SALAHKAH AKU SELINGKUH?

SALAHKAH AKU SELINGKUH?
Bab.47. Gigolo


__ADS_3

"Eh. Sudah lama kamu nggak muncul Wan? kemana aja? udah insyaf wadonan kamu?" tanya Kamil sang penjaga lokalisasi, berkedok kafe itu.


"Mana bisa aku insyaf secepat itu. Aku masih muda, ga*rahku masih segar bugar. Kemarin aku menikahi daun muda setelah bercerai dengan istriku. Sekarang aku di usir, gara-gara menghamili bocah 16 tahun." Jawab Ridwan dengan gamblang.


"Lah. Kok di usir? kenapa tidak kamu nikahi saja?" tanya Kamil.


"Ibunya nggak setuju. Kalau aku mah jelas mau. Kamu bayangkan saja, 16 tahun dan 18 tahun. Betapa legitnya mereka." Jawab Ridwan dengan tidak tahu malunya.


"Jadi sekarang kamu mau bagaimana?" tanya Kamil.


"Aku mau ketemu Mami. Barangkali ada kerjaan." Jawab Ridwan.


"Ada. Kamu pasti suka kerjaannya. Sudah enak, dapat uang lagi," ujar Kamil.


"Apaan?" tanya Ridwan.


"Jadi gigolo. Kamu kan kalau main lama, asetmu juga nggak main-main. Kamu pasti jadi kumbang jantannya disini." Jawab Kamil.


"Kenapa ucapan Mia jadi kenyataan begini? tapi apa yang dikatakan Mia dan Kamil ada benarnya juga. Kerjaan itu sangat enak dan juga dapat uang. Tapi masalahnya, masa iya aku harus meladeni tante-tante yang sudah pada kendur itu? seleraku kan daun muda," batin Ridwan.


"Sudahlah jangan terlalu banyak mikir. Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat ini. Kalau kamu sudah banyak uang, kamu bisa sewa perawan juga nanti," ucap Kamil sembari terkekeh.


"Ya sudah. Dimana mami?" tanya Ridwan.


"Ada di ruangannya. Aku yakin dia pasti senang kalau kamu melamar jadi gigolo. Jangan-Jangan tahap pertama kamu disuruh main dulu sama dia," ucap Kamil yang kembali terkekeh.


Ridwan kemudian masuk kedalam tempat itu dan menemui Mami Gita. Wanita berusia 45 tahun itu tampak menyambut kedatangan Ridwan, karena pria itu merupakan langganannya.


"Ada apa mas Ridwan? apa mau cari barang baru? kita ada barang baru yang masih sangat oke. Baru pecah perawan satu bulan yang lalu," ujar Gita sembari terkekeh.


"Apa pelanggan tante-tante disini masih banyak?" tanya Ridwan.


"Permintaan banyak, tapi Gigolo disini cuma ada dua orang. Makanya dia kebanjiran duit. Tapi ya itu, suka kecapean dan banyak liburnya mereka." Jawab Gita.


"Aku mau daftar Mam. sekarang aku nggak punya tempat tinggal lagi. Jadi aku akan tinggal disini saja. Kapanpun ada permintaan, aku akan siap," ujar Ridwan.


"Benarkah? kamu bisa jadi kumbangnya disini. Aku tahu kemampuanmu itu, dan juga barang kebangganmu," ujar Gita.


"Darimana mami tahu?" tanya Ridwan.


"Anak-Anak mami yang pernah kamu sewa, mereka bilang kamu mainnya hebat dan bikin mereka puas. Mami jadi ikut penasaran," ucap Gita dengan mengedipan mata.


"Untuk wanita secantik mami, aku akan kasih gratis," ujar Ridwan yang kemudian merangkul pinggang Gita dengan posesif.


Tidak butuh waktu yang lama, Gita dan Ridwan berada di kobaran api ga*rah yang membara. Ridwan benar-benar membuktikan pada Gita tentang kemampuannya yang membuatnya bangga menjadi menjadi seorang pria.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat berbeda. Aditia baru pulang ke rumah jam 8 malam. Saat itu Arinda belum tidur, dan sedang bermain dengan anaknya.


"Sampeyan baru pulang mas? gimana? apa kepala sampeyan masih sakit?" tanya Arinda.


"Nggak lagi. Tadi ibu sudah memijat kepalaku dengan minyak khusus. Ibu masak apa? aku belum makan malam," tanya Aditia.


"Ada diatas meja. Mas makan aja," ujar Arinda.


Aditia melangkah ke meja makan, dan mulai menyantap makan malam itu. Namun tentu saja pikirannya tengah melayang ketempat lain.


"Mas Adit kenapa ya? aku perhatikan dia banyak melamun. Apa dia sedang ada masalah di kantornya?" batin Arinda.


Setelah selesai makan, Aditia pun masuk kedalam kamar.


"Satu-Satunya cara, agar mengetahui dia ada masalah atau tidak, yaitu dengan cara mengajaknya berhubungan. Dia kan ndak pernah nolak kalau diajak begituan. Apalagi selama ini aku ndak pernah ngajak dia lebih dulu," batin Arinda.


Setelah melihat anak-anaknya tidur, Arindapun pergi ke kamar. Adit tampak tengah menatap langit-langit kamar mereka.


"Mas,"


"Hem,"


"Gituan yuk!" ujar Arinda yang langsung dilirik Aditia.


"Kamu mau ndak? kali ini ndak usah pakai pengaman juga ndak apa-apa," ujar Arinda.


"Lain kali saja. Aku sangat ngantuk sekarang," ujar Aditia.


"Sampeyan ada masalah ya mas? sampeyan cerita kalau ada masalah di kantor. Kita kan suami istri mas. Sudah sepantasnya kita berbagi banyak hal. Iya toh?" tanya Arinda.


"Kalau aku cerita masalahku apa. Kamu pasti langsung ambil pisau kayak waktu itu lagi Rin. Sekarang aku harus berpikir keras, bagaimana caranya agar dapat duit buat nebus sertifikat itu," batin Aditia.


"Aku nggak punya masalah. Ini mungkin karena aku lagi nggak enak badan, makannya aku jadi lesu dan nggak berselera," ujar Aditia.


"Kira-Kira mas Adit punya masalah apa ya? aku tahu dia banget. Dia, demam panas tinggi aja cari keringatnya dengan ngajak gituan. Sekarang malah nolak. Pasti ada yang ndak beres. Tapi apa ya?" batin Arinda.


"Ya sudah kalau sampenyan ngantuk, atau masih lesu. Sampeyan tidur saja ya mas," ujar Arinda.


"Ya." Jawab Aditia.


Arindapun pergi ke luar kamar dan menemani anak-anaknya tidur.


Ting


Sebuah chat masuk dari Dante. Besok memang jatahnya dan pria itu bertemu. Cuma pria itu yang bisa mengembalikan senyum Arinda.

__ADS_1


"Mas. Belum tidur?" chat Arinda.


"Belum. Kangen kamu," balas Dante.


"Besok kita kan ketemu mas. Sampai ketemu besok ya!" Arinda.


"Ya. Love you," Dante.


"Love you too." Arinda.


Arinda segera menghapus isi chat itu, dan segera menonaktifkan ponselnya. Setelah itu Arindapun pergi tidur.


*****


Aditia terlihat sudah rapi dengan mengenakan kemeja polos berwarna biru.


"Mas Adit yakin sudah sembuh? nanti takutnya sampeyan pingsan," tanya Arinda.


"Sudah. Nanti kalau terlalu banyak libur, gaji di potong." Jawab Adit.


"Ya sudah hati-hati ya mas," ucap Arinda.


"Kamu masuk malam lagi?" tanya Adit.


"Ya." Jawab Arinda.


Aditiapun memakai helm, dan mulai menyalakan mesin motornya. Sementara itu Arinda kemudian bersiap, karena dia ingin segera bertemu dengan Dante.


Cup


"Aku merindukanmu sayang," ucap Dante setelah mencium Arinda.


"Aku juga mas. Padahal kita sering bertemu, tapi rasanya ndak pernah puas," ujar Arinda.


"Menikahlah denganku sayang. Segera ceraikan suamimu," ujar Dante.


"Husssttt...aku menemuimu bukan untuk membahas masalah yang tak berkesudahan itu mas. Aku menemuimu, karena aku sudah sangat dahaga untuk dipuaskan olehmu," ujar Arinda.


"Sayang. Sepertinya sekarang aku ini adalah candumu ya?" tanya Dante sembari terkekeh.


"Apa aku juga bukan candumu?" tanya Arinda.


"Sangat. Kamu itu ibarat daun ganja. Yang bisa membuat seseorang jadi ketagihan." Jawab Dante yang kemudian segera mencumbu Arinda.


Dan untuk kesekian kalinya, Arinda dan Dante kembali ternggelam dalam kenikmatan bercinta.

__ADS_1


__ADS_2