi setengah mabuk menggedor pintu kamar dengan sangat keras.
Dian yang tengah tertidur lelap cukup terganggu dengan hal itu.
Ceklek
Dian membuka pintu dengan penuh emosi.
"Sudah tahu ini sudah larut malam mas. Yo mbok ndak usah gedor pintu kamar. Sampeyan kan bisa tidur diruang tamu. Ndak usah ganggu orang istirahat terus mas," Dian yang tidurnya merasa terganggu tersulut emosi.
"Kerja sampeyan mabok wae tiap malam. Ndak ada niat mau berubah sama sekali. Capek aku melihat sampeyan seperti ini terus menerus mas," sambung Dian.
"Wani awakmu karo aku ha?" hardik Edi sembari mencekik Dian sekuat tenaga.
Plak
Plak
Plak
Dian memukul-mukul tangan Edi, agar segera melepaskan cekikan di lehernya. Namun Edi seolah tengah kesurupan. Dian sekuat tenaga menendang perut Edi dengan lututnya, hingga cekikan itupun terlepas.
Uhukkk
Uhukkk
Uhukkk
Dian terbatuk-batuk dan nafasnya sedikt lega, setelah cekikan itu terlepas dari lehernya.
"Bojo kurang ajar! tak pateni awakmu!" ucap Edi.
Greppppp
Edi menarik rambut Dian, hingga ibu dari dua anak itu terjatuh ke lantai. Edi menyeret Dian, tanpa perduli istrinya menjerit kesakitan. Segala daya dan upaya Dian lakukan agar bisa melepaskan diri. Dengan berani dia menendang kaki suaminya, hingga pria itu tersungkur.
__ADS_1
Setelah terlepas dari cengkraman Edi, Dian yang sudah kehilangan kesabaran meraih tali nilon yang dia gantungkan di paku. Tali yang dia beli, dan akan dia gunakan sebagai tali jemuran itu dia belitkan dileher suaminya. Dian sekuat tenaga menahan bahu Edi dengan kaki, sementara tali nilon itu dia tarik sekuat tenaga. Dian yang seolah tengah kesurupan tidak perduli, meski kaki Edi berusaha mencari pijakan, agar bisa lepas dari jerat tali yang Dian belitkan dilehernya. Setelah tidak ada pergerakan dari Edi, barulah Dian tersadar dan tubuhnya mundur kebelakang hingga membentur tembok.