
"Hiks...bagaimana ini. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpa motor. Hiks...."
Arinda terisak dengan membenamkan kepalanya diatara kedua lututnya. Dia sangat sedih, karena motor yang dia gunakan sebagai penopang hidup, sudah hancur berantakkan.
Sementara itu seorang pria berhelm hitam tampak turun dari motor sportnya dan kemudian menghampiri Arinda yang tengah menangis. Namun bukannya membahas perihal ganti rugi, pria itu malah membuat Arinda jadi tersulut emosi.
"Mbak. Mbak sebaiknya sedikit menyingkir dari tikungan ini. Ini sangat berbahaya kalau sampai ada kendaraan yang melintas," ucap pria itu yang berusaha membujuk Arinda agar segera menyingkir dari tikungan tajam itu.
"Kalau sampai ada mobil besar yang melintas. Bukan hanya motor butut mbak yang hancur, tapi tubuh mbak bisa menyatu dengan aspal," sambung pria itu sembari melihat kearah belakang.
Mendengar sapaan pria yang dia yakini sebagai pelaku dari tabrakkan itu, Arinda segera mendongakkan kepalanya dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata.
"Sampeyan itu ada perasaan ndak sih? apa sampayen tahu, kalau motor yang sampeyan hancurkan itu barang penting buat aku? jangan mentang-mentang sampeyan naik motor bagus, terus sampeyan ndak perduli dan ndak menanyakan mau saya apa?" omel Arinda yang sudah tersulut emosi.
"Sampeyan bahkan ndak nanyain keadaan aku. Lihat ini! tangan aku luka semua. Meski aku miskin kulit aku mulus. Ini gara-gara sampeyan kulit aku jadi ada korengnya," sambung Arinda dengan nafas yang sudah naik turun.
"Orang kaya kayak sampeyan ndak bakal ngerti kesusahan orang lain. Aku jengkel banget sama sampeyan. Kelihatan sekali kalau sampeyan iku wong lanang mati perasaan,"
Arinda sama sekali tidak memberikan kesempatan pada pria didepannya untuk membela diri. Seakan rem dimulutnya sedang mengalami blong. Tiba-Tiba pria itu mencekal tangan Arinda. Bukan bermaksud ingin kurang ajar, pria itu ingin Arinda dan dirinya segera menyingkir dari tikungan tajam itu.
Arinda yang sedang kesal maksimal, langsung menghempaskan tangan pria itu setelah mereka sampai ditepi jalan yang aman.
"Berapa mbak mau jual motornya?" tanya pria itu dengan serius.
Namun pertanyaan sungguh-sungguh itu diartikan lain oleh Arinda. Entah mengapa, melihat motornya hancur, Arinda jadi beranggapan pria didepannya itu tengah menghina dirinya.
"Aku ndak mau jual motor itu. Motor itu ndak bisa dinilai dengan uang. Kalaupun ada nilainya, itu pasti sangat murah. Dan aku ndak mampu buat cari tambahan buat beli motor bekas yang layak." Jawab Arinda.
__ADS_1
"Aku cuma pengen jambrong masuk bengkel, dan biaya perbaikkannya sampeyan yang tanggung. Itu sudah lebih dari cukup," sambung Arinda.
Pria itu menoleh kearah motor yang hancur berantakkan. Jelas saja dia tidak berselera sama sekali untuk memperbaiki motor yang tak layak pakai itu. Selain buang-buang uang, dia juga tidak mau buang energi buat memungut serpihan motor yang bahkan kedua ban motornya saja tidak tahu menggelinding kemana.
Arinda menatap pria yang tengah menatap serpihan motornya. Setelah pria berhelm itu menghadap dirinya, Arinda mencoba menembus wajah dibalik kaca gelap itu namun berakhir gagal.
"Sudah puas menghina motorku dalam batinmu? sekarang aku cuma butuh pengakuanmu, sampeyan mau ganti rugi atau ndak?" tanya Arinda.
Pria itu menatap wajah cantik Arinda yang terlihat sangat lelah.
"Ya sudah aku bersedia membawa motormu ke bengkel. Aku juga akan mengganti rugi kulitmu yang lecet." Jawab pria itu sembari mengambil dompetnya dari saku celana bagian belakang.
Namun tiba-tiba kini giliran Arinda yang menyeret tangan pria itu. Arinda menyeretnya hingga mereka berada di dekat motor sport milik pria itu.
"Tanggung jawabmu yang pertama. Sampeyan harus ngantar aku kerja. Gara-Gara sampeyan aku telat kerja. Apa sampeyan tidak tahu kalau pekerjaanku iki...."
"Kemana?" tanya pria itu, sembari menarik gasnya.
"Pabrik sepatu Gondolan." Jawab Arinda.
Tanpa banyak bicara pria itu tancap gas dan mengantar Arinda sesuai tempat tujuan.
"Ini baru lanang tulen. Tinggi, bersih, putih dan wangi. Mas Adit mah cuma pas kerja di Bank aja yang waras penampilannya. Kalau sekarang mah mandi aja jarang. Astaga...aku iki opo yo? kok malah mikir sing aneh-aneh," batin Arinda.
"Gadis ini tingkat kewaspadaannya sangat rendah. Bagaimana bisa di percaya pada pria yang bahkan baru saja membuat dia celaka? apa dia tidak takut aku bakal nyulik dia? atau bahkan membunuhnya cuma karena nggak mau ganti rugi?" batin pria itu.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun tiba di pabrik sepatu. Namun saat dirinya turun, Arinda menyadari kalau dirinya sudah terlambat. Suasana sudah tampak sepi di parkiran.
__ADS_1
"Ingat bawa si jambrong ke bengkel!" ucap Arinda yang kemudian langsung berbalik badan dan pergi.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya pria itu sembari membuka helm yang dia kenakan.
"Jam tu-juh...." Jawab Arinda dengan intonasi yang terputus.
Arinda cukup takjub dengan ketampanan yang pria itu miliki, ketika dirinya sudah berbalik badan.
"Edun. Lanang iki ada keturunan Arab kayaknya. Asli Arab ini mah, bukan arap nengdi," batin Arinda.
"Sebagai pencinta cogan. Lihat yang begini jiwa iblisku meronta-ronta. Astaga...aku sudah telat ini," batin Arinda.
"Bagus sampeyan buka helm. Jadi aku tahu wajah sampeyan kayak apa. Jangan coba-coba kabur!" ucap Arinda yang kemudian berbalik badan dan pergi.
Pria itu terkekeh saat melihat kepergian Arinda yang menghilang dibalik pintu utama pabrik.
"Gadis itu polos apa bodoh? bagaimana bisa dia minta tanggung jawab nggak nanya nama, nahan kartu identitas atau yang lainnya. Dia bahkan nggak meminta uang sepeserpun," ucap pria itu sembari menggelengkan kepalanya.
Pria itu kemudian memutar kembali motornya dan tancap gas pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari pabrik itu.
"Aku jadi punya PR baru buat nyari motor bekas. Aku tidak mungkin membawa motor hancur itu ke bengkel. Sebenarnya aku bisa aja kabur, toh aku juga nggak mungkin ketemu dia lagi. Tapi...."
Pria itu jadi teringat saat Arinda meraung-raung menangisi motornya yang hancur. Tapi disamping itu, nilai kemanusiaan masih melekat dalam dirinya. Hingga tidak perlu berpikir panjang, setelah sampai di rumahnya. Pria itu mencari-cari informasi di media sosial, tentang motor bekas layak pakai di berbagai grup jual beli.
Setelah menemukan yang pas, pria itu kemudian menghubungi nomor yang tertera. Dan akan melihat motor bekas itu keesokkan harinya.
"Hufftt...hampir saja waktu absen habis. Kalau sampai aku nggak absen, bisa di potong gaji." Gumam Arinda yang kemudian meletakkan tasnya kedalam loker penitipan barang. Setelah itu Arinda bergegas memasuki pabrik dengan seragam khas mereka.
__ADS_1
Mata Arinda berpedar, melihat keberadaan Mia dan Dian. Namun Arinda cuma melihat sosok Mia yang tengah sibuk menyusun telapak sepatu dan kemudian dihampiri oleh Arinda.